005

header ads

PERAHU “OTHOK-OTHOK” | Cerpen karya Nina Wahyu

Malam Minggu di lapangan utama kawasan PG Madukismo, Bantul, selalu tampak seperti sebuah dunia yang turun sebentar ke bumi lalu menghilang lagi setahun berikutnya. Lampu-lampu warna-warni dari komidi putar berputar melingkar di tengah gelap langit, memantulkan cahaya merah, hijau, dan kuning pada wajah orang-orang yang berjalan tanpa tujuan jelas. Musik dangdut dari pengeras suara terdengar pecah-pecah, bertabrakan dengan bunyi mesin diesel, teriakan penjaga wahana, serta tawa anak-anak yang berlarian di antara kaki orang dewasa. Bau arum manis, telur gulung, sate tahu, dan debu jalan yang terseret sandal bercampur menjadi satu aroma khas pasar malam, aroma yang entah mengapa selalu terasa seperti kebahagiaan.

Aku berjalan di samping Ibu sambil sesekali memegang ujung bajunya. Orang-orang bergerak seperti arus sungai yang tak pernah selesai mengalir, membawa anak, membawa kantong belanja, membawa tawa, atau sekadar membawa rasa ingin melupakan hidup barang beberapa jam saja. Aku melangkah pelan sambil menoleh ke segala arah, sebab pasar malam bagi anak kecil seusiaku terasa seperti dunia yang terlalu besar untuk ditelan mata sekaligus. Lalu langkahku berhenti ketika melihat sesuatu yang membuat seluruh keramaian di sekeliling mendadak seperti menjauh.

Di atas sebuah meja kayu kecil terdapat baskom seng berisi air. Di atas permukaan air itu beberapa perahu kecil dari logam berputar perlahan sambil mengeluarkan asap tipis dari cerobongnya. Dari belakang perahu itu terdengar bunyi kecil yang berulang-ulang, bunyi yang sederhana, tetapi entah mengapa terdengar seperti suara makhluk hidup yang sedang bernapas: othok... othok... othok.... Aku berjongkok begitu saja tanpa sadar.

Ibu berhenti lalu ikut menunduk menatapku. Pedagang mainan di hadapan kami sedang mengisap rokok kretek, matanya memperhatikan kami sambil sesekali meniup asap ke udara. Lelaki itu tampak lelah, mungkin karena sejak sore terus menunggu pembeli. Ia tersenyum kecil sambil berkata, “Bagus ya, Nak? Mau beli?”

Aku tidak menjawab. Mataku masih mengikuti perahu kecil itu berputar. Bentuknya sederhana, cat merah-birunya sudah tampak kasar di beberapa bagian, tetapi bagiku benda itu terasa seperti kapal sungguhan. Di kepalaku yang masih kecil, benda itu bukan mainan. Benda itu seperti pintu menuju tempat lain.

“Bagus ya, Buk,” kataku pelan sambil tersenyum kecil. “Dengar bunyinya. Othok... othok... othok....”

Ibu ikut berjongkok di sampingku. Tangannya mengusap rambutku perlahan seperti biasa. Aku hafal sentuhan tangan itu, tangan yang setiap hari pulang dengan bau tanah dan tebu karena bekerja sebagai kuli clemplong di lahan PG Madukismo. Tangan yang kasar, tetapi selalu terasa lembut ketika menyentuh kepalaku.

“Iya,” katanya pelan. “Bagus juga.”

Aku diam. Anak-anak miskin kadang belajar satu hal lebih cepat daripada pelajaran sekolah: tidak semua keinginan perlu diucapkan. Aku tahu wajah Ibu ketika menghitung uang belanja di rumah. Aku hafal bagaimana matanya menunduk dan bibirnya menggigit ujung kerudung jika uang mulai terasa lebih sedikit dibanding kebutuhan.

Mungkin karena mengerti isi pikiranku, Ibu tersenyum sambil menepuk bahuku. Katanya, “Begini saja. Kita masukkan perahu itu ke Daftar Tabungan Ilham.” Aku menoleh cepat. Ibu melanjutkan sambil tersenyum, “Kamu sisihkan uang sakumu sedikit demi sedikit. Nanti Ibu tambah. Kalau sudah cukup, kita beli.”

Aku menatap wajahnya beberapa saat. Wajah itu tampak lelah, tetapi anehnya selalu terlihat tenang. “Jadi nanti aku beli pakai uangku sendiri?” tanyaku perlahan. Ibu tertawa kecil lalu mengangguk.

Malam itu aku pulang sambil menghitung masa depan. Dua minggu rasanya sebentar. Aku membayangkan perahu itu sudah ada di rumah, berjalan di baskom besar sambil berbunyi othok... othok... othok.... Sepanjang jalan pulang aku tersenyum sendiri sambil menghitung uang receh yang bahkan belum ada di tanganku.

Dua minggu kemudian pasar malam memasuki hari terakhir. Udara malam terasa lebih berat karena debu, asap makanan, dan manusia yang datang berdesakan dari berbagai arah. Lampu-lampu terasa lebih terang, musik terasa lebih keras, dan para pedagang terdengar lebih bersemangat sebab besok pagi semuanya akan dibongkar. Orang-orang selalu tampak lebih bahagia ketika sesuatu hampir berakhir.

Aku dan Ibu kembali datang. Kali ini aku menggenggam plastik kecil berisi perahu othok-othok yang sudah lama kuinginkan. Aku memeluknya erat sepanjang jalan pulang. Aku takut benda itu hilang, sebab kadang sesuatu yang terlalu kita inginkan justru terasa mudah lenyap.

Ibu menggandeng tanganku. Sesekali ia menoleh sambil tersenyum melihatku. Senyum itu tampak lebih lelah dibanding dua minggu lalu, tetapi aku tidak terlalu memikirkannya. Anak kecil memang sering mengira orang tuanya akan selalu ada.

Lalu semuanya terjadi terlalu cepat.

Suara rem memekik. Cahaya lampu menabrak mata. Tubuhku seperti melayang. Dunia berputar, lalu gelap.

Ketika membuka mata, suara orang-orang terdengar seperti datang dari dasar sumur. Wajah-wajah asing mengelilingiku. Seorang polisi berjongkok sambil memegang bahuku. Seorang lelaki lain bertanya apakah kakiku sakit. Bau darah bercampur tanah dan hujan memenuhi hidungku.

“Ibu mana?” tanyaku.

Tak ada yang menjawab.

Aku bertanya lagi.

“Ibu mana?”

Polisi itu menunduk. Untuk pertama kalinya aku melihat orang dewasa tidak berani menatap mata anak kecil.

*****

Dua puluh delapan tahun berlalu seperti kereta malam yang tak pernah berhenti di stasiun kecil. Hidup bergerak terus, meski pada beberapa orang waktu sebenarnya diam di tempat yang sama. Aku tumbuh menjadi lelaki dewasa, menjadi dosen teknik kelautan, menikah, memiliki anak, dan membangun perpustakaan kecil di rumah peninggalan Ibu. Di salah satu sudut ruangan, tersimpan perahu othok-othok di dalam kotak kaca.

Banyak orang mengira aku menyimpannya karena kenangan. Padahal sesungguhnya bukan. Ada benda-benda tertentu yang bukan menyimpan kenangan. Benda-benda itu menyimpan seseorang.

Malam itu aku duduk sendirian di perpustakaan. Hujan baru saja turun tipis. Di luar, suara daun mangga bergesekan tertiup angin. Dari belakang terdengar langkah kecil mendekat.

Bagas, anakku.

Ia berdiri sambil memegang perahu othok-othok yang entah bagaimana berhasil ia keluarkan dari kotak kaca.

“Pak,” katanya pelan. “Kenapa Bapak tidak pernah membiarkan perahu ini dimainkan?”

Aku tersenyum kecil. Sudah puluhan tahun ternyata aku tak pernah menemukan jawaban yang tepat. Aku hanya menatap benda itu dalam diam, seperti biasa.

Bagas membolak-balik perahu itu. Ia memperhatikan bagian bawah logam yang mulai berkarat. Lalu keningnya mengerut.

“Pak,” katanya lagi. “Siapa Sulastri?”

Aku menoleh cepat.

Dadaku mendadak sesak.

Perlahan kurebut perahu itu.

Kubalik.

Di bagian bawah logam, tertulis goresan kecil yang nyaris hilang dimakan usia:

Milik Sulastri. Hadiah dari Suparno.

Tanganku gemetar.

Dunia seperti berhenti.

Karena Sulastri adalah nama Ibu.

Dan Suparno...

adalah nama Ayah.

Aku menatap tulisan itu lama sekali. Sangat lama. Sampai tiba-tiba aku sadar pada sesuatu yang selama puluhan tahun tak pernah kupikirkan.

Aku tak pernah melihat Ibu membeli perahu itu malam itu.

Aku hanya ingat ketika sadar di pinggir jalan, perahu itu sudah ada dalam pelukanku.

Dan untuk pertama kalinya setelah dua puluh delapan tahun, aku teringat cerita tetangga-tetangga yang dulu tak pernah kupahami: bahwa sebelum kecelakaan, ada seorang lelaki tua berjaket lusuh berlari menerobos kerumunan, mengangkat tubuh Ibu, lalu menghilang sebelum ambulans datang.

Aku kembali menatap tulisan itu.

Suparno.

Nama ayah yang seumur hidup tak pernah kutemui.

Nama ayah yang kata orang sudah meninggal bahkan sebelum aku lahir.

Di luar jendela, angin malam berhembus pelan.

Entah dari mana, tiba-tiba seperti terdengar suara kecil dari masa lalu:

othok...

othok...

othok...

Dan mendadak aku tidak lagi takut kehilangan Ibu.

Aku takut pada kemungkinan lain:

barangkali selama ini...

yang hilang bukan Ayah.

Melainkan seseorang yang sengaja pergi. (*)


Nina Wahyu adalah penulis cerpen yang bermukim di Magetan. Aktif di KOSAMARA (Komunitas Sastra Madiun Raya). Juga sebagai pengelola Rumah Budaya Honggo Utomo. 


Posting Komentar

1 Komentar

  1. Mbak Nina, mengingatkan mainan ku saat kecil🥰

    BalasHapus

Lingkar literasi, sastra, dan seni budaya Asia Tenggara serumpun Bahasa.