oleh Fileski W Tanjung
Sabtu malam, 31 Januari 2026, pukul 19.00 WIB, di Art Tangsen Wahyudi, Kampung Baru, Saradan, Kabupaten Madiun, saya hadir di sebuah pertemuan forum diskusi karya yang bertajuk ‘Sirisihin’, sebuah plesetan dari kata sarasehan, seolah ingin mengatakan sejak awal bahwa keseriusan tidak selalu lahir dari kekakuan interaksi, dan kedalaman tidak selalu muncul dari forum yang terlalu formal. Justru dari kelonggaran, dari percakapan yang hangat dan jujur, substansi sering menemukan jalannya.
Acara yang diinisiasi oleh Asosiasi Seniman Madiun ini lahir dari kegelisahan nyata: minimnya intensitas kegiatan pembahasan topik karya seni di Madiun. Bukan sekadar pameran yang datang dan pergi, tetapi diskusi yang betul-betul menguliti gagasan, proses, dan makna di balik karya. Padahal, sejarah peradaban menunjukkan bahwa seni yang hidup selalu ditopang oleh tradisi perbincangan. Seni yang jarang dibahas, pelan-pelan akan menjadi sunyi, dan kesunyian dalam seni bukanlah kontemplasi, melainkan pengabaian.
Dalam Sirisihin, sengaja mempertemukan para seniman dari Madiun Utara dengan para seniman dan budayawan dari Madiun Kota atau wilayah tengah. Dari Madiun Utara yang tergabung dalam Asosiasi Seniman Madiun diantaranya; Wahyudi, Hadi Sisanto, Samsun, Sujiatno, dan Johan Wahyudi. Serta Titus Tri Wibowo, Nugroho Budi, dan Apung Purwanto dari Jaringan Kebudayaan Madiun. Mereka selama ini bergerak di lingkaran masing-masing, jarang duduk bersama dalam forum yang setara dan cair. Sedangkan para seniman Madiun Selatan belum turut hadir malam ini, namun komunikasi para seniman Madiun Utara dan Selatan selama ini sudah terjalin cukup baik.
Ada yang menyebut kerja-kerja semacam ini sebagai kerja kurator seni. Saya sendiri merasa istilah itu masih terlalu jauh untuk saya terima. Yang saya lakukan berangkat dari kegelisahan sederhana: mengapa membahas karya seni belum menjadi kebiasaan di Madiun Raya, baik kota maupun kabupaten, utara maupun selatan. Padahal, diskusi karya adalah salah satu indikator peradaban yang sehat. Hannah Arendt pernah menulis, “Berpikir adalah dialog sunyi antara aku dengan diriku sendiri,” dan diskusi seni adalah perluasan dialog itu ke ruang publik, agar pikiran tidak mandek dalam kesendirian.
Kegiatan rutin membahas karya seni membawa banyak manfaat yang kerap diremehkan. Ia melatih kepekaan intelektual seniman dan publik, memperluas kosakata estetik, membangun tradisi kritik yang sehat, serta mencegah seni terjebak pada repetisi tanpa refleksi. Diskusi juga menjadi ruang transfer pengetahuan antargenerasi, tempat seniman muda belajar bukan hanya dari teknik, tetapi dari cara berpikir. Lebih jauh, forum semacam ini menciptakan arsip pemikiran kolektif yang kelak menjadi penanda sejarah kebudayaan suatu wilayah.
Pengalaman kota-kota di negara maju menunjukkan korelasi kuat antara suburnya diskusi seni dan tumbuhnya ekosistem seni. Paris tidak hanya dikenal karena museum-museumnya, tetapi karena tradisi Salonnière, kafe intelektual, dan debat estetik yang hidup sejak abad ke-19. Berlin tumbuh sebagai kota seni kontemporer karena ruang-ruang diskusi, residensi, dan kritik yang terbuka terhadap eksperimentasi. New York membesarkan para perupa dunia bukan hanya lewat galeri, tetapi lewat wacana yang terus-menerus diproduksi oleh kritikus, kurator, dan akademisi. Di kota-kota itu, karya seni jarang dibiarkan berbicara sendirian; ia selalu ditemani percakapan.
Hal serupa semestinya bisa dijalankan di Madiun. Karya-karya seniman hebat di wilayah ini, khususnya seni rupa, tidak akan dikenal luas jika tidak pernah diperbincangkan dalam forum intelektual kebudayaan. Pierre Bourdieu mengingatkan bahwa nilai simbolik suatu karya tidak pernah lahir di ruang hampa, melainkan dibentuk melalui relasi sosial dan wacana. Ketika sebuah karya dibahas, ditafsirkan, dan diperdebatkan, nilai estetik dan ekonominya perlahan menemukan konteks. Publik yang semula tidak tahu menjadi tahu, yang semula acuh menjadi peduli.
Dalam Sirisihin malam ini, salah satu karya yang dibahas adalah patung berjudul ‘The Gar’ karya Hadi Sisanto (42), sebuah patung kuda dari akar kayu jati, dikerjakan secara manual selama lima hari. Kuda dalam karya ini tidak tampil sebagai simbol keperkasaan yang banal. Akar jati yang dipilih Sisanto menghadirkan tubuh kuda yang seolah lahir dari tanah yang menyimpan memori waktu dan luka alam. The Gar terasa seperti makhluk peralihan, berada di antara domestikasi dan kebebasan, antara kekuatan dan kerentanan. Di sini, kuda bukan sekadar figur, melainkan metafora tentang manusia yang terus bernegosiasi dengan asal-usul dan nasibnya. Seperti kata Martin Heidegger, “Seni adalah cara kebenaran menyingkapkan dirinya,” dan dalam patung ini, kebenaran itu hadir melalui ketegangan bentuk dan material.
Karya lain yang memantik diskusi adalah patung ikan kayu berjudul ‘Sumbut’ karya Wahyudi (52). Menurut penuturan sang perupa, karya ini berbicara tentang kejujuran, yang direpresentasikan melalui pilihan warna mata hitam dan putih serta bentuk mulut yang seolah sedang bersuara. Bagi saya, Sumbut menarik karena ia mengangkat kejujuran bukan sebagai slogan moral, tetapi sebagai pengalaman yang rapuh. Mulut ikan yang terbuka terasa seperti pengakuan kejujuran yang penuh risiko, sementara mata hitam-putih menegaskan dikotomi yang sering kita hindari. Dalam dunia yang dipenuhi abu-abu kepentingan, Wahyudi justru mengajak kita kembali pada keberanian mengatakan yang benar. Seperti diingatkan oleh Søren Kierkegaard, “Kejujuran adalah keberanian untuk berdiri sendiri di hadapan kebenaran,” dan patung ini memvisualkan keberanian itu dalam bahasa estetika kayu.
Inti dari Sirisihin bukanlah kesepakatan instan atau solusi cepat, melainkan upaya merajut sinergi kesenian di Madiun Raya. Harapannya adalah terciptanya ekosistem berkesenian yang mempertemukan seniman, kurator, penikmat seni, kolektor, galeri, serta seniman lintas disiplin dari sastra, musik, teater, dan tari. Kolaborasi lintas bidang inilah yang kelak dapat meningkatkan apresiasi dan nilai karya seni rupa Madiun di mata masyarakat. Ekosistem yang kuat tidak lahir dari satu aktor, tetapi dari keberanian banyak pihak untuk saling mendengar dan saling menguatkan.
Sirisihin mungkin hanya sebuah pertemuan kecil di pinggiran peta seni nasional. Namun, sejarah sering bergerak dari pinggir, dari ruang-ruang yang berani mempertanyakan kebiasaan. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Madiun punya potensi, melainkan apakah kita berani merawatnya melalui percakapan yang jujur dan berkelanjutan. Apakah kita siap menjadikan diskusi karya seni sebagai kebutuhan, bukan pelengkap? Dan lebih jauh, apakah kita berani mempercayai bahwa dari pertemuan-pertemuan sederhana semacam inilah, sebuah peradaban dari kota kecil bisa menemukan martabatnya di kancah global. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak menuntut jawaban cepat, tetapi menuntut kesediaan kita untuk terus berpikir, berdialog, dan bertumbuh bersama dalam berkesenian.
Fileski W Tanjung adalah penulis, seniman, pendidik dari kota Madiun. Aktif menulis esai, puisi, cerpen di berbagai media nasional. Sehari-hari mengajar seni budaya di SMAN 2 Madiun.

0 Komentar
Lingkar literasi, sastra, dan seni budaya Asia Tenggara serumpun Bahasa.