Kabut, Kredo, dan Ingatan yang Menyala: Lanskap Kesadaran dalam Puisi Dwi Aji Prajoko
oleh Fileski W Tanjung
Puisi-puisi Dwi Aji Prajoko yang ditulis antara 2021 hingga 2023 menghadirkan satu lanskap kesadaran yang utuh: lanskap tentang pertemuan antara ingatan kultural, kegelisahan sosial, dan harapan etis di tengah zaman yang bergerak cepat. Dari “Berteman Kabut Pagi” yang lirih-reflektif, “Kredo Anti Gento” yang deklaratif-politis, “Di Taman Ismail Marzuki Jakarta” yang memorial-artistik, “Kepada Chairil Anwar” yang dialogis-historis, hingga “Orang Bilang” yang intim dan personal, kita menyaksikan satu benang merah: upaya merawat nurani di tengah kabut zaman yang kian tebal.
Gagasan utama yang mengikat keseluruhan puisi ini adalah pencarian kejernihan—baik kejernihan batin, sikap politik, ingatan budaya, maupun relasi personal—di tengah kondisi sosial yang rentan terjebak dalam kebisingan wacana dan krisis makna. Dalam konteks Indonesia pasca-reformasi yang ditandai oleh demokratisasi sekaligus polarisasi, kebebasan berekspresi sekaligus banjir disinformasi, puisi-puisi ini hadir sebagai ruang kontemplasi sekaligus pernyataan sikap.
“Berteman Kabut Pagi” membuka keseluruhan lanskap dengan metafora kabut sebagai sahabat. Kabut bukan sekadar gejala alam, melainkan ruang liminal antara yang tampak dan yang tersembunyi. Dalam tradisi simbolik, kabut sering diasosiasikan dengan ketidakpastian, misteri, bahkan kebimbangan eksistensial. Namun di tangan Dwi Aji, kabut menjadi kawan dialog, bukan ancaman. Ia “menjemput” aku-lirik, menjadi perantara antara mimpi dan perjalanan. Ada resonansi dengan tradisi puisi kontemplatif Indonesia yang menempatkan alam sebagai cermin batin, sebagaimana dapat kita temukan dalam lirik-lirik reflektif penyair generasi sebelumnya. Namun yang khas di sini adalah perpaduan antara kesunyian pagi dan kesadaran akan “kotak pandora” yang tak terbuka—sebuah rujukan mitologis yang menyiratkan bahwa bahaya laten tetap ada, tetapi tak selalu harus dibongkar secara gegabah.
Puisi ini lahir di Madiun, sebuah kota yang dalam sejarah Indonesia memiliki lapisan politik dan kultural yang kompleks. Tanpa menyebutkannya secara langsung, suasana kontemplatif ini dapat dibaca sebagai respons terhadap memori kolektif dan realitas sosial yang tak pernah sepenuhnya jernih. Kabut menjadi metafora situasi bangsa: kita berjalan, tetapi jarak pandang terbatas; kita bergerak, tetapi tetap membutuhkan kesadaran batin sebagai kompas.
Jika puisi pertama bergerak dalam nada lirih, “Kredo Anti Gento” hadir sebagai deklarasi etis. Kata “kredo” menegaskan posisi puisi sebagai pernyataan iman—bukan dalam pengertian religius sempit, melainkan keyakinan moral terhadap kebangsaan dan kemanusiaan. Dwi Aji meramu citraan alam (“air dari gunung”, “atmosfir nusantara”) dengan idiom sosial-politik (“korporasi tak proteksi para pelaku korupsi”, “sabda pejabat tak menyayat rakyat”). Ia menghindari retorika sloganistik yang kosong dengan menghadirkan metafora yang hidup: bugenvil dan kantil, domba dan naga, ladang dan kedai kopi.
Di sini, puisi berdiri dalam tradisi puisi sosial Indonesia yang pernah begitu kuat pada dekade 1970-an dan 1980-an, ketika penyair-penyair menempatkan kata sebagai alat kritik terhadap kekuasaan. Namun Dwi Aji tidak mengulang model agitasi lama. Ia mengedepankan semangat kebersamaan: “semua pesta boga dan wacana punya bersama.” Isu yang relevan dan aktual dalam puisi ini adalah krisis integritas publik dan polarisasi sosial. Dalam era ketika politik identitas dan kepentingan korporasi sering bertabrakan dengan aspirasi rakyat, “kredo anti gento” menjadi ajakan untuk menolak kekerasan, arogansi, dan kerakusan—tanpa harus terjerumus dalam ekstremisme tandingan.
“Di Taman Ismail Marzuki Jakarta” memperluas cakrawala dengan menghadirkan ruang kultural sebagai arena dialektika. Penyebutan nama-nama seperti W.S. Rendra, Sardono W. Kusumo, Slamet Abdul Sjukur, Sutardji Calzoum Bachri, Teguh Karya, hingga Christine Hakim bukan sekadar nostalgia, melainkan penegasan bahwa kebudayaan Indonesia dibangun oleh pergulatan gagasan dan keberanian estetika. Ruang Taman Ismail Marzuki ditampilkan sebagai medan pertemuan berbagai disiplin: teater, tari, musik, film, puisi.
Puisi ini penting dalam konteks kekinian ketika ruang-ruang kesenian menghadapi tantangan komersialisasi, birokratisasi, dan kadang-kadang depolitisasi. Dengan menghadirkan figur-figur yang pernah mengguncang pakem, Dwi Aji mengingatkan bahwa seni lahir dari keberanian menjadi antitesis. “Dialektika mulia” yang disebutkan dalam puisi menggemakan semangat bahwa kebudayaan tumbuh dari perdebatan, bukan keseragaman. Dalam situasi ketika ruang publik kerap dibelah oleh polarisasi dangkal, puisi ini menawarkan model dialog kultural yang lebih beradab dan visioner.
Dialog lintas generasi mencapai puncaknya dalam “Kepada Chairil Anwar”. Penyair berbicara langsung kepada Chairil Anwar, ikon Angkatan ’45 yang puisinya menjadi simbol keberanian individual dan kebebasan ekspresi. Namun puisi ini tidak berhenti pada pemujaan. Ia mengontekstualisasikan Chairil dalam “zaman pasca kebenaran”, ketika kata tak lagi diimani hati dan pikiran. Istilah “pasca kebenaran” merujuk pada kondisi global di mana opini dan emosi sering mengalahkan fakta—sebuah fenomena yang nyata dalam era media sosial dan politik digital.
Dengan menyebut “Kerawang-Bekasi”, Dwi Aji mengaitkan kembali pada sejarah perjuangan dan pengorbanan. Tetapi yang paling kuat adalah kesadaran bahwa semangat Chairil masih relevan sebagai energi moral. Puisi ini menempatkan tradisi sastra bukan sebagai museum, melainkan sebagai sumber daya etis untuk menghadapi krisis kontemporer: manipulasi informasi, komodifikasi agama, dan banalitas kebaikan yang hanya demi pencitraan.
Puisi terakhir, “Orang Bilang”, tampak sederhana namun strategis dalam keseluruhan komposisi. Ia berbicara tentang persepsi, penghakiman, dan pembelaan. Dalam dunia yang dipenuhi opini instan, label, dan stigma, aku-lirik memilih menjadi penangkis. Secara estetis, repetisi “orang bilang… aku bilang…” menciptakan ritme argumentatif yang ringan tetapi tegas. Secara tematik, puisi ini menggemakan isu besar tentang empati dan resistensi terhadap budaya menghakimi—isu yang sangat aktual dalam ekosistem digital.
Jika dibaca sebagai satu kesatuan, kelima puisi ini membentuk arsitektur kesadaran: dari kontemplasi personal, deklarasi kebangsaan, perayaan ingatan kultural, dialog historis, hingga pembelaan intim. Estetikanya mengandalkan citraan alam, metafora mitologis, dan rujukan historis yang menyatu dalam bahasa yang relatif komunikatif. Dwi Aji tidak terjebak pada eksperimentasi bentuk yang ekstrem; ia lebih memilih kejernihan narasi dan kekuatan imaji. Pilihan ini bukan kelemahan, melainkan strategi untuk menjangkau audiens yang lebih luas tanpa kehilangan kedalaman makna.
Sebagai kurator, saya melihat karya-karya ini sebagai upaya merawat jembatan: jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara estetika dan etika, antara individu dan kolektif. Dalam situasi sosial yang kerap diwarnai kabut informasi dan polarisasi emosional, puisi-puisi ini mengajak kita untuk kembali pada kesadaran yang sederhana tetapi mendasar: keberanian berpikir, kesediaan berdialog, dan komitmen pada kemanusiaan.
Puisi, dalam tangan Dwi Aji Prajoko, bukan sekadar susunan kata atau ekspresi perasaan personal. Ia menjadi medium dialog dengan sejarah, dengan bangsa, dengan para pendahulu, dan dengan sesama. Dari kabut pagi hingga kredo kebangsaan, dari panggung kesenian hingga percakapan intim, keseluruhan karya ini mengingatkan kita bahwa sastra masih memiliki daya untuk menyalakan api kecil di tengah gelap—api yang tidak membakar, tetapi menerangi.
Berikut 5 puisi karya Dwi Aji Prajoko
BERTEMAN KABUT PAGI
fajar diharum bunga baru mekar
ulang ciptaan tanpa bayang pengkhianatan
peronda bulan bundar mengantar keluar pagar
roda dan pikiran dan kata-kata bersamaan berputar
sesapan kopi mengasap peta destinasi keluar tanpa distorsi
sepagi ini aku dijemput kabut
seolah sahabat lama mendamba jumpa
kusigi mimpi juga bersih dari wajah putihnya
enggan dilupakan dia menunggu di jalan berliku
bak kawanan domba menatap harap aba-aba gembala
aku kisahkan misteri perjalanan lelaki
dia cerita rahasia danau dan dedaunan hutan
kotak pandora tak terbuka tapi pewahyuan tak terkunci
yang tertinggal bukan residu tapi bekal rindu hari kemudian
o kabut tak surut, hatiku tertaut, dan ketinggian berlutut ke kami
Madiun, Januari 2023
KREDO ANTI GENTO
aku air dari gunung batumu
tapi juga hujan yang kamu rindu
sekian lama berjalan dengan aturan
tapi suaramu merdu di laut kebebasan
leluhur sumpah setia padamu di masa lalu
sampai mati kulindungi peti perjanjian itu
dengan keberanian semerah mata naga
dengan ketulusan seputih bulu domba
aku bertabik atas semua pernik milikmu
lalu tanpa malu minum susu di bilikmu
bekerja di ladang di waktu siang hari
dan begadang di kedai kopi
aku berpanggung mendukungmu
kala gunung-gunung mengharu biru
aku berbela rasa dengan bahasa cinta
kala banyak orang bijak ditanya segala sila
aku bersila bukan semata demi angkasa
tapi juga demi kearifan bumi tercinta
demi keragaman pikiran merdeka
demi hati yang berjaya
sabda pejabat tak menyayat rakyat
puisi proletar tak menggelepar di altar
para bangsawan tak melulu beradu cawan
semua pesta boga dan wacana punya bersama
aku menangkap udara dari atmosfir nusantara
tak sengsara terperangkap formasi sihir manca
karna kutabik mereka yang tabik pada saudara
kuhardik mereka yang menghardik saudara
sendirian aku tak merasa kesepian
bersama kamu bukan bagian dari tiran
cinta bangun menara pengusir hal mushkil
serupa rumpun bugenvil berbunga wangi kantil
mari berkredo anti para gento
sendirian tak menjadi liar bak setan
bebangsa satu tak dirikan negara baru
korporasi tak proteksi para pelaku korupsi
adrenalinku memacu diriku
tapi selalu menghampiri dirimu
selebrasi di berbagai fase kehidupan
sebelum waktunya dipeluk bumi kematian
Madiun, Maret 2023
DI TAMAN ISMAIL MARZUKI JAKARTA
Di Taman Ismail Marzuki Jakarta
Ketika estetika menjadi daging yang mendustanya
Rendra biarkan Oedipus Sang Raja butakan matanya
Saga Malin Kundang dan Sangkuriang matang ditimbang
Tapi para ibu baik hati mengutuki anak-anaknya sendiri
Cintanya hanyalah segalah bukan sepanjang jalan
Di Taman Ismail Marzuki Jakarta
Jiwa Sardono menggerakkan kaki dan tangannya
Budaya jadi berjalan tak perlahan tapi berlari tak henti
Samgita Pancasona melompati kerajaan tari
Membuat murka para penjaga setia
Tapi segera menjelma antitesa
Dalam dialektika mulia
Di Taman Ismail Marzuki Jakarta
Slamet Abdul Syukur yang lama terbang di langit Eropa
Merayakan kehadirannya dengan komposisi bersahaja
Tapi suaranya terhubung ke semua relung artistik
Merayap dari empat dindingnya ke atap akustik
Kebaruan diserukan anak yang pulang
Di Taman Ismail Marzuki Jakarta
Terbayang amuk Sutardji yang mengkapak puncak
Meluapkan magma imajinasi yang tak berkesudahan
Lokomotif teater Teguh Karya pun bergerak ke layar perak
Wajah seorang laki-laki mengawali serangkaian perjalanan
Bersama Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Alex Komang
Menuju memoriku sepanjang hayat dikandung badan
Madiun, April 2021
KEPADA CHAIRIL ANWAR
Diksimu bak genderang yang membangunkan badan
Jiwa jadi menyatu bak penembak jitu dengan peluru
Menyasar masa depan
Pemudamu kini seperti pohonan bersemi
Meninggi memburu jutaan cahaya matahari
Tapi tumbuh bersama hewan berbisa juga
Yang melata menggigit tumit-tumit telanjang
Yang tak diproteksi sepatu bot konstitusi
Lautan di depan tak hampa bajak
Tapi kapal-kapal tak henti bertolak
Karena semangat kamu selempangkan
Dan urat-uratmu juga kuat terbayang
Saat tenggelamkan para pelintang
Di zaman yang lagi menapaki pasca kebenaran
Ketika kata tak lagi diimani hati dan pikiran
Ketika kebaikan demi lapak media masa
Ketika kemanusiaan dibalut kain kafan
Ketika religi memuji hati jemawa
Chairil Anwar dirindukan
Tak jalang kamu
Tak terbuang anomali
Di antara Kerawang-Bekasi
Waktumu sudah lama berlalu
Derumu masih menggebu-gebu
Melintasi ribuan tahun kehidupan
Seperti mimpimu
Madiun, April 2022
ORANG BILANG
orang bilang parasmu ayu
aku bilang wajahmu manis
orang bilang kamu penuh nafsu
aku bilang semangatmu tak habis-habis
orang bilang kamu sok tahu
aku bilang kamu spesialis
orang bilang kamu jahat melulu
aku bilang kamu protagonis
orang gemar menghakimimu
aku tidak jemu menangkis
fokuslah padaku
berhentilah menangis
Madiun, Agustus 2021

0 Komentar
Lingkar literasi, sastra, dan seni budaya Asia Tenggara serumpun Bahasa.