005

header ads

Hegemoni Tiran: Dendam, Kekuasaan, dan Warisan Kekerasan Manusia

oleh Fileski W. Tanjung

Dalam lintasan panjang sejarah manusia, kekerasan hampir selalu lahir bukan dari ketiadaan, melainkan dari hasrat untuk menguasai. Sejak peradaban pertama ditorehkan melalui mitos, kitab suci, dan narasi lisan, manusia telah diingatkan bahwa kejahatan terbesar tidak selalu bermula dari senjata, melainkan dari batin yang gagal mengendalikan diri. Lukisan Hegemoni Tiran karya Dwi Kartika Rahayu berdiri di titik kesadaran itu—sebagai medan refleksi atas kekuasaan, dendam, dan keserakahan yang terus bereproduksi dalam jiwa manusia modern.

Tesis utama kuratorial ini berpijak pada satu gagasan sentral: bahwa kejahatan kontemporer—baik dalam skala personal, sosial, maupun politik—adalah manifestasi lanjutan dari kegagalan manusia mengendalikan nafsu sebagaimana dicontohkan Qabil dalam kisah pembunuhan pertama. Dalam konteks ini, lukisan tidak dibaca sekadar sebagai ekspresi personal sang seniman, melainkan sebagai ruang dialog lintas zaman, tempat mitologi agama, filsafat Stoisisme, dan realitas kekinian bertemu.

Dwi Kartika Rahayu secara sadar menarik benang merah dari kisah Qabil dan Habil—narasi awal dalam tradisi agama Abrahamik—sebagai fondasi etis karya ini. Qabil tidak hanya hadir sebagai tokoh historis-religius, tetapi sebagai arketipe: figur manusia yang gagal menerima kenyataan, menolak ketetapan ilahi, dan membiarkan iri hati menjelma menjadi pembunuhan.

Penting dicatat bahwa dalam kisah tersebut, pembunuhan bukan disebabkan oleh kekurangan sumber daya, ancaman fisik, atau paksaan eksternal. Kejahatan itu lahir murni dari dendam yang dipelihara, dari ketidakmampuan mengelola kekecewaan dan ego. Dalam tafsir ini, Qabil adalah simbol manusia yang membiarkan pikirannya dikuasai oleh energi negatif—sebuah kondisi yang oleh Dwi Kartika disebut sebagai energi usang yang terus diwariskan.

Lukisan Hegemoni Tiran membaca Qabil bukan sebagai figur masa lalu, melainkan sebagai keadaan mental yang terus hidup. Ia menjelma dalam wajah-wajah baru: penguasa yang rakus, individu yang penuh dendam, sistem yang menormalisasi kekerasan, bahkan dalam relasi sehari-hari yang dipenuhi iri dan kompetisi tak sehat. Dengan demikian, Qabil bukan “orang lain”, melainkan potensi gelap dalam diri manusia itu sendiri.

Dendam sebagai Hegemoni 

Judul Hegemoni Tiran mengandung dua lapisan makna. “Tiran” merujuk pada kekuasaan yang menindas, sementara “hegemoni” menunjukkan bahwa penindasan itu sering kali bekerja secara halus, diterima, bahkan dipelihara. Dalam konteks karya ini, dendam adalah tiran yang paling sunyi namun paling berbahaya. Ia tidak selalu tampil sebagai ledakan emosi, tetapi sebagai pikiran yang terus berulang, mengendap, dan menguasai cara manusia memandang dunia.

Pernyataan seniman tentang “otak yang dipenuhi dendam” menjadi kunci pembacaan estetika karya ini. Dendam tidak lagi diposisikan sebagai emosi sesaat, melainkan sebagai struktur berpikir. Ketika pikiran dikunci oleh dendam, maka seluruh tindakan—bahkan yang tampak rasional—sesungguhnya bergerak dalam orbit kekerasan laten. Inilah yang oleh seniman disebut sebagai kondisi “error”: manusia kehilangan kejernihan, kehilangan empati, dan kehilangan orientasi etik.

Dalam konteks kontemporer, hegemoni dendam dapat kita baca dalam berbagai fenomena: polarisasi sosial, politik identitas, konflik berkepanjangan, hingga budaya saling membatalkan (cancel culture) yang kerap mengatasnamakan moralitas, tetapi berakar pada kemarahan kolektif. Lukisan ini dengan demikian berbicara bukan hanya tentang kejahatan besar, tetapi juga tentang kekerasan kecil yang terakumulasi.

Bahasa Visual dan Material sebagai Medan Konflik

Sebagai lukisan mix media di atas kanvas berukuran 60 x 90 cm, Hegemoni Tiran memanfaatkan material sebagai bahasa konseptual. Pilihan mix media memungkinkan lapisan visual yang tidak tunggal—sebuah metafora bagi lapisan emosi, sejarah, dan konflik batin manusia. Tekstur yang bertumpuk, kemungkinan goresan yang kasar, dan kontras visual (baik warna maupun bentuk) dapat dibaca sebagai ketegangan antara nalar dan nafsu, antara kendali dan ledakan.

Estetika dalam karya ini tidak diarahkan untuk kenyamanan visual semata, melainkan untuk menghadirkan ketidaktenangan yang produktif. Penonton diajak merasakan kegelisahan yang sama dengan yang dirasakan seniman: dunia yang tampak seperti “neraka” bukan karena kurangnya keindahan, tetapi karena melimpahnya hasrat menguasai.

Dalam tradisi seni rupa kontemporer, pendekatan semacam ini sejajar dengan praktik seniman-seniman yang menjadikan lukisan sebagai medan etik—bukan sekadar representasi, tetapi intervensi kesadaran. Karya ini tidak menawarkan narasi linear, melainkan ruang tafsir yang menuntut keterlibatan aktif penonton.

Pertautan dengan Stoisisme: Etika Pengendalian Diri

Salah satu kekuatan konseptual karya ini adalah keberaniannya mengaitkan kisah Qabil–Habil dengan filsafat Stoisisme. Meski lahir dari konteks budaya dan waktu yang berbeda, keduanya bertemu pada satu titik: pengendalian diri sebagai inti kemanusiaan.

Dalam Stoisisme, manusia tidak dihakimi oleh peristiwa eksternal, melainkan oleh respons batinnya. Amarah, iri, dan dendam dianggap sebagai gangguan rasionalitas. Marcus Aurelius, misalnya, menekankan bahwa kekacauan dunia tidak boleh merampas ketenangan batin. Qabil, dalam kerangka ini, adalah contoh manusia yang gagal bersikap stoik: ia membiarkan peristiwa di luar kendalinya (ditolaknya kurban) menghancurkan integritas moralnya.

Dengan mengaitkan dua tradisi ini, Dwi Kartika Rahayu menempatkan Hegemoni Tiran sebagai karya lintas spiritual dan filosofis. Surga, sebagaimana dikatakan seniman, bukanlah ruang transenden yang jauh, melainkan keadaan batin ketika manusia bebas dari iri, dengki, dan dendam. Pandangan ini selaras dengan Stoisisme yang melihat kebahagiaan sebagai hasil disiplin batin, bukan akumulasi kekuasaan.

Relevansi Kekinian: Dunia yang Menua Bersama Dendam

Kegelisahan seniman yang lahir dari kesadaran usia bukanlah nostalgia, melainkan kejernihan eksistensial. Dunia hari ini—dengan kemajuan teknologi, tetapi kemunduran empati—menjadi latar yang relevan bagi karya ini. Kita hidup di zaman ketika informasi berlimpah, namun kebijaksanaan langka; ketika konflik diproduksi dan direproduksi dengan kecepatan algoritma.

Hegemoni Tiran mengingatkan bahwa akar dari semua itu bukan pada teknologi atau sistem semata, melainkan pada ketidakmampuan manusia mengelola batinnya sendiri. Selama dendam dirawat, selama iri dijadikan bahan bakar ambisi, maka Qabil akan terus hidup—bukan sebagai individu, tetapi sebagai struktur mental kolektif.

Sebagai kuratorial, karya ini penting dibaca bukan sebagai ilustrasi moral, tetapi sebagai ruang kontemplasi. Hegemoni Tiran tidak menggurui, tetapi mengajak. Ia mengundang penonton untuk bertanya: dendam apa yang sedang kita pelihara? Kekuasaan apa yang sedang kita kejar? Dan sejauh mana kita masih mampu mengendalikan diri?

Dalam dunia seni rupa yang kerap terjebak pada sensasi visual atau komentar instan, karya Dwi Kartika Rahayu menawarkan kedalaman yang jarang: lukisan sebagai medium dialog etis. Di sinilah relevansi terbesarnya—bahwa seni tidak hanya merekam dunia, tetapi berpotensi menyembuhkan kesadaran.

Jika Qabil adalah awal kejahatan, maka kesadaran adalah awal pembebasan. Dan seni, dalam konteks ini, menjadi salah satu jalannya. (*) 


Posting Komentar

0 Komentar