Nyai Ratu: Kejujuran Imaji, Mimpi, dan Politik Ketidaksadaran
oleh Fileski W Tanjung
Karya Nyai Ratu (2015) oleh Cahyo Dewanto—yang akrab disapa Dewo—dapat dibaca sebagai sebuah peristiwa batin yang menolak tunduk sepenuhnya pada logika rasional, namun justru memperoleh kekuatannya dari kejujuran pengalaman yang paling personal: mimpi. Dalam lukisan akrilik di atas kanvas berukuran 60 x 40 cm ini, Dewo tidak sekadar memvisualkan sebuah kisah mimpi, melainkan mengolah mimpi sebagai wilayah pengetahuan alternatif, tempat imaji, ingatan kultural, dan intuisi artistik bertemu. Di tengah situasi kontemporer yang semakin dikuasai data, kecepatan, dan kalkulasi rasional, Nyai Ratu hadir sebagai pengingat bahwa pengalaman manusia tidak pernah sepenuhnya dapat diringkus oleh logika, dan justru pada wilayah yang tak sepenuhnya dapat dijelaskan itulah seni menemukan relevansinya.
Tesis utama kuratorial ini berpijak pada gagasan bahwa Nyai Ratu adalah sebuah praktik kejujuran visual: kejujuran terhadap pengalaman subjektif yang tidak dapat diverifikasi secara rasional, namun memiliki kebenaran emosional dan simbolik yang kuat. Dewo secara sadar menempatkan dirinya bukan sebagai narator yang menjelaskan mimpi, melainkan sebagai medium yang menerjemahkan pengalaman batin ke dalam bahasa rupa. Proses kreatifnya berangkat dari dua mimpi yang dialami secara berurutan. Dalam mimpi pertama, hadir sosok perempuan cantik di tengah perairan lepas, disertai ombak yang menggulung dan memunculkan enam kuda beserta kereta. Dalam mimpi kedua, sosok perempuan yang sama muncul kembali, namun ombak yang menyerupai enam kuda dan kereta tersebut bertransformasi menjadi seekor ular besar. Tidak adanya mimpi lanjutan justru menjadi titik penting: Dewo memilih mimpi terakhir sebagai bentuk final, seolah menyadari bahwa mimpi tidak selalu menuntut kesinambungan naratif, melainkan intensitas makna.
Secara historis dan kultural, kehadiran sosok perempuan di wilayah perairan segera menggemakan ingatan kolektif masyarakat Jawa dan Nusantara tentang figur penguasa laut, khususnya mitologi Nyai Roro Kidul. Namun penting dicatat bahwa Nyai Ratu tidak dapat direduksi sebagai ilustrasi mitos tersebut. Dewo tidak menghadirkan ikonografi yang gamblang atau narasi folklor yang eksplisit. Alih-alih, ia meminjam lapisan simbolik yang telah hidup dalam kesadaran kultural untuk kemudian dipertemukan dengan pengalaman personalnya sendiri. Di sinilah karya ini bergerak di antara wilayah mitos dan psikologi, antara memori kolektif dan ketidaksadaran individual.
Transformasi visual dari enam kuda dan kereta menjadi seekor ular besar merupakan momen kunci yang membuka pembacaan simbolik lebih luas. Dalam berbagai tradisi budaya, kuda sering diasosiasikan dengan kekuatan, pergerakan, dan kendali, sementara kereta menandakan perjalanan atau transisi. Ular, di sisi lain, memiliki makna ambivalen: ia dapat melambangkan kebijaksanaan, bahaya, pembaruan, sekaligus kekuatan primordial. Perubahan ini dapat dibaca sebagai pergeseran dari struktur yang relatif teratur menuju bentuk yang lebih purba dan tak terduga. Secara psikologis, transformasi tersebut mencerminkan bagaimana alam bawah sadar bekerja: simbol-simbol tidak pernah statis, melainkan cair, saling menukar makna, dan terus bergerak mengikuti intensitas emosi.
Pilihan Dewo untuk mengekspresikan pengalaman ini melalui “goresan sederhana” menjadi sikap estetik yang penting. Kesederhanaan di sini bukan berarti kemiskinan visual, melainkan strategi untuk menjaga kejujuran ekspresi. Dalam sejarah seni modern dan kontemporer, pendekatan semacam ini memiliki resonansi dengan praktik ekspresionisme dan seni berbasis intuisi, di mana gestur dan sapuan warna menjadi jejak langsung dari pengalaman batin seniman. Namun Nyai Ratu tidak terjebak dalam ekspresionisme yang meledak-ledak; justru terdapat ketenangan tertentu, seolah Dewo memberi ruang bagi imaji untuk berbicara tanpa dipaksa menjadi spektakel.
Material akrilik di atas kanvas mendukung pendekatan ini. Akrilik memungkinkan pengeringan cepat dan lapisan warna yang tegas, selaras dengan karakter mimpi yang muncul secara tiba-tiba dan sering kali terputus. Ukuran kanvas yang relatif intim mengundang kedekatan antara karya dan penikmatnya. Penonton tidak dihadapkan pada monumentalitas, melainkan diajak masuk ke ruang kontemplasi yang personal. Dalam konteks ini, estetika Nyai Ratu bekerja melalui suasana, bukan melalui detail naratif yang berlebihan.
Isu relevan yang diangkat karya ini dalam konteks kekinian adalah krisis kepercayaan terhadap pengalaman subjektif. Di era ketika validitas sering diukur melalui data, algoritma, dan logika instrumental, pengalaman mimpi, intuisi, dan perasaan kerap dipinggirkan sebagai sesuatu yang tidak produktif. Nyai Ratu justru menempatkan pengalaman tersebut di pusat penciptaan. Karya ini mengusulkan bahwa ketidaksadaran bukanlah wilayah irasional yang harus disingkirkan, melainkan ruang pengetahuan yang menawarkan cara lain memahami diri dan dunia. Dalam situasi sosial yang penuh kecemasan, ketidakpastian, dan kelelahan mental, karya ini menjadi semacam ruang jeda, mengajak kita mendengarkan kembali suara batin yang sering diabaikan.
Sebagai medium dialog, Nyai Ratu tidak memaksakan satu tafsir tunggal. Penonton bebas membaca sosok perempuan, ombak, kuda, maupun ular melalui pengalaman dan latar masing-masing. Namun benang merah yang ditawarkan kurator adalah kejujuran sebagai sikap artistik. Kejujuran untuk tidak sepenuhnya memahami, namun tetap berani mengekspresikan. Kejujuran untuk mengakui bahwa ada pengalaman yang hanya dapat dirasakan, bukan dijelaskan. Dalam hal ini, karya Dewo menunjukkan bahwa seni rupa tidak harus selalu menjawab, tetapi justru dapat membuka pertanyaan yang lebih dalam tentang relasi manusia dengan imaji, mitos, dan dirinya sendiri.
Pada akhirnya, Nyai Ratu menegaskan posisi seni sebagai ruang pertemuan antara yang personal dan yang kolektif, antara mimpi dan kesadaran, antara masa lalu kultural dan kegelisahan kontemporer. Melalui lukisan ini, Cahyo Dewanto tidak hanya merekam sebuah mimpi, tetapi juga menawarkan sikap: bahwa dalam dunia yang semakin rasional dan terfragmentasi, keberanian untuk jujur pada pengalaman batin adalah sebuah tindakan artistik sekaligus politis. Karya ini mengundang kita untuk tidak sekadar melihat, tetapi juga merasakan, dan dari sana, mungkin mulai mempercayai kembali hal-hal yang tidak selalu bisa dijelaskan oleh logika. (*)

0 Komentar
Lingkar literasi, sastra, dan seni budaya Asia Tenggara serumpun Bahasa.