005

header ads

Puisi Safri Naldi di bulan Juni

 


INDONESIA DALAM PIANO

:Untuk Ananda Sukarlan



Di jemarimu

Lagu-lagu yang lahir di beranda kampung

Yang tumbuh di lereng-lereng bukit 

Yang bersiur di pesisir pantai

Menjadi gemerlap ruang konser

Seperti angin dari timur yang berlayar ke barat

Menyusuri selat demi selat yang tak tertulis di peta musik dunia


Indonesia tidak kau bawa sebatas nama

Tetapi kau bawa sebagai jiwa

Berkumandang di antara tinggi rendahnya nada


Dan piano itu

Di tanganmu menjadi jendela

Tempat dunia memandang Indonesia 

Bukan sebatas deretan pulau-pulau semata

Tetapi

Menjadi satu simponi yang bernyanyi


Di hadapan delapan puluh delapan tuts

Indonesia menjadi gema 

Dengan nada-nada yang pulang dari hutan, laut, gunung, dan doa-doa


Dari jemarimu

Kami mendengar sungai-sungai yang mengalir

Aneka bahasa yang saling menyapa

Beragam gerak tari yang menggoda 


Dan di sana

Jauh setelah tepuk tangan mereda

Seorang seniman 

Tegak membungkuk

Mengajarkan bahwa nada-nada pun dapat pulang

Lewat sebaris melodi dan sekeping kenangan 



Jakarta, 2026


**


DI BAWAH TUMIT


Negeriku di bawah tumit

Nafasku dipajak 

Airku dikredit

Langitku abu-abu

Penuh papan reklame dengan janji-janji serta mimpi-mimpi yang busuk sebelum dini hari


Perutku berdialog dengan keroncong

Sesekali berteriak ke telinga tuan yang tuli


“Ini hidup, tapi kenapa rasanya seperti mati berdiri?”

Aku tak menemukan jawaban


Malam ini, aku tengadah mencari bulan

Tapi ia tak lagi ada

Kudengar, sudah dijual ke negeri tetangga

Katanya, untuk menutup utang yang entah siapa penyebabnya


Anakku bertanya, 

"Ayah, kenapa nasi kita terlalu asin?"


Aku tak tahu bagaimana menjelaskannya

Apakah harus aku katakan bahwa berasnya berasal dari airmata


Sesekali, aku bermimpi

Rumah kami punya kaki

Kuajak dia berlari

Meninggalkan kampung kumuh menuju surga yang hanya ada di dalam brosur


Tetapi, pagi datang terburu-buru

Semua mimpi dibakarnya

Hanya menyisakan angka; angka kemiskinan


Lalu aku bertanya kepada Tuhan

"Sampai kapan kami akan terus dihimpit kebutuhan?"

Aku tak menemukan jawaban

Karena Tuhan hanya memberiku hujan



(2025)


**


SATPOL-PP



"Usahaku hanya ini, Pak. Gorengan, kopi, rokok, dan senyum seadanya."


Tubuhku gemetar ketika kau datang dengan sepatu besar

Melangkah bak raja tanpa istana 

Dan pentunganmu lebih keras dari hatimu


“Gerobakku bukan emas, hanya terbuat dari kayu bekas, tapi mengapa kalian rampas?"


Kami tahu kau menjalankan perintah, tapi perintah siapa?

Gedung-gedung berdasi?

Atau ego yang berdiri di atas papan namamu sendiri?


Kami pedagang, bukan pencuri

Kami berjuang di jalanan ini

Karena lapak resmi, tak mampu kami beli

Apa yang salah dengan kami?


Coba lihat … istriku menangis

Gerobaknya hilang


"Apa mereka lupa yang terusir juga manusia?”


Aku tertawa

Bukan karena lucu, tetapi karena tak bisa lagi berkata apa-apa

Suaraku hilang diterjang sepatu PDL mereka


Kuseka amarah di dada

"Esok aku akan kembali dengan gerobak dari rentenir yang datang tadi

Kita lihat, seberapa kuat kau menyita mimpi-mimpi kami.



(2025)



**


Safri Naldi

Nama pena di sosial media FB / TIKTOK – ARUZA

Lahir di Pematang Siantar, 15 April 1977

Aktif menulis di sosial media, khususnya facebook dan tiktok sebagai salah satu pembimbing di sebuah broadcast puisi bernama POCATJU.

Belum menerbitkan buku tunggal tetapi ada beberapa buku antologi bersama beberapa penulis lainnya. Salah satunya buku berjudul NEW BORN POEM ; Diversity

Posting Komentar

0 Komentar