005

header ads

Puisi: RIWAYAT JATUH DALAM SENYAP SEMESTA | Gubahan Aziz

Di relung waktu yang berselimut lengang

Aku menapaki lorong-lorong takdir

Dengan langkah yang kerap tersandung sunyi

Kompetensi demi kompetensi menjelma gelanggang

Tempat namaku gugur

Sebelum sempat dielu-elukan angkasa

Aku akrab dengan kegagalan

Bukan sebagai ratap

Melainkan sebagai guru yang lirih

Membisikkan hikmah dari palung kekeliruan

Berkali-kali aku terperangkap

Pada ambang nestapa

Namun jiwaku menolak karam

Di samudra putus asa

Ada bara tekad yang tak kunjung redup

Di belantara dada

Dari serpih kegagalan

Aku merajut kembali langkah

Menatah ketabahan

Di atas puing-puing nasib

Setiap luka menjelma aksara

Mengajari aku membaca rahasia keteguhan

Malam-malam menjelma pertapaan sunyi

Di mana aku bersimpuh pada buku-buku

Menyigi makna dari tiap kekhilafan

Menyemai asa

Di ladang sabar yang tak kasatmata

Namun aku tak berjalan sendiri

Di balik langkah yang sering terseok

Ada doa-doa yang diam-diam terbang

Dari tangan-tangan yang mencintaiku


Ibu merapalkan harap

Di sela sujud yang panjang

Ayah menautkan namaku

Pada langit-langit doa yang khusyuk

Sahabat dan orang-orang terdekat

Menitipkan namaku pada angin malam

Agar semesta mengingat

Bahwa aku tengah berjuang

Doa-doa itu menjelma cahaya

Menerangi lorong takdir yang temaram

Menguatkan langkahku

Saat dunia terasa terlalu sunyi

Kini pandanganku tertambat jauh

Pada gerbang universitas yang kupanggil

Dalam zikir panjang harapan

Tempat impian berpendar

Seperti fajar yang lahir

Dari rahim gelap cakrawala

Ya Allah

Jika jatuh adalah caramu menempaku

Biarlah aku menjelma baja yang mahardika

Jika kegagalan adalah aksara ujian Mu

Ajarkan aku menafsirnya dengan kelapangan jiwa

Bentangkanlah jalanku

Menuju samudra ilmu yang agung

Agar setiap langkahku kelak

Menjadi kidung syukur

Bagi mereka yang tak pernah lelah

Mendoakanku dalam diam

Sebab aku percaya

Di balik riwayat jatuh yang panjang

Di antara doa-doa yang dipanjatkan

Ada takdir yang tengah bertunas

Sebuah bangkit

Yang kelak menjulang

Melebihi segala runtuh yang pernah ada


* Demikianlah puisi ini di tulis untuk menjadi doa, motivasi, dan penyemangat hidup bagi seorang yang sudah seperti aku anggap seperti adik sendiri


Naufal Aziz, akrab dipanggil Nopal, lahir di Langsa pada 19 Februari 2006. Ia merupakan mahasiswa aktif S1 Pendidikan Bahasa Indonesia di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala. Naufal adalah putra dari Nurmaiah Harahap dan Mahlil Sadli, S.Pd. Ia merupakan alumni MAN Insan Cendekia Aceh Timur (2024), MTsS MUQ Langsa (2021), dan SDN Alue Merbau (2018). Bagi Naufal, menulis bukanlah keahlian awal, tetapi keberanian mencoba menjadi kunci. Beberapa karyanya telah terbit dalam berbagai antologi puisi, seperti Nelangsa di Bawah Senja, Serenade Moderasi, Sang Penguasa Jenaka, dan Titian Doa di Pintu Syafaat, serta puisi Senyap DOM Rintihan Bumi Aceh yang dipublikasikan di laman Negeri Kertas.




Posting Komentar

0 Komentar