005

header ads

KOTA TUA YANG TAK BERHENTI BERNYANYI


Kota Tua itu tak Berhenti Bernyanyi;

di jabat erat setiap tubuh yang singgah

dari senyap sepinya

Doa-doa pendatang

Menggelar sajadah panjang

-Mengadu nasib-

di beton-beton tubuhmu yang lusuh

dikikis zaman, dirajah sejarah

Tubuhmu,

Mendekati senja

Sebelum waktunya tiba.

 

lampu-lampu jalanan

Ramai-ramai bercengkrama

Tentang hujan dan juga kejadian-kejadian setelahnya

Genangan, kenangan yang senantiasa diceritakan;

dari mulut ke mulut

dari waktu ke waktu

setelah hujan,

Kau basah,

tapi tergenang juga yang terkenang.

menyisakan cerita baru yang selalu kau nyanyikan

tentang kisah lama, saat kau menjadi sandaran segala

kepala-kepala yang lelah.

 

Perlahan.

Bisik-bisik dari mulut ke mulut,

Menulusuri jalan kecil di gang sempit di tanah lapang itu,

Terdengar seperti sebuah nyanyian tua

"Sudah waktunya, kota itu sudah terlalu renta dan pikun"

 

Kota Tua itu; tak berhenti bernyanyi;

Ia memilih diam,

Merenungi lampu-lampu jalanan yang semakin redup

"Sudah waktunya, kota ini berhenti bernyanyi"

lampu-lampu jalanan tertunduk

ia bersiap,

musim hujan basah juga di matanya

kenangan meluap-luap

Menjadi sejarah

hujan telah mengirimkan genangan ke rumah-rumah,

lengkap dengan kenangan beratus-ratus tahun lamanya.

 

Kota Tua itu terus bernyanyi;

di tubuhnya,

Waktu seolah beku dilahap peradaban,

-tubuhnya terjajah sejarah-

Diabaikan sebagai sebuah ritus!

 

Pamekasan, 27 Juni 2021

Posting Komentar

0 Komentar