005

header ads

Raja Rimba: Tubuh Kuasa, Akar Sejarah, dan Etika Pengayoman

 

Raja Rimba: Tubuh Kuasa, Akar Sejarah, dan Etika Pengayoman

oleh Fileski Walidha Tanjung

Patung Raja Rimba karya Hadi Sisanto hadir sebagai sebuah pernyataan visual yang tegas sekaligus reflektif. Dibentuk dari akar jati solid—material yang secara alamiah telah menyimpan jejak waktu, cuaca, dan kehidupan—karya ini menampilkan figur singa dengan skala monumental. Panjang tubuh mencapai 220 sentimeter, lebar 100 sentimeter, dan tinggi 165 sentimeter, menghadirkan kehadiran fisik yang tidak mungkin diabaikan. Namun kekuatan karya ini tidak berhenti pada impresi visual tentang keperkasaan semata. Di balik gestur tubuh, tekstur kayu, dan ekspresi figuratifnya, Raja Rimba mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana kita memaknai kuasa, tanggung jawab, dan simbol-simbol yang selama ini kita warisi tanpa pernah benar-benar kita tanyakan kembali.

Singa, sebagai subjek utama, sejak lama dikenal dalam sejarah manusia sebagai simbol kekuatan, keberanian, dan dominasi. Dalam berbagai kebudayaan—dari mitologi Timur Tengah, ikonografi Eropa, hingga tradisi Asia Selatan—singa kerap diasosiasikan dengan raja, penjaga gerbang, atau pelindung nilai-nilai luhur. Yang menarik, dalam konteks Indonesia, singa bukanlah hewan endemik. Ia tidak hidup secara alami di hutan-hutan Nusantara. Namun kata “singa” justru berulang kali muncul dalam penamaan kota, institusi, lambang kekuasaan, hingga narasi kepahlawanan. Fenomena inilah yang disentuh Hadi Sisanto: sebuah jarak antara realitas ekologis dan konstruksi simbolik, antara apa yang kita miliki secara nyata dan apa yang kita adopsi secara imajiner.

Melalui Raja Rimba, Hadi tidak sekadar menghadirkan singa sebagai ikon kegarangan. Ia memahat tubuh yang tampak kokoh namun tidak liar secara berlebihan. Ada kesan tertahan, seolah energi besar itu dikendalikan oleh kesadaran akan peran. Inilah titik penting gagasan karya ini: kekuatan selalu datang bersama beban tanggung jawab. Singa dalam karya ini bukan predator yang sedang menerkam, melainkan figur penjaga—sebuah metafora tentang kepemimpinan yang ideal, yang tidak hanya berkuasa, tetapi juga mengayomi. Dalam konteks sosial hari ini, ketika representasi kuasa sering kali tereduksi menjadi dominasi tanpa empati, patung ini menjadi semacam cermin kritis.

Pilihan material akar jati solid memperkuat lapisan makna tersebut. Akar bukan bagian pohon yang tampak di permukaan; ia tersembunyi, bekerja dalam diam, menopang kehidupan di atasnya. Jati, sebagai kayu yang dikenal kuat dan tahan lama, telah lama diasosiasikan dengan keteguhan dan keabadian. Dengan memanfaatkan akar jati, Hadi seakan menggeser fokus dari batang yang menjulang—simbol keagungan yang kasatmata—ke struktur dasar yang menopang. Ini dapat dibaca sebagai kritik halus terhadap cara kita memandang kepemimpinan dan kekuasaan: yang paling menentukan justru sering kali tidak terlihat, bekerja di bawah permukaan, dan membutuhkan kesabaran serta ketekunan.

Secara estetika, Raja Rimba memanfaatkan karakter alami kayu secara maksimal. Lekuk akar yang tidak sepenuhnya simetris dibiarkan berbicara, menciptakan tekstur organik yang menyatu dengan bentuk tubuh singa. Permukaan yang tidak sepenuhnya halus menghadirkan kesan hidup, seolah patung ini tumbuh, bukan sekadar dibentuk. Di sini, praktik seni Hadi menunjukkan kedekatan dengan tradisi kriya dan patung Nusantara yang menghargai dialog antara seniman dan material. Kayu tidak dipaksa tunduk sepenuhnya pada kehendak pembuatnya, melainkan diajak bernegosiasi, sehingga bentuk akhir merupakan hasil pertemuan antara niat artistik dan karakter alamiah bahan.

Dalam kerangka historis seni rupa Indonesia, karya ini dapat dibaca sebagai bagian dari kecenderungan seniman kontemporer yang kembali menggali simbol-simbol tradisional dan material lokal, namun dengan pendekatan kritis. Alih-alih mengulang simbol secara dekoratif, Hadi justru mempertanyakan relevansinya. Mengapa singa, dan bukan harimau atau macan—hewan yang secara ekologis lebih dekat dengan Indonesia—yang sering dijadikan lambang kekuasaan? Pertanyaan ini membuka ruang diskusi tentang warisan kolonial, pengaruh budaya luar, dan bagaimana simbol-simbol tersebut terinternalisasi dalam kesadaran kolektif kita.

Isu ini menjadi semakin relevan dalam situasi kekinian, ketika identitas budaya kerap dinegosiasikan ulang di tengah arus globalisasi. Kita hidup di era di mana simbol mudah diadopsi, direproduksi, dan disebarluaskan tanpa konteks. Raja Rimba mengingatkan bahwa simbol bukan sekadar bentuk visual; ia membawa sejarah, ideologi, dan nilai tertentu. Dengan menghadirkan singa dari akar jati—material yang sangat lokal—Hadi menciptakan ketegangan produktif antara yang asing dan yang akrab, antara simbol impor dan tanah tempat ia “ditanam”.

Patung ini juga dapat dibaca sebagai refleksi ekologis. Di tengah krisis lingkungan dan deforestasi, penggunaan akar jati mengingatkan kita pada hubungan manusia dengan alam. Akar adalah sisa, bagian yang sering terabaikan atau dianggap limbah setelah pohon ditebang. Dengan mengangkatnya menjadi karya seni monumental, Hadi memberi nilai baru pada apa yang tersisa, sekaligus mengajak kita merenungkan harga yang harus dibayar atas eksploitasi alam. Singa sebagai “raja rimba” di sini bukan hanya penguasa hutan, tetapi juga saksi bisu atas perubahan lanskap ekologis yang kian rapuh.

Konteks waktu penciptaan karya ini—digarap sejak 2019 dan selesai pada 2020—juga penting. Periode tersebut menandai masa transisi global yang penuh ketidakpastian, ketika wacana tentang kepemimpinan, krisis, dan tanggung jawab sosial mengemuka secara intens. Dalam situasi seperti itu, Raja Rimba dapat dibaca sebagai ajakan untuk meninjau ulang model kepemimpinan yang kita bayangkan dan kita harapkan: bukan yang mengandalkan kegarangan semata, tetapi yang berakar kuat pada etika pengayoman.

Keberadaan karya ini dalam koleksi Luther Krisna Teguh menambah lapisan narasi tentang relasi antara karya seni, kolektor, dan ruang sosialnya. Patung ini tidak berhenti sebagai objek estetik, melainkan berlanjut sebagai medium dialog di ruang privat maupun publik, tergantung bagaimana ia ditempatkan dan dibicarakan. Di sinilah fungsi kuratorial menjadi penting: membuka kemungkinan pembacaan yang beragam, tanpa menutupnya dalam satu tafsir tunggal.

Pada akhirnya, Raja Rimba adalah karya yang berbicara tentang paradoks kuasa. Ia menampilkan kekuatan dalam wujud paling nyata, namun sekaligus mengingatkan bahwa kekuatan sejati selalu berakar pada tanggung jawab dan kesadaran akan yang lain. Melalui bahasa material yang jujur dan simbol yang akrab namun dipertanyakan ulang, Hadi Sisanto menghadirkan patung yang tidak hanya layak dipandang, tetapi juga direnungkan. Karya ini mengundang kita untuk tidak sekadar mengagumi “raja”, melainkan bertanya: raja seperti apa yang kita butuhkan hari ini, dan dari akar nilai apa ia seharusnya tumbuh.

Posting Komentar

0 Komentar