005

header ads

Titikan di Galeri Indigo: Catatan tentang Seni Rupa, Anak, dan Kemerdekaan Berkarya

oleh Fileski W Tanjung

Minggu, 25 Januari 2026, pukul 10.00, saya datang di sebuah acara bertajuk Awarding Ceremony yang diselenggarakan oleh Titikan Madiun School of Art di Galeri Indigo Art Space, Jalan Dr. Sutomo No. 15A, Kota Madiun. Peristiwa ini, yang bagi sebagian orang mungkin hanya agenda akhir pekan, bagi saya justru menjelma sebagai ruang refleksi tentang seni, pendidikan, dan masa depan cara kita memperlakukan imajinasi anak-anak.


Acara dimulai dengan kunjungan ke Galeri Indigo. Ruang ini bukan sekadar tempat memajang lukisan, melainkan lanskap batin yang mengajak pengunjung berhadapan dengan dunia lain. Galeri ini diberi nama Indigo karena Edo Adityo, putra pemilik galeri, memiliki kepekaan batin yang diyakini mampu melihat dimensi gaib. Keistimewaan itu ia wujudkan melalui lukisan-lukisan makhluk astral yang jujur, intens, dan personal. Bagi saya, nama Indigo menjadi metafora penting: sebuah spektrum warna yang berada di antara, tidak sepenuhnya kasat mata, namun nyata dirasakan.

Edo Adityo memiliki keterbatasan fisik. Ia tidak bisa berjalan dan menggunakan kursi roda dalam kesehariannya. Namun keterbatasan tubuh itu sama sekali tidak membatasi daya ciptanya. Ia telah menghasilkan ratusan karya lukisan yang seluruhnya dipamerkan di Galeri Indigo, bergiliran setiap tiga bulan. Di hadapan karya-karyanya, saya teringat pernyataan Friedrich Nietzsche, “Seseorang yang memiliki alasan untuk hidup dapat menanggung hampir segala bagaimana.” Dalam diri Edo, seni bukan pelarian, melainkan alasan hidup itu sendiri.


Setelah kunjungan galeri, acara dilanjutkan dengan sesi berkarya bersama Edo Adityo. Anak-anak Sekolah Titikan, terlibat dalam proses kolaboratif menciptakan sebuah karya lukisan bersama. Karya ini akan diikutkan seleksi dalam ARTJOG 2026, yang berlangsung pada 19 Juni hingga 30 Agustus 2026 di Yogyakarta.

Pada momen ini, seni hadir bukan sebagai objek lomba, tetapi sebagai proses perjumpaan. Anak-anak belajar bahwa berkarya adalah dialog, bukan kompetisi semata.

Awarding Ceremony kemudian menjadi penanda kenaikan level pembelajaran di Sekolah Seni Rupa Titikan. Dua puluh empat peserta Ujian Tingkat Basic, berusia 3 hingga 15 tahun, dinyatakan lulus dan menerima piala serta sertifikat. Tiga karya terbaik diraih oleh Elea sebagai juara terbaik ketiga, Ganis sebagai juara terbaik kedua, dan Zaza sebagai juara terbaik pertama. Enam belas peserta Ujian Tingkat Menengah, berusia 5 hingga 15 tahun, juga dinyatakan lulus, dengan karya terbaik diraih oleh Adifa, Dinda, dan Syahla. Namun bagi saya, penghargaan ini bukan tentang siapa yang berdiri paling depan, melainkan tentang keberanian setiap anak untuk menyelesaikan proses kreatifnya sendiri.


Para pengajar Sekolah Titikan adalah akademisi seni rupa: Dwi Kartika Rahayu sebagai pendiri dan pengajar kelas, Shalihah Ramadhanita di bidang litbang dan pengajar, Alfina Zalfa sebagai kepala sekolah dan pengajar, serta Lintang Laili di bidang kreatif dan pengajar. Mereka membawa visi yang jelas untuk mengembangkan seni rupa, khususnya di Madiun. Visi ini penting di tengah realitas pendidikan yang kerap mengukur kecerdasan anak dengan parameter tunggal. Di Titikan, keberagaman ekspresi justru dirawat. Saya teringat ucapan Aristoteles, “Tujuan pendidikan adalah menciptakan kebiasaan berpikir yang baik.” Seni rupa, dengan seluruh ketidakpastiannya, melatih kebiasaan itu.

Hadir saya di acara ini dengan kesadaran penuh sebagai seorang ayah. Saya mengantarkan anak saya, Huiga Tanjung Ramadan. Sebagai orang tua, saya tidak kecewa ketika Huiga belum mendapatkan predikat karya terbaik. Saya justru bersyukur karena ia mendapatkan sesuatu yang lebih esensial. Di Sekolah Titikan, anak saya belajar bahwa seni bukan sekadar hasil akhir, tetapi proses memahami diri dan dunia. Ia belajar melatih motorik halus, mengelola emosi, menumbuhkan kesabaran, dan mengambil keputusan estetik secara mandiri. Seni rupa mengajarkan berpikir kritis sejak dini, karena setiap goresan adalah pilihan dan setiap warna adalah pernyataan sikap.


Kebanggaan saya bertambah ketika saya menemukan salah satu lukisan karya Huiga, yang kemudian saya pilih menjadi sampul buku puisi terbaru saya, berjudul “Epistemologi Moksa Para Naga”. Lukisan itu, dengan bahasa visualnya yang jujur dan liar, mewakili kegelisahan yang saya tulis dalam puisi-puisi saya: kegelisahan tentang pengetahuan, pembebasan, dan pencarian makna hidup. Di titik ini, seni anak tidak lagi saya tempatkan sebagai karya yang belum matang, tetapi sebagai teks yang setara, mampu berdialog dengan sastra dan filsafat.

Pengalaman ini membuat saya merefleksikan masa kecil saya sendiri. Dulu, menggambar sering diajarkan dengan pola yang seragam. Gunung harus berbentuk segitiga, matahari harus berada di pojok kertas, dan langit harus berwarna biru. Perbedaan dianggap kesalahan. Penyeragaman ini, saya sadari kemudian, adalah bentuk kekerasan halus yang mematikan imajinasi. Paulo Freire pernah menyatakan, “Pendidikan yang menindas tidak akan pernah melahirkan manusia merdeka.” Sekolah Titikan, bagi saya, adalah antitesis dari pengalaman itu.


Saya melihat Sekolah Titikan tidak hanya mengajarkan teknik melukis, tetapi juga mengajarkan kemerdekaan berkarya. Anak-anak diberi ruang untuk salah, untuk berbeda, dan untuk menemukan bahasanya sendiri. Dari ruang-ruang seperti inilah saya yakin akan lahir perupa-perupa hebat dari Madiun. Kisah Gangga, salah satu murid Titikan yang berusia empat tahun, telah menghasilkan seratus karya seni rupa dan diundang televisi nasional, menjadi penanda bahwa imajinasi anak-anak tidak pernah kecil, kitalah yang sering mengecilkannya.

Minggu pagi di Galeri Indigo itu meninggalkan saya dengan pertanyaan yang terus bergema. Jika seni mampu menumbuhkan keberanian, empati, dan kebebasan berpikir sejak usia dini, mengapa ia masih sering dipinggirkan dalam sistem pendidikan kita? Jika imajinasi adalah fondasi peradaban, beranikah kita benar-benar menjaganya, atau kita justru akan kembali menyeragamkannya demi kenyamanan orang dewasa? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang, saya harap, terus hidup bersama Titikan-Titikan kecil yang hari itu tumbuh di Galeri Indigo, menunggu untuk suatu hari kelak mewarnai dunia dengan caranya sendiri.

Fileski Walidha Tanjung adalah seorang penulis, pendidik, dan penyair kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi, esai, dan cerpen di berbagai media nasional. Sehari-hari mengajar seni budaya di SMA Negeri 2 Madiun. 


Posting Komentar

0 Komentar