Kuratorial oleh Fileski W Tanjung
Karya Isi adalah Kosong, Kosong adalah Isi (2012) karya Cahyo Dewanto dapat dibaca sebagai medan perenungan tentang paradoks eksistensi manusia modern: semakin banyak yang dimiliki—pengetahuan, identitas, keyakinan, simbol—justru semakin terasa kosong. Tesis utama tulisan kuratorial ini berangkat dari gagasan bahwa lukisan ini tidak sekadar merepresentasikan kegelisahan personal sang seniman, melainkan menghadirkan kritik simbolik terhadap cara manusia mengisi hidupnya dengan “isi-isi palsu”: topeng sosial, akumulasi pengetahuan tanpa pemahaman, moralitas yang terucap namun rapuh dalam praktik.
Melalui bahasa visual yang padat, berlapis, dan cenderung ekspresif, Cahyo Dewanto merangkai ruang kanvas sebagai arena pertarungan batin—antara hawa nafsu dan kesadaran, antara iman dan dusta, antara pengetahuan sebagai jalan pembebasan dan pengetahuan sebagai alat penindasan simbolik. Dalam konteks hari ini, karya ini menjadi semakin relevan ketika manusia hidup dalam era banjir informasi, performativitas identitas, dan krisis makna yang tak selalu disadari.
Konteks Historis dan Kultural: Jejak Paradoks Timur dan Modernitas
Judul Isi adalah Kosong, Kosong adalah Isi secara langsung menggemakan konsep filsafat Timur, khususnya gagasan śūnyatā dalam Buddhisme Mahayana dan dialektika dalam filsafat Tao: kekosongan bukan ketiadaan, melainkan ruang potensial bagi segala kemungkinan. Dalam tradisi Nusantara, gagasan serupa juga hadir dalam laku kebatinan Jawa—tentang suwung, kosong, sebagai jalan menuju kesadaran sejati.
Namun, Cahyo Dewanto tidak menghadirkan konsep ini sebagai kutipan filosofis yang hening dan minimalistik. Sebaliknya, ia menabrakkannya dengan realitas modern yang riuh, penuh simbol, dan saling bertubrukan. Di sinilah karya ini menarik: “kosong” tidak divisualkan sebagai ruang sunyi, melainkan sebagai kepadatan citra, lapisan figur, dan tanda-tanda sosial yang saling menegasikan.
Secara historis, pendekatan ini berkelindan dengan tradisi seni modern dan kontemporer Indonesia yang kerap menggabungkan spiritualitas, kritik sosial, dan ekspresi personal—mulai dari kecenderungan ekspresionisme, seni naratif, hingga praktik seni yang menempatkan kanvas sebagai ruang cerita dan perenungan kolektif.
Bahasa Visual dan Estetika: Kanvas sebagai Medan Konflik
Secara visual, lukisan berukuran 100 x 100 cm ini menyajikan komposisi yang padat dan nyaris sesak. Figur-figur manusia hadir dalam berbagai gestur dan ekspresi: ada yang menutup wajah, ada yang berbicara, ada yang tampak tenggelam dalam aktivitas simbolik. Kehadiran topeng, buku, dan elemen-elemen budaya menjadi penanda penting dalam pembacaan karya ini.
Pilihan medium cat akrilik memungkinkan warna-warna tampil tegas, kontras, dan cepat kering—seolah menyiratkan urgensi, kegelisahan, dan ketegangan batin yang tidak memberi ruang bagi kontemplasi yang terlalu lama. Sapuan warna yang ekspresif, kadang kasar, kadang tumpang tindih, memperkuat kesan bahwa ruang batin manusia bukanlah sesuatu yang rapi dan linier.
Estetika yang dihadirkan tidak mengejar keindahan formal semata, melainkan kejujuran emosional. Tubuh-tubuh manusia tidak digambarkan ideal; proporsi, warna kulit, dan ekspresi wajah sering kali tampak terdistorsi. Distorsi ini bukan kelemahan teknis, melainkan strategi visual untuk menunjukkan keterasingan manusia dari dirinya sendiri.
Topeng Pengetahuan dan Ilusi Kesadaran
Salah satu isu sentral dalam karya ini adalah kritik terhadap pengetahuan yang kehilangan substansi. Buku-buku, simbol intelektual, dan gestur seolah berpikir hadir bukan sebagai tanda pencerahan, melainkan sebagai beban visual. Pengetahuan digambarkan bukan sebagai jalan menuju kebijaksanaan, tetapi sebagai topeng—sebuah atribut yang dipamerkan untuk memperoleh legitimasi sosial.
Dalam konteks kekinian, isu ini menjadi sangat relevan. Di era media sosial dan ekonomi perhatian, pengetahuan seringkali direduksi menjadi kutipan, gelar, atau performa intelektual. Orang berlomba terlihat tahu, tanpa benar-benar memahami. Cahyo Dewanto menangkap gejala ini jauh sebelum ia menjadi wacana arus utama hari ini, menjadikannya seniman yang peka terhadap gejala sosial yang bersifat laten.
Kekosongan dalam karya ini bukan ketiadaan isi, melainkan ketiadaan makna. Sebuah kritik halus namun tajam terhadap manusia yang sibuk mengisi hidupnya dengan simbol, tetapi lupa pada esensi.
Pertarungan Hawa Nafsu dan Keyakinan
Kegelisahan yang melatarbelakangi penciptaan karya ini juga berbicara tentang pertarungan hawa nafsu—tentang ketidakmampuan manusia mengendalikan diri meskipun memiliki keyakinan yang kuat. Figur-figur dalam lukisan tampak terjebak dalam perannya masing-masing, seolah memainkan karakter dalam drama yang tidak mereka tulis sendiri.
Dalam konteks sosial, ini dapat dibaca sebagai kritik terhadap kemunafikan moral: keyakinan yang diucapkan, namun tidak dijalani; nilai yang diagungkan, namun mudah dikompromikan. Lukisan ini tidak menghakimi, tetapi memperlihatkan kondisi tersebut apa adanya—sebagai realitas manusia yang rapuh.
Relevansi Kontemporer: Kekosongan di Tengah Kepadatan
Hari ini, ketika manusia hidup dalam dunia yang semakin cepat, penuh tuntutan, dan sarat pencitraan, karya Isi adalah Kosong, Kosong adalah Isi terasa semakin aktual. Kita hidup di tengah kepadatan informasi, identitas, dan tuntutan performatif, namun sering kali kehilangan ruang untuk diam, merenung, dan jujur pada diri sendiri.
Karya ini mengajak kita mempertanyakan ulang: apa yang sebenarnya kita isi dalam hidup ini? Apakah pengetahuan kita benar-benar membebaskan, atau justru menambah beban? Apakah keyakinan kita menguatkan, atau hanya menjadi hiasan identitas?
Sebagai sebuah karya seni rupa, Isi adalah Kosong, Kosong adalah Isi tidak menawarkan jawaban tunggal. Ia bekerja sebagai cermin yang memantulkan kegelisahan kolektif, sekaligus sebagai ruang dialog antara seniman, karya, dan penonton. Cahyo Dewanto menempatkan kanvas bukan sebagai objek estetis semata, melainkan sebagai medan refleksi etis dan eksistensial.
Kekuatan karya ini terletak pada keberaniannya menghadirkan kompleksitas—bahwa hidup tidak selalu bisa disederhanakan, bahwa kekosongan tidak selalu berarti nihil, dan bahwa isi sejati mungkin justru hadir ketika manusia berani menanggalkan topeng-topengnya.
Dalam lanskap seni rupa kontemporer Indonesia, karya ini berdiri sebagai pengingat bahwa seni memiliki peran penting: bukan hanya untuk dinikmati, tetapi untuk menggugah kesadaran, membuka percakapan, dan menantang cara kita memahami diri sendiri dan dunia. (*)
(boleh beli lukisan ini)

0 Komentar
Lingkar literasi, sastra, dan seni budaya Asia Tenggara serumpun Bahasa.