FACE OFF: Wajah yang Terlepas dari Diri
Kuratorial oleh Fileski W Tanjung atas karya Jonnie Kirman
Dalam sejarah seni rupa, wajah selalu menjadi medan yang paling problematis sekaligus paling jujur. Ia bukan sekadar representasi fisik, tetapi juga ruang simbolik tempat identitas, moralitas, kuasa, dan spiritualitas saling berkelindan. Wajah adalah tempat pertama manusia dikenali, tetapi juga wilayah paling rentan untuk disamarkan, disembunyikan, bahkan dipalsukan. Pada titik inilah karya Face Off (lukisan dan kepala patung) karya Jonnie Kirman menemukan relevansinya: bukan sebagai potret, melainkan sebagai arena pertarungan antara yang tampak dan yang tersembunyi, antara iman dan topeng, antara kesadaran dan kejatuhan.
Judul Face Off mengandung makna ganda. Ia dapat dimaknai sebagai “berhadapan secara langsung”, tetapi juga “melepas wajah”—sebuah gestur simbolik tentang keberanian menanggalkan topeng. Karya ini tidak menawarkan jawaban yang mudah, melainkan mengajak kita memasuki ruang kontemplasi tentang keberdosaan manusia, spiritualitas yang tereduksi menjadi formalitas, dan kegagalan manusia modern dalam menghadapi dirinya sendiri secara jujur.
Kuratorial: Topeng sebagai Strategi Bertahan Manusia Kontemporer
Tesis utama yang ditawarkan dalam pembacaan kuratorial ini adalah bahwa Face Off berbicara tentang manusia kontemporer yang hidup dalam paradoks spiritual: sadar akan kejatuhan moralnya, namun terus memproduksi topeng-topeng kebaikan sebagai mekanisme bertahan. Kebaikan tidak lagi hadir sebagai kesadaran etis yang utuh, melainkan sebagai performativitas—sebuah “pentas moral” yang absurd.
Dalam konteks ini, karya Jonnie Kirman tidak berhenti pada kritik teologis tentang dosa, tetapi meluas menjadi refleksi eksistensial dan sosial. Ia menyentuh kondisi manusia hari ini yang hidup dalam masyarakat penuh citra, pencitraan, dan simulasi—di mana wajah bukan lagi cermin jiwa, melainkan alat negosiasi sosial.
Lukisan: Wajah yang Larut dalam Ketidakpastian
Lukisan Face Off berukuran 80 x 60 cm, menggunakan media oil on canvas, menampilkan sosok wajah yang seolah muncul dari lapisan warna merah gelap, coklat, dan hitam yang saling bertabrakan. Wajah tersebut tidak digarap secara realistis, melainkan hadir sebagai garis-garis samar, nyaris menghilang. Mata tampak tertutup atau terbenam, mulut tidak sepenuhnya tegas—sebuah wajah yang ragu untuk dikenali.
Secara estetika, lukisan ini mengingatkan pada tradisi ekspresionisme eksistensial, di mana figur manusia tidak dimaksudkan untuk indah, tetapi jujur. Warna merah yang mendominasi bukan sekadar simbol darah atau dosa, melainkan medan emosional yang penuh kegelisahan. Ia menciptakan suasana batin yang panas, gelisah, dan tidak stabil—seperti jiwa manusia yang terus berkonflik antara kesadaran moral dan dorongan gelap yang terpendam.
Teknik sapuan kuas yang tidak sepenuhnya terkendali memperkuat kesan bahwa wajah ini bukan sesuatu yang selesai. Ia adalah proses, pergulatan, bahkan mungkin kegagalan. Dalam konteks kekinian, wajah samar ini dapat dibaca sebagai potret manusia yang kehilangan pusat spiritualnya, terombang-ambing oleh tuntutan sosial, agama formal, dan identitas digital.
Kepala Patung: Tubuh Spiritual yang Terbelah
Jika lukisan menghadirkan wajah sebagai bayangan batin, maka kepala patung dalam Face Off justru tampil lebih brutal dan fisikal. Dibuat dari kayu Sonokeling, dikombinasikan dengan besi baja, dan diselesaikan dengan finishing zinc chromate serta inseksida politur, kepala patung ini tampak terfragmentasi, seolah mengalami luka struktural.
Kayu Sonokeling, yang dikenal kuat dan berkarakter gelap, memberikan kesan keanggunan sekaligus kekokohan tradisional. Namun, kehadiran besi baja yang menusuk struktur kayu menciptakan ketegangan material: antara yang organik dan yang industrial, antara alam dan konstruksi manusia. Di sinilah metafora tubuh spiritual manusia bekerja—ia tidak lagi utuh, tetapi ditopang oleh sistem-sistem buatan yang dingin dan mekanistik.
Wajah patung tampak terbelah, seolah memiliki dua sisi kepribadian. Salah satu sisi lebih halus, sisi lain tampak kasar dan terdistorsi. Pembelahan ini dapat dibaca sebagai simbol teologis tentang manusia yang jatuh dalam dosa, tetapi juga sebagai kritik sosial tentang manusia yang terpaksa menjalani kehidupan bermuka dua. Topeng kebaikan yang “absurd” sebagaimana disampaikan seniman, justru menjadi struktur permanen yang menyangga eksistensi manusia modern.
Keheningan sebagai Jalan Spiritual yang Hilang
Jonnie Kirman menekankan pentingnya keheningan dan lompatan spiritual sebagai jalan introspeksi manusia. Dalam konteks ini, karya Face Off dapat dibaca sebagai kritik terhadap dunia yang semakin bising—bising oleh opini, citra, algoritma, dan moralitas instan. Keheningan tidak lagi menjadi ruang refleksi, melainkan dianggap kekosongan yang harus segera diisi.
Patung yang berdiri tegak dengan penyangga besi menyerupai antena atau struktur penopang, seakan menunggu sinyal dari luar, bukan dari dalam. Ini menjadi ironi visual yang kuat: manusia yang ingin menemukan Tuhan, tetapi justru terus mencari validasi eksternal. Keheningan spiritual tergantikan oleh ritual sosial yang repetitif dan kehilangan makna.
Dalam sejarah seni, keheningan sering menjadi bahasa spiritual—mulai dari ikonografi religius Bizantium hingga seni minimalis kontemporer. Namun, Face Off menghadirkan keheningan yang retak, tidak damai, dan penuh kegelisahan. Keheningan di sini bukan tujuan, melainkan medan yang harus diperjuangkan.
Di tengah krisis kepercayaan publik, polarisasi sosial, dan banalitas kebaikan yang dipertontonkan di ruang digital, Face Off menjadi karya yang sangat relevan hari ini. Ia berbicara tentang krisis kejujuran, bukan hanya dalam ranah sosial dan politik, tetapi juga dalam relasi manusia dengan dirinya sendiri dan dengan Tuhan.
Topeng-topeng kebaikan yang absurd dapat kita temukan dalam berbagai aspek kehidupan kontemporer: moralitas yang dikemas untuk citra, spiritualitas yang dijadikan identitas sosial, dan empati yang diukur oleh visibilitas. Karya ini tidak menghakimi, tetapi memaksa kita bercermin—dan mungkin merasa tidak nyaman dengan refleksi yang kita lihat.
Sebagai kesimpulan, Face Off karya Jonnie Kirman bukanlah karya yang ingin menyenangkan mata, melainkan menggugah kesadaran. Ia mengajak kita untuk berani berhadapan dengan wajah kita sendiri—bukan wajah yang dipoles untuk dunia, tetapi wajah yang jujur di hadapan keheningan.
Saya melihat karya ini bukan sekadar objek estetik, melainkan medium dialog spiritual dan eksistensial. Ia mengundang pembaca dan penonton untuk berhenti sejenak, masuk ke ruang sunyi, dan bertanya: sejauh mana kita masih mengenali wajah kita sendiri ketika semua topeng dilepaskan?
Dalam dunia yang semakin sibuk memproduksi citra, Face Off hadir sebagai pengingat bahwa keberanian terbesar manusia bukanlah menampilkan wajah terbaiknya, melainkan mengakui wajah terburuknya—dan dari sana, mungkin, menemukan kembali jalan pulang. (*)

0 Komentar
Lingkar literasi, sastra, dan seni budaya Asia Tenggara serumpun Bahasa.