
oleh Fileski Walidha Tanjung
Kamis, 30 April 2026, di halaman SLB Negeri Banjarsari Wetan, saya berdiri bukan hanya sebagai seorang editor buku, tetapi sebagai saksi dari sebuah peristiwa kultural yang lebih dalam dari sekadar peluncuran buku. Buku Menjemput Matahari: Perjalanan Hidup dan Pengabdian karya Handik Indarwati tidak hadir sebagai teks biasa. Ia adalah sebuah pernyataan sunyi tentang bagaimana manusia bertahan, melawan, dan pada akhirnya menemukan makna di tengah keterbatasan yang sering kali dianggap sebagai takdir.
Aula SLB Negeri Banjarsari Wetan tidak hanya menjadi ruang peluncuran buku, tetapi juga menjadi saksi sebuah momen transisi yang sarat makna: serah terima jabatan kepala sekolah. Di usia genap 60 tahun, Bu Handik Indarwati menutup perjalanan panjangnya sebagai aparatur sipil negara dengan purna tugas yang penuh kehormatan. Selama kurang lebih 35 tahun, ia mengabdikan dirinya sebagai guru dan kepala sekolah, menapaki jalan sunyi pendidikan dengan ketekunan yang tidak pernah banyak disorot, tetapi berdampak nyata. Acara ini dihadiri oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Madiun, Ibu Lena, M.Pd, beserta jajaran, yang turut menjadi saksi perjalanan pengabdian yang sarat nilai kemanusiaan dan dedikasi.
Apa yang dirayakan hari ini bukan sekadar akhir masa tugas, melainkan puncak dari perjalanan panjang yang penuh kontribusi. Dalam buku yang diluncurkan, pembaca akan menemukan jejak prestasi yang bukan hanya bersifat simbolik, tetapi juga transformatif. Handik Indarwati pernah meraih Juara I Kepala Sekolah Berdedikasi Tingkat Kabupaten dan Provinsi, serta Juara I Kepala Sekolah Pendidikan Khusus Berprestasi Tingkat Nasional pada tahun 2014. Ia juga menjadi peserta program Australia Awards Fellowship di Queensland University of Technology pada tahun 2017. Inovasi-inovasinya seperti strategi SHIATSU, program MEKAR SIBARAN, serta Menjemput Matahari Menggapai Mimpi (4M) mengantarkannya meraih penghargaan Innovative Government Award (IGA) tingkat Provinsi Jawa Timur pada tahun 2022, serta berbagai penghargaan lain dalam bidang inovasi pendidikan. Namun lebih dari itu, prestasi sejatinya terletak pada perubahan yang ia hadirkan—pada peserta didik yang menjadi lebih mandiri, pada sekolah yang tumbuh menjadi ruang harapan, dan pada masyarakat yang mulai melihat pendidikan sebagai cahaya, bukan sekadar kewajiban.
Kita hidup di zaman yang aneh. Zaman yang memuja kecepatan, tetapi melupakan kedalaman. Zaman yang mengagungkan pencapaian, tetapi sering kali mengabaikan proses. Dalam lanskap seperti ini, biografi seringkali berubah menjadi katalog prestasi—deretan angka, gelar, dan penghargaan. Namun buku ini justru bergerak ke arah yang berlawanan. Ia tidak menawarkan kesempurnaan, melainkan keberanian untuk mengakui ketidaksempurnaan sebagai bagian dari kemanusiaan.
Saya membaca buku ini bukan sebagai kumpulan peristiwa, tetapi sebagai medan tafsir. Di dalamnya, saya menemukan sesuatu yang lebih dari sekadar kisah hidup: sebuah kritik diam terhadap cara kita memaknai pendidikan dan kesuksesan. Ki Hajar Dewantara pernah mengatakan, “Pendidikan adalah tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak.” Namun dalam praktiknya hari ini, pendidikan sering kali direduksi menjadi sekadar mekanisme produksi nilai. Buku ini mengembalikan pendidikan ke hakikatnya: sebagai proses memanusiakan manusia.
Yang menarik dari sosok Handik Indarwati bukanlah semata prestasi yang diraihnya, tetapi cara ia memahami keterbatasan sebagai ruang kreatif. Dalam dunia yang sering kali memandang kekurangan sebagai hambatan, ia justru melihatnya sebagai peluang untuk berinovasi. Di sinilah buku ini menjadi penting. Ia tidak hanya menginspirasi, tetapi juga menggugat. Ia mengajak kita bertanya: apakah kita benar-benar hidup, atau hanya menjalani rutinitas tanpa kesadaran?
Dalam perspektif filsafat, pengalaman hidup Bu Handik dapat dibaca sebagai praktik eksistensial. Friedrich Nietzsche pernah menulis, “Ia yang memiliki alasan untuk hidup akan mampu menghadapi hampir segala cara.” Kutipan ini menemukan relevansinya dalam perjalanan tokoh ini. Ia tidak menunggu keadaan berubah, tetapi memilih untuk menjadi bagian dari perubahan itu sendiri. Dan pilihan itulah yang membuat hidupnya memiliki makna.
Namun yang membuat buku ini melampaui batas biografi biasa adalah dimensi relasionalnya. Ia tidak berdiri sebagai kisah individual, tetapi sebagai jaringan makna yang melibatkan keluarga, siswa, dan masyarakat. Dalam dunia yang semakin individualistik, buku ini mengingatkan bahwa keberhasilan sejati selalu bersifat kolektif. Bahwa di balik setiap langkah seseorang, ada tangan-tangan lain yang tidak terlihat tetapi menentukan arah perjalanan.
Di sinilah saya melihat buku ini sebagai teks budaya, bukan sekadar teks personal. Ia berbicara tentang Indonesia yang jarang kita lihat: Indonesia yang bekerja dalam diam, yang berjuang tanpa sorotan, yang membangun masa depan tanpa banyak kata. Dalam konteks ini, buku ini menjadi semacam arsip alternatif—sebuah dokumentasi tentang bentuk lain dari kepahlawanan yang tidak selalu diakui oleh sejarah resmi.
Lebih jauh, buku ini juga membuka ruang bagi kritik terhadap cara kita memaknai kesuksesan. Dalam budaya populer hari ini, kesuksesan sering kali diukur melalui visibilitas—seberapa banyak orang mengenal kita, seberapa besar pengaruh kita di ruang publik. Namun Bu Handik Indarwati menunjukkan bahwa kesuksesan bisa hadir dalam bentuk yang lebih sunyi: dalam perubahan kecil yang berdampak besar, dalam kehidupan orang lain yang menjadi lebih baik karena kehadiran kita.
Paulo Freire pernah mengatakan, “Pendidikan sejati adalah praktik kebebasan.” Buku ini menghadirkan praktik itu dalam bentuk yang konkret. Ia tidak berbicara tentang kebebasan sebagai konsep abstrak, tetapi sebagai tindakan nyata yang dilakukan setiap hari. Dalam ruang kelas, dalam kebijakan sekolah, dalam interaksi dengan siswa, kebebasan itu diwujudkan sebagai upaya untuk melihat manusia sebagai subjek, bukan objek.
Sebagai seorang penulis, saya melihat buku ini memiliki kekuatan yang jarang dimiliki oleh karya-karya sejenis: kemampuan untuk membuat pembaca merasa terlibat. Ia tidak memposisikan pembaca sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari percakapan.
Setiap halaman seolah bertanya: di mana posisi kita dalam cerita ini? Apakah kita hanya membaca, atau sebenarnya kita sedang membaca diri kita sendiri?
Peluncuran buku ini, yang berlangsung di Kabupaten Madiun, menjadi simbol bahwa pusat makna tidak selalu berada di kota-kota besar. Bahwa dari ruang-ruang yang dianggap pinggiran, lahir gagasan-gagasan yang justru lebih autentik. Ini adalah peristiwa yang menggeser cara kita melihat pusat dan pinggiran, penting dan tidak penting, besar dan kecil.
Pada akhirnya, buku ini tidak menawarkan jawaban yang final. Ia justru membuka ruang bagi pertanyaan yang lebih dalam. Dan mungkin di situlah letak kekuatannya. Karena dalam dunia yang penuh dengan kepastian palsu, pertanyaan yang jujur sering kali lebih berharga daripada jawaban yang pasti.
Maka, setelah semua ini, pertanyaan yang tersisa bukanlah tentang siapa Handik Indarwati, atau seberapa besar pencapaiannya. Pertanyaan yang sebenarnya adalah: apakah kita memiliki keberanian untuk menjemput matahari kita sendiri? Ataukah kita masih menunggu cahaya datang tanpa pernah benar-benar mencarinya. (*)
Fileski Walidha Tanjung adalah seorang sastrawan dan pendidik seni budaya kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis esai, puisi dan prosa di berbagai media nasional. Novel terbarunya berjudul “Tanah Terbelah 1948”.

0 Komentar
Lingkar literasi, sastra, dan seni budaya Asia Tenggara serumpun Bahasa.