005

header ads

Garudeya dan Imajinasi yang Terpanggil Lukisan Yoes Wibowo

oleh Fileski W Tanjung 

Karya Garudeya tiga panel satu set karya Yoes Wibowo hadir sebagai sebuah upaya sadar untuk memanggil kembali ingatan kultural yang kian menjauh dari keseharian generasi muda Indonesia. Melalui medium cat air di atas kertas, Yoes tidak sekadar menghadirkan ilustrasi mitologis, melainkan membangun sebuah ruang visual tempat sejarah, mitologi, dan sensibilitas kontemporer saling berkelindan. Tesis utama yang dapat ditarik dari karya ini adalah bahwa ingatan terhadap warisan leluhur Nusantara tidak harus dihadirkan dalam bentuk yang kaku, nostalgik, atau puritan; sebaliknya, ia justru dapat dihidupkan ulang melalui bahasa visual yang segar, berwarna, dan komunikatif, sehingga mampu berdialog dengan zaman hari ini.

Figur Garudeya—yang berakar kuat dalam mitologi Hindu-Jawa dan kisah Adi Parwa—diolah Yoes bukan sebagai simbol tunggal yang beku, melainkan sebagai semesta narasi. Dalam tiga panel ini, Garuda tidak berdiri sendiri, tetapi dikelilingi oleh flora, fauna, makhluk hibrida, dan figur manusia yang saling berkelindan. Komposisi ini mengingatkan pada relief candi-candi Nusantara, di mana kisah kosmologis disampaikan bukan melalui satu adegan tunggal, melainkan melalui rangkaian panel yang menuntut pembacaan berlapis. Dengan demikian, format tiga panel dalam karya ini tidak sekadar pilihan teknis, tetapi bagian dari strategi naratif yang berakar pada tradisi visual lokal.

Secara historis, Garuda merupakan simbol pembebasan, pengorbanan, dan keberanian moral. Ia terbang untuk membebaskan ibunya dari perbudakan, sebuah kisah yang sarat makna etis dan politis. Yoes Wibowo menangkap esensi ini, namun membingkainya ulang dalam konteks kekinian. Di tengah krisis ketertarikan generasi muda terhadap sejarah dan pengetahuan leluhur, Garudeya dalam karya ini dapat dibaca sebagai metafora ajakan: terbang kembali ke sumber, bukan untuk terjebak di masa lalu, tetapi untuk menemukan pijakan identitas di tengah arus globalisasi yang serba cepat dan dangkal.

Pilihan warna yang cerah, kontras, dan nyaris ornamental menjadi salah satu aspek estetika yang paling menonjol. Warna-warna ini bukan sekadar pemanis visual, melainkan strategi komunikasi. Yoes secara sadar menjadikan warna sebagai jembatan antara narasi tradisi dan selera visual anak muda hari ini, yang terbiasa dengan budaya visual digital, gim, ilustrasi populer, dan media sosial. Dalam konteks ini, cat air—medium yang kerap diasosiasikan dengan kelembutan dan ketenangan—justru dimaksimalkan untuk menghasilkan intensitas visual yang kuat. Teknik gradasi, transparansi, dan detail halus memperlihatkan penguasaan material yang matang, sekaligus memberi ruang bagi lapisan makna yang tidak segera habis dibaca.

Secara sosial dan budaya, karya ini dapat diposisikan sebagai kritik halus terhadap sikap abai terhadap sejarah lokal. Ketika riset tentang manuskrip, relief, dan mitologi Nusantara justru banyak dilakukan oleh akademisi dan peneliti Barat, Yoes mengajukan pertanyaan visual yang relevan: mengapa pemilik warisan ini justru menjadi asing terhadapnya? Namun alih-alih menyampaikan kritik secara verbal atau didaktik, ia memilih jalur estetika—menggoda mata terlebih dahulu, lalu mengajak pikiran untuk menyusul. Inilah kekuatan karya ini sebagai medium dialog, bukan khotbah.

Dalam konteks seni rupa kontemporer Indonesia, Garudeya berada di persimpangan antara tradisi dan eksplorasi visual baru. Ia tidak sepenuhnya masuk ke wilayah seni tradisional, namun juga tidak tercerabut dari akar lokalnya. Pendekatan ini sejalan dengan kecenderungan banyak perupa kontemporer yang kembali menengok arsip budaya sebagai sumber penciptaan, bukan untuk direproduksi mentah-mentah, tetapi untuk ditafsir ulang sesuai konteks zaman. Dengan demikian, karya ini relevan dengan isu kekinian tentang krisis identitas, hilangnya kedalaman makna dalam budaya populer, serta kebutuhan akan narasi alternatif yang berakar namun terbuka.

Isu yang diangkat Yoes Wibowo menjadi semakin relevan di tengah era algoritma, ketika perhatian manusia terfragmentasi dan sejarah seringkali direduksi menjadi potongan konten singkat tanpa konteks. Garudeya menuntut waktu, perhatian, dan kesediaan untuk menelusuri detail. Ia mengajak penonton untuk melambat, membaca simbol, dan merangkai makna. Dalam hal ini, karya ini bukan hanya tentang Garuda sebagai mitos, tetapi tentang cara kita memandang pengetahuan itu sendiri: apakah sebagai beban masa lalu, atau sebagai sumber daya imajinatif untuk masa depan.

Sebagai satu set tiga panel, karya ini juga menawarkan pengalaman visual yang bersifat sinematik. Setiap panel dapat berdiri sendiri, namun maknanya menjadi lebih utuh ketika dibaca sebagai kesatuan. Relasi antar panel menciptakan ritme visual yang mengalir, seolah-olah Garudeya bergerak melintasi ruang dan waktu. Pengalaman ini memperkuat gagasan bahwa sejarah dan budaya bukan fragmen terpisah, melainkan rangkaian proses yang saling terhubung.

Pada akhirnya, Garudeya karya Yoes Wibowo dapat dibaca sebagai sikap intelektual dan estetik seorang seniman terhadap kegelisahan zamannya. Ia tidak sekadar meratapi hilangnya minat generasi muda terhadap sejarah, tetapi menawarkan jalan lain: menghidupkan kembali mitologi melalui bahasa visual yang relevan, inklusif, dan menggugah rasa ingin tahu. Karya ini mengingatkan kita bahwa seni rupa memiliki peran penting sebagai ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini, antara ingatan dan imajinasi, serta antara identitas lokal dan dunia global. Dalam terbangnya Garudeya, kita diajak untuk ikut serta—bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai subjek yang kembali belajar membaca akar budayanya sendiri. (*) 


Posting Komentar

0 Komentar