Puisi Anam Mushthofa - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis cerpen atau puisi untuk memperebutkan Anugerah Kesaktian Pancasila. Deadline 1 Oktober 2022 | Kirim ke email nkertas@gmail.com

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

20 Des 2021

Puisi Anam Mushthofa

 November


Dua bulan lagi ganti kalender

Ganti nasib, ganti berganti doa.

Di Bulan November kau melihat artefak

Membentuk lingkaran menjaga angka satu

Waktu begitu deras 

Mengguyur nasib, membanjiri ketidakmampuan

Angka satu dikalender melihat matamu

Mengetuk ingatanmu, dan merogoh-rogoh isi dompet mu

Hanya ditemui lenggang nan sunyi

Pemilik kalender sudah satu bulan memberi keringanan

Bila tidak, kau akan diusir bersama hari dan bulan-bulan mendatang.

Dan kau begitu menunggu-nunggu keajaiban

Di bilik malam, menatap langit-langit rumah.

antara bulan dan gelap yang mulai tumbuh.

Angka-angka di kalender melepas diri

Menemanimu duduk, mengelus-elus punggung

Berbisik pelan "hidup mu tak akan berakhir hanya karena angka pada kalender"


Purwokerto, 2021.


Kontrakan


Tubuh perantau ambruk di kasur

Semuanya berbondong-bondong rebah.

Nasib, pegal, dan jajaran pengurus rindu 

Memporak porandakan kota kasur.

Sarung penuh jahitan sigap memeluk sepasang kaki,

Gerimis di luar jendela menjelma nada

Berguyur deras jadi irama.

Menyanyikan dengan sumbang

Lagu selamat tidur

Selamat rindu.


Purwokerto, 2021.


Darah


Aliran darah menjelma musafir

Berkelana ke seluruh tubuh

Menjamahi lekuk-lekuk daging

Menempuh jalan tersunyi.

"Siapa yang sudah membuat jalan layang, jalan tol di sekujur tubuh mu?"

Kendaraan darah melaju cepat, tanpa suasana macet.

Menuju kota asal

Kota ibu.


Brebes, 2021.


Dongeng Malam


Malam datang,

Selimut ibu senang bercerita tentang cita-citanya

Agar tak Kumal dan tak penuh jahitan.

Sejurus usaha sudah ditempuh, usia begitu rapuh.

Selimut ibu begitu kesal dan kecewa

Ketika tubuhnya dilipat, ditata rapi

Dan dilemparkan ke almari.

Selimut ibu akan bermuka masam

Bila malam-malam digantung sendirian menatap bulan.

Selimut ibu selalu segar mendongeng

Apapun akan di dongengkan supaya terasa hangat.

Selimut ibu akan berwajah ceria

Ketika kulit anaknya pulang

Adu dongeng dengannya.


Brebes, 2021

Telepon Rumah


Hujan dan malam sedang bertengkar di halaman.

Hujan berceloteh petir, malam tak segan mengirim gelap.

Aku di dalam jendela tak kuasa melihat langit menggigil 

Telepon ku bergetar,

Ketakutan melihat petir dan gelap bertengkar.

Ibu menelfon,

Mungkin ibu akan melerai pertengkaran ku dengan rindu.


Yogyakarta, 2021.


Pulang


Matahari telah pulang, 

Meninggalkan rona merah di kursi taman.

Tas dan buku hariannya tertinggal,

Mungkin saja catatan kepada siapa ia terbit atau untuk siapa ia tenggelam.

Aku benar-benar takut membukanya, rahasia terdalam.

Tas kecil berisi identitas, lipstik dan cermin.

Uangnya sedikit, mungkin sudah ia simpan di jurang atau laut.

Atau bisa disaku malam, aku hanya menebak.

Matahari telah pulang

Ia bisa saja kembali, tapi akankah datang juga ke kursi taman

Memberi lipstik pada bibirnya, saling bercermin dan menulis ceritanya.

Matahari telah pulang

Dan kenangan hanya selalu bersinar.


Purwokerto, 2021.


Sumpah Malam


"Telah aku ikrarkan

Gelap akan menjunjung tinggi tanah kesunyian

Bulan dan bintang akan berbicara kesunyian

Dan di kota malam kau tak akan sendirian"

"Bila bulan telah sempurna diatas kepala mu, ucapkan sumpah itu. Sekonyong-konyong ketakutan mu akan rontok, penjajahan dalam dirimu akan lari luntang lantung menabrak malam" kau bersurat dari kota malam.

Dan kau nasib, begitu arif.

Malam-malam yang akan datang,

Kita akan berevolusi dari birokrasi rindu yang payah.


Purwokerto, 2021.


Jendela Pagi


Matahari mulai bertamu

Mengetuk-ngetuk jendela, melukis di lantai kamar.

Aku jamu kata-kata semalam, masih ngantuk.

Kabut begitu tebal dilahan mata.

Sebenarnya apa perlunya kau bertamu ke kamar? 

Kau diam saja dan terus melukis dan melebar

Lalu melukis dimataku 

"Bangun"


Purwokerto, 2021.


Menggambar di langit


Cita-cita langit sederhana

Bila ditanya bulan dan bintang 

"Apa cita-cita mu?"

Ia akan melukis dirinya dengan semburat warna warni

Dan selalu bersolek diatas laut, serta malu-malu dibalik gunung.

Lalu bulan dan bintang akan menghiasi wajahnya

Cita-cita mu sederhana

"Yakni keindahan"


Brebes, 2021.


Kota waktu


Sudah seharian, kaki perantau keliling.

Berjalan pelan kadang ngebut kadang juga bingung.

Warung-warung di pojok detik sudah akrab mengenalnya

"Langganan, suka memesan bulan dan bintang pada malam hari".

Lama-lama kelamaan keliling mulai suka padanya,

Menemani, menggendong, kadang mengobatinya.

Dan sudah kebiasaan lampu-lampu di kota waktu

Mencium punggungnya, mengelus-elus ketika si perantau berjalan.

Sewaktu si perantau keliling dan keliling

Sebuah kertas tak sengaja mencium kakinya.

Tulisan alamat, aksara pulang.


Purwokerto, 2021.


Ramuan bulan


Saat gelap datang 

kau meramu tubuhnya dengan racikan rempah-rempah dari bulan, 

jiwanya sudah molek, raganya bertopeng rupawan, kau berniat kencan dengan malam.


Purwokerto, 2021.





Nama: Anam Mushthofa

Kelahiran: Brebes

No hp: 085759754419

Keterangan: hamba lokal, sedang menempuh pendidikan di universitas daerah Purwokerto.


INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa puisi/cerpen/artikel + biodata narasi + foto penulis atau gambar ilustrasi, semuanya dalam satu lampiran MS Word. Kirim ke email nkertas@gmail.com