Oleh: Hanifah Nazwa Khoerunisa
Langkah kaki di koridor pondok saat itu terasa lebih berat dari biasanya. Sebagai bagian keamanan rayon yang baru menjabat di kelas 10 semester 2, setelah melewati satu tahun kelas intensif yang cukup menguras air mata karena pertama kali mondok dan dituntut untuk mengejar pelajaran pondok yang benar-benar berbasis agama juga berbahasa arab dan inggris. Tugas mengondisikan ratusan santriwati sebelum dan sesudah berkegiatan adalah seni melatih kesabaran. Namun, diantara riuh rendah suara santri yang berkejaran, ada satu waktu di mana dunia hana mendadak hening.
Sore itu, fokusnya pecah. Di seberang lapangan, sekumpulan santri putra berpakaian scout look sedang sibuk menata barisan. Langkah kaki dan sepatu saat itu sangat beritme, beradu dengan tanah lapangan serta nyanyian yel-yel dengan suara yang lantang dan semangat terdengar setiap hari rabu sore.
Di antara mereka, ada Dia, Rayan namanya. Rayan satu angkatan dengan Hana. menjabat sebagai bagian bahasa saat di rayon dan sekretaris pramuka saat pengurus rayon putra. Dia pintar, tampan, dan cukup berkontribusi di pondok. Dikagumi banyak orang, mulai dari adik kelas sampai kakak kelas. Hana? Dia hanyalah hana, si pengagum rahasia yang paling betah diam, dan memilih jalur senyap. Menyukai rayan bagi hana cukup seperti melihat hilal: sunyi, dari jauh, dan menenangkan.
Satu-satunya orang yang tau rahasia Hana ini adalah Farah, Farah teman karib hana. Setiap kali farah melihat atau berpapasan dengan rayan, farah selalu bilang kepada hana. Suatu ketika farah melihat rayan pergi ke kantor atau lab, mungkin untuk mengerjakan tugas bagian yang rayan pegang saat itu.
“Hana, tadi Rayan lewat mau pergi ke kantor, rapi banget,” bisik Farah di malam itu.
Hana hanya tersenyum simpul, menyembunyikan debar yang begitu riuh. Bagi Hana, mengagumi Rayan cukup sampai disitu. Tidak ada aksi, tidak ada surat dalam lipatan kitab, tidak ada modus pinjam kamus, hana benar-benar menjadi pengagum rahasia yang pasif.
Di tahun 2022, di masa liburan pondok dan bertepatan pada hari ulang tahun Hana, sebuah getaran di ponsel Hana mengubah segalanya. Sebuah pesan WhatsApp dari nomor asing masuk.
“Selamat ulang tahun, ya, Han, wkwk. Btw, save back”
Setelah Hana melihat username tersebut ternyata, Rayan. Salah tingkah karena kesenangan sampai berguling-guling diatas kasur sebelum membalasnya dengan sok tenang,
“Terima kasih. Btw, kok tau aku ultah?”
“Tau dari Rahel,” balasnya.
Rahel adalah adik kandung Rayan yang kebetulan berada di kamar rayon yang Hana urus. Itu peluang untuk Hana sebenarnya, tapi tidak pernah sekalipun menjadikannya detektif atau memanfaatkan Rahel untuk menanyakan tentang kakaknya. Hanya berani menyelipkan namanya tipis-tipis di sela-sela doa malamku.
“Ya Allah … jika memang baik, pertemukan. Jika tidak, izinkan aku sekedar mengagumi ciptaan-Mu.”
Garis takdir Allah memang selalu punya cara yang mengejutkan. Empat tahun masa mondok berlalu, ditutup dengan satu tahun masa pengabdian yang penuh peluh. Setelah prosesi wisuda selesai, tiba lah liburan pasca wisuda. Takdir seolah meruntuhkan sekat pembatas. Jalur langit yang Hana ketuk dalam diam itu mendadak terbuka melalui perantara teman Hana. Alisa teman Madrasah Ibtidaiyah Rayan. Alisa menyuruh Rayan untuk mengirimkan pesan dan membuka obrolan kepada Hana.
Basa-basi pertamanya klasik, menanyakan apakah Hana sudah bisa membuka Google Drive foto wisuda yang Rayan buat. Berawal dari sana, obrolan yang awalnya malu-malu berbah menjadi komunikasi yang terbuka. Rayan cukup kaget saat tahu gadis keamanan pusat yang terkenal galak ini ternyata sudah mengaguminya diam-diam selama hampir dua tahun. Tapi ternyata, realita tidak seindah cerita fiksi. Ketika kabar kedekatan diketahui teman seangkatan Hana dan Rayan banyak pertanyaan dan omongan miring yang bemunculan.
“Hana, kamu bneran deket sama Rayan?”
“Ngga nyangka, ih. Hana bisa dekat dengan Rayan.”
“Tutorial bisa dapetin Rayan, dong, Han.”
“Kamu deket sama Rayan? Hati-hati, ya. Rayan terlalu friendly.”
Pertanyaan dan omongan itu mampir ke telinga Hana tanpa permisi, cukup membuat overthinking dan insecure parah. Ditambah lagi, Hana belum benar-benar mengenal banyak tentang Rayan. Benturan ego masing-masing sering membuat pertengkaran di antara Hana dan Rayan. Berusaha untuk tidak menghiraukan omongan dan pertanyaan mereka. Tapi namanya manusia biasa, jalan hidupnya tidak semudah membalik telapak tangan. hana menjalani hari serta menikmati masa-masa pengabdian dan sisa-sisa waktu bersama teman sampai tiba waktunya masa pengabdian satu tahun usai. Hana dan Rayan sama-sama melanjutkan pendidikan. Hana pergi kuliah ke Purwokerto dan Rayan menetap kuliah di Bogor.
Perlahan kenyataan terjawab oleh jarak. Jarak ratusan kilometer ternyata menjadi ujian baru. Komunikasi memburuk, ada rindu yang menggebu tetapi kalah dengan ego dan gengsi yang meninggi. Menjadi jarang bertukar kabar dan cerita. Dan tiba lah liburan semester pertama, momen yang harusnya paling ditunggu, justru hana memilih menarik diri. Hana menolak untuk bertemu. Bukan karena Hana membencinya, justru karena Hana menyayangi Rayan. Hana tidak bisa melihat Rayan harus terus mengalah dengan ego Hana yang sering meninggi dan selalu menuntut ingin dimengerti tanpa mau mengerti posisi Rayan. Di tengah rasa itu Hana berdoa,
“Yaa Allah ... jalanku masih panjang, kalau bersamanya membuat aku tidak bersyukur, tolong jauhkan kami dengan cara yang baik.”
Hingga akhirnya di awal tahun 2026, Hana mengambil keputusan besar. Hana memilih untuk membatasi komunikasi. Hana ingin membebaskan diri dari keegoisannya. Sekarang, duduk di sudut kamar pondoknya di Purwokerto, menatap tumpukan tugas kuliah dan kitab pondok. Hana tersenyum kecil mengingat garis hidupnya. Kuliah sambil mondok memang cukup menguras kesabaran dan kekuatan, tapi Bismillah semuanya akan dipermudah. Dari lima tahun dipondok sebelumnya hingga jarak Purwokerto-Bogor saat ini, Hana belajar tentang hakikat kehidupan yaitu,
‘Keinginan yang kita inginkan tidak selamanya baik untuk kita. Disaat keinginan itu diberikan, mungkin itu adalah bentuk ujian. Dan ketika keinginan itu tidak diberikan, mungkin itu adalah pelajaran berharga tentang penerimaan.’
Hana tidak sedang menyesali perpisahan atau jarak ini. Lewat doa yang kini tidak lagi menuntut ego, batin hana berbisik, “Terima kasih sudah mengenalkanku pada rasa seindah itu, semoga kita semua sukses, sampai bertemu di versi terbaik kita masing-masing.”
Hanifah Nazwa Khoerunisa, mahasiswi semester 2 UIN Saifuddin Zuhri, Purwokerto.
@hnfahnaz_

1 Komentar
wahh😍
BalasHapusLingkar literasi, sastra, dan seni budaya Asia Tenggara serumpun Bahasa.