005

header ads

MENYELAMATKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH | Yin Ude*

 

Ilustrasi: Pixabay


Perpustakaan sekolah adalah pusat sumber belajar, pusat literasi, dan pusat pengembangan intelektual di lingkungan sekolah. 

Sebagai pusat sumber belajar, perpustakaan sekolah menyediakan beragam sumber informasi yang mendukung kurikulum dan kebutuhan belajar mandiri siswa. Perpustakaan sekolah menyediakan buku teks, referensi, ensiklopedia, atlas, majalah, dan sumber digital. Perpustakaan sekolah mendukung pula tugas proyek dan penelusuran informasi, serta menjadi ruang belajar alternatif selain kelas, yang tenang, kaya sumber, dan fleksibel.

Sebagai pusat literasi, perpustakaan sekolah adalah ruang utama pembiasaan membaca dan pondasi budaya literasi sekolah.

Di perpustakaan siswa dibiasakan membaca bukan karena tugas, tetapi karena kebutuhan. Ditumbuhkan literasi baca tulis, literasi informasi, dan literasi digitalnya. 

Adapun sebagai pusat pengembangan intelektual, perpustakaan sekolah menjadi wadah tumbuhnya budaya berpikir kritis, kreatif, dan reflektif. Di dalamnya siswa membandingkan berbagai sumber, bukan satu buku saja, menyelenggarakan diskusi, kolaborasi, dan presentasi hasil belajar. Dapat pula mendorong kebiasaan riset sederhana dan penalaran logis.

Dalam kepala seorang penulis, perpustakaan sekolah akan tergambar sebagai wahana nyaman tempat berlangsungnya kegiatan membaca buku sastra, membedahnya, menjadikannya sumber motivasi siswa untuk tergerak belajar menulis. Lalu di sana selalu berlangsung diskusi dan debat tentang cara menulis yang berkualitas, yang berujung lahirnya karya-karya sastra dari tangan para siswa.

Peran ideal perpustakaan sekolah dan gambaran yang mengambang dalam kepala penulis di atas sering tidak bisa terpenuhi, akibat mati surinya perpustakaan di banyak sekolah, yang secara nyata teramati dari dua kondisi berikut:

Pertama, terdapat perpustakaan sekolah yang koleksinya memadai baik buku teks pelajaran maupun non teks termasuk buku sastra tapi tidak “dimakmurkan” oleh warga sekolah, utamanya para siswa.

Kedua, ada perpustakaan sekolah yang kekurangan buku, yang hanya diisi buku teks pelajaran, tanpa ada buku-buku non teks, yang dibiarkan saja seperti itu, tanpa ada inovasi untuk menyediakannya.

Baik kondisi pertama maupun kondisi kedua sama-sama memprihatinkan, yang -tentunya- membutuhkan solusi berbeda.

Sebuah perpustakaan yang penuh buku, atau koleksinya memadai semestinya sudah dapat dimanfaatkan untuk menjadi pusat sumber belajar, pusat literasi, dan pusat pengembangan intelektual di lingkungan sekolah. Seharusnya tidak ada masalah. Di sini, dengan tersedianya  buku teks, referensi, ensiklopedia, atlas, majalah, dan sumber digital, siswa telah dengan mudah memperoleh beragam sumber informasi yang mendukung kurikulum dan kebutuhan belajar mandiri mereka. Mereka dapat mengerjakan tugas proyek dan penelusuran informasi. Dapat juga menjadikan perpustakaan sekolah mereka sebagai ruang belajar alternatif yang tenang, kaya sumber, dan fleksibel.

Di perpustakaan sekolah yang “mapan” semacam ini siswa akan mudah menjalankan kegiatan membaca setiap saat, dan sekolah tidak lagi menemui kendala untuk menumbuhkan 

literasi baca tulis, literasi informasi, dan literasi digitalnya. 

Begitu pula terhadap upaya pengembangan intelektual siswa. Ketersediaan buku dan aneka media di perpustakaan sekolah sejatinya menunjang proses pembudayaan berpikir kritis, kreatif, dan reflektif.

Lantas mengapa perpustakaan seideal ini masih tidak “makmur”?

Perpustakaan yang koleksinya memadai tetapi sepi pengunjung menunjukkan bahwa persoalannya bukan pada ketersediaan buku, melainkan pada budaya, kebiasaan, dan strategi pemanfaatannya dalam ekosistem sekolah.

Penyebabnya dapat dilihat dari sisi siswa maupun guru.

Dari sisi siswa, masalahnya dapat berupa -pertama- budaya baca yang belum tumbuh. Siswa tidak meyakini bahwa membaca merupakan kebutuhan atau kebiasaan harian, melainkan sekadar aktivitas saat menyelesaikan tugas.

Kedua, perpustakaan tidak terasa relevan. Buku-buku yang ada di perpustakaan tidak berkaitan langsung dengan minat, hobi, atau dunia siswa.

Ketiga berkaitan dengan persepsi bahwa perpustakaan itu “membosankan”. Siswa enggan datang kecuali terpaksa karena ruangnya yang kaku, sunyi dan formal.

Keempat, akibat ketergantungan pada gawai dan internet, dimana siswa telah lebih terbiasa mencari informasi cepat melalui internet daripada membuka buku cetak.

Tidak adanya “perkenalan” atau “sosialisasi” tentang cara menikmati perpustakaan menjadi penyebab kelima. Umumnya siswa tidak tahu cara memilih buku yang menarik, cara membaca yang menyenangkan, atau manfaat membaca di luar tugas sekolah.

Terakhir, sebagai efek domino dari tidak pernahnya mengunjungi perpustakaan, para siswa nihil pengalaman emosional dengan buku. Mereka belum bahkan tak pernah merasakan bahwa buku bisa menghibur, menyentuh, atau membuat penasaran.

Dari sisi guru, penyebabnya bisa saja, pertama, guru tidak mengintegrasikan perpustakaan dalam pembelajaran yang mereka ampu. Mereka tidak mengharuskan siswa menggunakan sumber perpustakaan untuk menyelesaikan tugas dan kegiatan belajar.

Kedua, terkait dengan penyebab pertama, tidak ada tugas dari guru yang berbasis eksplorasi bacaan. Dalam kasus ini siswa tidak diberi tugas yang menuntut membaca buku nonteks, sastra, atau referensi lain.

Pemicu ketiga, dan ini yang kerap dilupakan oleh guru, yakni guru sendiri jarang memanfaatkan perpustakaan. Siswa meniru kebiasaan guru. Jika guru tidak pernah terlihat membaca atau meminjam buku, siswa pun pasti tidak terdorong.

Tidak ada program literasi yang terstruktur di sekolah juga menjadi biang dari persoalan ini. Sekolah perlu menyelenggarakan kegiatan misalnya bedah buku, atau proyek literasi berbasis perpustakaan.

Intinya, kondisi pertama bukan karena kurangnya buku, melainkan karena tidak ada jembatan yang menghubungkan buku, guru, dan siswa.

Pada kondisi kedua, ada perpustakaan sekolah yang kekurangan koleksi, yang hanya diisi buku teks pelajaran, tanpa ada buku-buku non teks, yang dibiarkan saja seperti itu, tanpa ada inovasi untuk menyediakannya. Kita dapat menemukan penyebab utamanya berasal dari dua faktor yaitu dari sisi kebijakan dan manajemen sekolah dan dari sisi pengelolaan perpustakaan.

Dari sisi kebijakan dan manajemen, sekolah kemungkinan memandang perpustakaan hanya sebagai gudang buku paket, bukan pusat literasi. Akibatknya tidak ada perencanaan pengembangan koleksi dalam program sekolah. Anggaran lebih diprioritaskan untuk kebutuhan lain yang dianggap lebih mendesak. Tidak ada kebijakan yang mendorong pengadaan buku non teks semacam buku pengayaan, sastra, atau bacaan umum. 

Dari sisi pengelolaan perpustakaan, pengelola tidak memiliki wawasan tentang pentingnya buku nonteks, tidak ada kreativitas mencari sumber alternatif pengadaan buku, seperti donasi, kerja sama, atau hibah. 

Kita harus menyelamatkan perpustakaan sekolah dari kondisi mati suri dengan mengembalikan peran ideal perpustakaan sekolah sebagai pusat sumber belajar, pusat literasi, dan pusat pengembangan intelektual di lingkungan sekolah, dengan mengentaskan penyebab dari kedua kondisi yang dipaparkan di atas.

Pada kondisi pertama, sekolah dapat lebih menguatkan usaha-usaha pembiasaan membaca semacam 15 menit membaca rutin sebelum pelajaran dimulai, menambah koleksi perpustakaan sesuai minat siswa seperti komik edukatif, novel remaja, sains populer, biografi tokoh, dan menata ulang ruang: pojok baca santai, pajangan buku baru, sudut rekomendasi siswa. 

Untuk mengatasi ketergantungan siswa pada gawai dan internet, buatlah tantangan literasi, semisal: “temukan jawaban di buku, bukan di Google” pada setiap tugas atau proyek mata pelajaran.

Selain langkah di atas, penting pula bagi pengelola perpustakaan sekolah untuk memberikan orientasi kepada siswa tentang cara memilih buku yang menarik dan sesuai minat mereka. 

Secara berkala dapat pula digelar kegiatan bedah buku, baca bersama, dan berbagi cerita buku favorit.

Kunci utamanya adalah membangun jembatan aktif antara buku – guru – siswa melalui kebiasaan, tugas, dan pengalaman yang menyenangkan. 

Mengubah cara pandang sekolah terhadap perpustakaan dan pengadaan buku secara inovatif dan kreatif adalah jalan keluar untuk mengatasi kondisi kedua.

Sekolah harus “mengubah perlakuan” dari perpustakaan sebagai gudang buku paket menjadi perpustakaan sebagai pusat literasi dan sumber belajar,  yang ditindaklanjuti dengan memasukkan program pengembangan koleksi dalam rencana kerja sekolah.

Terkait bagaimana menyediakan buku di perpustakaan sekolah, penulis meyakini bahwa semua sekolah dan semua pengelola perpustakaan terpaku pada pemahaman bahwa buku koleksi perpustakaan adalah buku cetak, yang telah diterbitkan, yang untuk memperolehnya tentu saja harus dengan cara membeli, atau paling tidak menunggu pemberian dari pemerintah. Mereka lupa atau mungkin tidak pernah berpikir bahwa koleksi perpustakaan sekolah dapat pula berbentuk manuskrip dan naskah digital, yang dapat dibuat oleh warga sekolah, dan karenanya dapat dikoleksi secara gratis.

Manuskrip adalah naskah karya tulis asli yang belum diterbitkan secara resmi sebagai buku oleh penerbit. Kumpulan cerpen, kumpulan puisi, novel, naskah drama, kumpulan esai, kumpulan artikel dalam bentuk tulisan tangan, ketikan, baik yang sudah dicetak maupun yang masih berbentuk data digital merupakan manuskrip.

Bagaimana seandainya karena keterbatasan ruang anggaran atau tidak adanya pemberian pemerintah, sekolah mengambil jalan inovatif dan kreatif untuk pengadaan buku non teks? Yaitu dengan mendorong guru dan siswa untuk menulis manuskrip, baik karya tunggal maupun antologi bersama, lalu manuskrip terbaik mereka kemudian disimpan di perpustakaan sekolah sebagai koleksi? Lalu manuskrip-manuskrip itulah yang menjadi sumber sumber belajar, rujukan literasi, dan referensi pengembangan intelektual di lingkungan sekolah? 

Kenapa tidak?

Guru Bahasa Indonesia dapat mengambil peran sebagai inisiator, teladan yang memberikan contoh penulisan manuskrip, yang membimbing proses penulisan oleh guru lain dan siswa. Mereka sekaligus pula diposisikan sebagai kurator yang menyeleksi manuskrip-manuskrip terbaik yang layak disimpan di perpustakaan sekolah.

Di beberapa sekolah, ada di antara gurunya yang merupakan penulis. Keberadaan mereka dapat diberdayakan sebagai penggerak, pemberi contoh, pembimbing dan kurator bagi karya rekan-rekan guru dan siswa. 

Untuk mempercepat ketersediaan manuskrip di perpustakaan, sekolah dapat menerapkan target tertentu terkait jumlah karya yang harus dihasilkan guru dan siswa.

Langkah ini terbilang belum pernah dilakukan oleh sekolah manapun. Namun tidak berarti tidak mungkin, jika sekolah dan para guru memiliki tekad untuk menjadikan perpustakaan sekolahnya sebagai perpustakaan yang berfungsi sebagaimana mestinya.

Pada akhirnya, perpustakaan sekolah hanya akan kembali hidup bila buku, guru, dan siswa terhubung oleh kebiasaan, program, serta pengalaman bermakna. Melalui inovasi koleksi, budaya literasi, dan keberanian memanfaatkan manuskrip karya warga sekolah, perpustakaan dapat kembali menjadi pusat belajar, literasi, sekaligus ruang tumbuh intelektual yang nyata dan berkelanjutan bagi seluruh siswa[.]


*Penulis adalah penulis puisi, cerpen, novel dan cerita anak. Guru di SMP Negeri 2 Plampang.




Posting Komentar

0 Komentar