005

header ads

Sebuah Upaya Mengembalikan Hati ke Pusat Peradaban

Sebuah Upaya Mengembalikan Hati ke Pusat Peradaban

oleh Fileski Walidha Tanjung 

Perbincangan saya dengan seseorang yang saya sebut kang mas ustad bermula dari satu pertanyaan sederhana: apa kegelisahan terbesar hari ini? Ia tidak menjawab dengan data statistik, tidak pula dengan teori konspirasi. Ia menjawab dengan lirih, “Hati manusia sedang retak.” Retak itu tidak terdengar, tetapi terasa. Ia menjalar dari ruang keluarga, ke ruang kelas, hingga ke ruang-ruang kekuasaan. Kita hidup dalam zaman yang tampak maju secara teknologi, namun menyusut secara batin. Hubungan antarmanusia terasa seperti protokol: sopan, tetapi kosong; formal, tetapi tanpa simpati.

Fenomena ini bukan sekadar keluhan moral. Ia memiliki akar filosofis dan sosiologis. Erich Fromm pernah mengingatkan dalam To Have or To Be? bahwa manusia modern terjebak dalam orientasi “memiliki” alih-alih “menjadi”. Ia menulis, “Jika aku adalah apa yang aku miliki, dan apa yang aku miliki hilang, siapakah aku?” Pertanyaan itu menggetarkan. Ketika nilai diri ditentukan oleh kepemilikan material, maka relasi antar manusia berubah menjadi transaksi. Orang tidak lagi hadir sebagai jiwa, tetapi sebagai fungsi.

Orientasi materialistik yang berlebihan, sebagaimana juga dikritik oleh Max Weber dalam analisisnya tentang rasionalitas modern, melahirkan “sangkar besi” rasionalitas instrumental. Segala sesuatu diukur oleh efisiensi dan keuntungan, termasuk hubungan antarmanusia. Dalam keluarga, suami dan istri lebih intim dengan layar telepon genggam daripada dengan tatapan mata satu sama lain. Anak dan orang tua duduk dalam satu ruang, tetapi terpisah oleh dunia yang tak kasatmata. Di sekolah, guru dan murid terjebak dalam kurikulum administratif; relasi pedagogis kehilangan sentuhan kehangatan. Pendidikan menjadi distribusi informasi, bukan transmisi kebijaksanaan.

Padahal Aristoteles dalam Etika Nikomakea menegaskan bahwa tujuan hidup manusia adalah eudaimonia, kebahagiaan yang bermakna, yang hanya tercapai melalui kebajikan dan relasi yang baik. “Manusia adalah makhluk yang secara kodrati hidup dalam polis,” tulisnya. Polis di sini bukan sekadar negara, melainkan ruang kebersamaan yang hidup. Tanpa kebersamaan yang berlandaskan kebajikan, manusia kehilangan konteks untuk bertumbuh.

Keretakan hati ini juga terasa dalam relasi antara rakyat dan pemerintah. Ada jarak emosional yang menganga. Rakyat merasa tidak memiliki ikatan batin dengan pemimpinnya. Ketika kepercayaan menguap, daya juang pun melemah. Bahasa pemimpin terdengar formal dan legalistik, tetapi kehilangan daya sentuh. Ia terdengar seperti pernyataan pers, bukan seperti suara nurani.

Dalam tradisi klasik Islam, Al-Farabi menyebut pemimpin ideal sebagai al-ra’is al-fadil, pemimpin utama yang memimpin bukan hanya dengan regulasi, tetapi dengan kebijaksanaan dan keteladanan moral. Kekuasaan tidak sekadar administrasi, melainkan amanah etis. Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menegaskan bahwa kekuasaan yang bertahan adalah kekuasaan yang bertumpu pada asabiyyah, solidaritas sosial yang hidup. Tanpa solidaritas, negara akan rapuh oleh kerakusan internalnya sendiri.

Hubungan yang adil antara penguasa dan rakyat bukanlah relasi paternalistik, melainkan relasi partisipatif. Rakyat pada dasarnya siap menanggung kesulitan, asalkan kesulitan itu dipikul bersama. Sejarah menunjukkan bahwa masyarakat sanggup bertahan dalam krisis ketika merasakan keadilan distribusi beban. Ketimpangan yang ekstrem bukan hanya masalah ekonomi, melainkan masalah psikologis dan moral. Ketika pejabat yang mengatur regulasi hidup dalam kemewahan yang kontras dengan rakyat pembayar pajak, yang terkoyak bukan hanya rasa keadilan, tetapi juga rasa memiliki terhadap negara.

Montesquieu pernah menulis, “Ketika kebajikan hilang, republik runtuh.” Kebajikan di sini bukan moralitas privat semata, melainkan integritas publik. Kerakusan dan keserakahan adalah racun sistemik. Ia merusak kepercayaan, memicu sinisme, dan melahirkan budaya saling curiga. Dalam masyarakat yang dipenuhi kecurigaan, kolaborasi menjadi mustahil.

Kang mas ustad sempat mengatakan, bahwa manusia sejatinya diciptakan untuk menjadi rahmat bagi sekitarnya. Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung visi antropologis yang kuat. Manusia bukan pusat eksploitasi, melainkan pusat pemeliharaan. Dalam kerangka ini, kebahagiaan tidak ditemukan dalam akumulasi, tetapi dalam kontribusi. Viktor Frankl, seorang psikiater eksistensialis, pernah berkata, “Kebahagiaan tidak dapat dikejar; ia harus muncul sebagai efek samping dari dedikasi kepada tujuan yang lebih besar dari diri sendiri.” Ketika hidup hanya berputar pada kepentingan diri, ruang batin menyempit. Namun ketika hidup diarahkan untuk memberi makna bagi yang lain, jiwa menemukan keluasan.

Maka, krisis yang kita hadapi bukan semata krisis ekonomi atau politik, melainkan krisis makna. Kita membutuhkan rekonstruksi mental kolektif. Diskusi-diskusi publik harus dihidupkan kembali, bukan sebagai forum formalitas, tetapi sebagai ruang perjumpaan gagasan dan hati. Masyarakat perlu duduk bersama, mendengar, dan saling mengakui kerentanan. Tanpa dialog, prasangka tumbuh liar. Tanpa perjumpaan, empati mengering.

Dalam konteks kontemporer yang dibanjiri media sosial, keberanian untuk kembali pada percakapan tatap muka menjadi tindakan nyata yang signifikan. Kita perlu membangun kembali budaya saling memberi rasa aman dan nyaman dalam hidup bersama. Rasa aman bukan hanya soal keamanan fisik, tetapi keamanan psikologis: merasa dihargai, didengar, dan diperlakukan adil.

Kritik terhadap materialisme bukan berarti menolak kemajuan ekonomi. Ia adalah seruan untuk menempatkan materi pada posisi yang proporsional. Ekonomi harus menjadi sarana, bukan tujuan akhir. Negara harus menjadi ruang pelayanan, bukan panggung pamer kekuasaan. Keluarga harus menjadi sekolah kasih sayang, bukan sekadar tempat tinggal bersama. Sekolah harus menjadi taman jiwa, bukan pabrik nilai angka.

Pertanyaan yang tersisa bagi kita adalah: beranikah kita memulai dari diri sendiri? Apakah kita masih sanggup menatap mata orang terdekat tanpa terganggu notifikasi? Apakah pemimpin berani berbicara dengan bahasa yang jujur, bukan sekadar bahasa aman secara politik? Apakah rakyat bersedia membangun solidaritas, bukan hanya mengeluh dalam sunyi?

Mengembalikan hati ke pusat peradaban bukan proyek romantik, melainkan kebutuhan mendesak. Tanpa hati yang hidup, sistem secanggih apapun akan kehilangan ruh. Jika benar manusia diciptakan untuk menjadi rahmat, maka setiap tindakan kita seharusnya menambah cahaya, bukan mempertebal gelap. Mungkin di tengah dunia yang riuh oleh angka dan ambisi, revolusi paling sunyi namun paling dahsyat adalah revolusi hati. Dan barangkali, dari sanalah peradaban yang lebih adil dan penuh kasih dapat kembali tumbuh. (*)


Fileski Walidha Tanjung adalah penulis dan pendidik kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis esai, puisi, cerpen di berbagai media nasional. Masuk profil Undagi dari Balai Bahasa Jawa Timur tahun 2026.  


Posting Komentar

0 Komentar