Memories of Luna Oleh Kak Dicky - negerikertas.com

INFO ATAS

Lomba Cipta Puisi | DEADLINE 20 Februari 2023 | Apabila dalam 30 Hari, karya yang anda kirimkan di Negeri Kertas tidak dimuat, secara otomatis karya tersebut statusnya dikembalikan.

Jaringan Penulis dan Pembaca

Website Sastra dan Seni Budaya yang Terpercaya sejak 2015

25 Des 2022

Memories of Luna Oleh Kak Dicky

 Memories of  Luna

Oleh Kak Dicky

Beberapa Minggu lalu aku melihat Luna. Ia sekarang berbeda sekali dari lima tahun yang lalu. Dulu ia pernah kutolak karena di hatiku sudah terisi oleh Shanti. Lagi pula saat itu Shanti lebih menarik dan cantik ketimbang Luna. Tapi kenapa saat aku melihat Luna yang sudah lima tahun silam kulupakan ketika menunggu antrian membeli kopi di cafe. Saat aku melihat ke arahnya, entah kenapa membuat jantungku menjadi deg-degan tak karuan.

Kenapa baru ini aku mengalaminya dan merasakannya saat kembali melihat Luna?

Senja itu, aku ingin membeli kopi di café. Tidak sengaja kulihat di sana Luna bersama teman-temannya sedang satu meja pesanan. Kulihat ia sungguh sangat berbeda sekali. Apakah karena telah lama tidak jumpa atau ada hal lain dalam perasaan ini?

Sungguh sangat membuatku bingung. Tapi apa Luna masih ingat padaku?

“Sepertinya aku tidak asing  dengan wajahmu?” tanya Luna ketika dia menghampiriku.

Sial! Kenapa dia menghampiriku? Pikirku. Atau, jangan-jangan Luna masih mengenaliku!

“Kenapa, diam saja! Aku sedang berbicara denganmu, Tom?”

“I-iya, kita memang saling mengenal! Kau sekarang kelihatan sangat cantik,” jawabku dengan gugup

“Kau bisa saja! Aku masih sama seperti dulu kok! Bagaimana hubunganmu dengan Shanti pasti telah menikah ya,” pangkas Luna.

“Belum, kami telah putus karena Shanti ingin melanjutkan kuliahnya ke LA (baca : el-e),” jawabku.

“Bagaimana denganmu ? Apakah sudah menikah juga?” tanyaku.

“Aku juga belum menikah! Oya, tapi kenapa kau disini? Bukankah dulu kau tidak suka kopi,” Luna memastikan.

“Aku hanya ingin membelikan kopi untuk temanku. Itu dia temanku!” jawabku sambil mengarah pandang ke arah Gun.

Setelah lama berbincang dengan Luna membuat jantungku bertambah berdetak dan aku pun segera memberanikan diri untuk meminta nomor teleponnya agar nanti aku bisa menghubunginya. Hal ini membuatku sangat penasaran sekali dengan dirinya yang sangat berbeda dan cantik.

Tapi apakah aku harus menghubungi Luna ya, untuk mengajaknya bertemu kembali? Terus apakah ia masih sakit hati dengaku karena dulu pernah kutolak demi Shanti yang akhirnya meninggalkanku pula demi studinya itu. Aku harus berani untuk mengajaknya bertemu. Dengan segera kuhubungi Luna.

Singkat cerita, setelah aku menelepon Luna dan ajakanku pun di terimanya. Kami pun akhirnya telah sepakat bertemu di tempat cafe semula kami bertemu. Ini sungguh membuat perasaanku bahagia sekali dan aku berharap ini dapat memperbaiki kesalahanku di masa lalu padanya.

Sesaat setelah kami bertemu banyak sekali kami berbincang-bincang dan hal ini pun membuat aku merasakan hangatnya perhatian Luna yang dulu tidak pernah berubah padaku. Perlahan mungkin aku harus move on dari Shanti yang beberapa tahun terakhir ini sulitku untuk melupakannya dan Luna datang pada saat yang tepat sekali. Hingga aku harus membuka diri untuknya. Nanti malam aku akan memberinya kejutannya dan mencoba untuk menyatakan perasaanku ini.

Setelah Luna setuju dengan ajakanku nanti malam untuk bertemu di sebuah restoran yang terkenal di kota ini. Dan sangat membuatku bahagia sekali hingga tidak sabar untuk menyatakan cinta padanya.

Di malam harinya, aku sedang menunggu Luna di restoran ini dengan ruangan VIP yang aku pesan sangat spesial khusus untuk Luna. Akhirnya tidak lama kemudian Luna datang dengan gaun yang sangat indah sehingga membuat Luna sangat cantik sekali dan membuat mataku tidak berhenti menatapnya.

Tidak lama kemudian aku berbicara dengan Luna sekaligus menyatakan perasaanku untuknya. Tapi Luna hanya diam. Hal ini pun membuatku sangat gelisah apakah ia akan menolakku seperti dulu yang pernah aku lakukan di masa lalu.

Seharusnya aku tidak buru-buru mengatakan ini! Kata hati kecilku.

“Apa kau masih mau menerima cintaku?”

Aku mencoba memberanikan diri sekaligus meyakinkan Luna kembali.

Dan…, astaga tanpa kusangka ternyata Luna mau menerima cintaku kembali.

“Aku tidak mimpikan ini, Tom? Tapi apakah kau benar-benar mencintaiku segenap hatimu?”

Luna pun meyakinku. Apakah aku sudah move on dari Shanti? Hal ini pun justru membuatku menjadi terkejut dan aku mencoba meyakinkan Luna. Bahwa aku telah melupakannya setelah bertemu dengannya kembali.

“Tidak! Ini bukan mimpi, Luna! Ini nyata. Sekarang maukah menerima cintaku dan mau menjadi ibu dari anak-anakku?” Aku meyakinkan Luna kembali.

“Iya!” Luna menegaskan.

Malam itu aku bahagia sekali. Aku bisa kembali menjalin cinta dengan Luna.

Lama. Kami berdua di dalam restoran untuk saling meyakinkan satu dengan yang lainnya.  Kini acara kami berdua pun usai.

Namun  saat keluar restoran aku tanpa sengaja melihat Shanti. Mungkin Shanti telah selesai dari kuliahnya dan ia pun menghampiri kami.

“Aku kembali hanya untukmu, Tom! Tapi nyatanya…”

Saat Shanti kembali dan bertemu denganku. Ternyata dia ngin kembali menjalin hubungan cinta yang sempat terputus. Tapi hatiku menjadi sangat bimbang karena aku telah memilih Luna sebagai pendamping hidupku  selamanya. Maka aku pun mencoba untuk menahan hatiku dan berkata jujur kepada Shanti. Sesungguhnya aku telah memiliki Luna. Semua demi menjaga perasaan dan hati Luna yang telah kupilih.

“Sepertinya kita tidak ditakdirkan bersatu, Shanti. Kuharap kau memahami hal ini!”

Aku mencoba memberanikan diri mengatakan hal itu pada Shanti. Kulihat Shanti terpaku dan tanpa sengaja airmatanya jatuh di sudut matanya. Aku harus bersikap tegas.

Setelah aku berbicara dengan Shanti akhirnya dia bisa mengerti. Sedangkan aku tetap akan selalu mendoakan yang terbaik untuknya di masa depan. Sedangkan Shanti sudah kuanggap sebagai teman. Karena aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk setia dan memberikan cinta hanya untuk Luna. Dan Shanti pun dapat memahami perasaanku dan Luna.

“Maaf kami tinggal dulu!” tukasku.

Saat aku meninggalkan Shanti seorang diri di restoran itu. Kenanganku kembali teringat pada Shanti. Tidak lain saat dia memilih studinya ketimbang aku. Dan aku pun makin mantap untuk selalu bersama Luna. Kenangan itu pun akhirnya tersapu oleh terpaan angin malam saat kami keluar dari tempat. Semoga Luna adalah pilihan terakhirku.[]



INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa PUISI/CERPEN/ARTIKEL + BIODATA narasi + FOTO penulis atau GAMBAR ilustrasi, semuanya dalam SATU LAMPIRAN email file Ms Word. Bagian paling atas bertuliskan JUDUL KARYA + NAMA PENULIS. Kirim ke email nkertas@gmail.com