TERSINGKIR (1)
Oleh: Dewis Pramanas
seisi ruang yang kumuh
bercampur sunyi
ia merebahkan badannya di atas kasur
mata menatap kosong
dibentur kepalanya oleh keadaan
bahkan setiap ia melihat berita pagi
menjadi kecewa paling nyeri
tumpukan pakaian lusuh berjejer
serta aroma keringat masih menempel
bekas agresi tenaga dan pikiran
bercampur menjadi satu
untuk secercah asa
puluhan piala dan sertifikat penghargaan
masih kokoh menghiasi almari
namun, semua seperti menyimpan getir
ia hanya bisa meratapi nasib
menyeberangi lautan air mata
kini tak ada guna membenci dunia
sebab dari jejak-jejak putih itu
tak pernah menjadi tolak ukur
sebagai penolong sejati
ia tetap tersingkir
Subang, 18 Mei 2026
SUBUH (2)
Oleh: Dewis Pramanas
Kilau tetesan embun
menggenang pada jiwaku
bertaut di relung yang retak
memanggil-manggil dengan ritmis
seperti fajar mengusik gulita
segera pergi
suara-suara merdu takbir
melatunkan mahabah Tuhan
agar tubuh sejenak sujud
bahwa tak berguna meratap
tentang lara dan kecewa
jiwa hanya butuh tenang
dari arunika nan berseri
menyambut pagi yang awal
lalu kedua mata membuka pandangan
telinga mendengar nada-nada merdu
kita masih menerima kesempatan hidup
Kasih Tuhan datang pada fase
yang tak bisa ditelusuri logika
Subang, 27 Mei 2026
TEMPAT YANG PALING DIRINDUKAN UNTUK PULANG (3)
Oleh: Dewis Pramanas
Mentari menyinari jendela hati
Memandang ruang-ruang ternyaman
Ada kisah yang mengguncang batin
Dari sketsa proses menjelajahi asa
Sebuah fase upaya yang bermanuver
Jatuh bangun jalani fluktuasi keadaan
Pada akhirnya genggaman tekad
Mampu mengalahkan serbuan ragu
Yang membelenggu di dalam diri
Meski skenario tak sesuai ekspektasi
Namun semua indah pada waktunya
Terima kasih pintu harapan
Sebab ia telah membuka perjumpaan
Dengan harmoni kasih yang nyata
Di tempat paling dirindukan
Untuk pulang pada senja ini
Subang, 4 Juni 2026
HENING (4)
Oleh: Dewis Pramanas
Aku dalam hening
Melebarkan sayap menjelajahi kata-kata
Meninggalkan jejak tanpa meracau
Di tengah-tengah manusia yang dahaga
Validasi
Aku dalam hening
Menembus sekat jendela dunia
Kemudian lewati jalan sunyi
Berkawan keteguhan kalbu
Ia menjadi kompas petunjuk arah
Dari silau gemerlap gaya hidup
Aku dalam hening
Becermin melihat rupa diri
Yang masih menyimpan keruh
Tetapi Tuhan selalu menutupi
Noda yang menempel
Seperti pohon tak pernah membenci angin
Meski daun-daunnya terhempas
Berguguran jatuh ke tanah
Aku menemukan arah pulang yang indah
Untuk menuju-Mu
Senyap tanpa seorang pun tahu
Subang, 5 Juni 2026
HINGGA AKHIR (5)
Oleh: Dewis Pramanas
Lembaran cerita
Pada kalender tak kuingat lagi
Di perjalanan yang ditumbuhi ilalang
Di depan bukit-bukit mimpi
Kelokan curam
Kau masih duduk di sebelahku
Dari pohon-pohon menjulang
Bahkan daunnya mulai kuning
Termakan waktu
Kau berdiri paling depan
Mendampingi di waktu senjaku
Hingga nanti
Menyeberangi dunia
Saling menggenggam
Menjadi penutup paling kesan
Subang, 8 Juli 2026


0 Komentar
Lingkar literasi, sastra, dan seni budaya Asia Tenggara serumpun Bahasa.