Kuratorial oleh Fileski W. Tanjung
Lukisan Pseudo Katarsis (2007) karya Dwi Kartika Rahayu menghadirkan sebuah lanskap batin manusia yang gelisah, riuh, dan sarat kontradiksi. Karya ini tidak sekadar menjadi representasi visual atas kegelisahan personal seniman, melainkan sebuah refleksi filosofis tentang kondisi manusia modern yang terjebak dalam krisis moral, kemunafikan sosial, dan ilusi penyucian diri. Tesis utama yang ingin dibaca melalui karya ini adalah bahwa katarsis—sebagai proses penyadaran dan pemurnian eksistensial—telah mengalami pergeseran makna dalam kehidupan manusia kontemporer: dari laku batin yang jujur menjadi ritus simbolik yang kehilangan daya transformasinya.
Secara historis, gagasan katarsis telah lama hadir dalam tradisi filsafat dan seni. Dalam pemikiran Yunani Kuno, katarsis dipahami sebagai proses pelepasan emosi untuk mencapai keseimbangan jiwa. Dalam filsafat eksistensial Søren Aabye Kierkegaard, yang secara eksplisit dirujuk oleh Dwi Kartika Rahayu, manusia diposisikan sebagai makhluk yang senantiasa berada dalam kecemasan (angst), terombang-ambing antara keputusasaan, iman, dan pilihan eksistensial yang menuntut keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Lukisan ini menjadi medan visual tempat kegelisahan eksistensial tersebut diwujudkan secara simbolik dan naratif.
Komposisi Pseudo Katarsis disusun secara vertikal, menyerupai lapisan-lapisan kesadaran manusia. Struktur ini mengingatkan pada kosmologi moral yang juga ditemukan dalam relief Candi Borobudur—sebuah rujukan kultural yang secara sadar diinternalisasi oleh seniman. Dalam tradisi Jawa dan Buddhisme Mahayana, Borobudur tidak hanya dibaca sebagai monumen spiritual, melainkan sebagai peta perjalanan batin manusia: dari dunia nafsu, menuju kesadaran, hingga pencerahan. Dwi Kartika Rahayu mengadopsi kerangka ini, namun mengisinya dengan narasi yang jauh lebih getir dan problematis, sesuai dengan kondisi zaman modern.
Pada bagian bawah lukisan, kita dihadapkan pada figur-figur manusia berhidung babi—simbol nafsu, kerakusan, dan degradasi moral. Tubuh-tubuh ini tampak saling berkelindan, penuh gestur agresif, ekspresi wajah yang terdistorsi, serta atmosfer yang padat dan menekan. Babi, dalam banyak kebudayaan, sering diasosiasikan dengan kerakusan dan ketidakmurnian. Di tangan seniman, simbol ini tidak dimaksudkan sebagai penghakiman moral semata, melainkan sebagai cermin: bahwa sifat-sifat yang selama ini kita anggap “liar” dan “rendah” justru semakin dilembagakan dalam kehidupan sosial modern—dalam sistem ekonomi, politik, dan relasi kuasa.
Bagian tengah lukisan menampilkan figur perempuan telanjang yang sedang membaca kitab. Inilah salah satu pusat ketegangan visual dan makna dalam karya ini. Tubuh telanjang, yang secara konvensional diasosiasikan dengan kerentanan dan kejujuran, justru dihadapkan pada simbol moralitas dan spiritualitas berupa kitab. Di sini, seniman menghadirkan dikotomi yang tajam antara keinginan untuk bertobat dan realitas keberdosaan manusia. Figur ini tidak digambarkan secara erotis, melainkan rapuh dan ambigu—sebuah metafora tentang manusia yang sadar akan nilai-nilai moral, namun masih terjebak dalam paradoks tubuh dan hasrat.
Dalam konteks kekinian, figur ini dapat dibaca sebagai representasi manusia modern yang hidup di tengah banjir informasi, ajaran, dan simbol kesalehan, namun kesulitan menerjemahkannya menjadi tindakan etis yang konsisten. Membaca kitab tidak otomatis menjadikan seseorang suci; sebagaimana keimanan yang hanya berhenti pada simbol dan ritus, tanpa transformasi batin yang nyata, justru melahirkan apa yang oleh seniman disebut sebagai pseudo katarsis.
Lapisan atas lukisan menghadirkan figur manusia dalam posisi meditasi—sebuah citra yang secara tradisional diasosiasikan dengan kesadaran, ketenangan, dan pencerahan. Namun, suasana yang dibangun tidak sepenuhnya damai. Warna coklat yang mendominasi bagian atas, alih-alih merah atau oranye yang menyala, menjadi simbol api katarsis yang redup. Api ini bukanlah api penyucian yang membakar habis kebusukan, melainkan bara yang nyaris padam—menandakan proses kesadaran yang setengah-setengah, rapuh, dan mudah tergelincir.
Pilihan warna coklat sebagai simbol katarsis merupakan keputusan estetis yang penting. Coklat adalah warna tanah, warna ambiguitas, warna antara. Ia tidak seheroik merah, tidak sebersih putih, dan tidak seteduh biru. Dalam konteks ini, coklat merepresentasikan kondisi moral manusia yang abu-abu, penuh kompromi, dan sering kali terjebak dalam kemunafikan. Pernyataan seniman bahwa “manusia lebih menakutkan dari setan” menemukan relevansinya di sini: bukan karena kejahatan yang vulgar, melainkan karena kemampuan manusia untuk menyamarkan kebusukan di balik topeng moralitas.
Secara artistik, teknik cat minyak di atas kanvas berukuran besar (150 x 200 cm) memungkinkan seniman mengeksplorasi gestur, tekstur, dan lapisan visual yang kompleks. Sapuan kuas yang ekspresif, distorsi figuratif, serta kepadatan elemen visual menciptakan pengalaman melihat yang tidak nyaman—sebuah strategi estetika yang sengaja dipilih untuk menggugah kegelisahan penonton. Lukisan ini tidak menawarkan keindahan dalam pengertian dekoratif, melainkan keindahan yang problematik, yang memaksa kita berhadapan dengan sisi gelap kemanusiaan.
Dalam konteks isu kontemporer hari ini, Pseudo Katarsis terasa semakin relevan. Di tengah era digital, ketika spiritualitas kerap direduksi menjadi konten, simbol, dan performativitas di ruang publik dan media sosial, proses katarsis sering kali berhenti pada level representasi. Meditasi, ibadah, dan refleksi diri menjadi bagian dari gaya hidup, bukan lagi laku eksistensial yang menuntut perubahan radikal. Teknologi, sebagaimana disinggung oleh seniman, mempercepat proses ini: kesadaran instan, empati sesaat, dan moralitas yang mudah dikurasi, namun rapuh dalam praktik.
Saya membaca Pseudo Katarsis bukan sebagai kritik moral yang menggurui, melainkan sebagai undangan dialog. Lukisan ini mengajak kita bertanya: sejauh mana kesadaran kita benar-benar bekerja? Apakah refleksi diri yang kita lakukan hari ini merupakan proses transformasi, atau sekadar ritual kosong untuk menenangkan nurani? Dalam lanskap sosial yang dipenuhi krisis kepercayaan, polarisasi nilai, dan banalitas kejahatan, karya ini berdiri sebagai pengingat bahwa perjalanan menuju kesadaran tidak pernah linear, dan selalu dibayangi oleh kemungkinan kemunduran.
Pada akhirnya, Pseudo Katarsis adalah potret tentang manusia yang terus berusaha menjadi “baik”, namun sering terjebak dalam ilusi kebaikan itu sendiri. Ia tidak menawarkan solusi, tetapi menghadirkan ruang kontemplasi. Di hadapan lukisan ini, penonton tidak diajak untuk menghakimi figur-figur di dalam kanvas, melainkan bercermin: di lapisan mana kita berdiri hari ini? Dan apakah api katarsis dalam diri kita masih menyala, atau hanya tinggal abu simbolik yang kita rawat demi citra?
Dengan demikian, karya ini menegaskan posisi seni rupa sebagai medium dialog kritis—bukan sekadar pajangan visual, melainkan ruang perjumpaan antara estetika, etika, dan eksistensi manusia dalam kompleksitas zamannya. (*)

0 Komentar
Lingkar literasi, sastra, dan seni budaya Asia Tenggara serumpun Bahasa.