
Di relung waktu yang berselimut lengang
Aku menapaki lorong-lorong takdir
Dengan langkah yang kerap tersandung sunyi
Kompetensi demi kompetensi menjelma gelanggang
Tempat namaku gugur
Sebelum sempat dielu-elukan angkasa
Aku akrab dengan kegagalan
Bukan sebagai ratap
Melainkan sebagai guru yang lirih
Membisikkan hikmah dari palung kekeliruan
Berkali-kali aku terperangkap
Pada ambang nestapa
Namun jiwaku menolak karam
Di samudra putus asa
Ada bara tekad yang tak kunjung redup
Di belantara dada
Dari serpih kegagalan
Aku merajut kembali langkah
Menatah ketabahan
Di atas puing-puing nasib
Setiap luka menjelma aksara
Mengajari aku membaca rahasia keteguhan
Malam-malam menjelma pertapaan sunyi
Di mana aku bersimpuh pada buku-buku
Menyigi makna dari tiap kekhilafan
Menyemai asa
Di ladang sabar yang tak kasatmata
Namun aku tak berjalan sendiri
Di balik langkah yang sering terseok
Ada doa-doa yang diam-diam terbang
Dari tangan-tangan yang mencintaiku
Ibu merapalkan harap
Di sela sujud yang panjang
Ayah menautkan namaku
Pada langit-langit doa yang khusyuk
Sahabat dan orang-orang terdekat
Menitipkan namaku pada angin malam
Agar semesta mengingat
Bahwa aku tengah berjuang
Doa-doa itu menjelma cahaya
Menerangi lorong takdir yang temaram
Menguatkan langkahku
Saat dunia terasa terlalu sunyi
Kini pandanganku tertambat jauh
Pada gerbang universitas yang kupanggil
Dalam zikir panjang harapan
Tempat impian berpendar
Seperti fajar yang lahir
Dari rahim gelap cakrawala
Ya Allah
Jika jatuh adalah caramu menempaku
Biarlah aku menjelma baja yang mahardika
Jika kegagalan adalah aksara ujian Mu
Ajarkan aku menafsirnya dengan kelapangan jiwa
Bentangkanlah jalanku
Menuju samudra ilmu yang agung
Agar setiap langkahku kelak
Menjadi kidung syukur
Bagi mereka yang tak pernah lelah
Mendoakanku dalam diam
Sebab aku percaya
Di balik riwayat jatuh yang panjang
Di antara doa-doa yang dipanjatkan
Ada takdir yang tengah bertunas
Sebuah bangkit
Yang kelak menjulang
Melebihi segala runtuh yang pernah ada
* Demikianlah puisi ini di tulis untuk menjadi doa, motivasi, dan penyemangat hidup bagi seorang yang sudah seperti aku anggap seperti adik sendiri
Naufal Aziz, akrab dipanggil Nopal, lahir di Langsa pada 19 Februari 2006. Ia merupakan mahasiswa aktif S1 Pendidikan Bahasa Indonesia di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala. Naufal adalah putra dari Nurmaiah Harahap dan Mahlil Sadli, S.Pd. Ia merupakan alumni MAN Insan Cendekia Aceh Timur (2024), MTsS MUQ Langsa (2021), dan SDN Alue Merbau (2018). Bagi Naufal, menulis bukanlah keahlian awal, tetapi keberanian mencoba menjadi kunci. Beberapa karyanya telah terbit dalam berbagai antologi puisi, seperti Nelangsa di Bawah Senja, Serenade Moderasi, Sang Penguasa Jenaka, dan Titian Doa di Pintu Syafaat, serta puisi Senyap DOM Rintihan Bumi Aceh yang dipublikasikan di laman Negeri Kertas.

0 Komentar
Lingkar literasi, sastra, dan seni budaya Asia Tenggara serumpun Bahasa.