.

MUSIK    TEATER    SENI RUPA    FILM    SASTRA    ESAI    PUISI    CERPEN    DOK.VIDEO    WORKSHOP    ANTOLOGI    INSPIRASI    RESENSI BUKU    PROFIL   

Games

[ VIRAL SEPEKAN ]

Postingan Populer

CERPEN: Pindah Tempat | Karya : Bagus Sulistio

Mereka bagai kembali lagi ke dalam penjajahan. Ada yang bertelanjang dada lalu menyelami sungai buatan. Sembari membawa penyaring bundar yang digoyangkan. Berharap ada secuil logam berharga yang tersangkut di benda itu. Lalu sebagian dari perkumpulan ini ada yang hanya berdiri santai mengamati. Tanpa merasa kasihan kepada yang lain.
Parno, salah satu dari mereka yang bertelanjang dada menghentikan pergerakannya. Dengan kening yang dikerutkan sambil memegang dadanya yang polos. Nafasnya tersengal-sengal dan semakin tak beraturan. Tentu saja itu mengundang perhatian teman-temannya. Bahkan kelompok yang hanya mengamati.
"Hay pak tua, kenapa kau ini? Tak usah berpura-pura lah." Ucap salah satu dari mereka yang tugasnya mengawasi.
Bukannya menjawab, Parno malah berjalan menuju tepian perairan dengan kaki yang terseret-seret. Tanah yang kering menjadi alasnya untuk berbaring. Teman-temannya ikut menghampiri. Menanyakan keadaannya bahkan sampai ada yang menawarkan bantuan. Tapi Parno menolaknya.
Juan, pemimpin kelompok yang tugasnya bersantai ikut menghampiri kerumunan. Ia menyingkirkan badan-badan basah yang menghalangi tujuannya. Terkadang badan basah itu menjauh dengan sendirinya. Karena sangat segan dengan orang itu.
Sesampainya di samping tubuh Parno yang tergeletak ia hanya memandangi dan berkata, "Kau pulang saja jika tak sanggup bekerja lagi dan jangan kembali lagi. Yang lain kembali bekerja."
Seketika kerumunan itu hilang bak ditelan bumi. Kini tinggal Parno dan Juan yang masih ditempat yang sama. Tetapi tak lama kemudian Juan kembali di kursi nyaman nan teduh tuk melihat teman-teman Parno. Sedangkan Parno kembali ke kolam yang keruh, yang ia sanding setiap hari.
Matahari kian meninggi. Air keringat para pekerja tercampur baur dengan air kolam itu. Mungkin jika dikecap, air kolam akan berasa asin seperti perjuangan mereka. Tapi tidak dengan air di sekitar Parjo. Rasanya cenderung pahit ditambah oleh sesaknya nafas yang ia punya. Terhentinya nafas bisa berbarengan dengan terhentinya pekerjaannya. Dia tak dapat menyamai dengan pekerja lain yang cekatan. Pergerakannya kini semakin lemah. Selemah nafasnya. Matanya juga lemah tak dapat terbuka dengan lebar. Kini malah semakin menutup, menutup dan rapat.
***
Ranjang yang diatasnya terdapat kasur lantai menjadi tempatnya sekarang. Parjo masih bingung kenapa dia bisa pindah ke tempat senyaman ini. Siapa yang memindah tubuh kerempeng Parjo? Matanya menjelajahi sekitar. Memastikan dimana lingkungan saat ini ia jajaki. Ternyata benar, ini kamar yang penuh kisah romantis dengan kekasihnya. Tapi kemana istrinya? Kenapa ia hanya ditemani dengan segelas teh. Yang belum tahu suhu teh itu. Dipegangnya gelas bergagang itu. Teh tak terasa panas, cuma hangat. Diminumnya teh hangat itu bagai unta yang telah berjalan ratusan kilometer. Belum tuntas minuman itu sebuah suara menghentikan pergerakannya.
"Udah sadar pak?" Wanita paruh baya menghampiri Parjo.
Paijo hanya melirik wanita tersebut sembari meletakkan gelas yang menyisakan sedikit air teh. Kemudian terdiam memandangi wajah seorang yang berada di sampingnya itu.
"Kata mantri, Bapak harus istirahat dulu. Nda usah kerja. Nih makan dulu nanti minum obatnya." Kata istrinya sambil menyodorkan sepiring nasi dengan tempe goreng yang menghiasi.
"Kalo bapak gak kerja nanti kita makan apa toh, Bu?" Tangannya yang keriput menggapai piring yang disodorkan istrinya.
Pertanyaan Parjo tak dapat dijawab oleh istrinya. Ia hanya menghela kemudian pergi meninggalkan suaminya yang ditemani oleh nasi. Walaupun sedang sakit nafsu makan Parjo tetap ada. Dengan waktu yang singkat makanan sederhana itu habis tuntas. Disambung dengan teh yang masih tersisa sedikit, ia turut habiskan. Kini tinggal tiga jenis obat yang berada di atas meja yang menemani. Parjo menggapainya dan membuka satu persatu bungkus obat itu.
"Ini air putihnya buat minum obat, Pak." Istrinya menghampiri kembali membawa cangkir besar.
Disautnya cangkir itu dan diletakkan di atas meja. Istrinya kini berada di sampingnya. Menemani bagaikan permaisuri yang setia kepada sang raja. Tapi alasannya duduk samping suaminya bukan karena setia saja. Tapi karena kasihan dan takut kehilangan. Cuma Parjo yang menghiasi kehidupannya. Anak mereka yang seharusnya menjaga sepasang suami istri yang mulai rentan itu, malah sibuk dengan keluarga kecilnya.
Obat yang tadinya tak diperhatikan oleh Parjo. Kini ia mulai telan satu persatu ke dalam mulutnya. Didorong oleh air putih yang istrinya bawakan tadi. Berharap obat itu tak berhenti di dalam mulut Parjo yang membuat rasa pahit yang amat terasa. Tapi pahitnya obat bukan seberapa dengan kehidupannya. Jadi ia tak mau rasa pahit oleh obat yang ia makan menambah rasa pahit hidupnya.
"Bu, bukankah obat ini harganya mahal? Darimana ibu membayar semua ini?" Tanya Parjo.
Istrinya tak mau menjawab. Tapi Parjo sudah tau darimana uang tuk membayar mantri dan obatnya berasal. Cincin satu-satunya di jari istrinya sudah hilang tak terlihat. Pasti sudah dijual tuk menebus ini semua.
"Sudah-sudah. Bapak Istirahat saja tidak usah memikirkan uang pembayaran obat."
Parjo hanya mengangguk lalu istrinya keluar dari kamar meninggalkannya. Ruangan itu kembali senyap. Hanya Parjo manusia yang berada di tempat itu. Ia mulai bosan dengan kesendirian ini. Kemudian ia merebahkan beban tubuhnya di kasur yang sangat tipis ini. Memandang langit-langit kamar yang sudah lama ia tak renovasi lagi. Sebenarnya ia ingin sekali merenovasi gubuk yang penuh kenangan. Akan tetapi ia tak punya waktu dan yang paling penting adalah uang. Untuk makan saja terkadang kurang.
Pikirannya kini kemana-mana. Semakin berat ia memikirkan sesuatu, rasa sesak di dada semakin terasa. Sebenarnya penyakit apa yang ia idap? Ia lupa tak menanyakan kepada istri tentang hasil pemeriksaan mantri. Tuk meringankan rasa sesak, Parjo berusaha memejamkan mata. Berkat obat yang ia makan, dengan mudah ia terlelap.
***
Gubuk kecil Parjo kini disesaki para tetangga. Anak-anaknya pun sekarang pulang dan menemani istrinya Parjo. Suasana penuh riuh tersebut tak terelakkan lagi. Tapi halaman depan rumah Parjo basah dan becek. Tercecer beberapa bunga di tanah itu.
Walaupun anak-anak pulang, istri Parjo tidak merasa senang sama sekali. Ia memakai pakaian hitam dan menutupi matanya dengan kain hitam. Kain hitam itu digunakan membendung air yang keluar dari matanya. Di depan istri Parjo terdapat Parjo itu sendiri. Ia sedang terlelap di tempat yang berbeda. Ia pindah. Yang tadinya di kamar sekarang berada di ruang tamu. Yang tadinya tangan, kaki dan kepalanya nampak terlihat sekarang tubuhnya tertutup rata oleh kain putih. Yang tadinya bisa bernafas walaupun berat sekarang sama sekali tak bernafas.
" Yang sabar ya Bu. Semoga Bapak Parjo di tempat yang mulia di sisi-Nya. Bolehkah kami mulai menyikapinya,Bu?" Kata seorang tetangga Parjo.


Purwokerto, 21 Januari 2019


Bagus Sulistio 
Lahir di Banjarnegara pada tanggal 16 Agustus 2000. Sekarang ia tinggal di pondok pesantren Al hidayah karangsuci, Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah. Saat ini sedang menuntut ilmu di IAIN Purwokerto jurusan pendidikan bahasa arab. Ia aktif dalam organisasi Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban ( SKSP ) Purwokerto. Karyanya sering menang dan dijadikan antologi dalam sebuah lomba tingkat nasional yang di adakan oleh penerbit indie. Diantaranya penerbit jejak publisher, ellunar publisher, pejuang antologi, dan masih  banyak lagi.  Dan pernah dimuat di media online negeri kertas. Nomor WhatsApp dan handphone 085725125034. 


#cerpen

HUJAN PAGI INI - FILESKI (LIVE AKUSTIK)



Hujan pagi ini menyapa
daun-daun yang berderai
Dalam temaram cahaya
Meski tiada kau di sini
seperti pagi yang telah lalu
Dalam pekat kabut kuberharap
Semoga kau di sana merasa
seperti yang kurasa
Saat kau ada di sini
memelukku di bawah hujan
Hujan bawalah aku pergi
bersama aliran sungaimu
Yang bermuara dipeluknya
Sampaikanlah pesanku kepadanya
Yakinkan dia setia
hingga saat bersamanya tiba
Semoga kau di sana merasa
seperti yang kurasa
Saat kau ada di sini
memelukku
Semoga kau di sana merasa
seperti yang kurasa
Saat kau ada di sini
memelukku di bawah hujan


HUJAN PAGI INI - FILESKI (LIVE AKUSTIK)

#PUISI  #VIDEO

CARA MEMBUAT VIDEO FILM JADUL DI ADOBE PREMIER





CARA MEMBUAT VIDEO FILM JADUL DI ADOBE PREMIER

#VIDEO

KONSER NYANYIAN PUISI : JODHI YUDONO



#konser #jakarta #sastra #puisi

SURABAYA: 24 FEB 2019 SEMINAR LITERASI


#seminar #literasi #surabaya #jawatimur

UU ITE MEMAKAN KORBAN LAGI DI 2019

Ada satu kesimpulan menarik dari ILC malam ini, yang dipaparkan oleh
PROF. ANDI HAMZAH (PAKAR HUKUM PIDANA)

Di negara demokrasi manapun, tidak ada yang namanya pasal ujaran kebencian, yang ada hanya pasal tentang penghinaan dan fitnah.

Semestinya undang-undang ITE tidak boleh mengancam pidana berat,
karena itu hanya merupakan pidana administrasi, maksudnya bukan bertujuan untuk menghukum seseorang, akan tetapi untuk agar peraturan itu ditaati masyarakat dengan cara memberikan sanksi administrasi / denda.
Kita sudah melenceng jauh, UU ITE berbeda dengan tindak korupsi, pencucian uang, dan KDRT, yang merupakan tindak pidana berat.

Untuk demokrasi yang lebih baik, dalam kasus UU ITE mestinya kita tidak perlu lagi saling lapor untuk memenjarakan, karena hanya akan menimbulkan dendam yang tidak ada habis-habisnya, kita semua harus merenungkan peristiwa ini. Karena negara kita adalah negara demokrasi, ada pemilu, artinya pemerintah bisa berganti-ganti, yang sekarang oposisi, besok bisa jadi pemerintah, yang sekarang pemerintah bisa ganti jadi oposisi. Jangan sampai dendam ini terus berlanjut dan mengakibatkan perpecahan.

Bagaimana kita bisa mengadili penyebaran kebencian,
kalau ujaran kebencian itu adalah hal yang tak bisa terpisahkan dari kebebasan berpendapat, dan kebebasan berpendapat adalah syarat dari demokrasi.



#NASIONAL #POLITIK

CERPEN: Tentang Hati Wanita 2


Matanya berkaca-kaca, terbaca sekali beban batin yang ia tanggung. Namun wanita paruh baya ini berupaya kuat untuk terlihat tegar. Ia masih menanti jawaban dari gadis muda di hadapannya yang ia cecar dengan segudang pertanyaan mengenai suaminya. Akan tetapi yang ditanya hanya terdiam menunduk, tak tahu harus menjawab apa.

“Sudahlah mbak Ines, jangan diam saja. Jawab saja dengan jujur apa yang mbak ketahui tentang hubungan suami saya dengan mbak Elyana itu?” Tanya wanita paruh baya itu lagi. Nada bicaranya santai tanpa emosi, tapi terbaca sekali bahwa ia begitu sangat tegar dari sorot matanya, membuat yang ditanya makin bingung, gelisah serta tak tahu harus berkata apa.
“Seandainya aku tak berkunjung ke rumah ini...... Ya Allah aku harus bagaimana? Aku harus jawab apa? Elyana sahabatku, tak mungkin aku menghianatinya... tapi kenyataannya ia sudah melakukan sebuah kesalahan, merusak rumah tangga orang lain...” Keluh Ines dalam hati, dan masih saja dengan kepala menunduk.

“Mbak tidak jawab pun saya sudah sangat tahu sejauh mana hubungan suami saya dengan wanita itu. Saya wanita mbak, saya seorang istri. Saya paham betul kalau selama 4 tahun terakhir ini suami saya sudah membohongi saya. Saya memang sengaja pura-pura tidak tahu. Dan tanpa mas Pras ketahui, saya diam-diam menyelidiki. Sudah banyak sekali yang saya tahu mbak mengenai kebohongan-kebohongan mas Pras. Termasuk ia berkali-kali minta ditransfer uang, lalu berkali-kali mengaku ketinggalan kereta dengan alasan tidak dengar panggilan boarding karena makan. Tengah malam selalu saja sibuk dengan handphonenya. Kadang juga saya dengar tawa dia samar-samar dari dalam kamar. Saya sudah menyelidiki semuanya mbak!” Papar wanita itu panjang lebar, namun lagi-lagi nada bicaranya halus tak menunjukkan emosi marah sedikitpun.

“Bahkan saya pernah mengirim SMS langsung ke mbak Elyana itu!” Tegasnya, membuat Ines yang sedari tadi menunduk mendadak langsung mengangkat kepalanya, menatap wanita itu.
“Ibu Asih SMS apa kalau boleh tahu?” Tanya Ines lirih

“Yaa saya bilang begini: ‘Mbak, ndak baik teleponan setiap hari tengah malam dengan laki-laki yang sudah beristri. Ini saya istrinya mas Pras. Mbak masih gadis, tidak elok dipandang orang kalau selalu komunikasi dengan suami orang.’” Jawab bu Asih, membuat Ines menemukan ingatannya kembali saat Elyana pernah bercerita bahwa ia pernah mendapat sms demikian dari istri pak Pras sekitar dua atau tiga tahun lalu.

“Lalu apa Elyana membalas sms Ibu?” Tanya Ines lagi.
“Endak mbak. Tapi sejak itu namanya sudah saya ciri untuk saya selidiki. Makanya sampai hari ini saya banyak tahu, bahkan beberapa kali saya menemukan bukti transfer dari internet banking suami saya ke nomor rekening atas nama Elyana Paramitha. Lalu bukti dua buah tiket bus atau kereta ke luar kota selain Surabaya yang tanpa sengaja tertinggal di saku suami saya, kemudian saat dia mandi atau tidur saya pernah membuka handphonenya.” Jawab bu Asih panjang, membuat Ines makin berempati dan tak dapat membayangkan jika ia berada di posisi bu Asih.

“Lalu setelah tahu banyak, apa ibu marah sama pak Pras?” Ines mencoba menggali. Sementara bu Asih menghela nafas panjang menyandarkan tubuhnya ke bantalan sofa. Ia diam sejenak, matanya menerawang ke langit-langit atap ruang tamunya seraya mengedip-edipkan matanya beberapa kali agar air matanya tak jatuh dan berusaha membuat tubuhnya se-rileks mungkin.

“Saya tidak marah sama sekali mbak. Tidak maju ataupun mundur. Sikap saya sama seperti biasanya. Meskipun pada akhirnya kami jarang sekali berbicara, tapi saya bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa,” ia mengambil nafas panjang, “saya hanya berdoa, pasrah kepada Gusti Allah, jika benar suami saya telah berbohong, mohon dibukakan, jika masih berjodoh mohon untuk disadarkan, jika pun sudah tidak berjodoh, semoga diberi jalan yang terbaik.” Lanjutnya. Ines terdiam mendengar jawaban lapang dada dari bu Asih yang tak ia sangka sebelumnya. Bahkan membuatnya ikut merasa bersalah karena pernah berprasangka buruk dengan bu Asih saat membicarakannya dengan Elyana dulu.

“Kalau ngomong masalah sakit, jelas hati saya sakit sekali mbak. Saya merasa sangat terkhianati. Bagaimana tidak? Sudah hampir 4 tahun dia membohongi saya. Dengan alasan keperluan organisasi, umat, apa lah. Dia meninggalkan pekerjaannya, dan menggantungkan nafkah rumah tangga ini hanya dari toko sembako kecil kami. Dia pun tidak banting tulang untuk menjaga dan merawat toko ini. Selalu saja ada alasan. Jujur saya muak. Beberapa kali memang kami bertengkar, namun sekali saja saya tidak pernah menyebut tentang orang ke tiga diantara kami. Pertengkaran kami hanya seputar penuntutan saya akan tanggung jawab dia sebagai kepala keluarga yang selama 4 tahun ini tidak menafkahi kami. Itulah yang membuat saya sering mengomel padanya setiap kali ia hendak kembali ke Surabaya.” Paparnya panjang lebar.

“Dan saya dengan gambling pernah bilang pada mas Pras, bahwa sebuah perjuangan dakwah tidak akan menjadi barokah jika ada orang yang tersakiti dan teraniaya di balik perjuangan itu!”
Bak disambar petir, kata-kata bu Asih barusan benar-benar menohok hati Ines. Organisasi umat yang ia perjuangkan, mungkinkah banyak sekali masalah dan persoalan pelik yang sulit untuk diselesaikan itu... Apakah karena Tuhan tidak rela bila ada noda dalam perjuangan itu? Apakah salah satu penyumbang terbesar banyaknya masalah adalah karena ada seseorang yang terdzolimi?
“Duh Gusti....” Batin ines. Matanya berkaca-kaca kali ini. Hatinya benar-benar kalut luar biasa. Harus bagaimana ia? Harus berkata apa ia pada Elyana?

***

 Satu bulan berlalu dari hari itu.....
Perlu dua hingga tiga hari bagi Ines untuk mencoba mencari cara bagaimana menyampaikan fakta sesungguhnya kepada Elyana mengenai pak Pras, hingga pada malam takbiran kemarin ia mencoba mengatakan semuanya kepada Elyana melalui sambungan telepon. Berharap Elyana juga sadar atas apa yang ia lakukan dan yakini selama ini. Namun respon yang ia dapat sungguh di luar dugaan. Elyana menghilang. Pesan sms maupun telepon dari Ines tak pernah terbalas. Entah kemana ia pergi, sementara banyak orang dari organisasi mencarinya, hingga Ines harus terus-terusan mendapat telepon dari orang-orang tersebut untuk menanyakan keberadaan Elyana, terutama pak Pras.
Hingga suatu sore, handphone Ines berdering beberapa kali...

“Halloo Assalamu’alaikum Ines....” Sapa suara seorang laki-laki dari sebrang sana. Suara yang sangat akrab di telinga Ines.
“Iya waalaikum salam pak Zul...” Jawab Ines
“Ines tahu tidak di mana Elyana? Kok lama sekali tidak nampak ya?” Tanya pak Zul, Pimpinan umum organisasi.
“Wah kurang tahu pak... Saya pun mencarinya..” Jawab Ines.
“Saya curiga Nes, apa jangan-jangan ada hubungannya dengan pak Pras. Karena kinerja pak Pras juga akhir-akhir ini buruk. Gimana menurut Ines?”
“Wah saya kurang tahu pak... Beberapa kali pak Pras memang menghubungi saya, menanyakan keberadaan Elyana, kira-kira ada apa kok menghilang? Tapi hanya bertanya saja, tidak ada yang lain...” Jawab Ines.

“Nes, apa Ines tidak paham maksud bapak?” Suara pak Zul terdengar serius, membuat Ines terdiam dan takut. “Ingat loh Nes, Bapak pernah tanpa sengaja membaca pesan whatsapp Elyana ke kamu dari leptop saat di kantor secretariat yang isinya Elyana berharap segera dinikahi pak Pras kan? Bapak juga pernah tanpa sengaja membaca isi chat intim pak Pras dengan Elyana yang juga terpampang di leptop yang belum ditutup dari layar desktop kan?” Pak Zul terdiam beberapa detik, lalu melanjutkan, “Dan terakhir saya juga pernah mergokin Elyana datang ke kantor secretariat dengan membawa makan siang untuk pak Pras kan? Dan kamu tahu itu kan Nes? Bahkan kamu ada di sana kan?”

“I..i.iya pak...” Jawab Ines dengan terbata.
“Nah sekarang tolong jelaskan duduk perkaranya. Saya yakin Ines tahu banyak. Tolong Nes! Ini demi organisasi kita bersama. Kalau benar kecurigaan saya, ini harus segera diselesaikan!” Kata pak Zul tegas. Membuat Ines makin bingung, hingga akhinya ia buka suara juga. Ia menceritakan banyak hal yang ia tahu tentang Elyana dan pak Pras. Dan ia juga menceritakan bagaimana keadaan istri dan anak-anak pak Pras di Jogja dengan penuh kebimbangan bercampur rasa takut.
“Oke Nes, bapak akan coba selesaikan masalah ini. Terima kasih penjelasannya.” Tutup pak Zul.

***

Suhu panas siang ini di Surabaya tak sepanas dan se-gerah hati pak Pras. Ia menunduk saja tanpa suara, bahkan untuk melihat tatapan mata serius dari pak Zul pun ia tak mampu. Sementara pak Zul masih menatap tajam pak Pras sembari menunggu jawaban darinya mengenai hubungannya dengan Elyana.

Tik....tik....tik....tik....tik.... Suara jarum jam terdengar begitu jelas di kantor secretariat yang hanya ada pak Zul dan pak Pras, dua petinggi organisasi yang banyak dihormati dan disegani baik di tengah masyarakat maupun di media sosial. Keduanya yang biasanya selalu bekerjasama dalam berbagai hal menjadi partner yang unggul namun posisi kali ini benar-benar berbeda. Akibat masalah ini, keduanya kini bak seorang polisi yang sedang menginterogasi seorang penjahat yang tengah tertangkap basah melakukan sebuah tindakan criminal.

Lama sekali keduanya terdiam, hingga akhirnya dengan terbata-bata pak Pras akhirnya bersuara...
“Sa... saa..ya tii..tid..ak ada hubungan apa-apa mas dengan mbak Elyana.” Ia diam sejenak, menghirup dalam-dalam nafas, lalu membuangnya cepat-cepat, berusaha menenangkan diri sendiri. “Selama ini saya menganggap mbak Elyana adalah kader yang paling cerdas diantara semua kader. Memang saya sering mengajaknya diskusi...., dengan tujuan untuk mendidik dia kritis dan bagaimana mencari solusi, sekaligus juga saya akui dia teman yang enak sekali diajak berdiskusi dan bertukar pikiran.” Ia diam lagi sejenak, “karena dia cerdas, kritis dan ide-ide dia yang kreatif, itulah yang membuat saya sering berkomunikasi dengan mbak Elyana mengenai organisasi ini. Sikap saya tidak lebih seperti sikap saya terhadap kader-kader perempuan lainnya. Mungkin karena saking intensnya saya berkomunikasi dengan mbak Elyana, dan dia juga banyak membantu saya dalam hal menciptakan ide-ide kreatif, mungkin saja dari situ mbak Elyana menangkap lain sikap-sikap saya selama ini....”

“Menangkap lain bagaimana maksudnya mas?” kejar pak Zul, nada bicaranya seolah ia adalah seorang investigator professional.
Sementara itu pak Pras seolah makin tersudut dengan pertanyaan pak Zul, membuatnya menatap sekilas dengan gugup sambil memainkan dua telunjuknya, ia mencoba menjawab seadanya apa yang ditanyakan pak Zul padanya, “yaa... mungkin mbaka Elyana merasa terlalu nyaman dengan saya, sehingga tanpa saya sadari kedekatan kami membuatnya terbawa perasaan.” Ia membuang nafasnya dengan berat, “memang mbak Elyana secara terang-terangan menyatakan perasaannya langsung kepada saya, namun saya tidak bisa menjawabnya. Karena saya kaget dan tidak menyangka mbak Elyana bisa memiliki perasaan demikian pada saya, bahkan menyatakan diri bersedia menjadi istri kedua saya.”

“Apa benar yang sampean paparkan tadi mas?” Pak Zul memicingkan matanya, menatap lebih serius pak Pras, membuat pak Pras makin gugup dan langsung menjawab “Ya!” dengan cepat.
Pak Zul menghela nafas panjang. Ia melonjorkan kakinya di sela-sela kaki meja, seraya melepaskan kaca matanya dan menyandarkan punggungnya di bantalan kursi. Matanya menerawang ke arah jendela, mencoba menenangkan pikirannya. Ia diam sejenak, lalu mulai berkata-kata dengan nada santai dan tenang.

“Saya tidak tahu mas apa yang sampean jabarkan itu benar atau tidak. Tapi satu hal yang harus mas Pras tau bahwa istri sampean lebih tau semuanya tentang hubungan sampean dengan mbak Elyana. Saya dapat informasi mengenai ini pun dari orang kepercayaan saya setelah ia bicara dengan istri sampean.”

Kata-kata pak Zul benar-benar membuat pak Pras sangat terkejut. Dan kali ini ia lah yang menatap serius pak Zul.

“Sampean ndak perlu tahu siapa orang kepercayaan saya. Tapi yang harus sampean tahu bahwa istri sampean sudah tahu sejak awal hubungan kalian sampai hari ini hampir 4 tahun. Bahkan beliau tahu sampean sering transfer uang ke mbak Elyana, pergi jalan-jalan sampai telepon larut malam hingga berjam-jam dengan mbak Elyana.” Mata pak Zul masih tak berpaling dari jendela, sementara pak Pras makin terkejut dengan pengakuan pak Zul, membuatnya makin menatap tajam pak Zul, lalu melontarkan pertanyaan, “Ndak mungkin mas! Istri saya selama ini tidak pernah membahas masalah itu. Bahkan kami tidak pernah bertengkar karena orang ketiga dalam rumah tangga kami.”
Pak Zul langsung menatap tajam mata pak Pras, “Itulah hebatnya istri sampean mas!” Semakin tajam tatapannya hingga membuat pak Pras kembali menundukkan pandangannya. “Selama ini beliau menyimpannya sendirian. Beliau berusaha untuk menutupi perilaku buruk sampean. Beliau tetap mengabdi dengan baik, bahkan ketika sampean selama ini tidak memberikan nafkah kepadanya dan anak-anak sampean! Belum ditambah pengeluaran untuk membiayai hubungan sampean dengan mbak Elyana. Beliau sendirian mas! Beliau banting tulang sendiri! Harusnya sampean bersyukur punya istri beliau, bukannya malah bilang tidak mungkin!” Suara pak Zul meninggi, terdengar sangat kesal dan penuh emosi.

“Saya ndak nyangka sampean bisa berbuat sekeji itu...” volume suaranya kembali mengecil, namun sarat akan emosi kesal dan kecewa “bagaimana bisa organisasi ini maju jika dalam perjuangannya ada orang yang terdzolimi? Pantas saja banyak sekali masalah-masalah. Dan mungkin Allah ndak rela mas, perjuangan yang Lillahi ta’ala ini sampean nodai dengan hubungan haram sampean dengan mbak Elyana, lalu ada istri dan anak-anak sampean yang terdzolimi.”
“Saya pun hampir pernah mas terlibat dalam masalah seperti ini. Ada teman mbak Elyana, kader dari Jakarta yang menaruh hati pada saya. Bahkan saat itu mbak Elyana sendiri datang ke saya untuk mensupport saya, mendorong saya menikahi temannya. Tapi saya sadar, saya punya istri dan anak-anak. Saya juga merasa tidak mampu jika saya berpoligami, karena saya sadar ilmu saya masih cetek! Makanya saya menghindar, karena saya tidak mau menyakiti gadis itu, juga tidak mau memberikan harapan-harapan yang saya tidak bisa memenuhinya!” Pak Zul diam sejenak seraya memalingkan kembali pandangannya ke arah jendela, “kalau saya bilang, sampean berdosa mas. Sampean sudah berdosa kepada Elyana, kepada perjuangan organisasi ini, dan terutama kepada istri dan anak-anak sampean.”

Kata-kata penutup dari pak Zul yang begitu menohok jantung dan hati pak Pras. Membuatnya pilu dan malu, terlintas begitu saja sosok istri yang menemaninya dari nol selama 17 tahun, lalu kedua putri dan seorang putra kesayangan yang selama ini ia abaikan begitu saja. Dan tentu saja harapan dan perasaan Elyana yang dalam padanya, membuatnya makin merasa bersalah.

***

Ada yang aneh selepas sholat shubuh hari ini bagi bu Asih. Ia melihat suaminya berlaku tak biasa. Dimulai dari tiba-tiba saja suaminya itu semangat menyapu rumah dan halaman, lalu mencuci piring kotor, hingga membuka toko sembako mereka dengan semangat.
Bu Asih tak bertanya apapun tentang keanehan yang ia lihat dari suaminya hari ini. Hanya memperhatikan saja. Terlihat senyum cerah dan bahagia dari wajah suaminya, entah apa saja yang dibuatnya dan tentu saja tak hanya membuat bu Asih merasa aneh, namun juga membuat anak-anaknya pun mulai bertanya padanya, mengapa papa mereka tiba-tiba begini?

“Papa masak nasi goreng special....!!!! Hasil resep nyontek dari mbah google!” Seru pak Pras. “Oh iya ma, hari ini biar papa saja yang ngantar anak-anak sekolah, oke..! Terus papa juga sudah telepon suplayer buat kirim barang-barang di toko kita yang sudah habis. Pokoknya mama istirahat aja di rumah.” Katanya lagi. “Dan kalau bisa sih, papa pengen makan tumis kangkung sambel terasi masakan mama.... hehehe” tambahnya dengan senyum nakal ke arah istrinya.
Sementara bu Asih hanya tersenyum seraya bergumam dalam hati “Ya Gusti Allah, apakah ini jawaban atas doa-doa hamba? Alhamdulillah, matur nuwun Gusti.... Semoga istiqomah....”

***

Hujan malam itu begitu deras, bersamaan dengan gemuruh petir yang menyambar-nyambar serta membuat takut bagi yang mendengarkan. Begitu sangat derasnya seolah-olah alam tahu bagaimana keadaan hati Ines. Ia menangis tersedu-sedu dalam kamarnya. Hatinya hancur berantakan akibat sebuah pesan singkat yang ia terima beberapa menit yang lalu.

“Hubungan kita sampai disini. Tak ada maaf bagi pengkhianat!”
Teringat kenangan indahnya bersama sahabatnya, kedekatan dan kebersamaan mereka. Sebuah persahabatan yang terjalin selama 7 tahun dalam suka dan duka, akhirnya harus berakhir sampai di sini. Tak ada lagi cita-cita, angan-angan maupun impian. Dan pupus sudah harapan untuk ingin tetap bersaudara dan bersahabat hingga Jannah-Nya. (END)


Hezty Azalea
Akun Sosmed :  Hezty Azalea (FB) - @hezty_azalea (IG)
Website :  azaleahezty.wordpress.com

#Cerpen

PROBOLINGGO: 9 FEB - PENULISAN SKENARIO


#EVENT

JAKARTA: KONSER NYANYIAN PUISI 16 FEB 2019


#EVENT #LITERASI #KONSER

KEAJAIBAN GANTUNGAN KUNCI

KEAJAIBAN GANTUNGAN KUNCI

Pukul 15.00 aku brangkat dari rumah. Membelah gerimis menuju panti asuhan Lentera Hati, bersama mas Andri anggota Rumah Jendela GPAN Madiun. Sampai di sana, rasa lelah dan letih karena usai rutinitas pun terlupakan, ketika melihat betapa riang anak-anak menyambutku. Mereka yatim piatu, begitu bahagia menikmati pemandangan gerimis sore, aku kehilangan alasan untuk memajang wajah cemberut karena dendam pada hujan yang membasahi gitarku.

Aku ambil air wudhu, walau sebenarnya aku sudah solat Ashar sebelum berangkat tadi. Akhirnya kelas menulis kita mulai pukul 15.30, ternyata mereka tidak siap buku tulis. Aku bertanya, "Siapa yang ingin jadi penulis?" Tidak ada yang mau menjawab, hanya geleng-geleng kepala. Lalu aku tanyai satu persatu. "Cita-cita kalian ingin jadi apa?" Ada yang menjawab jadi dokter, polisi, tentara, guru, profesor, dan ada yang ingin jadi orang kaya raya. Mendengar jawaban terakhir itu, sontak semuanya ikut tertawa, hahahaa.

Aku tak kehabisan ide, akhirnya aku mengajak mereka untuk menulis lagu saja. "Enaknya bikin lagu apa ya?" Ada beberapa saran, bikin lagu tentang lingkungan, lagu tentang kota kenangan, lagu tentang ayah, lagu tentang ibu tiri, hahahaa. Sekali lagi kami tertawa mendengar usulan terakhir dari salah satu anak.

Akhirnya kami voting dan suara tebanyak memilih untuk menulis lagu tentang ibu, tentu bukan ibu tiri. Satu persatu anak-anak panti aku minta untuk bikin satu kalimat bertema ibu, yang akan aku gubah menjadi nada lagu. Hingga terciptalah lagu ini, berjudul "Ibu Lentera Hatiku"

Mendengar untaian kalimat yang mereka susun, meskipun lugu dan sederhana, namun itulah kejujuran, aku sempat mau nangis menyanyikan lagu ini. Tapi kalau aku nangis ya gak lucu, aku harus terlihat tegar di depan mereka, hehehe. Akhirnya aku bisa menyanyikan lagu ini hingga selesai, bisa didengarkan di sini https://www.facebook.com/fileski21/videos/10211540317477655/

Sering kali aku mengalami keajaiban dalam hidup, namun satu ini seperti mukzizat para nabi. Eiiissst aku bukan mengaku nabi loh ya, jangan sumbu pendek dulu. Nabi terakhir yang aku yakini tetap Muhammad SAW. Kemarin aku membawa hadiah untuk anak-anak panti asuhan, berupa gantungan kunci yang aku bawa dari Singapura. Jelas-jelas aku belinya 10 buah, dan aku bawa ke panti tentu tetap 10 buah. Waktu pembagian hadiah, anak-anak maju satu persatu untuk menerima cindramata lucu itu. Ternyata yang maju berdiri menerima hadiah ada 11 anak. Sontak aku kaget lah, ternyata ada 11 anak, sedangkan aku hanya bawa 10 buah. Tetapi semuanya menerima gantungan kunci itu. Ini kisah nyata, saksinya adalah para relawan Rumah Jendela GPAN Madiun.

Kali ini sampai di sini dulu ceritanya, lain kali kita sambung lagi. Dan yakinlah bahwa "Tuhan itu ada, keajaiban itu nyata"





9 SASTRAWAN MUDA INDONESIA YANG PUNYA KARIR CEMERLANG



#viral

JUAL BUKU DISKON | KAKILANGIT PRENADA GROUP

Untuk membeli salah satu atau beberapa buku yang ada di daftar ini, silakan hubungi WA 628888710313 / klik link https://api.whatsapp.com/send?phone=628888710313


Judul BukuPenulisHarga
Acek BotakIdris Pasaribu55.000
Anak Kampung yang Keliling DuniaGozali Katianda65.000
AYAHKU INSPIRASIKUMariska Lubis100.000
Batik IndonesiaMurdijati Gardjito400.000
BATIK LUKIS Basu SDarissa Haque60.000
Batik YogyakartaGbray.Murywati S.Darmokusumo275.000
Bintangpun BertasbihEko Hartono45.000
Blueberry untuk PaulineMaya Lestari34.000
Bulan Lebam Di Tepian TobaSihar Ramses Simatupang40.000
Celotehan LindaLinda Djalil60.000
Cewek Apa Cowok Sih LoeYennie Hardiwidjaja25.000
Cincin Cinta Miss TitinHermawan Aksan28.000
CindakuAzwar Sutan Malaka57.000
Cindua MatoTito alexi50.000
Cinta Dalam BelangaAmbhita Dhyaningrum32.000
Cinta Empat BabHermawan Aksan32.000
Cinta Yang HilangMasriadi Sambo46.000
Cleo KemarilahFanny J. Poyk25.000
Dari Firenze ke JakartaEwith Bahar62.000
Daun Itu MatiAyni N. Massardi40.000
Destinasi Banda NeiraProf. Dr. H. M. Burhan Bungin, S.Sos., M.125.000
Divine Madness:Sketsa Biog. Sastrawan GilaTri Wibowo B. S.35.000
Elle EleanorZeventina Oct & Ferry Herlambang Z.65.000
EpitaphDaniel Mahendra55.000
EtnogikaImperial Jathee50.000
Gunung MakrifatTri Wibowo B. S.35.000
GusDian Nafi40.000
Hai Aku Kumpulan PuisiNoorca M. Masardi60.000
Hautor Passi, Kubunuh KauRadinton Malau48.000
IluminasiLisa Febriyanti67.000
Jejak-Jejak MimpiFrans Nadjira49.000
Jemari Yang Saling GenggamAlizar Tanjung45.000
Jendela Lantai TigaY.F Sarbini26.000
Katarsis Hitam Putih6.006 Walang Gustiyala70.000
KeloyangEl-Qolam Press35.000
Keluarga LaraFrans Nadjira50.000
Kumpulan Cerita Anak HebatNelfi Syafrina29.000
Labirin Sang PenyihirMaya Lestari50.000
Langit TerbukaRayni N. Massardi30.000
LasmiNusya Kuswantin42.000
Lima Keluarga Besar Mafia (FIVE FAMILIES)Selwyn Raab125.000
Lorca InocencioSihar Ramses Simatupang63.000
Lost In LawuAndri Saptono66.000
Lost On EverestVanny Chrisma W.62.000
LukaFanny J. Poyk33.000
MageningWayan Jengki Sunarta41.000
MarshmallowCandra Aditya38.000
Meredam DendamGerson Poyk30.000
Misteri Mata AirSan Pramathana28.000
Momi KyoosyutuWahyu Iryana47.000
NahrisyahPutra Gara60.000
Narendra ModiLance Price90.000
Neira Kutambatkan Cintaku Yang Kusut Di DuaProf. Dr. H. M. Burhan Bungin, S.Sos., M.45.000
Nikah LagiIdris Pasaribu47.000
Nyanyian KemarauHary B. Kori'un42.000
PadusiKa'bati48.000
Paijo & PaijahJodhi Yudono50.000
Pelacur, Politik, dan He he heTandi Skober85.000
Red LightsCandra Aditya32.000
Rupa & Karakter Wayang PurwaHeru S. Sudjarwo, S.Sn.500.000
Rupa & Karakter Wayang PurwaHeru S. Sudjarwo, S.Sn.460.000
Sang Sutradara dan Wartawati BurungGerson Poyk20.000
Skandal Politik Tokoh-Tokoh DuniaNigel Cawthorne108.000
StrawNoorca M. Masardi50.000
SutasomaCok Sawitri70.000
Tarian OmbakGerson Poyk30.000
Terbunuhnya Sang NabiDul Abdul Rahman58.000
The Book Of Talentless WordsMalha Bungin35.000
The Burma SpringRena Pederson142.000
The Man With The Compound EyesWu Ming-Yi64.000
With or Without YouNisa Adijaya86.000
Ziarah Yang TerpanjangK. Usman50.000



jual buku diskon obral murah kirim pos jne j&t 

 
Official © 2018 NegeriKertasCom. Email: nkertas@gmail.com | WA 628888710313
Redaktur:Team NK