Cerpen Segaris Pertemuan | Beti Novianti - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis puisi untuk memperebutkan ANUGERAH HAK ASASI MANUSIA. Deadline 10 Desember 2022 | Apabila dalam 30 Hari, karya yang anda kirimkan di Negeri Kertas tidak dimuat, secara otomatis karya tersebut statusnya dikembalikan.

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

9 Nov 2022

Cerpen Segaris Pertemuan | Beti Novianti




E:\p3k 2021\(6) WhatsApp_files\index.jpg

Rumania bersiap-siap, menggunakan dress hijau lalu memadukan dengan  jilbab bergambarkan bunga tulip, ia memutar-mutar tubuhnya di depan kaca, memastikan apakah penampilannya sudah pas. lalu menambahkan sedikit lipstik berwarna pink ke bibir. Rumania  tersenyum, merasa yakin akan penampilannya. Ditariknya tas selempang yang tergantung di dinding kamar, lalu bergegas pergi.

Hari ini Rumania akan bertemu beberapa sahabat  kecilnya saat tinggal di Kota Kepahiang. Kota sejuk diantara bukit barisan. Kota dimana Masa kecilnya  dihabiskan, kenangan-kenangan indah  tersimpan di ingatan Rumania. Sepulang sekolah Rumania dan teman-temannya  pergi ke bukit di dekat kebun Wak Rahmat, mencari kayu untuk dibuat gasing. Walaupun,  gasing kayu adalah permainan laki-laki, tapi Rumania dan beberapa teman perempuan ingin mencoba membuatnya. Sering pula Rumania dan  teman-temannya pergi ke sungai sempiang untuk mandi atau hanya sekedar bermain. Sungai jernih dengan bebatuan itu menjadi tempat favorit warga Pasar Ujung. Sehabis mandi, Rumanaia dan teman-temannya akan memperlambat langkah sambil  menunggu pakaian  di badan mereka kering oleh terik matahari, karena apabila ketahuan mereka akan dimarahi. Pernah suatu ketika Ayah tahu bahwa Rumania mandi di sungai, Wak Rondri yang melapor. Kebetulan siang itu Wak Rondri  mencuci mobil, tak sengaja melihat Rumania beserta teman-temannya sedang mandi.

“Kamu mandi di sungai sempiang ya?” tanya Ayah penuh selidik.

Rumania hanya tertunduk diam, karena tahu ia salah.

 “ Sungai itu deras, kamu tidak bisa berenang, Ayah tau dari Wak Rondri ketika ia akan mencuci mobil di sempiang, ia melihat kamu dan temanmu mandi di sana. Kamu tau, beberapa minggu yang lalu  ada orang Permu yang hanyut, jasadnya tidak ditemukan.”

Rumania hanya terdiam, sembari mengangguk pelan  mengiyakan perkataan ayahnya. Ini sudah kesekian kalinya Rumania mandi di sempiang, memang beberapa minggu lalu pernah geger, ada orang hanyut di sungai itu. Tetapi berita itu tidak membuat Rumania serta teman-temannya kecut dan takut. Rumania tidak menghiraukan perkataan Ayahnya, keesokan hari Rumania dan teman-temannya bermain dan mandi lagi di sempiang. Kala itu hari sedikit mendung, memasuki musim penghujan di bulan September, arus sungai memang lebih deras. Ketika sedang asik mandi, tiba-tiba Zainab berteriak.

“Budiii.” Pekik Zainab sambil melihat ke arah hilir sungai.

“ Ada apa?” Tanya Reza, seketika teman-teman yang lain menoleh ke arah Zainab.

“ Mana Budi?” tanya Rani. 

Sambil menangis Zainab menceritakan apa yang  terjadi. “ Tadi Budi tiba-tiba menarik tangan ku, tapi seketika terlepas, aku tidak melihatnya lagi. Aku ingin menolongnya tapi..hik...hik.” Tangisan Zainab makin menjadi. Budi tenggelam, mayatnya ditemukan tiga hari kemudian. Sejak itulah Rumania dan teman-temannya tidak pernah lagi mandi di sungai sempiang.


Rumania masuk ke  sebuah kedai kopi di kawasan pantai Tapak Paderi. Kedai ini selalu ramai dipenuhi pengunjung. tempat nongkrong yang asik bagi anak-anak muda zaman sekarang. Di kedai ini tidak hanya menjual beraneka jenis kopi tetapi juga menyediakan menu untuk makan berat seperti nasi goreng, bakso, steak, serta  berbagai jenis jus dan minuman.

Seorang laki-laki memakai masker menghampiri Rumania. Laki-laki dengan alis tebal dan tinggi itu sekilas menatap ke wajah Rumania.

“pesan apa Mbak?” 

“Sebentar  Mas, masih menunggu  teman.” Ucap Rumania sambil tersenyum.

Rumania menatap lama punggung lelaki itu ketika ia beranjak ke dapur untuk memberikan nota pesanan.Tak lama Rani dan Zainab tiba di kedai kopi. Sudah tiga belas tahun mereka tak berjumpa. Rani telah bekerja di sebuah bank swasta di Kota Jakarta, setelah menamatkan S1 Jurusan Manajemen, sedangkan  Zainab menjadi seorang dokter. Waktu kecil jiwa dokter memang sudah dimiliki Zainab. Ia paling peduli ketika diantara teman-teman ada yang terluka. Pernah suatu ketika tangan Rega terkena kayu dan berdarah, dengan cepat Zainab mengambil betadine yang selalu ia bawa kemana-mana. Zainab tahu manfaat dari setiap jenis daun-daun, bahkan rumput sekalipun. Seperti rumput putih bisa mengobati dan menghentikan pendarahan pada luka katanya. Pernah juga tangan  Rumania terkena bambu di jalan, waktu itu Zainab lupa membawa betadine, dengan cepat  ia mengambil rumput putih yang memang banyak tumbuh liar di sekitar jalan. Dan ajaibnya keesokan hari tangan Rumania sembuh. Pernah juga Zainab menghentikan darah yang terus menetes pada kaki seorang anak perempuan yang tinggal di Padang Lekat karena terkena pecahan kaca. Dengan menggunakan rumput yang ada di semak-semak pinggir jalan, entah apa nama rumput itu, Seketika darah pada kaki anak itu berhenti menetes. Ini sungguh benar-benar ajaib.

Setelah menghabiskan makanan. Mereka  lanjut berbincang-bincang, meluahkan rasa rindu yang terpendam. Tapi luahan itu masih tersisa. Reza, teman yang paling pintar, yang selalu mendapat juara satu bahkan juara umum sudah lama tidak terdengar kabarnya. Ia menjadi primadona di sekolah. Wajah tampan Rega telah menghipnotis banyak anak perempuan. Ia adalah teman paling bijak. Ketika terjadi perselisihan diantara mereka, maka Rezalah yanga akan menjadi penengah dan mampu mendamaikan. Ketika SMP Reza pindah ke kota Palembang, karena Ayahnya pindah tugas. Beberapa tahun lalu terdengar kabar bahwa ia telah menikah dengan orang Palembang.

Mereka melanjutkan kebersamaan yang lama telah tak terjalin, meluahkan rindu yang dipenuhi oleh kenangan-kenangan masa lalu. Perjalanan mereka dilanjutkan ke pantai Tapak Padri hingga ke pantai Panjang. Pantai ini letaknya sekitar 4 km dari pusat kota, memiliki garis pantai mencapai 7 kilometer dan lebar pantai sekitar 500 meter. Menjadi objek wisata favorit di kota Bengkulu. 

Rumania dan teman-temannya saling berkerjaran diantara deburan ombak. Terlihat kapal-kapal berlayar mengarungi samudra Hindia. Tak lupa mereka berselfie ria dengan gaya duck faces atau mengerucutkan bibir seperti mulit bebek, tertawa riang diantara hembusan angin pantai. Hari sudah mulai petang, orang-orang semakin ramai berdatangan. Anak-anak berlarian dikejar ombak datang. Di ufuk barat sebuah pemandangan indah sudah mulai terlihat, langit berwarna jingga kemerah-merahan. Ketika warna biru dan ungu terhamburkan, awan masih pada keteguhan.

Seorang laki-laki berdiri di tepi pantai, tak jauh dari Rumania dan teman-temannya menikmati  laut. Ia menatap nanar ke arah laut. Pandangannya kosong, begitupun hatinya. Jiwanya telah kelam, semua nyala telah padam, ia tak tau apa yang harus dilakukan. Terbesit untuk melompat saja ke laut, menghadap tuhan, maka semua akan selesai? Siapa yang meyakinkan? Sungguh  sebuah fikiran dangkal dan bodoh.

Rumania, dan teman-temannya menikmati es kelapa muda di pondokan yang berada di pinggir pantai. Jika berbicara es kelapa muda, maka mereka akan teringat pada Mang Rozak. Setiap istirahat mereka akan membeli es kelapa muda Mang Rozak yang rasanya spesial dan harganya murah. Mang Rozak tinggal tidak jauh dari sekolah, sekitar 100 meter. Ia merantau dari Tasikmalaya ke kepahiang karena diajak teman untuk berkebun kopi di  kepahiang. Mang Rozak pun mencoba berkebun kopi kala itu,  namun selalu gagal. Akhirnya ia memutuskan untuk berjualan es kelapa muda.

Rumania, Rani dan Zaninab masih menikmati pantai panjang yang indah. Tak lama orang-orang berlarian dan berteriak, bahwa ada  yang tenggelam. Serta merta Rumania dan teman-temannya menghampiri ke kerumunan, beberapa  orang  laki-laki paruh baya dan remaja-remaja  mencoba menyisir di pinggir pantai, mengamati deburan ombak, syukur kalau masih bisa diselamatkan. Hingga tim SAR datang untuk melakukan pencarian.

Hari sudah hampir senja, pencarian belum juga membuahkan hasil. Lebih kurang dua jam, tim SAR memutuskan melanjutkan pencarian besok pagi,  tetapi sebuah tas ransel ditemukan mengapung. Didalamnya terdapat kartu identitas bernamakan Reza Ramadhan. Diinformasikan ia bekerja di sebuah kedai kopi di kawasan pantai Tapak Paderi. Rumania ingat pada laki-laki tinggi  yang memakai masker tadi, laki-laki itu seperti tak asing baginya, seolah mengenalnya telah lama. Apakah dia Reza? Reza Ramadhan teman masa kecilnya yang ia rindukan.

Mukomuko,2022

















Biodata Penulis

E:\p3k 2021\(6) WhatsApp_files\n.jpg

Beti Novianti, lahir di Ipuh dan tinggal di Mukomuko provinsi Bengkulu. Lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Menulis cerpen, puisi, dan cernak. tulisannya tersebar di berbagai media. Kini menjadi pengajar di sebuah sekolah menengah kejuruan di kota Mukomuko.

Bisa dihubungi ke nomor 082286226011 dan email mubarakrizki11@gmail.com serta  instagram @betinovianti. 



INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa PUISI/CERPEN/ARTIKEL + BIODATA narasi + FOTO penulis atau GAMBAR ilustrasi, semuanya dalam SATU LAMPIRAN email file Ms Word. Bagian paling atas bertuliskan JUDUL KARYA + NAMA PENULIS. Kirim ke email nkertas@gmail.com