Kabut, Kata, dan Keberanian Dwi Aji Prajoko dalam Memelihara Nurani
oleh Fileski W Tanjung
Pada malam Jumat, 6 Maret 2026, selepas solat tarawih, sebuah guest house bernama Omahkoe di Kota Madiun berubah menjadi ruang percakapan kebudayaan. Di sana berlangsung bedah buku antologi puisi Berteman Kabut Pagi karya Dwi Aji Prajoko, acara ini terselenggara hasil kerja sama Kosamara (Komunitas Sastra Madiun Raya), Jaringan Kebudayaan Madiun, Komunitas Rusa Terbang, Negeri Kertas, dan Omahkoe Guest House. Saya hadir sebagai pembahas, dengan Dwi Handayani sebagai moderator, sementara sejumlah tokoh budaya, akademisi, seniman, hingga pelajar turut meramaikan diskusi: Agnes Adhani, Apoung Purwanto, Aris P., Aris Wuryanto, Asti Musman, Bayu Sanjaya dari Dewan Kesenian Kota Madiun, Kartika Rahayu, Lukas Nandamai, Rindu Anggun Pratiwi, Titus Tri Wibowo, hingga Yakobus Wasit. Namun lebih dari sekadar acara sastra, pertemuan itu terasa seperti upaya kecil menyingkap kabut zaman yang kian menebal.
Sastra sering dianggap sebagai kegiatan sunyi yang terpisah dari realitas sosial. Tetapi malam itu justru membuktikan sebaliknya. Diskusi puisi menjelma percakapan tentang bangsa, sejarah, dan masa depan. Filsuf Friedrich Nietzsche pernah berkata, “kita memiliki seni agar tidak mati oleh kebenaran.” Kalimat ini terasa relevan ketika membaca puisi-puisi Dwi Aji Prajoko yang ditulis antara 2021 hingga 2023. Puisi-puisinya tidak sekadar menjadi pelarian estetis dari realitas, melainkan cara lain menghadapi kenyataan yang kompleks: realitas bangsa yang bergerak di antara kebebasan demokrasi, polarisasi wacana, dan banjir informasi yang sering kali lebih gaduh daripada bermakna.
Dalam perbincangan itu, Dwi Aji Prajoko sendiri menyampaikan satu refleksi sederhana namun penting. Ia mengatakan bahwa puisi baginya bukanlah upaya untuk menjadi benar di hadapan orang lain, melainkan usaha merawat kejernihan batin. “Saya menulis puisi agar tidak kehilangan rasa percaya pada manusia. Kata-kata mungkin kecil, tetapi ia bisa menjadi lentera yang menuntun kita keluar dari kabut,” ujarnya dengan nada tenang.
Puisi pembuka dalam antologi ini, Berteman Kabut Pagi, menghadirkan metafora yang unik: kabut sebagai sahabat. Dalam banyak tradisi simbolik, kabut sering diartikan sebagai kebingungan atau ketidakpastian. Namun di tangan Dwi Aji, kabut justru menjadi ruang dialog antara manusia dan dirinya sendiri. Aku-lirik dijemput kabut, seolah sahabat lama yang datang kembali. Di sini, puisi tidak berusaha mengusir ketidakpastian, melainkan memeluknya sebagai bagian dari perjalanan hidup.
Pandangan ini mengingatkan pada gagasan filsuf Martin Heidegger yang pernah menulis bahwa manusia adalah makhluk yang selalu berada dalam “jalan menuju pemahaman.” Kita tidak pernah sepenuhnya tiba pada kepastian; kita hanya terus berjalan menuju makna. Dalam konteks itu, kabut dalam puisi Dwi Aji dapat dibaca sebagai metafora situasi bangsa: kita bergerak maju, tetapi jarak pandang terbatas. Justru karena keterbatasan itulah, kesadaran batin menjadi kompas yang penting.
Puisi berikutnya, Kredo Anti Gento, bergerak dari nada kontemplatif menuju deklarasi etis. Kata “kredo” menandakan keyakinan moral, sebuah pernyataan iman terhadap kebangsaan dan kemanusiaan. Dwi Aji meramu citraan alam dengan idiom sosial-politik: gunung, hujan, bugenvil, kantil, hingga naga dan domba. Namun di balik metafora itu tersimpan kritik halus terhadap krisis integritas publik.
Filsuf Hannah Arendt pernah mengingatkan bahwa bahaya terbesar dalam kehidupan politik bukanlah kejahatan besar yang dramatis, melainkan banalitas ketidakpedulian. Dalam banyak masyarakat modern, kerusakan moral sering muncul bukan karena orang ingin berbuat jahat, tetapi karena mereka berhenti berpikir secara kritis. Puisi Kredo Anti Gento tampak seperti ajakan untuk menolak banalitas semacam itu. Ia tidak menyerukan revolusi, tetapi mengajak manusia menjaga keberanian moral dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika puisi Di Taman Ismail Marzuki Jakarta dibahas, diskusi malam itu bergeser pada memori kebudayaan Indonesia. Nama-nama seperti W.S. Rendra, Sardono W. Kusumo, Slamet Abdul Sjukur, Sutardji Calzoum Bachri, Teguh Karya, hingga Christine Hakim muncul sebagai jejak pergulatan estetika bangsa. Puisi ini mengingatkan bahwa kebudayaan Indonesia lahir dari keberanian melawan kemapanan.
Albert Camus pernah menulis, “tugas seorang seniman bukanlah berpihak pada kekuasaan, melainkan menjaga agar manusia tidak kehilangan martabatnya.” Kalimat itu terasa hidup dalam puisi Dwi Aji yang menampilkan Taman Ismail Marzuki sebagai ruang dialektika. Seni bukan sekadar hiburan; ia adalah tempat gagasan saling beradu untuk melahirkan kemungkinan baru.
Menariknya, diskusi malam itu tidak berhenti pada estetika puisi. Moderator acara, Dwi Handayani, memberikan refleksi yang menyentuh realitas kota Madiun. Ia mengatakan bahwa pertemuan ini lahir dari kegelisahan para pegiat literasi dan seni yang sering kali menemui jalan buntu ketika mencoba mengetuk pintu kebijakan kebudayaan. “Bedah buku ini adalah cara kami merawat semangat. Ketika komunitas mulai membuka diri satu sama lain, langkah berikutnya bisa jauh lebih dahsyat,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa karya Dwi Aji Prajoko yang memotret pengalaman personal sebenarnya bisa dibaca lebih luas sebagai refleksi kondisi kota. Sastra, katanya, selalu terbuka untuk berbagai tafsir. Setelah karya dilempar kepada pembaca, maknanya tidak lagi sepenuhnya berada di tangan penciptanya.
Puncak dialog lintas generasi dalam antologi ini muncul pada puisi Kepada Chairil Anwar. Dwi Aji berbicara langsung kepada ikon Angkatan ’45 tersebut, tetapi bukan sekadar memuja. Ia mengontekstualisasikan semangat Chairil dalam zaman yang sering disebut sebagai era pasca-kebenaran. Di masa ketika opini emosional sering mengalahkan fakta, keberanian kata menjadi semakin penting.
Di sinilah puisi menemukan relevansi barunya. Ia bukan sekadar bahasa keindahan, melainkan ruang perlawanan terhadap manipulasi makna. Seperti pernah dikatakan penyair Octavio Paz, “puisi adalah pengetahuan, penyelamatan, dan kekuatan.” Ia menyelamatkan manusia dari lupa, dari propaganda, dari kesunyian makna.
Puisi terakhir dalam antologi ini, Orang Bilang, tampak sederhana tetapi justru menyentuh persoalan yang sangat kontemporer: budaya menghakimi. Dalam dunia media sosial, manusia sering tergoda memberi label cepat terhadap orang lain. Puisi ini menawarkan sikap berbeda: empati dan pembelaan.
Dalam diskusi malam itu, saya menyimpulkan bahwa keseluruhan puisi Dwi Aji Prajoko membentuk sebuah arsitektur kesadaran. Ia bergerak dari kontemplasi personal menuju refleksi kebangsaan, dari ingatan kultural menuju dialog historis, lalu berakhir pada pembelaan terhadap martabat manusia. Puisi-puisi ini tidak menawarkan jawaban final, tetapi membuka ruang pertanyaan.
Mungkin itulah fungsi sastra yang paling mendalam. Ia tidak selalu memberi solusi, tetapi membantu manusia mengajukan pertanyaan yang lebih jujur. Ketika kita hidup di zaman yang dipenuhi kebisingan informasi, mungkin justru pertanyaanlah yang dapat menyelamatkan kita.
Pertanyaannya kemudian sederhana namun mendasar. Di tengah kabut zaman yang semakin tebal, apakah kita masih berani berhenti sejenak untuk mendengarkan kata-kata yang lahir dari keheningan? Ataukah kita justru memilih berjalan terus tanpa arah, membiarkan diri tersesat dalam riuhnya suara dunia. (*)

0 Komentar
Lingkar literasi, sastra, dan seni budaya Asia Tenggara serumpun Bahasa.