005

header ads

Puisi *M. Unais | KIDUNG PETANI

 *M. Unais

KIDUNG PETANI


Cangkul yang kubawa dari ketulusan jiwa 

Adalah penanda dari sekian petak tanah sunyi 

untukku ladang dengan ketabahan, 

kendati sejauh langkah memandang di kerindangan harapan.

Ya, akan kucangkulkan sekuat tangan 

Memegang penuh ketulusan, menepi pada bongkahan tanah yang mulai 

menimbuni satu-persatu peluh masa lalu.

Sekilas nyeri terlintas di tubuh penuh bara. 

Sebab, setiap benih yang ditanam pada ladang  jiwa 

adalah bait-bait doa yang menyimpan senyum paling bahagia;

sanak keluarga.


Kepada tuhan kulempar doa-doa harapan.

Kepada tanah kulempar senyum paling abadi,

Semoga setiap cangkulan yang kualunkan

Memecah tanah, subur dalam ketenaran dada.


Pada tubuh kekar yang gemerlap dengan keringat tua.

Tanah menjelma satu-satunya harapan

menjadi tempat berpulang paling dirindukan

sebelum waktu berkarat mengajak semua orang untuk beristirahat.


Percayalah, aku sudah lama hidup sebagai petani,

Meski kata-kataku tak gelegar bunyi cangkulku.

Juga harapanku tak sedalam tanah yang menimbuni bibit jiwa.


Dongen-dongeng tentang petani yang bercengkrama dengan keras tanah di ladang

Bertaburan di hamparan ladang harapan.


Bertahun-tahun sudah aku merentang jejak di tanah, batu dan sumber mata air kehidupan.

Sekian lelah, sekian putus asa telah kuhafal hingga jadi sesak dalam jiwa.

Tanggal-tanggal telah mencatat tentang petani yang menunggu hujan tak kurun datang

Hingga jiwanya hampir pupus di telan musim

Tapi di setiap nafas yang dihembuskan para petani,

Ditengah ladang adalah tempat mengais segala rahmat tuhan 

Tak terkecuali cuaca menentang, angin, petir,  bahkan maut hampir menerjang

Semua tak di hiraukan.

Sesekali jiwanya berkata,

ladang adalah tempatku menanam harapan di sejuta kerindangan doa-doa.


Setelah berlembar-lembar puisi kularungkan dalam jiwa petani, dan semakin jauh; tentang perjalan ke ladang garapan.

Sampai disini, petani adalah lumbung kegigihan, tiada henti merapal musim hingga sulut di jiwanya tak pernah layu ditelan panasnya musim kemarau. 

Dan hujan tak membuatnya  rapuh digerumuti kedinginginan masa.


Sumenep, 20 Maret 2022 M.


SYAIR SANTRI 

Saalikun ilal Aakhirah

O, Jalan suci

Setapak kaki menyisakan rintih tak berduri

Kami lewati dengan asma Tuhan yang bermucikari 

bersama gemuruh zikir 

Melintasi jejak pikir

Mengusaikan jalan penuh kerikil.


Naaibun ‘anil Masyayikh

O, kamilah santri

Pencari hakikat dan jati diri

Penerus jejak para kiai.

Tatkala Nazaman kami sebut bertalu-talu dalam hati

Kami beranjak dari jutaan dungu yang terpatri

Menjadikannya alunan doa yang tak jera dalam hati.


Taarikun ‘anil Ma’aashi

Ketika debur ombak tak lagi menjadi suci

Kami para santri

Mengeratkan hati, merapatkan doa

Menanam harap dalam berjuta aksara

Hingga subur dada 

Mampu menyejukkan berjuta jiwa.


Raaghibun fil Khairaat

Ya Allah

Tatkala nafas kau tiupkan dalam raga kami

Sungguh, tiada besar kutemui kecuali kekuasaan-Mu.

Zikir-zikir kami lantunkan

Doa- doa kami panjatkan

Mengiringi segala kebesaran

Yang tiada habis kami rapikan dalam sejengkal isakan.


Yarju Salaamah Fiddini was Dun-yaa wal Akhirah

Dengan harap yang tak pernah padam ditelan usia,

Kami tanam doa-doa di pinggir dada

Menyiramnya dengan alunan zikir nan indah 

Mengharap sejuk rimbun dari suburnya doa-doa


Begitulah seorang santri

Bersemayam dalam zikir dan harap tiada henti

Bernostalgia dengan lantunan nazam para pecinta Ilahi

Yang tak pernah lepas cintanya pada negeri

Yang tak pernah dangkal imannya pada Rabbi


Hubbul Wathan minal Iman

Cinta tanah air adalah sebagian dari iman.


Kamilah santri 

Kamilah pilar tegap negeri.


Sumenep, 2021



JULI PERTAMA


Hentak  mimpi seperti tak bertepi

Angka tunggal tengah berapi

Mengalokasikan suara hati

Menenangkan gigil sepi


Oh, juli

Kita bertemu kembali

Suaramu seakan mengalir di mimpi

Meneguk semangkok angin yang berbias sepi


Oh, pertama 

Angka tak disangka

Lurus seperti tak memiliki sudut peka

Tapi datangmu cukup mengeluhkan dada.


Sumenep, 2020 M.




*M. Unais, Kelahiran Tamidung, Batang-Batang, Sumenep Madura, 2000. Alumni PP.Annuqayah daerah Lubangsa dan Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika). Penulis bisa di hubungi mohunais5@gmail.com, @em_unais.


Posting Komentar

0 Komentar