MEMBUNUH SEBELUM TERBUNUH - negerikertas.com

INFO ATAS

LEMBAGA INDEPENDEN DI BIDANG PENDIDIKAN LITERASI, SENI BUDAYA, DAN SASTRA.

12 Agu 2023

MEMBUNUH SEBELUM TERBUNUH


Oleh: Pensil Kajoe
           

         Aku sedang berkontemplasi di malam yang belum terlalu larut. Mendengarkan suara-suara serangga dan entah apa saja di balik malam yang bisa kudengarkan.
            Mencoba bersenyawa dengan angin malam, hingga membuat badanku semakin panas. Apalagi tadi sore langit memandikanku dengan hujan derasnya.
            Aku tengah mengadili diriku sendri sebelum pengadilan Tuhan memutuskannya. Satu  persatu airmata bercucuran. Tiap-tiap butir kupahami, mungkin sebanyak itu dosaku, bahkan lebih.
            Dosa memang terlalu indah untuk dinikmati. Dosa sangat nikmat dari pada harus sibuk mengingatNya.
            Malam perlahan mulai larut, namun Tuhan belum juga tertidur. Dia masih mengawasiku. Bahkan ketika aku membunuh seekor nyamuk yang menghisap darah di lutut kananku. Malam ini, aku menjadi algojo bagi salah satu anggota keluarga nyamuk. Apakah mereka yang ditinggalkan menangis kehilangan? Aku tak tahu nyamuk yang baru kubunuh itu ayah, ibu, anak atau anggota keluarga lainnya.  Kalau yang kubunuh adalah ayah bagi anak nyamuk, itu artinya aku menyebabkan mereka menjadi anak yatim? Lalu, bagaimana dengan seekor nyamuk DBD yang berhasil membunuh puluhan bahkan ribuan manusia. Hanya dengan sekali gigitannya. Apa nyamuk itu juga akan merasa bersalah?
            Ah… sedemikian jauhkah lamunanku malam ini?
          
           Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba berdamai dengan kenakalan pikiranku. “Membunuh sebelum terbunuh, menembak sebelum tertembak,” Aku tak salah, kan? Sebelum nyamuk itu membunuhku, maka kubunuh saja dia. Namun, hal tersebut tak boleh diterapkan di duniaku, dunia umat manusia. Tetapi pada kenyataannya, tak sedikit manusia yang saling membunuh. Entah alasan apa, yang kutahu mereka kesusu (terburu-buru,pen) menuruti hawa nafsu.
                Oke terimakasih Tuhan, dalam gelap malam, lewat sepoi angin, bersama suara-suara malam aku temukan jalan terang. Berjalan di jalanMu.

Tumiyang, 08032016


PENSIL KAJOE, lahir di Banyumas 27 Januari. Tulisan-tulisannya sudah banyak tersebar di koran cetak dan online. Membukukan kurang lebih 20 buku antologi tunggal dan 80 antologi bersama. Saat ini menjadi penulis di Majalah Digital Bahasa Jawa, Belik, Yogyakarta.

No Shopee... 089651793079 
No WA: 085640896929








INFO BAWAH

NB: Untuk saat ini, Negeri Kertas belum bisa memberikan honor untuk karya (Puisi/Cerpen) yang tayang.