005

header ads

Proyeksi Tanpa Kendali: Antara Distorsi, Kesadaran, dan Politik Imajinasi di Era Visual

 

Proyeksi Tanpa Kendali: Antara Distorsi, Kesadaran, dan Politik Imajinasi di Era Visual

oleh Fileski W Tanjung 

Dalam lanskap visual kontemporer yang dipenuhi citra instan dan arus informasi tanpa henti, karya Proyeksi Tanpa Kendali (Akrilik di atas kanvas, 60 x 80 cm) karya Shalihah Ramadhanita menghadirkan sebuah pernyataan yang tenang namun mendesak: bagaimana jika gangguan visual bukan sekadar anomali, melainkan ruang dialog antara kesadaran dan imajinasi? Karya ini tidak berdiri sebagai ilustrasi pengalaman personal semata, melainkan sebagai refleksi atas kondisi mental dan kultural masyarakat hari ini—sebuah zaman ketika batas antara realitas dan proyeksi menjadi semakin cair.

Shalihah memulai dari pengalaman yang intim: kemunculan visual spontan yang memenuhi ruang pandangnya—jamur yang tumbuh di sudut mata, bunga yang mekar di udara, hewan yang melintas, hingga figur-figur kecil menyerupai dirinya dalam bentuk garis chibi. Imaji-imaji ini tidak tunduk pada kehendak rasional. Mereka hadir tanpa izin, tanpa tombol jeda. Namun, yang menarik, seniman tidak menempatkan fenomena ini sebagai sesuatu yang harus ditolak atau disembuhkan. Ia justru memilih untuk merangkulnya. Pilihan ini menjadi tesis utama karya: bahwa distorsi dapat dinegosiasikan sebagai estetika; bahwa gangguan bisa menjadi bahasa; bahwa proyeksi tak terkendali dapat diubah menjadi ruang kesadaran.

Secara visual, kanvas ini menampilkan komposisi yang padat namun tidak kehilangan pusat gravitasi. Wajah besar di bagian bawah—dengan mata terpejam dan ekspresi tenang—menjadi jangkar komposisi. Ia digambar dengan garis tegas, sederhana, hampir seperti sketsa kontur yang dibiarkan terbuka. Di atasnya, ledakan warna dan figur berlapis-lapis memenuhi bidang atas kanvas: bulan berwajah, jamur merah berbintik, kelinci cokelat, anak ayam kuning, kucing abu-abu, serta figur-figur kecil dalam garis tipis yang tampak seperti sketsa yang belum selesai. Lapisan cat akrilik yang tebal berpadu dengan efek lelehan di bagian bawah, menciptakan kesan bahwa ruang visual ini tidak stabil—ia cair, bergerak, dan tak sepenuhnya bisa dikontrol.

Dalam sejarah seni, pengalaman visual yang melampaui realitas empiris kerap dikaitkan dengan surealisme. Namun, berbeda dengan strategi mimpi bawah sadar ala André Breton yang bersifat konseptual dan manifestatif, Shalihah bergerak dari pengalaman sehari-hari yang konkret. Ia tidak menciptakan dunia alternatif, melainkan memvisualkan interupsi yang terjadi dalam dunia nyata. Di sini, kita juga bisa membaca resonansi dengan tradisi art brut atau outsider art, di mana pengalaman personal yang intens menjadi sumber utama penciptaan. Akan tetapi, karya ini tidak terjebak dalam romantisasi “keunikan” kondisi mental; ia justru menunjukkan kesadaran reflektif yang kuat.

Wajah tenang di bagian bawah bukan sekadar potret diri; ia adalah metafora tentang kesadaran yang tetap utuh. Dalam konteks psikologi modern, kondisi di mana pikiran memproyeksikan citra spontan dapat dipahami sebagai bagian dari spektrum pengalaman sensorik manusia. Namun Shalihah tidak mengurai ini dalam bahasa klinis. Ia memilih bahasa visual. Ia menjadikan kanvas sebagai “jendela” menuju apa yang tak bisa disentuh, tetapi nyata dalam pengalaman batin. Di sinilah kekuatan artistiknya: ia mentransformasikan yang tak kasatmata menjadi lanskap yang dapat dibagikan.

Isu yang menjadi relevan hari ini adalah kesehatan mental di tengah banjir visual digital. Kita hidup dalam budaya layar, di mana citra datang tanpa henti—iklan, notifikasi, video pendek, algoritma yang terus memproyeksikan konten sesuai preferensi kita. Tanpa disadari, pikiran kita pun menjadi ruang proyeksi yang tak terkendali. Dalam konteks ini, karya Proyeksi Tanpa Kendali dapat dibaca sebagai alegori tentang kondisi kolektif. Jamur, bunga, dan figur-figur kecil itu bukan hanya gejala personal; mereka adalah simbol dari citra-citra yang tumbuh liar dalam kesadaran kita. Kita semua, pada tingkat tertentu, sedang hidup dalam dunia yang dipenuhi “tamu” visual.

Namun, yang membedakan adalah sikap. Jika budaya kontemporer sering mendorong kita untuk menghapus gangguan—menyaring, memblokir, mengatur ulang—Shalihah menawarkan pendekatan berbeda: berdamai. Ia tidak memusuhi distorsinya. Ia merangkulnya sebagai bagian dari identitas. Sikap ini mengandung dimensi politis yang halus. Di tengah masyarakat yang cenderung menormalisasi standar tunggal tentang kewarasan dan produktivitas, karya ini membuka ruang bagi keberagaman pengalaman mental. Ia menolak dikotomi tegas antara normal dan tidak normal.

Dari segi material, penggunaan akrilik memungkinkan eksplorasi warna yang intens dan cepat kering, mendukung spontanitas gestural yang tampak dalam sapuan kuas dan efek lelehan. Warna biru dominan pada latar belakang memberi kesan kedalaman sekaligus dingin, kontras dengan merah dan kuning cerah pada objek-objek di atasnya. Kontras ini menciptakan ketegangan visual: antara tenang dan riuh, antara bawah dan atas, antara sadar dan proyeksi. Figur-figur chibi yang digambar dengan garis tipis seolah menjadi lapisan memori atau bayangan—mereka tidak sepenuhnya solid, namun tetap hadir.

Komposisi vertikal karya ini juga penting. Bagian bawah yang lebih kosong dan putih dengan efek cat menetes memberi ruang napas, sementara bagian atas padat dan penuh warna. Secara simbolik, ini bisa dibaca sebagai stratifikasi kesadaran: bagian bawah adalah fondasi rasional, sementara bagian atas adalah wilayah imajinasi yang terus bertumbuh. Namun keduanya tidak terpisah; batang besar berwarna coklat yang menghubungkan keduanya menyerupai batang pohon atau pembuluh—sebuah metafora tentang kontinuitas antara tubuh dan pikiran.

Sebagai kurator, saya melihat karya ini bukan hanya sebagai representasi pengalaman individual, tetapi sebagai undangan untuk merevisi cara kita memandang gangguan. Alih-alih memandangnya sebagai cacat, Shalihah memperlakukannya sebagai potensi estetis. Dalam dunia yang sering memuja keteraturan dan kontrol, ia justru mengafirmasi ketidakterkendalian sebagai bagian dari kemanusiaan. Ia tidak menutup mata terhadap riuhnya pikiran; ia menatapnya, memetakannya, dan membingkainya dalam kanvas.

Pada akhirnya, Proyeksi Tanpa Kendali adalah pernyataan tentang keberanian untuk hadir dalam diri sendiri. Wajah tenang di bagian bawah bukan simbol pasrah, melainkan kesadaran aktif. Ia tahu mana yang nyata dan mana yang tamu. Ia tidak larut, tetapi juga tidak mengusir. Dalam keseimbangan inilah karya ini menemukan relevansinya: di tengah krisis atensi, krisis kesehatan mental, dan krisis makna, Shalihah menawarkan model relasi baru dengan pikiran kita sendiri—relasi yang tidak represif, tetapi dialogis.

Karya ini mengingatkan kita bahwa seni bukan sekadar medium representasi, melainkan ruang negosiasi antara dunia luar dan dunia dalam. Ia membuka kemungkinan bahwa keindahan dapat lahir dari ketidakteraturan, dan bahwa proyeksi tanpa kendali pun dapat menjadi sumber pengetahuan tentang diri. Dengan demikian, lukisan ini tidak berhenti sebagai pajangan visual, melainkan menjadi cermin—bukan hanya bagi senimannya, tetapi bagi kita semua yang hidup dalam zaman yang terus memproyeksikan citra tanpa henti. (*) 


Posting Komentar

0 Komentar