005

header ads

Hari (Berkabung) Puisi Nasional ? | Sebuah obituari untuk Iyut Fitra, oleh Ananda Sukarlan


Hari ini kita peringati Hari Puisi Nasional, yang selalu diperingati tiap tahunnya pada tanggal 28 April. Tanggal ini diambil dari tanggal wafatnya “Si Binatang Jalang”, penyair Sumatera Barat, Chairil Anwar. Mengapa Chairil Anwar, saya sendiri tidak tahu, karena saya juga pengagum beberapa penyair lain pada zamannya. Chairil Anwar memang dianggap sebagai pelopor puisi modern Indonesia dan tercatat sebagai penyair yang produktif di masanya, seperti Mozart yang berusia pendek tapi produktif, seakan-akan mereka tahu mereka tidak punya waktu banyak. Mengutip dari Tirto.id (2016), selama periode 1942–1949 (tahun wafatnya) penyair kelahiran 26 Juli 1922 ini telah menghasilkan 94 tulisan di mana di dalamnya termasuk 70 sajak asli, 4 saduran, 10 sajak terjemahan, 6 prosa asli, dan 4 prosa terjemahan. 

Dasar hukum dari peringatan ini adalah Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 071 Tahun 1969. 

Sejak itu, anehnya, sekitar tanggal ini adalah juga wafatnya penyair-penyair besar Indonesia setelahnya. Kita catat dua, yaitu Joko Pinurbo (11 Mei 1962 – 27 April 2024) dan yang terakhir kemarin, Iyut Fitra (nama lengkapnya Zulfitra, 16 Februari 1968 – 27 April 2026). Kita juga bisa masukkan Umbu Landu Paranggi (10 Agustus 1943 – 6 April 2021 -- agak jauh tanggal wafatnya, tapi masih di bulan yang sama).

Dan lebih anehnya adalah yang berhubungan dengan saya. Semua karya mereka sudah pernah saya bikin musik, dan mereka selalu wafat setelah musik itu saya selesaikan dalam bentuk partitur, tapi belum saya mainkan sehingga mereka belum mendengarnya. Di kasus Joko Pinurbo ada ketinggalan 1 musik saya yang sang penyair belum pernah dengar, yaitu "Doa Orang Sibuk yang 24 jam Sehari Berkantor di Ponselnya". Tembang Puitik yang saya buat dari puisi ini baru dinyanyikan bulan Juli 2025 oleh soprano Mariska Setiawan di Aula Simfonia Jakarta, bersama saya. Jokpin sendiri telah sering mendengar musik saya dari puisinya sebelum-sebelumnya, seperti "Naik Bus di Jakarta" atau bahkan "Jokpiniana", karya-karya saya untuk paduan suara yang merupakan kompilasi dari puisi-puisi pendeknya 
https://youtu.be/vkC4V3fWDWk?si=VykTIoakr3nKNckG

Sedangkan Umbu Landu Paranggi belum sempat mendengarkan apa-apa, saya memperdanakan dua tembang puitik dari puisinya yang dinyanyikan Alice Cahya Putri di video yang kami buat di Labuan Bajo, kampung halamannya. 
Tapi jangan kuatir, kalau puisi anda saya bikin musik, bukan berarti itu "kutukan" bahwa anda akan mati kok. Sudah sekitar 100 penyair Indonesia yang saya bikin musik, dan kebanyakan dari anda kan "survived" mendengar musik saya, bukan? Konser berikut adalah oleh soprano Indonesia di Melbourne, Elizabeth (atau lebih dikenal dengan Liz ) Rusli bersama pianis Australia Joseph Beckitt tanggal 30 Mei menyanyikan tembang puitik yang saya bikin dari puisi Fileski Walidha Tanjung dan Medy Loekito (baca 
https://www.kliktimes.com/sastra-budaya/72916787115/puisi-fileski-dan-medy-loekito-diperdanakan-di-australia) 

Saya ingin menuliskan kenangan singkat saya bersama Iyut Fitra (baca https://kabarminang.com/kabar-duka-sastrawan-asal-sumbar-iyut-fitra-meninggal-dunia-ini-jejak-karyanya). Tulisan ini bukan ingin menayangkan biografinya, karena itu bisa di-google -- dan sebetulnya saya juga tidak terlalu hafal biografinya. 

Pertemuan saya dengan Kuyut, panggilan kesayangan Iyut Fitra hanya sekali, dan saya tidak menyangka itu menjadi pertemuan pertama dan terakhir. Tahun 2023 saya diundang oleh Heru Joni Putra dan Kuyut, juga Roby Satria yang menjadi ketuanya saat itu (sampai tahun ini), ke Payakumbuh Poetry Festival. Kuyut adalah salah satu pendirinya, sebagai anggota Komunitas Seni INTRO. Tiga hari yang indah saya lewati, "hang out" dengan Iyut dan banyak penyair lainnya di kota Payakumbuh yang indah dan sangat hidup di malam hari. Selama tiga hari itu Iyut tidak berhenti merokok, bahkan kenangan saya tentangnya adalah saya selalu sesak nafas bersamanya di satu meja, tapi karena obrolan yang sangat asik, ya saya bertahan. Kemudian saya jalan balik ke hotel, dan saya mengambil jalan yang lebih panjang untuk menghirup udara segar sering bersama penyair lain, terutama Ubai Dillah Al Anshori yang menginap di hotel yang sama (dan walaupun merokok, tidak berkesinambungan dan berkelanjutan seperti Iyut) -- untungnya Payakumbuh udaranya sangat nyaman dan bersih. DI PPF ini saya justru mengenal Iyut pertama kalinya, jadi belum membuat musik dari puisinya. Saya ingat saya menampilkan tembang puitik saya dari penyair-penyair Sumbar Muhammad Subhan, Heru Joni Putra, Riri Satria dan tentu Chairil Anwar, dan saya mengajak para mahasiswa ISI Padangpanjang yang datang bersama dosennya, Ibu Della Rosa Panggabean. Saya salut dengan kerja keras mereka membawakan karya-karya saya yang tidak mudah itu.

 Tahun lalu, ketika Kompetisi Piano Nusantara Plus diadakan di ISI Padangpanjang, saya sempat ditraktir makan siang ke danau Singkarak bersama Roby Satria dan juga Ubai Dillah Al Anshori serta istrinya yang luar biasa cerdas dan cantik, Regina Priska. Saat itu Iyut sudah sakit sehingga tidak bisa ikutan dengan kami. 

Saya mendapatkan buku-buku puisi Iyut saat saya di Payakumbuh, dan tumbuh kekaguman terhadap puisi-puisinya. Salah satunya adalah "Orang-orang Bukit Tui" yang cukup panjang dan kompleks, meskipun demikian saya memberanikan diri untuk mengalihwahanakannya menjadi tembang puitik. Kalau biasanya saya bisa menyelesaikan satu nomor tembang puitik dalam satu -- atau maksimal dua -- hari, tidak begitu halnya dengan "Orang-orang bukit Tui". Saya bikin separuhnya, kemudian macet ! Beberapa bulan kemudian, yang ternyata setelah saya lihat kembali partiturnya, sudah memasuki tahun 2025, saya "kunjungi kembali" dan melihat masalah yang membuatnya macet. Saya revisi, dan kemudian saya selesaikan. Tapi karena kompleksitas musiknya, tidak ada yang mau membawakannya sampai saat ini. Ini salah satu tembang puitik saya yang panjang dan kompleks -- mungkin terlalu kompleks untuk kebanyakan penyanyi, pianis dan bahkan pendengar. 

Kini saatnya saya yang harus memainkan "Orang-orang Bukit Tui" di konser saya berikut, saya akan ajak vokalis yang mumpuni untuk menyanyikan part vokalnya ; semoga setelah mendengarnya, para vokalis lainnya akan dapat mengerti karya saya ini bukan hanya dari kompleksitasnya, tapi dari kedalaman estetika baik dari puisi maupun musiknya.

Dan masih banyak puisi Iyut Fitra yang ingin saya bikin musik ....kadang saya ingin jadi "Bionic Man" karena sebetulnya seringkali musik itu sudah jadi, tapi menulisnya butuh waktu. Setelah saya lulus kuliah, apps Sibelius sangat membantu karena not-not balok itu tidak lagi saya tulis tangan tapi saya ketik, tapi masih saja kita membutuhkan apps yang lebih canggih, yang ditanam di tubuh kita yang langsung menerjemahkan bunyi di otak ke kertas partitur. 

Selamat jalan Kuyut, terimakasih atas segala kontribusimu memperkaya dunia seni Sumatera Barat dan Indonesia.

Posting Komentar

0 Komentar