Ananda Sukarlan di galeri Getback Parlour
oleh Ananda Sukarlan, pianis & komponis
Bulan lalu harian Kompas telah memberi saya kejutan, mengulas tentang sindrom Sinestesia saat saya menghadiri pameran lukisan di Getback Parlour. Saat itu saya sedang menikmati saja berbagai kurva, warna dan gradasinya dari para pelukis seperti Dwi Putra Mulyono Jati (Pak Wi), Anfield Wibowo, Raysha Dinar Kemal Gani, Hilmi Faiq dan lainnya. Kebetulan ada Nawa Tunggal, wartawan Kompas di sana dan kami berbincang-bincang, dan sampailah kita kepada sindrom yang saya miliki sejak lahir, yaitu Synesthesia atau Sinestesia. Rangkuman perbincangan kami tersebut ditulisnya di "Nama dan Peristiwa" Kompas, 29 Desember 2026 (baca https://www.kompas.id/artikel/sinestesia ).
Ternyata tulisan tersebut berdampak cukup luas. Banyak pesan masuk ke inbox media sosial saya (Instagram dan twitter) setelah artikel itu tayang. Karena pendeknya tulisan tersebut, banyak orang yang penasaran, dan agak melenceng pengertiannya tentang sindrom yang cukup langka ini.
Saya bukan ahli sindrom Asperger apalagi sinestesia, jadi saya kutip dan terjemahkan saja definisi sinestesia dari psychologytoday.com :
Sinestesia adalah kondisi neurologis di mana stimulasi pada satu jalur sensorik atau kognitif (misalnya, pendengaran) menyebabkan pengalaman otomatis dan tidak disengaja pada jalur sensorik atau kognitif kedua (seperti penglihatan). Sederhananya, ketika satu indra diaktifkan, indra lain yang tidak terkait juga diaktifkan pada saat yang bersamaan. Ini dapat berupa, misalnya, mendengar musik dan secara bersamaan merasakan suara tersebut sebagai pusaran atau pola warna.
"Synesthesia" sendiri berasal dari bahasa Yunani yang artinya "sensasi yang tersinkronisasi atau terhubung". Ternyata ada juga orang-orang yang merasakan rasa di lidahnya saat membaca atau melihat satu bentuk, yang berarti sinestesia tidak terbatas di terhubungnya bunyi (aural) dan bentuk (visual).
Ada beberapa psikolog yang meyakini bahwa Synesthesia itu "satu paket" dengan Sindrom Asperger yang saya idap. Saya sendiri sejak kecil berpikir bahwa semua orang bisa "mendengar" bentuk dan warna. Mereka yang tidak bisa mendengarnya saya anggap aneh, dan baru lama sesudahnya saya menyadari bahwa saya yang aneh. Saat saya kuliah dan sebelum didiagnosa dengan Sindrom Asperger dan Tourette saat saya berusia 28 tahun, saya sering memberi komentar kepada musikus dan kolega yang mempersiapkan pertunjukan musik saya, kalimat seperti "bagian sini hijaunya agak terlalu tua" atau "bisakah tekstur ungunya lebih gelap?" dan mereka selalu menjawab misalnya "maksudnya apa sih? Bilang saja not apa yang harus lebih keras / lebih lembut, dan melodi mana yang harus lebih diaksentuasi" dan variasinya. Dari berbagai pengalaman bermusik itulah saya jadi mengerti bahwa tidak semua orang mendengar warna indigo "langit yang semalaman tak memejamkan mata" kata Sapardi Djoko Damono, cipratan cat Jackson Pollock atau ritme dari Broadway Boogie Woogie pelukis Belanda, Piet Mondriaan.
Saya sendiri menganggap Synesthesia itu variasi saja dari sindrom lain seperti Alice in Wonderland Syndrome, dimana ukuran semua benda yang dilihat itu tidak proporsional dan berbeda ukuran dengan yang dilihat kebanyakan orang. Saya sendiri memiliki Tourette Syndrome, jadi bersama dengan Sindrom Asperger dan sinestesia itu pernah dianggap "satu paket" : satu menyebabkan lainnya (entah mana yang sebab, mana yang akibat).
Sampai saat ini pun saya bertanya-tanya, apakah hijau yang kulihat --atau kudengar-- itu adalah hijau yang sama untuk semua orang? Saya sering membayangkan bertukar otak dengan orang lain untuk mengerti apakah hijau saya sama seperti hijau orang itu, atau bertukar otak dengan Piet Mondrian untuk meyakini apakah ia mendengar ritme Broadway Boogie Woogie dengan tempo dan pola yang sama dengan yang saya dengar?
Ada beberapa karya saya yang tertulis berdasarkan lukisan, seperti "Trilogia Mitologica" yaitu lukisan Bacchus and Ariadne (Titian), Narcissus (John William Waterhouse), banyak karya dari Vincent van Gogh yang saya jadikan satu siklus "The Springs of Vincent", serta dari pelukis Indonesia adalah "Communication Breakdown" yang berdasarkan lukisan Kukuh Nuswantoro "Kegelapan" (pemenang UOB Painting of the Year 2017). Kebetulan apa yang saya dengar dari lukisan itu ada kemiripan dengan lagu Led Zeppelin, Communication Breakdown, sehingga ada beberapa not saya kutip di karya saya tersebut.
Satu hal yang perlu saya jelaskan, dan tekankan adalah saya mendengar bunyi, bukan musik. Bunyi itu kemudian saya analisa, dan ini membutuhkan ketrampilan dan latihan. Apa saja not-not dalam "akord" tersebut, bagaimana "akord" itu bermodulasi ke "akord" yang lain yang dalam progresi harmonik dalam musik sering tidak berhubungan. Ini bukan "indera keenam", kalau mau lebih dari lima, mungkin tepatnya bisa kita sebut sebagai indera "ke-lima setengah" yaitu gabungan dari dua indera (penglihatan dan pendengaran), dan ini sama seperti indera lainnya : semua itu kita persepsikan dalam bentuk apa adanya. Penulis butuh keahlian untuk merangkai kata-kata, pelukis juga memoles teknik untuk melukis berdasarkan cat, kanvas dan model yang ia persepsikan. Begitu juga apa yang saya "dengar", bunyi itu masih harus dimodifikasi menjadi musik. Jadi, belum tentu penyandang sinestesia adalah komponis : ia harus belajar teknik komposisi dulu untuk menggubah karya musik berdasarkan apa yang ia persepsikan. Dan yang paling penting adalah memilih dan memilah : apakah bunyi itu layak untuk dimodifikasi sebagai musik, dan kemudian diperdengarkan ke publik?


0 Komentar
Lingkar literasi, sastra, dan seni budaya Asia Tenggara serumpun Bahasa.