Sang Pencerah: Semar di Tengah Kekacauan Zaman | Lukisan Bambang Irawanto
Kuratorial oleh Fileski W Tanjung
Dalam lanskap sosial kontemporer yang ditandai oleh polarisasi, pertengkaran simbolik, dan kekerasan verbal yang nyaris tak berujung—baik di ruang publik maupun ruang digital—kehadiran figur penenang bukan lagi sekadar harapan moral, melainkan kebutuhan mendesak. Karya Sang Pencerah karya Bambang Irawanto lahir dari kegelisahan semacam ini: sebuah respons artistik terhadap kondisi masyarakat yang tercerai-berai oleh amarah, saling curiga, dan kegaduhan tanpa arah.
Alih-alih menghadirkan sosok pahlawan dalam pengertian modern—yang seringkali diasosiasikan dengan kekuasaan, dominasi, atau heroisme spektakuler—Bambang Irawanto justru memilih Semar, figur punakawan dalam mitologi Jawa, sebagai representasi “pencerah”. Pilihan ini bukan tanpa makna. Semar bukan tokoh yang memerintah, melainkan yang mengingatkan; bukan yang memukul, melainkan yang menegur dengan welas asih. Dengan demikian, sejak awal karya ini telah memposisikan diri sebagai kritik halus terhadap kecenderungan zaman yang mengagungkan suara paling keras, bukan kebijaksanaan paling dalam.
Karya Sang Pencerah dapat dibaca sebagai alegori visual tentang krisis etika publik hari ini, di mana kebisingan konflik menyingkirkan kebijaksanaan, dan di mana figur moral justru hadir dalam rupa yang tidak heroik, bahkan nyaris grotesk. Melalui stilisasi figuratif yang ekspresif, Bambang Irawanto menegaskan bahwa pencerahan bukan datang dari kesempurnaan atau kekuatan fisik, melainkan dari keberanian untuk tetap waras, rendah hati, dan berpihak pada kemanusiaan di tengah kekacauan.
Deskripsi Visual dan Estetika
Secara visual, lukisan cat minyak di atas kanvas berukuran 40 x 50 cm ini menghadirkan komposisi yang padat dan penuh ketegangan. Figur-figur manusia digambarkan dengan distorsi anatomis: wajah-wajah yang tampak sinis, tubuh-tubuh yang terpuntir, gestur yang canggung sekaligus agresif. Warna-warna yang digunakan cenderung gelap dan tanah, dengan semburat merah, hijau kusam, dan biru pucat yang saling bertabrakan, menciptakan atmosfer psikologis yang tidak nyaman—sebuah metafora visual bagi suasana batin masyarakat yang dilanda konflik.
Di tengah hiruk-pikuk figur-figur yang saling berhadapan, hadir sosok Semar: bertubuh tambun, wajahnya tenang namun tidak steril dari ironi. Semar di sini bukan figur yang ideal atau dimuliakan secara estetis. Ia justru tampil sebagai tubuh yang “aneh”, nyaris jenaka, namun menyimpan otoritas moral yang kuat. Bambang Irawanto secara sadar mempertahankan karakter ambivalen Semar: sakral sekaligus profan, lucu sekaligus serius, rendah sekaligus maha tahu.
Secara material, sapuan cat minyak tampak ekspresif dan tidak disempurnakan secara akademis. Tekstur yang kasar dan garis-garis yang tegas memperkuat kesan kegelisahan, seolah kanvas menjadi medan pertarungan emosi. Dalam konteks ini, estetika bukan sekadar soal keindahan visual, melainkan medium penyampai ketegangan batin sang seniman.
Semar dalam Konteks Historis dan Budaya
Dalam tradisi wayang Jawa, Semar merupakan figur unik: ia adalah dewa yang menjelma menjadi rakyat jelata. Ia bukan pusat cerita, namun justru penentu arah moral cerita. Semar berbicara ketika ksatria tersesat, menegur ketika kekuasaan melampaui batas, dan mengingatkan bahwa kebenaran tidak selalu berpihak pada yang menang.
Dengan menghadirkan Semar sebagai “sang pencerah”, Bambang Irawanto sedang melakukan aktualisasi simbol budaya ke dalam konteks kontemporer. Semar di sini tidak lagi hanya milik panggung wayang atau ritual tradisi, melainkan dihadirkan sebagai kritik terhadap modernitas yang kehilangan akar etisnya. Ini sejalan dengan tradisi seni rupa Indonesia modern dan kontemporer yang kerap menggunakan simbol lokal untuk membicarakan problem universal—dari Affandi dengan ekspresionisme emosionalnya, hingga Heri Dono dengan satire politik berbasis ikonografi wayang.
Namun berbeda dari pendekatan satire yang cenderung jenaka atau sinis, Bambang Irawanto memilih nada yang lebih muram dan reflektif. Semar tidak ditampilkan sebagai pelawak, melainkan sebagai saksi kelelahan zaman.
Isu Kekinian: Kebisingan, Polarisasi, dan Krisis Kebijaksanaan
Relevansi Sang Pencerah dengan situasi hari ini terasa sangat kuat. Kita hidup di era di mana konflik tidak lagi membutuhkan medan perang; cukup linimasa media sosial. Perbedaan pandangan politik, agama, bahkan selera, dengan mudah berubah menjadi caci maki dan dehumanisasi. Dalam situasi ini, figur “pencerah” sering kali tenggelam oleh algoritma yang mengutamakan kemarahan daripada pemahaman.
Bambang Irawanto, melalui karya ini, seolah mengajukan pertanyaan mendasar: siapa yang masih mau mendengar suara kebijaksanaan ketika amarah terasa lebih memuaskan? Dengan menempatkan Semar di tengah kekacauan figur-figur yang saling berhadapan, karya ini mengingatkan bahwa pencerahan bukan soal memenangkan argumen, melainkan merawat nalar dan empati.
Isu ini menjadi semakin relevan ketika masyarakat kerap mencari figur penyelamat yang karismatik, kuat, dan tegas, namun melupakan kualitas kerendahan hati dan keberpihakan pada yang lemah. Sang Pencerah justru menawarkan antitesis dari imajinasi tersebut.
Dalam praktiknya, Bambang Irawanto tampak tidak tertarik pada realisme atau keindahan formal yang mapan. Ia lebih memilih pendekatan ekspresif dan simbolik, di mana bentuk dan warna tunduk pada gagasan. Distorsi figur bukan kekurangan teknis, melainkan strategi visual untuk mengekspresikan ketidakseimbangan sosial dan batin.
Sikap ini menunjukkan keberpihakan seniman pada seni sebagai medium refleksi, bukan dekorasi. Karya ini tidak meminta penonton untuk merasa nyaman, melainkan untuk berhenti sejenak dan merenung: tentang posisi diri di tengah kekacauan, dan tentang nilai apa yang masih layak dipertahankan.
Sang Pencerah bukan karya yang menawarkan jawaban final. Ia justru membuka ruang dialog: tentang peran kebijaksanaan lokal di era global, tentang kemungkinan etika di tengah konflik, dan tentang seni sebagai medan perlawanan terhadap banalitas kekerasan simbolik.
Dalam figur Semar yang tenang namun dikelilingi kekacauan, Bambang Irawanto mengingatkan kita bahwa pencerahan tidak selalu hadir sebagai cahaya yang menyilaukan. Kadang ia datang sebagai suara lirih yang nyaris diabaikan—namun justru di situlah letak kekuatannya.
Sebagai karya seni rupa, Sang Pencerah berhasil melampaui fungsi estetisnya dan menjelma sebagai medium dialog sosial. Ia tidak sekadar dipajang, melainkan mengajak kita untuk berpikir ulang tentang siapa kita, ke mana arah masyarakat ini berjalan, dan apakah kita masih memberi ruang bagi kebijaksanaan untuk berbicara. (*)
lukisan ini tersedia untuk dikoleksi

0 Komentar
Lingkar literasi, sastra, dan seni budaya Asia Tenggara serumpun Bahasa.