005

header ads

CERPEN FILESKI | BINTANG JATUH DI TENGAH TELAGA

dimuat di Bangka Pos, 4 Agustus 2024


Berduyun-duyun orang berdatangan dari seluruh penjuru desa. Mobil ambulan sudah terparkir di depan halaman rumah pak Carik. Membawa jenazah dari Kediri. Pukul 15.00 orang-orang sudah berjubel memadati lapangan yang tak jauh dari telaga. Mereka saling bertanya, ada yang sudah tau kabar, bahkan terlihat sok tau. Ada yang masih bingung kenapa orang-orang berkumpul sampai seramai ini. 


Aku dan teman-teman yang dulunya satu sekolah, bertemu lagi. Lebih tepatnya dipertemukan sebuah kabar. Rasanya seperti reuni. Hanya saja bukan kebahagiaan yang membuat kami berkumpul. Berita duka. Seorang teman, sahabat, yang sudah sangat akrab seperti saudara sendiri, telah meninggal dunia. Karena kecelakaan, perjalanan dari Kediri menuju rumahnya. Tak ada yang tahu dengan datangnya kematian. Begitulah kematian, setiap kali ia datang, orang-orang akan selalu berkata, tidak menyangka. 


Namanya Sekar Kenanga, kini ia sudah tiada. Meninggalkan kami untuk selamanya. Ia kuliah di Kediri, mengambil jurusan kebidanan. Sedangkan aku kuliah di Surabaya. Dulu sebelum kami terpisah jarak karena kuliah, aku dan teman-teman, termasuk Sekar Kenanga sering menghabiskan waktu bersama. Bisa dikatakan satu geng. Anaknya ramah, cantik, baik hatinya, ia sering mendamaikan teman-teman yang berseteru. Meski usianya waktu itu masih remaja, pemikirannya lebih dewasa dari rata-rata perempuan usia belasan pada umumnya. 


Kinan, Tasya, Joko, Markus, Maliki, semua terkejut dengan berpulangnya Sekar Kenanga hari ini. terutama Kinan. Sebab Kinan yang terakhir kali bertemu Sekar Kenanga.  Ketika Sekar Kenanga beberapa hari berkunjung di kos-kosan Kinan di Surabaya. Mendengar kabar ini, aku dan Kinan langsung bergegas untuk pulang ke kampung halaman. Dengan penuh rasa tidak percaya di sepanjang perjalanan, sesampainya di rumahnya Sekar Kenanga, kabar duka itu benar adanya. 


Jenazah mulai dimandikan pada pukul 15.34, suara isak tangis terdengar riuh. Begitu banyak orang yang menangisi kepergian Sekar Kenanga, sosok perempuan periang yang meninggalkan banyak kenangan baik pada orang-orang disekitarnya, termasuk masyarakat sekitar telaga Kenanga. Dinamakan telaga Kenanga karena di tengah telaga itu ada sebuah pulau yang tumbuh banyak bunga kenanga. 


Menurut legenda masyarakat sekitar sini, sosok Nyi Pusar adalah yang mbabat desa ini, bersama suaminya Ki Pusar, mereka berdua lah yang membuat telaga ini ada. Meskipun saat ini mereka sudah tiada, masyarakat percaya keberadaan mereka masih ada di sekitar telaga. Ada yang mengatakan mereka bersemayam di pulau yang ada di tengah telaga, memberikan perlindungan dan ketentraman bagi masyarakat desa. Pusar juga berarti Udel dalam bahasa jawa. Maknanya tali pusar yang menghidupi bayi dalam kandungan, mengalirkan asupan dari induknya. Bermakna yang merawat dan selalu menjaga setiap bayi yang lahir di desa ini, sehingga di desa ini hampir tak ada yang meninggal karena proses melahirkan, baik bayinya atau ibunya. 


Tak ada yang berani mengunjungi pulau yang ada di tengah telaga. Hanya orang-orang tertentu, seperti para pemangku adat yang dipercaya bisa menjaga kelestarian nya. Dalam pulau itu ada dua makam yang panjangnya tidak seperti makam pada umumnya, kira-kira panjangnya 3 meter. Masyarakat percaya, kedua makam itu adalah makam dari Ki Pusar dan Nyai Pusar. Selain sebagai punden ketentraman desa, kedua makam itu juga melambangkan arti kesetiaan sepanjang usia. 


Suatu hari, ketika Sekar Kenanga masih duduk di bangku SD kelas 5. Sekar Kenanga pernah berjalan masuk ke pulau tengah telaga. Sebelumnya tak ada yang tau, seharian orangtuanya mencarinya. Pak Carik sempat melapor ke polisi. Dibantu masyarakat sekitar, semua turut mencari Sekar Kenanga. Sampai pada akhirnya pemangku adat mendapat wangsit. Ada isyarat yang memberitahukan posisi Sekar Kenanga ada di pulau tengah telaga. 


Setelah mendapat kabar itu, bergegaslah beberapa orang termasuk pak Carik, menaiki perahu. Sesampainya di dekat pulau, perahu dirapatkan, tiga orang turun dari perahu, termasuk pak Carik ayahnya Sekar Kenanga. Perahu diikat pada sebuah pohon dengan seutas tali dadung. 


Semua tampak heran dengan keanehan itu, dikala telaga sedang pasang, airnya penuh. Bagaimana bisa Sekar Kenanga, seorang anak kecil bisa menyeberang ke pulau tengah. Pun Sekar Kenanga juga belum bisa berenang melawan arus telaga yang sedang kencang-kencangnya. 


Mendekati lokasi kedua makam itu berada, benar ternyata. Ada seorang anak kecil yang duduk di antara kedua makam itu. 


“Sekar Kenanga, nak, Sekar.” ayahnya memanggil. Namun sosok gadis kecil itu tak bergeming. 


Pemangku adat membaca mantra, mengarahkan lima jari ke arah Sekar Kenanga. Sontak Sekar Kenanga pun pingsan. Kemudian Pemangku Adat merapatkan kedua telapak tangannya, memejamkan mata, terlihat seperti sedang berkomunikasi secara gaib. Setelah itu, Pemangku adat memberikan penghormatan pada kedua makam keramat itu. Dan mereka semua setelah itu kembali ke kampung, menaiki perahu. 


Sesampainya di rumah, Sekar Kenanga siuman. Ayahnya bertanya tentang kejadian yang baru saja menimpanya. Dengan terbata-bata Sekar Kenanga bercerita. Pemangku adat melengkapinya, menerjemahkan maksud dari Sekar Kenanga. Singkat cerita, Nyai Pusar menganggap Sekar Kenanga adalah anaknya. Ia ingin Sekar Kenanga menjaga kelestarian pulau tengah, makam, telaga, dan lingkungan sekitarnya. 


Semenjak kejadian di hari itu, Sekar Kenanga punya kelebihan dari manusia biasa. Ia mampu membantu proses persalinan ketika ada seorang ibu yang kesulitan saat melahirkan. Pernah ada kejadian, seorang yang hendak melahirkan, divonis dokter harus operasi cesar kalau pada hari H melahirkan posisi bayinya masih belum semestinya. 


Seharusnya kepala bayi yang di bawah, untuk memudahkan keluar dari rahim. Akan sulit jika posisi kakinya yang di bawah. Masyarakat desa yang sudah tau kelebihan yang dimiliki Sekar Kenanga, memanggilnya untuk membantunya. Hanya dengan memegang perut ibunya dengan telapak tangannya. Ia putar telapak tangannya dari atas ke bawah, dan menariknya. Kepala bayi itu sudah tampak akan muncul melewati liang rahim. Dan beberapa jam proses bukaan, bayi itu bisa lahir dengan selamat beserta ibunya. Seorang anak kelas lima SD bisa membuat keajaiban dan membantu banyak orang. 


***

Ketika Jenazah Sekar Kenanga akan diberangkatkan ke makam, Pemangku adat meminta waktu untuk berbicara dengan Pak Carik, ayahnya Sekar Kenanga. Aku dan beberapa teman yang dulunya satu sekolah dengan Sekar Kenanga, beruntung bisa ikut menyimak apa yang akan diceritakan.


“Pak Carik ingat kejadian ketika Sekar Kenanga masih kecil, pernah menyeberang ke pulau tengah telaga? Lalu kita menjemputnya, dan membawanya pulang dari sana.”

“Masih ingat Pak, kejadian yang mengherankan itu masih sangat saya ingat sampai sekarang.” jawab Pak Carik. 


“Sebetulnya ada pesan yang belum saya sampaikan setelah kejadian itu, selain kelebihan kekuatan yang dimiliki nak Sekar Kenanga, ada satu hal lagi.”


“Apa itu pak?”


“Leluhur memberi tahu, bahwa nak Sekar Kenanga akan punya kekuatan untuk bisa menolong orang melahirkan, namun usianya tidak akan lebih dari 21 tahun.” Dengan berat hati Pemangku Adat menceritakan kenyataan itu. Ayah Sekar Kenanga pun meneteskan air mata. 


“Dulu saya sengaja tidak ceritakan langsung pada saat kejadian, karena saya tidak ingin membuat ada kesedihan yang terus menghantui Sekar Kenanga dan keluarga semenjak kejadian itu. Panjenengan dan keluarga, juga semua teman-temannya Sekar Kenanga tidak perlu bersedih. Leluhur bercerita, kalau nak Sekar Kenanga tidak akan merasakan sakit ketika Nyawanya diambil. Kecelakaan ini hanya sekedar lantaran yang harus dilalui, tapi aslinya nak Sekar Kenanga sudah tak bernyawa sebelum dia dan motornya menabrak, jiwanya sudah diangkat sebelum terjadi benturan. Mari kita semua mengikhlaskan nak Sekar Kenanga. Agar ia tenang di alam abadi.”


Setelah semua orang mengikhlaskan, jenazah Sekar Kenanga pun diangkat. Sesuai permintaan pemangku adat, yang mendapat bisikan pesan dari leluhur. Sekar Kenanga harus dimakamkan di samping Kyai Pusar dan Nyai Pusar. Seluruh masyarakat berbondong-bondong mengelilingi telaga untuk melihat prosesi pemakamannya. Dengan menggunakan perahu, jenazah itu dibawa menuju pulau tengah telaga. 


Pada saat tujuh harinya, usai selamatan di rumahnya. Masyarakat melihat ada bintang jatuh dari langit, menuju pulau tengah telaga. Sehingga membuat pulau itu tampak bercahaya, putih cemerlang. Pun kejadian itu terulang lagi pada ke 40 harinya. Setiap orang yang ada di sekitar telaga, takjub melihatnya. 


Hingga kini, kejadian itu kadang kala berulang, ketika air telaga mulai surut. Masyarakat pun selalu niteni, setiap kali telaga surut, kemudian ada bintang Sekar Kenanga yang jatuh di pulau tengah telaga, beberapa orang yang percaya akan berjalan menuju pulau itu. Untuk memetik bunga kenanga. Karena ketika telaga surut, timbul jalan yang bisa dilewati menuju pulau tengah tanpa harus menaiki perahu. Bunga kenanga yang didapatkan dari sana, dibawa pulang, kemudian direbus. Air rebusannya diminumkan pada seorang ibu yang mau melahirkan. Dan cara itu dipercaya bisa memperlancar proses persalinan. 


Dengan adanya kepercayaan itu, masyarakat selalu menjaga kelestarian telaga. Jika kau lihat di sepanjang telaga, tak ada sampah yang berserak di jalan atau terapung di telaga. Hingga saat ini, telaga itu masih asri dan lingkungannya sangat terjaga. Setiap tahun sekali, warga desa ini menggelar Festival Sekar Kenanga, ketika telaga sedang surut, banyak warga berbondong-bondong mengunjungi makam di pulau tengah. Tak hanya menjaga alam, mitos itu juga sangat berpengaruh pada pendapatan ekonomi dan daya tarik wisata di desa ini. (*) 




Fileski, nama asli Walidha Tanjung Files, lahir di Madiun pada 21 Februari 1988, adalah penulis, musikus, dan penyair Indonesia. Karyanya telah dimuat di berbagai media terkemuka, termasuk Koran Pikiran Rakyat, Jawa Pos, dan Suara Merdeka. Fileski sering tampil dalam acara sastra dengan konsep Resital Puisi dan telah menerima beberapa penghargaan, termasuk Anugerah Hescom dari e-Sastera Malaysia 2014-2015. Ia juga terpilih sebagai Lima Terbaik kategori Seni Budaya GCC 2021 oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Sebagai delegasi Penyair Jawa Timur, ia telah mengikuti berbagai ajang sastra nasional. Kontaknya: fileskifileski@gmail.com, Instagram @fileski, Facebook: Mas Fileski, WA 08888710313.






Cerpen Bintang Jatuh di Tengah Telaga karya Fileski Walidha Tanjung tidak berhenti sebagai kisah duka tentang kematian seorang gadis desa bernama Sekar Kenanga. Di balik alur naratif yang menyentuh, tersimpan lapisan makna filosofis yang kuat—tentang hubungan manusia dengan alam, warisan leluhur, serta keadilan kemanusiaan yang tak selalu dapat diukur secara rasional. Justru dalam pertemuan antara realitas dan mitos itulah cerpen ini menemukan daya hidupnya sebagai karya sastra yang lebih dalam dari sekadar cerita.

Salah satu kekuatan utama cerpen ini terletak pada simbol telaga. Telaga bukan hanya latar tempat, melainkan representasi ekologi yang hidup dan dijaga oleh kesadaran kolektif masyarakat. Kepercayaan terhadap keberadaan Ki Pusar dan Nyai Pusar, serta kisah Sekar Kenanga yang “dipilih” oleh leluhur, membentuk semacam sistem etika lingkungan berbasis kearifan lokal. Masyarakat tidak menjaga telaga karena aturan formal atau ancaman hukum, melainkan karena rasa hormat terhadap sesuatu yang dianggap sakral. Dalam konteks ini, mitos menjadi alat konservasi yang efektif. Ia mengikat manusia pada tanggung jawab ekologis melalui rasa takut, hormat, sekaligus cinta.

Fenomena ini menjadi kritik halus terhadap cara modern memandang alam. Di banyak tempat, alam dieksploitasi karena dianggap sekadar sumber daya. Namun dalam cerpen ini, telaga diposisikan sebagai entitas yang memiliki “roh” dan harus diperlakukan dengan penuh kesadaran. Ketika masyarakat percaya bahwa bunga kenanga memiliki kekuatan untuk membantu persalinan, maka mereka menjaga kelestarian telaga sebagai sumber kehidupan. Ini menunjukkan bahwa keberlanjutan lingkungan tidak selalu lahir dari teknologi canggih, tetapi bisa tumbuh dari narasi budaya yang diwariskan turun-temurun.

Selain isu ekologi, cerpen ini juga memuat refleksi tentang keadilan kemanusiaan. Sekar Kenanga digambarkan memiliki kemampuan luar biasa untuk membantu proses kelahiran—sebuah simbol kehidupan. Namun, ia juga harus menerima takdir bahwa hidupnya singkat, tidak lebih dari 21 tahun. Di sinilah muncul pertanyaan filosofis: apakah adil seseorang diberi kemampuan besar namun waktu yang terbatas untuk menggunakannya? Cerpen ini tidak memberikan jawaban eksplisit, tetapi mengarahkan pembaca pada pemahaman bahwa keadilan tidak selalu berbentuk kesetaraan durasi hidup, melainkan pada makna yang dihasilkan selama hidup itu berlangsung.

Sekar Kenanga menjadi representasi manusia yang hidupnya singkat namun penuh manfaat. Ia hadir sebagai pengingat bahwa nilai hidup tidak diukur dari panjangnya usia, melainkan dari seberapa besar kontribusi yang diberikan kepada sesama. Dalam konteks ini, kematiannya bukan sekadar tragedi, melainkan transformasi. Ia tidak benar-benar “hilang”, melainkan beralih menjadi bagian dari sistem kepercayaan yang terus hidup dalam masyarakat—bahkan setelah kematiannya.

Simbol “bintang jatuh” yang muncul setelah kematian Sekar Kenanga memperkuat dimensi spiritual cerpen ini. Bintang jatuh tidak hanya dimaknai sebagai fenomena alam, tetapi sebagai tanda kehadiran ruh yang kembali ke asalnya. Cahaya yang jatuh ke telaga menjadi metafora tentang siklus kehidupan: dari langit ke bumi, dari manusia kembali ke semesta. Dalam pandangan ini, kematian bukan akhir, melainkan bentuk lain dari keberlanjutan.

Lebih jauh, cerpen ini juga menegaskan pentingnya lokalitas sebagai sumber makna. Di tengah arus globalisasi yang seringkali mengikis identitas budaya, kisah tentang telaga, pemangku adat, dan ritual desa menjadi bentuk perlawanan yang halus. Ia mengingatkan bahwa nilai-nilai luhur tidak selalu ditemukan dalam konsep-konsep modern, tetapi justru hidup dalam praktik sehari-hari masyarakat tradisional. Festival Sekar Kenanga, misalnya, bukan sekadar acara tahunan, melainkan bentuk aktualisasi ingatan kolektif sekaligus strategi ekonomi berbasis budaya.

Menariknya, cerpen ini tidak memposisikan tradisi sebagai sesuatu yang kaku atau irasional. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa kepercayaan lokal dapat berjalan berdampingan dengan realitas modern. Sekar Kenanga sendiri adalah mahasiswa kebidanan—representasi ilmu pengetahuan modern—namun tetap terhubung dengan kekuatan spiritual leluhur. Ini menciptakan jembatan antara dua dunia yang sering dianggap bertentangan: sains dan tradisi.

Dengan demikian, Bintang Jatuh di Tengah Telaga adalah refleksi tentang harmoni. Harmoni antara manusia dan alam, antara hidup dan mati, antara modernitas dan tradisi. Cerpen ini mengajak pembaca untuk melihat bahwa kehidupan tidak selalu dapat dijelaskan secara logis, tetapi dapat dirasakan melalui pengalaman batin dan kebijaksanaan kolektif.

Pada akhirnya, karya ini menyampaikan pesan yang relevan dengan kondisi dunia saat ini: bahwa krisis ekologis dan kemanusiaan tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan rasional semata. Dibutuhkan kesadaran spiritual, penghormatan terhadap warisan budaya, serta kemampuan untuk melihat kehidupan sebagai sesuatu yang saling terhubung. Sekar Kenanga mungkin telah tiada, tetapi makna yang ia tinggalkan justru semakin hidup—seperti bintang yang jatuh, namun cahayanya tetap abadi di dalam telaga ingatan manusia.





Posting Komentar

0 Komentar