Puisi Eko Windarto - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis cerpen atau puisi untuk memperebutkan Anugerah Kesaktian Pancasila. Deadline 1 Oktober 2022 | Kirim ke email nkertas@gmail.com

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

30 Mar 2022

Puisi Eko Windarto

 Tadi sekitar pk.4 sore tgl. 4 Desembe 2021 gunung Semeru meletus.

 

GUNUNG SEMERU

 

aku kira kabut pekat Semeru menggenangi matamu

debu-debu kecil dan runcing berserakan di sawah jiwaku

 

senja terasa mengubah wajahku

sebab magma adalah rindu disimpan waktu

 

angin tak bisa diprediksi dan tak mau tahu

saat aku berguru pada letusan waktu

yang tak pernah berontak di dalam hatiku

 

kedalaman lautmu tak bisa dipungkiri begitu saja

manusia harusnya membaca

dari arah mana gempa tak disangka-sangka

 

sebab akibat adalah pemicunya

rupanya ingatan kita telah dikutuk sajak cinta

yang lama telah dilupakan para dewa

hingga tsunami bercerita dalam bahasaku yang penuh tanya

 

Batu, 4122021

 

DI SINI

 

di sini, pertarungan agama-agama mengundang pedang

merupakan bayang-bayang yang kau tebang

 

di sini, tujuan hidup kau tutup dengan dalil-dalil panjang mengambang

sebelum mengenal tembang surga yang kau jelang

 

di sini, pengembara bahasa sibuta meraba-raba

mencari kemenangan rasa yang tak kunjung tiba

 

di sini, kekalahan dan luka

menjadi puisi pusat upacara muara sukma

 

hitam putih menjadi kebutaan sehari-hari

sebagai tradisi melupakan hati sendiri

 

wahai... terang mentari mayang

sirnakan kebutaan, sirnakan kegelapan, dari langit hati yang paling gamang

 

Batu, 29122017

 

SAJAK SAJAKKU

 

lantaran sajak-sajakku seperti sayap kupu-kupu

mengitari harum putik bungamu

aku bayangkan embun melukis tekstur daun-daun itu

tiba-tiba saja angin bersiul menguntit gerak langkahku yang biru

mengulum selapis bibir di batinku

 

Batu, 532022

 

DI JALAN PELABUHAN KETAPANG

 

Pribumi pilu

Perusahaan dipegang asing 

Anak-anak logam tenggelam

 

Di dasar lautan tempat makan

Para dewa didaulatkan setan

 

Masyarakat selalu dikalahkan politik dan hukum

Masa depan dipamerkan di tepi jalan

 

Perempuan-perempuan jalang

Membisikkan harapan panjang

 

Bir dan karaoke

Menjanjikan surga

 

Udara dingin lautan

Melintas di antara hujan kepedihan

 

Kemapanan dan parfum perempuan asing

Sibuk menghitung tali pinggang

 

Hidup yang paling aktual dan mencekam adalah soal moral dan agama

Yang diberi makan dusta

 

Doktrin-doktrin membatu

Dogma dan agama berwajah kaku

 

Hingga kepastian tekhnologi dijadikan robot dalam pikirannya

Sebelum mengetahui hak hidupnya yang diternakkan jiwanya

 

Bali, 2622020

 

RINDU 1

 

Di dalam kidung sunyi 

Ada sebuah hati menanti

 

Pada bait pagi

Kutemukan rindu tanpa tedeng aling aling lagi

 

2

 

Oh... Rindu jangan lari

Sebab bunting iri dengki tiada lagi

 

3

 

Lihatlah di depan itu

Cinta sejati menanti di dalam akar rindumu

 

Batu, 2522022

 

 

 

Eko Windarto

Lahir 23.4.1962 di Malang.

Tinggal di jln. Melati 25. RT. 33. RW. 08. Sekarputih. Pendem. Kec. Junrejo. Kota Batu. Jawa Timur.

Mulai menulis puisi 1980 an.

Masuk buku SEJARAH KRONIK SASTRA INDONESIA DI Malang yang di tulis prof. Suripan Sadi Hutomo. 1994. Masuk pusat dokumentasi SASTRA MALANG bersama almarhum WAHYU PRASETYO. Kumpulan puisinya: PERJALANAN 1989. KEMBANG KEMBAR bersama Surasono Rashar penyair sufi dari Lumajang, NYIUR MELAMBAI 2019. Juara 1 cipta puisi di Singapura 2017, serta sering mendapatkan juara 1 dibeberapa grup SASTRA Indonesia. Dan beberapa kumpulan puisi bersama: TANKA INDONESIA, 1000 HAIKU, HAIKU MELAWAN KORUPSI, PMK, TEMBANG AKSARA Antologi Sahabat DUNIA AKSARA, 1000 PUISI, dan lain-lain. Dan tahun 2021 mendapatkan ANUGERAH SASTRA NAGARI dari LUMBUNG SASTRAWAN INDONESIA. WA. 085964247913





 

INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa puisi/cerpen/artikel + biodata narasi + foto penulis atau gambar ilustrasi, semuanya dalam satu lampiran MS Word. Kirim ke email nkertas@gmail.com