INDONESIA DALAM PIANO
:Untuk Ananda Sukarlan
Di jemarimu
Lagu-lagu yang lahir di beranda kampung
Yang tumbuh di lereng-lereng bukit
Yang bersiur di pesisir pantai
Menjadi gemerlap ruang konser
Seperti angin dari timur yang berlayar ke barat
Menyusuri selat demi selat yang tak tertulis di peta musik dunia
Indonesia tidak kau bawa sebatas nama
Tetapi kau bawa sebagai jiwa
Berkumandang di antara tinggi rendahnya nada
Dan piano itu
Di tanganmu menjadi jendela
Tempat dunia memandang Indonesia
Bukan sebatas deretan pulau-pulau semata
Tetapi
Menjadi satu simponi yang bernyanyi
Di hadapan delapan puluh delapan tuts
Indonesia menjadi gema
Dengan nada-nada yang pulang dari hutan, laut, gunung, dan doa-doa
Dari jemarimu
Kami mendengar sungai-sungai yang mengalir
Aneka bahasa yang saling menyapa
Beragam gerak tari yang menggoda
Dan di sana
Jauh setelah tepuk tangan mereda
Seorang seniman
Tegak membungkuk
Mengajarkan bahwa nada-nada pun dapat pulang
Lewat sebaris melodi dan sekeping kenangan
Jakarta, 2026
**
DI BAWAH TUMIT
Negeriku di bawah tumit
Nafasku dipajak
Airku dikredit
Langitku abu-abu
Penuh papan reklame dengan janji-janji serta mimpi-mimpi yang busuk sebelum dini hari
Perutku berdialog dengan keroncong
Sesekali berteriak ke telinga tuan yang tuli
“Ini hidup, tapi kenapa rasanya seperti mati berdiri?”
Aku tak menemukan jawaban
Malam ini, aku tengadah mencari bulan
Tapi ia tak lagi ada
Kudengar, sudah dijual ke negeri tetangga
Katanya, untuk menutup utang yang entah siapa penyebabnya
Anakku bertanya,
"Ayah, kenapa nasi kita terlalu asin?"
Aku tak tahu bagaimana menjelaskannya
Apakah harus aku katakan bahwa berasnya berasal dari airmata
Sesekali, aku bermimpi
Rumah kami punya kaki
Kuajak dia berlari
Meninggalkan kampung kumuh menuju surga yang hanya ada di dalam brosur
Tetapi, pagi datang terburu-buru
Semua mimpi dibakarnya
Hanya menyisakan angka; angka kemiskinan
Lalu aku bertanya kepada Tuhan
"Sampai kapan kami akan terus dihimpit kebutuhan?"
Aku tak menemukan jawaban
Karena Tuhan hanya memberiku hujan
(2025)
**
SATPOL-PP
"Usahaku hanya ini, Pak. Gorengan, kopi, rokok, dan senyum seadanya."
Tubuhku gemetar ketika kau datang dengan sepatu besar
Melangkah bak raja tanpa istana
Dan pentunganmu lebih keras dari hatimu
“Gerobakku bukan emas, hanya terbuat dari kayu bekas, tapi mengapa kalian rampas?"
Kami tahu kau menjalankan perintah, tapi perintah siapa?
Gedung-gedung berdasi?
Atau ego yang berdiri di atas papan namamu sendiri?
Kami pedagang, bukan pencuri
Kami berjuang di jalanan ini
Karena lapak resmi, tak mampu kami beli
Apa yang salah dengan kami?
Coba lihat … istriku menangis
Gerobaknya hilang
"Apa mereka lupa yang terusir juga manusia?”
Aku tertawa
Bukan karena lucu, tetapi karena tak bisa lagi berkata apa-apa
Suaraku hilang diterjang sepatu PDL mereka
Kuseka amarah di dada
"Esok aku akan kembali dengan gerobak dari rentenir yang datang tadi
Kita lihat, seberapa kuat kau menyita mimpi-mimpi kami.
(2025)
**
Safri Naldi
Nama pena di sosial media FB / TIKTOK – ARUZA
Lahir di Pematang Siantar, 15 April 1977
Aktif menulis di sosial media, khususnya facebook dan tiktok sebagai salah satu pembimbing di sebuah broadcast puisi bernama POCATJU.
Belum menerbitkan buku tunggal tetapi ada beberapa buku antologi bersama beberapa penulis lainnya. Salah satunya buku berjudul NEW BORN POEM ; Diversity


0 Komentar
Lingkar literasi, sastra, dan seni budaya Asia Tenggara serumpun Bahasa.