SEBENTAR!
Cerpen M. Afin Masrija
Bus jurusan Surabaya–Yogyakarta itu sesungguhnya sudah siap berangkat. Mesin berdengung halus, seperti orang yang menahan kantuk. Pendingin udara meniupkan hawa dingin yang tak merata—dingin menusuk di bangku depan, tapi pengap di baris tengah. Livery lumba-lumba di badan bus tampak cerah, kontras dengan wajah-wajah di dalam yang mulai kusam oleh lelah dan waktu.
Sopir membunyikan klakson cepat sebanyak dua kali untuk memberi tahu kru bahwa bis akan berangkat. Mesin mengerang dan ketika tuas persneling hampir ditarik, seorang penumpang bangkit setengah berdiri. Suaranya keras, gugup, seolah takut kehilangan momen.
“Pak, teman saya belum naik. Masih di kamar mandi.”
Kalimat itu jatuh seperti batu kecil ke air tenang. Sopir menghela nafas panjang, napas orang yang sudah hafal bagaimana waktu bisa mencelakai rezeki. Tangannya melepas persneling. Bus kembali diam, dan meraung di tempat.
Pertigaan Mengkreng menerima mereka dengan biasa saja. Debu tipis beterbangan setiap kali truk lewat. Klakson bersahutan. Dari balik kaca depan, sopir melihat bayangannya sendiri—mata sayu, rahang mengeras. Ia tahu tempat ini: ngetem bis sebentar, bisa jadi lama, dan hampir selalu berakhir dengan pertengkaran kecil yang tak pernah tercatat.
Menit berjalan lambat. Jarum jam di dasbor bergerak terlalu jelas. Di bangku belakang, seorang ibu mengipas-ngipas wajah anaknya dengan tiket lusuh. Di samping jendela, seorang mahasiswa menatap kosong layar ponsel tanpa benar-benar membaca. Ada yang mulai membuka bungkus permen, ada yang menghela napas berulang-ulang, seolah sedang latihan kesabaran. Para pedagang asongan yang tadi sudah turun, mulai naik lagi melihat bis ATB ini tak kunjung berangkat. Beberapa pengamen yang belum bernyanyi di bus ini, silih berganti naik, ada yang memakai kendang, ecek-ecek, dan gitar. Terkadang mereka saling meminjam alat musik, dan bisa jadi gitar yang sama dimainkan oleh dua orang yang berbeda. Ada juga yang mencari sumbangan.
“Cangcimen!”
“Yang dingin, yang dingin!”
Begitulah suara asongan bersahut-sahutan, sementara pengamen kebanyakan menutup shownya dengan ucapan
“Ikhlas bagi anda, halal bagi kami” lalu menjulurkan tangannya ke setiap penumpang dengan membawa kantong dari bungkus bekas deterjen.
Sopir mengumpat pelan. Bukan karena marah semata, tapi karena merasa dipermainkan oleh hal sepele. Rokok terselip di jarinya, tak dinyalakan—ia tahu asap hanya akan memperpendek sabarnya sendiri. Tangannya bergetar tipis. Dari spion, ia melihat satu per satu wajah penumpang berubah: dari netral, jengkel, lalu menuntut.
Kernet segera menangkap suasana itu lalu mendekat ke penumpang yang duduk gelisah itu. Nada suaranya berusaha lunak.
“Mas, masih lama nggak? Kita sudah lama ngetem.”
Penumpang itu mengangguk cepat, seperti orang yang tak benar-benar yakin.
“Sebentar, Mas. Saya WA dulu.”jawabnya sambil mengetik sebuah pesan.
Kata sebentar terdengar ringan, tapi di dalam bus ia menjadi beban. Bus lain melintas. Satu. Dua. Tiga. Klakson mereka panjang, menyayat. Wajah sopir memerah. Rahangnya mengeras. Dalam kepalanya, jam kerja berkurang, setoran terancam, dan cerita panjang yang sama terulang lagi. Dan tentu ia akan menjadi bahan tertawaan di terminal Yogyakarta, sebab belum pernah bus trayek itu kena take over 3 kali, dan sebagai artis jalur itu tentu peristiwa ini adalah Aib.
“Masih lama?” kondektur ikut menyela, suaranya kini lebih tegang.
“Kita hampir kehabisan jam.”
“Sebentar lagi,” jawab penumpang itu, masih dengan nada polos.
Namun kali ini matanya tak bisa berbohong. Ia panik. Jemarinya menekan layar ponsel berkali-kali. Ia menelpon. Nada sambung terdengar, lalu terputus. Ia menelpon lagi. Keringat muncul di pelipisnya, padahal AC masih menyala.
Kesabaran penumpang lain runtuh perlahan, seperti dinding yang retak.
“Gathel, Cuma nunggu satu orang doang, lama amat!” kata orang berlogat kediri.
“Jancuk! Ora duwe aturan tenan! Jik suwe ora mas koncomu?” logatnya surabaya.
“Asu! iso telat iki! Kapan tekone koncomu mas?” logatnya orang Yogyakarta.
“dlogok! goro-goro wong siji” sahut orang Solo
“Bajingan!, koncomu kon ndang cepet mas!!” Sepertinya orang jombang
Suara bercampur aduk. Ada yang memukul-mukul sandaran kursi, ada yang berdiri setengah badan, ada pula yang tertawa sinis—tawa orang yang sudah menyerah tapi ingin melukai. Bus berubah menjadi ruang sempit berisi emosi mentah: marah, takut, lelah, dan tak berdaya.
Sopir sudah habis kesabaran tangannya semakin bergetar. Kernet dan kondektur saling pandang mereka segera paham. Keputusan itu tak perlu dibicarakan lama. Kernet dan kondektur mendatangi pria berjaket denim itu, dan dengan suara keras, menahan jengkel yang hampir pecah, mereka berkata,
“Mas, pilihannya cuma dua. Ikut sekarang sama kita, atau sampean turun di Mengkreng sama temannya.”
Sunyi sesaat. Bahkan mesin bus seperti menahan dengungnya.
Penumpang itu menunduk. Ponsel di tangannya terasa berat. Di wajahnya ada ketakutan yang kekanak-kanakan—takut kehilangan teman, takut disalahkan, takut pada kemarahan yang sudah terlanjur membesar. Dengan suara kecil, hampir tenggelam oleh napas orang-orang di sekitarnya, ia berkata,
“Sebentar…”
Kata itu menggantung, rapuh, seperti sisa waktu yang tak lagi dimiliki siapapun di dalam bus—waktu yang sudah berubah menjadi amarah, dan amarah yang menunggu alasan terakhir untuk pecah. Dan di Mengkreng hari itu, membuat semua orang tahu: yang paling sulit diterima adalah kata sebentar dari orang lain, atau jangan-jangan kata sebentar itulah yang ternyata mampu menampakkan jati diri seseorang yang begitu egois.
M. Afin Masrija adalah guru MAN 2 Kota Kediri. Bisa ditemui via email Afinmasrija92@gmail.com

0 Komentar
Lingkar literasi, sastra, dan seni budaya Asia Tenggara serumpun Bahasa.