Tadarus Buku Epistemologi Moksa Para Naga di Tengah Dunia yang Kian Retak
oleh Fileski Walidha Tanjung
Senin, 2 Maret 2026, selepas tarawih, Mucoffee di Kota Madiun tidak sekadar menjadi ruang ngopi, melainkan menjelma ruang perenungan. Tadarus Buku Ramadan 2026/1447 H yang digagas bersama Kongan Cooperative. Membaca buku bukan semata sebagai ritual akademik yang dingin, melainkan sebagai laku spiritual yang hidup. Di antara aroma kopi, obrolan yang bersahaja, dan wajah-wajah muda yang haus makna, buku Epistemologi Moksa Para Naga—kumpulan puisi yang saya tulis dan terbitkan pada awal 2026—dibaca, diperdebatkan, dan diresapi bersama. Hadir para seniman, budayawan, akademisi, di antaranya Titus Tri Wibowo, Dwi Aji Prajoko, Yakobus Wasit, Septian Kharisma, Nugroho Budi Wibowo, para pelajar, mahasiswa, dan Sapta Rahita selaku pembawa acara. Malam itu, sastra menemukan kembali fungsinya yang paling purba: menjadi cermin zaman.
Prof. Djoko Saryono, guru besar dari Universitas Negeri Malang, sempat berkomentar tentang Epistemologi Moksa Para Naga, bahwa kreativitas puitik Fileski menyerupai sumber yang menyemprot deras—bahasanya mengalir padat, kuat secara metaforis dan konotatif, efektif membungkus sekaligus memanggungkan gagasan—sementara Epistemologi Moksa dipandangnya sebagai semacam metodologi puitis untuk memaparkan obsesi gagasan dan pikiran penyair, sehingga puisi-puisi di dalamnya terhindar dari jebakan menjadi sekadar wadah gagasan maupun hasrat argumentatif, dan justru bekerja sebagai pengalaman estetik yang bernapas.
Ada yang sungguh menarik dari acara kali ini: hadirnya para pelajar muda yang datang dengan semangat berkesenian yang menyala, meski latar mereka adalah pegiat seni tradisi pedalangan, namun dengan keterbukaan, mereka memilih duduk, menyimak, dan terlibat aktif dalam bedah buku sastra puisi. Mereka tidak berhenti sebagai penonton, tetapi turut menghidupkan teks dengan tubuh dan suara; Satrio Pambayun membacakan beberapa puisi dari buku saya dengan intensitas yang jujur, Sada Febrian melakukan alih wahana yang berani dengan mengubah puisi menjadi beberapa menit pertunjukan wayang kulit, sementara dari generasi seniman senior, Nugroho Budi Wibowo tak mau kalah menghadirkan tafsirnya melalui alih wahana puisi ke dalam gerak tari; sebuah perjumpaan lintas generasi dan lintas medium yang menegaskan bahwa sastra, ketika disentuh dengan keberanian dan kepekaan, mampu menjembatani tradisi dan kebaruan tanpa harus saling meniadakan.
Ramadan selalu menawarkan jeda. Di bulan ini, waktu seperti diperlambat agar manusia sempat mendengar suara batinnya sendiri. Tadarus Buku menjadi perpanjangan makna puasa: bukan hanya menahan lapar, tetapi menahan banalitas berpikir. Puisi-puisi dalam Epistemologi Moksa Para Naga lahir dari kegelisahan yang sama—kegelisahan melihat dunia yang kian canggih tetapi kian kehilangan arah. Kita hidup di era kecerdasan buatan, data besar, dan kecepatan digital, namun justru kesadaran etis terasa tertinggal. Dunia berbicara tentang efisiensi, sementara kemanusiaan diperlakukan seperti variabel yang bisa dihapus.
Isu ekologi menjadi luka lain yang dibicarakan malam itu. Banjir, kekeringan, krisis pangan, dan rusaknya tanah bukanlah bencana alam semata, melainkan cermin kegagalan etika. Dalam Epistemologi Moksa Para Naga, alam saya hadirkan sebagai subjek yang terluka, bukan latar yang bisu. Ramadan mengajarkan keseimbangan: makan secukupnya, hidup secukupnya, mengambil seperlunya. Namun dunia modern bergerak sebaliknya. Kita menumpuk, menimbun, dan menguras, lalu heran ketika bumi merespons dengan murka. Ketahanan pangan, yang kini menjadi isu global, sejatinya bukan hanya persoalan teknologi pertanian, tetapi persoalan cara pandang: apakah tanah kita anggap ibu, atau sekadar aset.
Diskusi malam itu juga menyentuh dunia digital. Generasi Z tumbuh bersama layar, sementara generasi Y masih sempat merasakan dunia tanpa notifikasi. Perbedaan ini bukan soal usia, melainkan cara mengalami realitas. Gen Z cenderung cair, cepat, dan visual; Gen Y lebih reflektif, meski sering terjebak nostalgia. Namun keduanya menghadapi tantangan yang sama: bagaimana menjadi manusia utuh di tengah dunia yang terus memecah perhatian. Puisi, dalam konteks ini, bukan pelarian dari teknologi, melainkan upaya melatih kedalaman di tengah arus dangkal. Martin Heidegger pernah mengingatkan, “Bahaya terbesar dari teknologi bukan pada mesin itu sendiri, melainkan pada cara ia mengubah cara manusia memahami keberadaan.” Ketika segalanya bisa diukur, manusia lupa bagaimana merasakan.
Ramadan memberi konteks penting bagi pertanyaan tentang eksistensi diri dan kebahagiaan. Dalam budaya digital, kebahagiaan sering direduksi menjadi performa: pencapaian, pengakuan, dan angka-angka. Puasa justru membongkar ilusi itu. Saat lapar, manusia sadar bahwa dirinya rapuh; saat haus, ia ingat bahwa hidup bukan miliknya sepenuhnya. Epistemologi Moksa Para Naga berbicara tentang moksa bukan sebagai pelarian metafisis, melainkan keberanian menanggalkan ego. Kebahagiaan, dalam perspektif ini, bukan akumulasi, melainkan kelegaan batin ketika berhenti menyakiti—alam, sesama, dan diri sendiri.
Saya melihat wajah-wajah muda malam itu bukan sebagai audiens, melainkan sebagai subjek sejarah. Mereka hidup di masa krisis berlapis: krisis iklim, krisis makna, krisis kepercayaan. Namun justru di sanalah harapan bekerja. Tadarus Buku bukan solusi instan, tetapi latihan kesadaran. Ia mengajak membaca bukan untuk merasa pintar, melainkan untuk merasa bertanggung jawab. Sastra tidak menjanjikan jawaban, tetapi menjaga agar pertanyaan tetap hidup.
Di tengah dunia yang bising, mungkin tugas kita hari ini bukan menambah suara, melainkan memperdalam dengar. Ramadan akan berlalu, kopi akan dingin, diskusi akan usai. Namun pertanyaannya tinggal: setelah semua ini, apakah kita akan kembali hidup seperti biasa, atau berani mengubah cara memandang tanah, teknologi, perang, dan kebahagiaan? Jika dunia sedang menuju gelap, apakah kita memilih menyalakan cahaya kecil di dalam diri, atau justru menambah kegelapan dengan dalih normalitas? Pada akhirnya, tadarus bukan tentang buku saya, melainkan tentang diri kita sendiri: masihkah kita mau membaca tanda-tanda zaman sebelum semuanya benar-benar terlambat.
Fileski Walidha Tanjung adalah penulis buku puisi Epistemologi Moksa Para Naga, lahir di Madiun 1988. Aktif menulis puisi, esai, prosa di berbagai media nasional.

0 Komentar
Lingkar literasi, sastra, dan seni budaya Asia Tenggara serumpun Bahasa.