005

header ads

SLB Negeri Jombang: Puisi Mengajarkan Arti Menjadi Manusia Seutuhnya

 

SLB Negeri Jombang: Puisi Mengajarkan Arti Menjadi Manusia Seutuhnya

oleh Fileski W Tanjung 

Di sebuah ruang kelas SLB Negeri Jombang, pada Selasa pagi 10 Februari 2026, puisi tidak lagi sekadar teks sastra. Ia menjelma peristiwa kemanusiaan. Ujian praktik membaca puisi dan menulis puisi di sana bukan hanya instrumen evaluasi kurikulum, melainkan penanda bahwa pendidikan, pada bentuknya yang paling hakiki, adalah usaha memulihkan martabat manusia. Saya menyaksikan bagaimana karya sastra yang saya tulis menemukan hidupnya sendiri, bukan di panggung-panggung megah, tetapi di suara Raissa Evannia Khairunnisa yang membacakan “Musim Yang Selalu Kembali”, dan di ketukan sunyi Yongki Drajat Utomo yang menulis puisi melalui teknologi suara.

Dalam wacana pendidikan arus utama, murid SLB sering direduksi menjadi angka, kategori, atau keterbatasan. Padahal, justru di ruang-ruang inilah makna belajar tampil paling jujur. Ketika Raissa, murid tunagrahita dan tunadaksa, membacakan puisi tentang guru, yang terjadi bukan sekadar pelafalan bait. Ia sedang menegaskan bahwa bahasa adalah milik semua manusia, bukan hak istimewa mereka yang dianggap “normal”. Pernyataan guru pembimbing bahwa pembacaan puisi melatih literasi melalui pengulangan mengingatkan kita bahwa belajar bukan soal kecepatan, melainkan keberlanjutan. Dalam pengulangan itu, tumbuh keberanian, dan dari keberanian lahir makna.

Kepala SLB Negeri Jombang Deny Setiyawati, S.Pd menafsirkan puisi tersebut sebagai kisah tentang kesabaran guru dan siklus kehidupan yang tak selalu berada di atas. Tafsir ini penting, sebab ia menunjukkan bahwa sastra bekerja efektif justru ketika ia dekat dengan pengalaman konkret. Kata-kata yang sederhana, yang sering diremehkan dalam estetika sastra elitis, ternyata justru menjadi jembatan pemahaman bagi murid. Di sini saya belajar bahwa kejelasan bukan musuh kedalaman. Puisi tidak harus gelap untuk menjadi bermakna; ia cukup jujur.

Ujian praktik TIK yang dijalani Yongki membuka lapisan refleksi lain. Dengan bantuan fitur Talk Back di Microsoft Word, hambatan penglihatan tidak lagi menjadi tembok, melainkan tantangan yang bisa dinegosiasikan. Teknologi, yang sering dipuja sebagai simbol kemajuan abstrak, di ruang ini hadir sebagai alat etis. Ia memungkinkan suara menjadi teks, perasaan menjadi dokumen, dan pengalaman menjadi arsip bermakna. Ketika Yongki menekan tombol Save, ia tidak hanya menyimpan file, tetapi mengafirmasi haknya untuk berkarya.

Filsuf Martin Heidegger pernah mengingatkan, “Hakikat teknologi bukanlah sesuatu yang teknis” (Hakikat teknologi bukan sekadar alat, melainkan cara manusia menyingkap dunia). Dalam konteks ini, teknologi tidak berdiri netral. Ia berpihak. Pertanyaannya selalu: berpihak pada siapa? Di tangan guru seperti Bu Leny Dianita, teknologi berpihak pada kemanusiaan. Bimbingan yang lembut, koreksi yang menghargai, dan kepercayaan bahwa karya Yongky layak disajikan dengan rapi, semuanya menegaskan bahwa pendidikan sejati selalu mengandung relasi etis.

Paulo Freire menulis, “Pendidikan sejati adalah praksis: refleksi dan tindakan manusia atas dunia untuk mengubahnya.” Apa yang terjadi di SLB Negeri Jombang adalah praksis dalam bentuk paling sunyi namun revolusioner. Tidak ada slogan besar, bukan di panggung megah. Yang ada hanyalah guru, murid, puisi, dan keyakinan bahwa setiap manusia mampu memahami dan dipahami. Dalam dunia yang terobsesi pada hasil instan, mereka memilih kesabaran. Dalam sistem yang gemar menyeragamkan, mereka merayakan keunikan.

Esai ini bukan perayaan diri saya sebagai penulis, melainkan perayaan perjumpaan. Puisi saya hanyalah medium; maknanya lahir dari suara Raissa dan ketekunan Yongky. Dari mereka, saya belajar bahwa sastra dan teknologi bukan tujuan akhir, melainkan jalan untuk menegaskan keberadaan. Barangkali, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi apakah murid SLB mampu mengikuti standar pendidikan, melainkan apakah standar pendidikan kita cukup manusiawi untuk mengakui mereka sepenuhnya.

Jika puisi dapat hidup di ruang ujian, jika teknologi dapat menjadi cahaya yang tak memadamkan kehangatan guru, maka apa alasan kita untuk terus memisahkan kecerdasan dari empati? Dan dalam kehidupan kita masing-masing, sudahkah kita memberi ruang bagi suara-suara yang selama ini terlalu pelan untuk didengar, padahal di sanalah sering tersembunyi pelajaran paling jujur tentang arti menjadi manusia.

Berikut dua puisi Fileski Walidha Tanjung yang dijadikan materi ujian di SLB Negeri Jombang: 


MUSIM YANG SELALU KEMBALI

Kau adalah musim

yang selalu kembali

meski kalender dunia selalu berubah. 

Di jiwamu,

pelajaran bukan sekadar ilmu,

tetapi doa yang disisipkan

ke dalam ruang-ruang kosong 

dalam hati kami.

Ketulusanmu adalah mata air: 

pengabdianmu adalah sungai yang tak pernah kering 

mengantar kehidupan 

Kau hadir

ketika kami belum tahu arah melangkah;

kau sabar

ketika kami salah mengeja dunia.

Engkau menghadirkan energi,

mengajak kami menapak lebih jauh

dijalan pengetahuan. 

Guruku, 

di pundakmu Indonesia bertumpu;

di tanganmu Indonesia dibentuk;

di jiwamu Indonesia bertumbuh.



NAMA-NAMA GURUKU

Di balik setiap kemajuan negeri,

selalu ada nama seorang guru

yang bekerja dalam sunyi.

berdiri 1945—

dan sejak itu,

ribuan ruang kelas menjadi ladang

tempat cahaya disemai.

Kau bangun kemandirian kami 

seperti petani membangun lumbung;

kau kukuhkan karakter kami

seperti para penempa baja.

Hati emas itu berdegup,

sosok yang berdiri teguh,

buku terbuka menanti masa depan.

Semua adalah cermin darimu—

yang ingin bangsa ini maju, 

kami melihat makna dedikasi;

menunduk pada keteguhan profesi.

Engkaulah tiang,

engkaulah akar,

engkaulah pagi

yang membuat negeri 

tak pernah kekeringan mimpi. 

Fileski Walidha Tanjung adalah penyair kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi di berbagai media nasional. Buku puisi terbarunya berjudul “Diksi Emas”. Sehari-hari mengajar seni budaya di SMA Negeri 2 Madiun. 





Posting Komentar

0 Komentar