Laut adalah bahasa pertama bagi banyak mimpi. Dalam pameran tunggal pertamanya yang bertajuk “Wanderfull Sea”, Rafa, seorang seniman cilik berusia 6 tahun dari TK B, mengajak kita untuk menyelam bukan ke dalam lautan fisik, tetapi ke dalam samudra imajinasinya yang tak bertepi.
Bagi Rafa, laut lebih dari sekadar pemandangan; ia adalah sebuah “ungkapan yang mudah diimajinasikan”—kanvas raksasa di mana perasaan, cerita, dan keajaiban menemukan bentuknya yang paling bebas. Lukisan-lukisannya bukanlah potret alam, melainkan jendela ke sanubarinya yang paling jernih. Setiap goresan adalah kata, setiap warna adalah emosi, dan setiap canvas adalah halaman dari buku harian visualnya.
Spontanitas sebagai Kekuatan
Kekuatan utama Rafa terletak pada garis-garisnya yang khas: corat-coret yang enerjik, spontan, dan penuh keyakinan. Coretan-coretan ini bukanlah kesalahan, melainkan jejak langsung dari pikirannya yang sedang berlayar. Dari gerakan tangan yang bebas itu, lahir bentuk-bentuk ajaib: hewan laut yang bersahabat, tumbuhan yang berdetak, pulau-pulau kecil, bintang yang jatuh, manusia yang tersenyum, bahkan “tol laut” sebagai jalur cepat bagi ikan-ikan imajinasinya. Semuanya hidup dalam satu ekosistem yang harmonis, di mana batas antara laut, darat, dan langit melebur dalam paduan warna biru, hijau, dan semburat matahari.
Wonderful + Wander = Wanderfull Sea
Judul pameran ini adalah permainan kata yang cerdas: “Wanderfull Sea”, menyatukan “wonderful” (penuh keajaiban) dan “wander” (mengembara). Itulah tepatnya yang dilakukan Rafa. Ia adalah seorang petualang imajinasi yang mengembara tanpa peta, menemukan keajaiban di setiap sudut kanvasnya. Lautnya bukanlah tempat yang sunyi, tetapi ruang yang ramah, penuh cerita, dan siap dijelajahi dengan rasa ingin tahu yang khas anak-anak.
Pameran ini adalah sebuah perayaan akan kemurnian ekspresi. Di sini, kita diingatkan bahwa seni pada hakikatnya adalah bahasa universal yang bisa dikuasai oleh siapa saja, bahkan oleh seorang pelukis cilik yang masih mengenal dunia. Rafa tidak melukis untuk menggambarkan laut seperti yang ia lihat, tetapi laut seperti yang ia rasakan dan ia impikan.
Mari kita singgah sejenak di “Wanderfull Sea”. Biarkan diri kita terbawa oleh gelombang imajinasi Rafa, tersesat di antara pulau-pulau fantasinya, dan menemukan kembali keajaiban melihat dunia melalui mata yang paling jernih: mata seorang anak.
Selamat datang di laut yang penuh keajaiban dan petualangan. Selamat datang di dunia Rafa.



0 Komentar
Lingkar literasi, sastra, dan seni budaya Asia Tenggara serumpun Bahasa.