005

header ads

Kota Madiun Menyibak Tenunan Kata yang Dirindukan Jiwa

 

Kota Madiun Menyibak Tenunan Kata yang Dirindukan Jiwa

oleh Fileski W Tanjung 

Sabtu malam, 14 Februari 2026, pukul 19.00 WIB, di I-Club, Jalan Bali Nomor 17, Kota Madiun, sebuah peristiwa kecil namun penting sedang berlangsung. Komunitas Rusa Terbang Project, dengan produser Dwi Kartika Rahayu, menggelar diskusi bertajuk Bedah Karya Sastra Alih Wahana Seni Rupa: Menyibak Tenunan Kata. Prosa saya, “Perempuan yang Datang Ketika Hujan”, yang pernah dimuat di Suara Merdeka, menjadi pintu masuk percakapan. Namun sesungguhnya yang dibedah malam itu bukan hanya teks, melainkan kesadaran kita sebagai warga kota yang terlalu lama membiarkan ruang intelektualnya lengang.

Diskusi ini lahir dari keresahan. Di Madiun, kota yang gemar mengusung jargon “mendunia”, percakapan tentang karya kerap kalah nyaring oleh kabar-kabar politik yang remeh dan cenderung voyeuristik. Energi publik habis untuk membicarakan selingkuhan pejabat, aib personal, dan gosip yang tak menyentuh kebermanfaatan sosial. Para kreator, akademisi, dan seniman pun, tanpa sadar, ikut terseret arus. Kita lebih sibuk menjadi komentator peristiwa daripada penafsir makna.

Padahal, kota-kota yang benar-benar mendunia justru berdiri di atas tradisi dialog kebudayaan yang kuat. Paris tak bisa dilepaskan dari kafe-kafe tempat sastrawan dan filsuf berdebat. Yogyakarta hidup oleh denyut diskusi seni yang hampir tak pernah padam. New York City menjadi pusat dunia bukan hanya karena finansialnya, tetapi karena galeri, teater, dan ruang-ruang kritiknya. Berlin membangun reputasi globalnya melalui festival, pameran, dan forum intelektual yang konsisten. Kota-kota itu memahami satu hal: kebudayaan bukan dekorasi, melainkan fondasi.

Madiun memiliki banyak komunitas seperti KOSAMARA, JKM, Gusdurian, Epicentro, dan lainnya. Namun intensitas dialog masih terasa jarang. Rusa Terbang Project mencoba mengisi celah itu. Komitmen untuk rutin menggelar diskusi dan bedah karya adalah ikhtiar sederhana, tetapi strategis. Sebab kebudayaan tidak tumbuh dari seremoni besar yang sesekali, melainkan dari percakapan kecil yang berulang.

Shal Shalihah, seniman muda yang baru menyelesaikan studi S2 kuratorial kajian seni rupa di UGM, menguliti prosa saya dengan ketelitian akademik. Beberapa halaman analisisnya dibagikan kepada hadirin. Saya merasakan sebuah kemewahan intelektual: karya saya dibaca dengan sungguh-sungguh. Ia menafsir metafora hujan bukan sekadar latar, melainkan simbol purifikasi dan repetisi trauma. Ia membaca perempuan dalam teks sebagai figur liminal, hadir di antara harapan dan kehilangan. Saya menanggapi, ia mengajukan pertanyaan lanjutan, dan forum pun menghangat.

Diskusi semakin kaya dengan kehadiran Dwi Aji Prajoko, Titus Tri Wibowo, Dwi Handayani, Ustad Yusuf Ahmad, Lintang Laili, Alfina Zalfa, serta Bayu Sanjoyo selaku wakil ketua dewan kesenian kota. Kehadiran wakil ketua DKKM Bayu Sanjoyo terasa seperti angin segar. Selama ini, tembok birokrasi dan komunitas sering terasa terpisah. Malam itu, jarak itu mencair. Dewan kesenian membaur, urun rembug, mendengar dan didengar. Sinergi semacam ini adalah syarat minimal bagi kota yang ingin berperadaban maju.

Saya meyakini bahwa sastra adalah ruang refleksi kemanusiaan. Ia bukan sekadar hiburan estetis, melainkan laboratorium empati. Di dalamnya kita berlatih menjadi manusia seutuhnya. Hannah Arendt pernah mengingatkan, “Keadaan paling radikal dari kejahatan bukanlah kebencian, melainkan ketidakmampuan untuk berpikir.” Ketika masyarakat berhenti berpikir secara mendalam, ketika kita tak lagi mau merenungkan makna, di situlah banalitas tumbuh. Diskusi sastra adalah latihan berpikir. Ia menunda kesimpulan, merawat keraguan, dan membuka kemungkinan tafsir.

Sebagai pendidik SMA, saya baru saja mengikuti workshop Direktorat SMA Kemendikdasmen yang gencar mengarusutamakan STEM: sains, teknologi, engineering, dan matematika. Saya sempat bersuara. Mengapa rekan-rekan pendidik hanya berfokus pada STEM, bukankah seharusnya STEAM? Bukankah dalam pidato pembukaan dari Direktur SMA disebutkan STEAM, bukan hanya STEM, ada unsur A, art? Kita ingin meningkatkan literasi bangsa, melatih problem solving, dan menjawab tantangan zaman. Itu penting. Namun jika hanya STEM, kita berisiko mencetak generasi yang cakap menyelesaikan soal, tetapi gagap merasakan luka orang lain.

Martha Nussbaum menulis bahwa pendidikan humaniora penting karena melatih imajinasi naratif, kemampuan untuk membayangkan kehidupan orang lain. Ia mengatakan, “Tanpa imajinasi simpatik, kita tidak dapat melihat dunia dari sudut pandang orang lain.” Jika sekolah hanya mengasah logika teknis tanpa estetika dan empati, kita mungkin menghasilkan banyak insinyur, tetapi sedikit manusia bijak. Padahal problem terbesar hari ini bukan kurangnya undang-undang, melainkan keserakahan dan tumpulnya nurani.

Diskusi seni seperti malam ini menjadi koreksi kecil terhadap arah zaman yang terlalu utilitarian. Kita diingatkan bahwa hidup bukan sekadar efisiensi, melainkan makna. Bahwa kota bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga infrastruktur batin. Bahwa literasi bukan hanya kemampuan membaca data, tetapi juga membaca kemanusiaan. 

Saya membayangkan jika setiap minggu di Madiun ada forum bedah karya, dialog budaya, atau kajian seni. Para pelajar bisa datang, mendengar perdebatan, melihat bahwa gagasan diperlakukan serius. Mereka belajar bahwa berbeda pendapat bukan ancaman, melainkan kekayaan. Dari ruang-ruang kecil itu, karya-karya besar lahir. Dari percakapan sederhana, peradaban tumbuh.

Rusa Terbang Project telah memulai. Tugas kita adalah menjaga konsistensi. Sebab peradaban tidak dibangun oleh satu malam diskusi, tetapi oleh keberanian untuk terus berdialog meski audiens tak selalu penuh. Jika proses ini dirawat, saya percaya akan lahir sastrawan, perupa, pemikir dari Madiun yang benar-benar membawa kota ini mendunia, bukan karena slogan, tetapi karena kualitas karya dan kedalaman gagasan.

Ketika diskusi usai dan kursi-kursi mulai dirapikan, saya menyadari sesuatu: yang kita rayakan bukan ego penulis, melainkan keberanian kolektif untuk kembali membicarakan karya. Kita sedang belajar menenun kembali jiwa kota. Hujan dalam prosa saya mungkin berhenti, tetapi percakapan tak boleh berhenti.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Madiun bisa mendunia. Pertanyaannya adalah: apakah kita bersedia menyediakan ruang bagi pikiran untuk bertumbuh dan bagi hati untuk dilembutkan? Apakah kita mau meluangkan waktu dari hiruk-pikuk gosip dan sensasi untuk duduk, membaca, dan berdialog? Jika kesenian adalah cermin, beranikah kita menatap wajah kita sendiri di dalamnya? Dan ketika kita menemukan retak-retak kemanusiaan di sana, apakah kita akan menambalnya bersama, atau membiarkannya pecah?

Barangkali masa depan kota ini tidak ditentukan oleh seberapa tinggi gedungnya, melainkan oleh seberapa dalam percakapannya. Jika kita sungguh ingin membangun Madiun, mari kita bangun juga jiwanya. Sebab kota yang besar bukanlah kota yang ramai, melainkan kota yang berpikir. (*) 



Posting Komentar

0 Komentar