005

header ads

Tuhan, Mengapa Ritme Hidupku Terbalik | Yusri Rahayu

Pada suatu dini hari, ketika sebagian besar manusia menyerahkan tubuhnya kepada tidur, ada orang-orang yang justru sedang berbicara diam-diam dengan dirinya sendiri. Jam menunjukkan pukul dua lewat. Dunia tampak tenang, tetapi di dalam kepala, suara-suara gaduh saling bertubrukan. Ada pertanyaan tentang uang sekolah anak, tentang pekerjaan yang terasa tak pasti, tentang mimpi yang tertunda puluhan tahun, tentang tubuh yang lelah tetapi dipaksa terus berjalan. Barangkali pada jam-jam seperti itulah manusia paling jujur kepada dirinya sendiri. Sebab siang hari terlalu ramai oleh peran: menjadi ibu, menjadi guru, menjadi istri, menjadi mahasiswa, menjadi orang kuat. Sedangkan malam adalah wilayah sunyi tempat seseorang akhirnya berani bertanya: Tuhan, mengapa ritme hidupku terasa terbalik?


Pertanyaan semacam itu terdengar sangat pribadi, tetapi sesungguhnya ia sedang mewakili zaman kita. Kita hidup di era ketika manusia diajari untuk percaya bahwa hidup harus bergerak lurus: sekolah, kuliah, bekerja, menikah, mapan, lalu bahagia. Masyarakat modern menciptakan semacam jalur cepat bernama "normalitas". Siapa yang tertinggal dianggap terlambat. Siapa yang berjalan lamban dianggap gagal. Kita hidup dalam masyarakat yang diam-diam mengukur nilai manusia melalui ketepatan waktunya memasuki tahap-tahap sosial.


Padahal hidup tidak pernah benar-benar bergerak seperti garis lurus. Ia lebih menyerupai sungai dengan pusaran, tikungan, bahkan arus balik yang tak terduga.


Sosiolog Polandia Zygmunt Bauman pernah menyebut zaman ini sebagai "liquid modernity" atau modernitas cair. Segala sesuatu bergerak begitu cepat, berubah begitu mudah, dan tidak memiliki bentuk tetap. Dalam masyarakat cair, manusia dipaksa terus beradaptasi, sementara standar kesuksesan terus bergeser. Ironisnya, di tengah perubahan yang cepat itu, masyarakat tetap menuntut manusia memiliki ritme hidup yang seragam.


Barangkali di sinilah banyak orang diam-diam terluka.


Ada perempuan yang menikah pada usia sembilan belas tahun ketika teman-temannya masuk universitas. Ada orang yang baru kuliah ketika anaknya sendiri hampir lulus sarjana. Ada guru berprestasi yang dipanggil ke panggung nasional, dipuji ribuan orang, tetapi diam-diam menangis karena ijazahnya hanya lulusan SMA. Di hadapan dunia, ia tampak sebagai kisah kemenangan. Tetapi di hadapan dirinya sendiri, ia masih menyimpan tanya: apakah aku terlambat?


Kita sering salah memahami keterlambatan. Kita mengira hidup adalah perlombaan lari, padahal mungkin hidup lebih dekat dengan pertanian. Petani tidak pernah memarahi padi karena tumbuh lebih lambat dari jagung. Tidak semua hal harus matang pada musim yang sama.


Kalimat ini mengingatkan pada perkataan Milan Kundera: "Kecepatan adalah bentuk ekstase yang diberikan revolusi teknologi kepada manusia." Dalam terjemahan bebas bahasa Indonesia: "Kecepatan adalah mabuk baru manusia modern." Kutipan itu terasa menampar zaman kita. Kita hidup terlalu cepat sampai lupa bahwa jiwa manusia memiliki ritmenya sendiri.


Barangkali sebab itulah kita mulai kehilangan kemampuan berdamai dengan jeda.


Hari ini, media sosial memperburuk keadaan. Kita menyaksikan teman sebaya menjadi dosen, pengusaha, pejabat, atau tokoh terkenal. Kita melihat pencapaian mereka hadir dalam layar kecil setiap hari. Tanpa sadar, hidup berubah menjadi kompetisi diam-diam. Kita tidak lagi bertanya: "Apa yang aku inginkan?" Kita justru bertanya: "Mengapa hidupku tidak seperti mereka?"


Padahal penderitaan terbesar manusia modern mungkin bukan kemiskinan, bukan kelelahan, tetapi perbandingan.


Filsuf Korea Selatan Byung-Chul Han dalam bukunya The Burnout Society menjelaskan bahwa manusia masa kini bukan lagi masyarakat disiplin yang ditindas orang lain, melainkan masyarakat prestasi yang menindas dirinya sendiri. Kita terus berkata: aku harus lebih baik, lebih cepat, lebih berhasil. Kita memeras diri sendiri tanpa sadar.


Lalu tubuh mulai berbicara.


Tubuh lelah, tetapi kita menyebutnya kurang semangat. Pikiran penuh, tetapi kita menyebutnya kurang bersyukur. Hati ingin beristirahat, tetapi ego berkata: lanjutkan.


Mungkin itulah sebabnya banyak orang tertawa keras padahal diam-diam hampir menangis.


Yang menarik, justru dari ruang-ruang retak itulah manusia sering menemukan dirinya kembali. Seorang guru PAUD nonformal yang bertahun-tahun dipandang sebelah mata ternyata belajar teknologi secara mandiri. Dari dua kambing yang dijual demi membeli laptop, dari kelas kecil yang nyaris roboh, dari honor seratus lima puluh ribu rupiah per bulan, lahirlah inovasi pendidikan yang membawanya berdiri di panggung nasional.


Di sini saya melihat sesuatu yang jarang dibicarakan: kadang-kadang hidup tidak berjalan mundur. Kita hanya salah membaca arahnya.


Kita terbiasa menganggap pendidikan terjadi di kampus. Padahal ada orang-orang yang memperoleh gelarnya jauh sebelum memperoleh ijazahnya. Ada orang yang menjadi pendidik sebelum sempat disebut sarjana. Ada orang yang tumbuh menjadi manusia besar melalui luka, pengorbanan, dan keterbatasan.


Penulis Toni Morrison pernah berkata: "Jika ada buku yang ingin kau baca tetapi belum ditulis, maka kamulah yang harus menulisnya." Dalam terjemahan Indonesia: "Jika ada kisah yang ingin kau temukan tetapi belum tersedia, mungkin kaulah yang ditakdirkan untuk melahirkannya."


Mungkin hidup pun demikian. Jika jalan yang kita cari tidak tersedia, mungkin kita memang sedang ditakdirkan menciptakan jalan baru.


Sebab tidak semua manusia lahir untuk mengikuti jalur yang rapi. Sebagian orang ditakdirkan menjadi jalan setapak bagi orang lain.


Saya mulai berpikir, mungkin pertanyaan "Tuhan, mengapa ritme hidupku terbalik?" sesungguhnya lahir dari kesalahpahaman manusia terhadap waktu. Kita mengira Tuhan bekerja seperti kalender: tepat, berurutan, sistematis. Padahal barangkali Tuhan bekerja seperti puisi. Ada jeda yang tidak bisa dijelaskan logika. Ada patahan yang tampak kacau, tetapi justru melahirkan makna.


Lalu saya bertanya kepada diri sendiri: bagaimana jika hidup yang tampak berantakan ini sebenarnya tidak rusak? Bagaimana jika keterlambatan bukan kegagalan? Bagaimana jika jalan memutar ternyata adalah cara Tuhan memperpanjang pemandangan agar manusia belajar sesuatu sebelum sampai tujuan?


Barangkali pertanyaan terbesar dalam hidup bukanlah "mengapa aku terlambat?" Melainkan: ketika akhirnya sampai, apakah aku benar-benar menjadi manusia yang berbeda?


Sebab mungkin yang paling penting bukan seberapa cepat kita tiba, melainkan siapa diri kita setelah perjalanan panjang itu selesai. Dan bukankah pada akhirnya hidup selalu kembali pada pertanyaan sederhana tetapi menyesakkan: ketika seluruh perlombaan dunia berhenti, ketika gelar, pekerjaan, dan tepuk tangan dipisahkan dari diri kita, apa yang sebenarnya tersisa dari seorang manusia. (*) 



Yusri Rahayu adalah seorang pendidik anak usia dini (PAUD) yang berdedikasi tinggi dan penuh inovasi asal Kabupaten Ponorogo. Dikenal karena komitmennya yang kuat dalam meletakkan fondasi karakter dasar anak, ia berhasil mengukir berbagai prestasi di tingkat regional maupun nasional. Dengan pendekatan mengajar yang kreatif, berpusat pada anak, serta berbasis kearifan lokal, Sri Rahayu terus menginspirasi sesama pendidik untuk meningkatkan mutu pendidikan anak usia dini, khususnya di wilayah Ponorogo dan sekitarnya.


Posting Komentar

0 Komentar