Puisi Nina Wahyu
1) KEHILANGANMU
ketika kata tak lagi bermakna,
mantra tiada bersabda.
mendung bergayut ekor angin utara,
entah kemana.
manis tereguk sepah pinang
tanpa sisa, tiada berdaya dupa menghilang
fatamorgana menjelma raga
tiada bisa kuraba.
lelakiku,
dimana kau?
(madiun, 2025)
2) KEPADA YANG TELAH PERGI
Subuh yang menangis,
Setia menjaga.
Meraba yang tiada,
Nyanyi sunyi tak bernada.
Puisi terhenti,
Tiada lagi larik,
Tiada pula sajak,
Tercekat.
Pergi-pergilah, kau telah mati.
Aku disini, membuat lagi puisi.
(Madiun, 2025)
3) JALADRI
: anak lanang
Seonggok harapan lahir dari rahim puisi. Perkawinan kata yang terluka, tiada akhir dengan koma dan terputus karena titiknya. Bertemu dalam bejana, sepakat menyebutnya rumah tangga.
Ladang kering mencumbu Bengawan Solo. Merajuk sisa humus untuk berhuma di lereng Lawu. Benih kebaikan ditebarkan tanpa ada syakwasangka. Lebih memilih pendar sabit daripada gelap gulita.
Saat panen tiba, semua bersuka. Kaulah lelaki kecilku.
(Nina Wahyu, 2012 - 2026)
4) HIJAU YANG TAK LAGI HIJAU
Berdiam di pematang, sorot tajam Psjk menghujamku.
“ kau membuat rusak rumahku, “ tuduhmu. .
Larik-larik sajak tercekat di rongga nafasku.
Terhambat kental adonan ZA dan Sp36 ku.
Kupikir itu menyuburkanmu.
Entahlah jika yang sampai pada tubuhmu hanya sepertiga aturanku.
Menyeringai kau marah padaku.
“kau membuat kotor halamanku,” tunjukmu.
Bait-bait puisi terhenti di ujung otakku.
Tergerus encer oplosan Divatrin dan Amandy ku.
Kupikir itu akan menyiangimu.
Mungkin yang sampai pada aliran darahmu tinggallah sepertiga aturanku.
Lantang bibirmu memakiku.
“aku hampir mati,” teriakmu.
Runcing ujung dambamu menguning menyilaukan mataku.
Bergantung harap Ergon menolongmu.
Itupun tak mampu merengkuhmu.
Kutakut hanya sepertiga aturanku yang disuguhkan padamu.
Melemah kau menghibaku sedih.
“sakit tubuhku,” katamu lirih.
“bagaimana lagi aku harus menolongmu?” tanyaku.
Uret menggerogotimu, furadan kukerahkan melindungimu.
Tetap saja mereka menyakitimu.
Mungkin yang kau minum juga hanya sepertiga dari aturanku.
Menggenang air matamu.
Kau berbisik, “aku menyerah untukmu.”
Musim panen yang berduka,
Kau pasrah unsur hara ibu pertiwi yang bernyanyi.
Melody sunyi mengiringi perasan terakhir demi R tinggi.
Sesalku, “maaf, aku tak mampu membuat hijaumu tetap hijau.”
-bukankah semua ini karena tradisi manipulasi untuk sebuah ambisi?-
(Madiun, 2017)
5) JENGAH
Hujan,
Kau datang lagi
Pergilah,
Aku hanya ingin kering
(Madiun, 2025)
6) IRONI
Aku suka panas, teriknya sangat nikmat.
Aku benci hujan, namun rindu dingin menyesap.
Kau paham, Jo?
:kepada puisi aku kembali
(Madiun, 2026)
Nina Wahyu adalah salah satu nama penyair yang mewarnai kancah kesusastraan kontemporer di Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Timur. Lahir dan tumbuh di Magetan, sebuah kabupaten di kaki Gunung Lawu, latar belakang sosio kultural daerahnya seringkali memberikan warna tersendiri dalam karya-karya liris yang ia ciptakan.


0 Komentar
Lingkar literasi, sastra, dan seni budaya Asia Tenggara serumpun Bahasa.