005

header ads

Bedah Karya “Laungan di Atas Kanvas” Kesadaran Batin Melalui Lukisan

Kota Madiun — Diskusi seni bertajuk “Laungan di Atas Kanvas” digelar pada Rabu malam, 4 Februari 2026, di Heyhouse Cafe, Jalan Sirsat No. 7, Kota Madiun. Acara yang dimulai pukul 19.30 WIB ini menjadi ruang dialog terbuka untuk membedah karya lukisan Hegemoni Tiran ciptaan perupa Dwi Kartika Rahayu, sekaligus menandai peluncuran komunitas seni baru, Rusa Terbang.

Sejak awal acara, suasana Heyhouse Cafe terasa berbeda dari biasanya. Kursi-kursi terisi oleh pegiat seni, mahasiswa, penulis, hingga masyarakat umum yang tertarik pada diskursus seni rupa kontemporer. Diskusi dipandu oleh pembawa acara Shalihah Ramadhani, yang dengan tenang mengalirkan jalannya acara dari pembukaan hingga sesi dialog.

Bedah karya ini menghadirkan Fileski W Tanjung sebagai pemapar kuratorial. Dalam paparannya, Fileski menempatkan lukisan Hegemoni Tiran bukan sekadar sebagai ekspresi visual, melainkan sebagai medan refleksi etis yang menyinggung persoalan kekuasaan, dendam, dan kegagalan manusia mengendalikan diri. Ia menegaskan bahwa karya Dwi Kartika Rahayu berangkat dari kegelisahan mendalam terhadap kekerasan yang terus berulang dalam sejarah manusia.

“Tesis utama karya ini adalah bahwa kejahatan kontemporer tidak lahir dari ruang kosong, melainkan dari hasrat menguasai yang gagal dikendalikan,” ujar Fileski di hadapan audiens. Ia mengelaborasi bahwa kisah Qabil dan Habil menjadi fondasi etik karya tersebut—bukan sebagai narasi religius semata, melainkan sebagai simbol arketipal tentang manusia yang kalah oleh iri dan dendam.

Menurut Fileski, Qabil dalam konteks kekinian bukanlah tokoh masa lalu, melainkan kondisi mental yang terus hidup dan bereinkarnasi dalam berbagai bentuk: penguasa yang tiran, sistem yang menormalisasi kekerasan, hingga relasi sosial yang sarat kompetisi tidak sehat. Di titik inilah lukisan Hegemoni Tiran dibaca sebagai kritik sekaligus cermin bagi manusia modern.

Dwi Kartika Rahayu sendiri menjelaskan bahwa karya tersebut lahir dari perenungan panjang tentang “energi usang” berupa dendam dan iri hati yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. “Ketika pikiran dipenuhi dendam, manusia kehilangan kejernihan. Dunia lalu terasa seperti neraka, bukan karena kurang keindahan, tapi karena berlebihan hasrat menguasai,” tuturnya.

Secara visual, Hegemoni Tiran merupakan lukisan mix media di atas kanvas berukuran 60 x 100 cm. Lapisan tekstur yang bertumpuk dan gestur yang kasar dibaca sebagai metafora konflik batin manusia. Estetika yang dihadirkan tidak menawarkan kenyamanan, melainkan kegelisahan yang mengajak penonton untuk terlibat secara emosional dan intelektual.

Menariknya, dalam diskusi juga disinggung keterkaitan karya ini dengan filsafat Stoisisme. Fileski menjelaskan bahwa baik dalam kisah Qabil–Habil maupun Stoisisme, pengendalian diri menjadi inti kemanusiaan. Qabil diposisikan sebagai contoh manusia yang gagal mengelola respons batinnya terhadap peristiwa eksternal, sehingga membiarkan amarah dan iri hati menjelma menjadi kekerasan.

Acara semakin khidmat ketika Anindya Bella membacakan puisi yang terinspirasi dari tema-tema dendam, kesunyian batin, dan pencarian kesadaran. Pembacaan puisi ini menjadi jeda reflektif yang memperdalam suasana kontemplatif, sekaligus memperkaya dialog lintas medium antara seni rupa dan sastra.

Selain bedah karya, malam itu juga menjadi momentum penting dengan diluncurkannya komunitas Rusa Terbang. Komunitas ini diperkenalkan sebagai ruang kolaborasi lintas disiplin seni yang bertujuan membuka dialog kritis, jujur, dan berkelanjutan di Kota Madiun. Peluncuran ini disambut antusias oleh para hadirin, yang melihatnya sebagai angin segar bagi ekosistem seni lokal.

Sesi diskusi berlangsung hangat dengan berbagai tanggapan dan pertanyaan dari audiens, mulai dari isu relevansi seni dengan realitas sosial hingga peran seniman dalam membangun kesadaran etik. Acara ditutup dengan kesimpulan bahwa Hegemoni Tiran bukanlah lukisan yang menawarkan jawaban, melainkan pertanyaan—tentang dendam apa yang masih dipelihara, dan sejauh mana manusia mampu mengendalikan dirinya sendiri.

Melalui “Laungan di Atas Kanvas”, seni kembali ditegaskan sebagai ruang dialog, bukan hanya estetika. Di tengah dunia yang kian bising oleh konflik dan hasrat menguasai, acara ini menjadi pengingat bahwa kesadaran batin adalah langkah awal menuju pembebasan. (*) 


Posting Komentar

0 Komentar