005

header ads

Kabut, Kredo, dan Ingatan yang Menyala: Lanskap Kesadaran dalam Puisi Dwi Aji Prajoko

 

Kabut, Kredo, dan Ingatan yang Menyala: Lanskap Kesadaran dalam Puisi Dwi Aji Prajoko

oleh Fileski W Tanjung

Puisi-puisi Dwi Aji Prajoko yang ditulis antara 2021 hingga 2023 menghadirkan satu lanskap kesadaran yang utuh: lanskap tentang pertemuan antara ingatan kultural, kegelisahan sosial, dan harapan etis di tengah zaman yang bergerak cepat. Dari “Berteman Kabut Pagi” yang lirih-reflektif, “Kredo Anti Gento” yang deklaratif-politis, “Di Taman Ismail Marzuki Jakarta” yang memorial-artistik, “Kepada Chairil Anwar” yang dialogis-historis, hingga “Orang Bilang” yang intim dan personal, kita menyaksikan satu benang merah: upaya merawat nurani di tengah kabut zaman yang kian tebal.

Gagasan utama yang mengikat keseluruhan puisi ini adalah pencarian kejernihan—baik kejernihan batin, sikap politik, ingatan budaya, maupun relasi personal—di tengah kondisi sosial yang rentan terjebak dalam kebisingan wacana dan krisis makna. Dalam konteks Indonesia pasca-reformasi yang ditandai oleh demokratisasi sekaligus polarisasi, kebebasan berekspresi sekaligus banjir disinformasi, puisi-puisi ini hadir sebagai ruang kontemplasi sekaligus pernyataan sikap.

“Berteman Kabut Pagi” membuka keseluruhan lanskap dengan metafora kabut sebagai sahabat. Kabut bukan sekadar gejala alam, melainkan ruang liminal antara yang tampak dan yang tersembunyi. Dalam tradisi simbolik, kabut sering diasosiasikan dengan ketidakpastian, misteri, bahkan kebimbangan eksistensial. Namun di tangan Dwi Aji, kabut menjadi kawan dialog, bukan ancaman. Ia “menjemput” aku-lirik, menjadi perantara antara mimpi dan perjalanan. Ada resonansi dengan tradisi puisi kontemplatif Indonesia yang menempatkan alam sebagai cermin batin, sebagaimana dapat kita temukan dalam lirik-lirik reflektif penyair generasi sebelumnya. Namun yang khas di sini adalah perpaduan antara kesunyian pagi dan kesadaran akan “kotak pandora” yang tak terbuka—sebuah rujukan mitologis yang menyiratkan bahwa bahaya laten tetap ada, tetapi tak selalu harus dibongkar secara gegabah.

Puisi ini lahir di Madiun, sebuah kota yang dalam sejarah Indonesia memiliki lapisan politik dan kultural yang kompleks. Tanpa menyebutkannya secara langsung, suasana kontemplatif ini dapat dibaca sebagai respons terhadap memori kolektif dan realitas sosial yang tak pernah sepenuhnya jernih. Kabut menjadi metafora situasi bangsa: kita berjalan, tetapi jarak pandang terbatas; kita bergerak, tetapi tetap membutuhkan kesadaran batin sebagai kompas.

Jika puisi pertama bergerak dalam nada lirih, “Kredo Anti Gento” hadir sebagai deklarasi etis. Kata “kredo” menegaskan posisi puisi sebagai pernyataan iman—bukan dalam pengertian religius sempit, melainkan keyakinan moral terhadap kebangsaan dan kemanusiaan. Dwi Aji meramu citraan alam (“air dari gunung”, “atmosfir nusantara”) dengan idiom sosial-politik (“korporasi tak proteksi para pelaku korupsi”, “sabda pejabat tak menyayat rakyat”). Ia menghindari retorika sloganistik yang kosong dengan menghadirkan metafora yang hidup: bugenvil dan kantil, domba dan naga, ladang dan kedai kopi.

Di sini, puisi berdiri dalam tradisi puisi sosial Indonesia yang pernah begitu kuat pada dekade 1970-an dan 1980-an, ketika penyair-penyair menempatkan kata sebagai alat kritik terhadap kekuasaan. Namun Dwi Aji tidak mengulang model agitasi lama. Ia mengedepankan semangat kebersamaan: “semua pesta boga dan wacana punya bersama.” Isu yang relevan dan aktual dalam puisi ini adalah krisis integritas publik dan polarisasi sosial. Dalam era ketika politik identitas dan kepentingan korporasi sering bertabrakan dengan aspirasi rakyat, “kredo anti gento” menjadi ajakan untuk menolak kekerasan, arogansi, dan kerakusan—tanpa harus terjerumus dalam ekstremisme tandingan.

“Di Taman Ismail Marzuki Jakarta” memperluas cakrawala dengan menghadirkan ruang kultural sebagai arena dialektika. Penyebutan nama-nama seperti W.S. Rendra, Sardono W. Kusumo, Slamet Abdul Sjukur, Sutardji Calzoum Bachri, Teguh Karya, hingga Christine Hakim bukan sekadar nostalgia, melainkan penegasan bahwa kebudayaan Indonesia dibangun oleh pergulatan gagasan dan keberanian estetika. Ruang Taman Ismail Marzuki ditampilkan sebagai medan pertemuan berbagai disiplin: teater, tari, musik, film, puisi.

Puisi ini penting dalam konteks kekinian ketika ruang-ruang kesenian menghadapi tantangan komersialisasi, birokratisasi, dan kadang-kadang depolitisasi. Dengan menghadirkan figur-figur yang pernah mengguncang pakem, Dwi Aji mengingatkan bahwa seni lahir dari keberanian menjadi antitesis. “Dialektika mulia” yang disebutkan dalam puisi menggemakan semangat bahwa kebudayaan tumbuh dari perdebatan, bukan keseragaman. Dalam situasi ketika ruang publik kerap dibelah oleh polarisasi dangkal, puisi ini menawarkan model dialog kultural yang lebih beradab dan visioner.

Dialog lintas generasi mencapai puncaknya dalam “Kepada Chairil Anwar”. Penyair berbicara langsung kepada Chairil Anwar, ikon Angkatan ’45 yang puisinya menjadi simbol keberanian individual dan kebebasan ekspresi. Namun puisi ini tidak berhenti pada pemujaan. Ia mengontekstualisasikan Chairil dalam “zaman pasca kebenaran”, ketika kata tak lagi diimani hati dan pikiran. Istilah “pasca kebenaran” merujuk pada kondisi global di mana opini dan emosi sering mengalahkan fakta—sebuah fenomena yang nyata dalam era media sosial dan politik digital.

Dengan menyebut “Kerawang-Bekasi”, Dwi Aji mengaitkan kembali pada sejarah perjuangan dan pengorbanan. Tetapi yang paling kuat adalah kesadaran bahwa semangat Chairil masih relevan sebagai energi moral. Puisi ini menempatkan tradisi sastra bukan sebagai museum, melainkan sebagai sumber daya etis untuk menghadapi krisis kontemporer: manipulasi informasi, komodifikasi agama, dan banalitas kebaikan yang hanya demi pencitraan.

Puisi terakhir, “Orang Bilang”, tampak sederhana namun strategis dalam keseluruhan komposisi. Ia berbicara tentang persepsi, penghakiman, dan pembelaan. Dalam dunia yang dipenuhi opini instan, label, dan stigma, aku-lirik memilih menjadi penangkis. Secara estetis, repetisi “orang bilang… aku bilang…” menciptakan ritme argumentatif yang ringan tetapi tegas. Secara tematik, puisi ini menggemakan isu besar tentang empati dan resistensi terhadap budaya menghakimi—isu yang sangat aktual dalam ekosistem digital.

Jika dibaca sebagai satu kesatuan, kelima puisi ini membentuk arsitektur kesadaran: dari kontemplasi personal, deklarasi kebangsaan, perayaan ingatan kultural, dialog historis, hingga pembelaan intim. Estetikanya mengandalkan citraan alam, metafora mitologis, dan rujukan historis yang menyatu dalam bahasa yang relatif komunikatif. Dwi Aji tidak terjebak pada eksperimentasi bentuk yang ekstrem; ia lebih memilih kejernihan narasi dan kekuatan imaji. Pilihan ini bukan kelemahan, melainkan strategi untuk menjangkau audiens yang lebih luas tanpa kehilangan kedalaman makna.

Sebagai kurator, saya melihat karya-karya ini sebagai upaya merawat jembatan: jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara estetika dan etika, antara individu dan kolektif. Dalam situasi sosial yang kerap diwarnai kabut informasi dan polarisasi emosional, puisi-puisi ini mengajak kita untuk kembali pada kesadaran yang sederhana tetapi mendasar: keberanian berpikir, kesediaan berdialog, dan komitmen pada kemanusiaan.

Puisi, dalam tangan Dwi Aji Prajoko, bukan sekadar susunan kata atau ekspresi perasaan personal. Ia menjadi medium dialog dengan sejarah, dengan bangsa, dengan para pendahulu, dan dengan sesama. Dari kabut pagi hingga kredo kebangsaan, dari panggung kesenian hingga percakapan intim, keseluruhan karya ini mengingatkan kita bahwa sastra masih memiliki daya untuk menyalakan api kecil di tengah gelap—api yang tidak membakar, tetapi menerangi.

Berikut 5 puisi karya Dwi Aji Prajoko 

BERTEMAN KABUT PAGI
fajar diharum bunga baru mekar

ulang ciptaan tanpa bayang pengkhianatan

peronda bulan bundar mengantar keluar pagar 

roda dan pikiran dan kata-kata bersamaan berputar

sesapan kopi mengasap peta destinasi keluar tanpa distorsi

 

sepagi ini aku dijemput kabut

seolah sahabat lama mendamba jumpa

kusigi mimpi juga bersih dari wajah putihnya

enggan dilupakan dia menunggu di jalan berliku

bak kawanan domba menatap harap aba-aba gembala

 

aku kisahkan misteri perjalanan lelaki

dia cerita rahasia danau dan dedaunan hutan

kotak pandora tak terbuka tapi pewahyuan tak terkunci

yang tertinggal bukan residu tapi bekal rindu hari kemudian

o kabut tak surut, hatiku tertaut, dan ketinggian berlutut ke kami

 

Madiun, Januari 2023


KREDO ANTI GENTO

aku air dari gunung batumu

tapi juga hujan yang kamu rindu

sekian lama berjalan dengan aturan

tapi suaramu merdu di laut kebebasan

 

leluhur sumpah setia padamu di masa lalu

sampai mati kulindungi peti perjanjian itu

dengan keberanian semerah mata naga

dengan ketulusan seputih bulu domba

 

aku bertabik atas semua pernik milikmu

lalu tanpa malu minum susu di bilikmu

bekerja di ladang di waktu siang hari

dan begadang di kedai kopi

 

aku berpanggung mendukungmu

kala gunung-gunung mengharu biru

aku berbela rasa dengan bahasa cinta

kala banyak orang bijak ditanya segala sila

 

aku bersila bukan semata demi angkasa

tapi juga demi kearifan bumi tercinta

demi keragaman pikiran merdeka

demi hati yang berjaya

sabda pejabat tak menyayat rakyat

puisi proletar tak menggelepar di altar

para bangsawan tak melulu beradu cawan

semua pesta boga dan wacana punya bersama

 


 

aku menangkap udara dari atmosfir nusantara

tak sengsara terperangkap formasi sihir manca

karna kutabik mereka yang tabik pada saudara

kuhardik mereka yang menghardik saudara

 

sendirian aku tak merasa kesepian

bersama kamu bukan bagian dari tiran

cinta bangun menara pengusir hal mushkil

serupa rumpun bugenvil berbunga wangi kantil

 

mari berkredo anti para gento

sendirian tak menjadi liar bak setan

bebangsa satu tak dirikan negara baru

korporasi tak proteksi para pelaku korupsi

 

adrenalinku memacu diriku

tapi selalu menghampiri dirimu

selebrasi di berbagai fase kehidupan

sebelum waktunya dipeluk bumi kematian

 

Madiun, Maret 2023

     

DI TAMAN ISMAIL MARZUKI JAKARTA

Di Taman Ismail Marzuki Jakarta

Ketika estetika menjadi daging yang mendustanya

Rendra biarkan Oedipus Sang Raja butakan matanya

Saga Malin Kundang dan Sangkuriang matang ditimbang

Tapi para ibu baik hati mengutuki anak-anaknya sendiri

Cintanya hanyalah segalah bukan sepanjang jalan

 

Di Taman Ismail Marzuki Jakarta

Jiwa Sardono menggerakkan kaki dan tangannya

Budaya jadi berjalan tak perlahan tapi berlari tak henti

Samgita Pancasona melompati kerajaan tari

Membuat murka para penjaga setia

Tapi segera menjelma antitesa

Dalam dialektika mulia

 

Di Taman Ismail Marzuki Jakarta

Slamet Abdul Syukur yang lama terbang di langit Eropa

Merayakan kehadirannya dengan komposisi bersahaja

Tapi suaranya terhubung ke semua relung artistik

Merayap dari empat dindingnya ke atap akustik

Kebaruan diserukan anak yang pulang

 

Di Taman Ismail Marzuki Jakarta

Terbayang amuk Sutardji yang mengkapak puncak

Meluapkan magma imajinasi yang tak berkesudahan

Lokomotif teater Teguh Karya pun bergerak ke layar perak

Wajah seorang laki-laki mengawali serangkaian perjalanan

Bersama Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Alex Komang

Menuju memoriku sepanjang hayat dikandung badan

Madiun, April 2021

 

KEPADA CHAIRIL ANWAR

Diksimu bak genderang yang membangunkan badan

Jiwa jadi menyatu bak penembak jitu dengan peluru

Menyasar masa depan

 

Pemudamu kini seperti pohonan bersemi

Meninggi memburu jutaan cahaya matahari

Tapi tumbuh bersama hewan berbisa juga

Yang melata menggigit tumit-tumit telanjang

Yang tak diproteksi sepatu bot konstitusi

 

Lautan di depan tak hampa bajak

Tapi kapal-kapal tak henti bertolak

Karena semangat kamu selempangkan

Dan urat-uratmu juga kuat terbayang

Saat tenggelamkan para pelintang

 

Di zaman yang lagi menapaki pasca kebenaran

Ketika kata tak lagi diimani hati dan pikiran

Ketika kebaikan demi lapak media masa

Ketika kemanusiaan dibalut kain kafan

Ketika religi memuji hati jemawa

Chairil Anwar dirindukan

 

Tak jalang kamu

Tak terbuang anomali

Di antara Kerawang-Bekasi

Waktumu sudah lama berlalu

Derumu masih menggebu-gebu

Melintasi ribuan tahun kehidupan

Seperti mimpimu

Madiun, April 2022


ORANG BILANG

orang bilang parasmu ayu

aku bilang wajahmu manis

orang bilang kamu penuh nafsu

aku bilang semangatmu tak habis-habis

orang bilang kamu sok tahu

aku bilang kamu spesialis

orang bilang kamu jahat melulu

aku bilang kamu protagonis

orang gemar menghakimimu

aku tidak jemu menangkis

 

fokuslah padaku

berhentilah menangis

Madiun, Agustus 2021




Posting Komentar

0 Komentar