LELAKI MATA TULI JATUH DI RANJANG SEPI Puisi : Pulo Lasman Simanjuntak - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis cerpen atau puisi untuk memperebutkan Anugerah Kesaktian Pancasila. Deadline 1 Oktober 2022 | Kirim ke email nkertas@gmail.com

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

7 Sep 2022

LELAKI MATA TULI JATUH DI RANJANG SEPI Puisi : Pulo Lasman Simanjuntak

 


LELAKI MATA TULI JATUH DI RANJANG SEPI

 

Puisi  : Pulo Lasman Simanjuntak

 

lelaki mata tuli jatuh di ranjang sepi

tubuhnya dari kertas emas

seperti hewan pemalas

takut menyapa matahari begitu keras

 

lelaki mata tuli tidur di ranjang sepi

bantalnya batu ditiup angin pagi

tak memikirkan harga-harga

pangan melambung tinggi

air minumnya dari bensin dengan bayaran hanya kuitansi

 

sekarang lelaki mata tuli

sedang merenung di kamar mandi

disetubuhi bau terasi dan bangkai tikus mati

rajin onani berulangkali

ia ingin memeluk negeri khatulistiwa ini

tanpa kelaparan lagi

 

Jakarta, Rabu 7 September 2022

 

KELAPARAN AKUT 

                     -episode dua-

 

membangun mezbah batu pagi ini

kembali membuat otak kecilku

terluka parah

dirajam seorang lelaki

tanpa kelamin

 

matahari terlihat kian kurus

menusuk-nusuk paru-paru

ke dalam perut rumah persinggahan

selalu gelisah antara dua pilihan kelabu

 

mencuri sepiring beras merah

ataukah berteriak di pinggir jalan sambil memungut persembahan

 

hayo, ajakku sambil menggendong

sekarung derita di bahumu tulang belulang

kita mulai bangkit berdiri

di pinggiran kota pandemi ini

 

sebab masa kelaparan telah tiba

di depan pintu negerimu nusantara

kutagih terus utang renternir dua miliar rupiah

bersamaan dengan datangnya

kenaikan harga bahan bakar minyak

yang bakal tergilas

pecah seperti balon gas

 

Jakarta, Minggu 3 September 2022

 

SAJAK KRITIS

 

hari ini kembali sajakku menjahit sunyi

tanpa angin pagi

hanya suara aliran air kolam

ikan-ikan setengah lumpuh

 

membuat sajakku semakin kelaparan

mau kemana dibawa tubuhmu ke padang ilalang

tak ada mata uang

di sana kering kerontang

 

(sementara  dari jarak dekat seorang lelaki tuli mondar-mandir

menyusup dalam sajakku

yang telah berkemas

untuk menjual nyawa

barang mati apa saja yang bisa dimakan dengan rakus)

 

Pamulang , Senin 5 September 2022

 

TIGA MANUSIA DALAM CAWAN LEBUR

 

tiga manusia telah berdoa sianghari

di bawah matahari dungu

 

mereka selalu berkeliaran

di taman eden yang terluka

bergumul dengan ayat-ayat suci

 

mereka masih butuh sepiring syair

yang bakal dimasak sampai matang

buat santapan ritual tanpa ada beras

seperti pekabaran kesehatan malam tadi

kita harus melenyapkan makanan daging halal

 

tiga manusia ini terus menunggu

kabar dari benua yang selalu bawa bencana

sejak dinihari telah disodorkan lewat penyakit gula dosis tinggi

yang sempat juga menawarkan souvenir

lagu pujian generasi milenial

 

ya, Debata

datanglah dengan segera !

 

Jakarta, Senin siang 5 September 2022

 

ULANGTAHUN MEMBACA SUARA TUHAN

 

hujan deras yang dimuntahkan di atas ranjang keluh kesah ini

tak dapat lagi mengundang mimpi-mimpi purba

(masa lalu ?)

yang selalu terjebak dalam sebuah permukiman liar

banjir airmata dan rasa sesal dibungkus irama kemandulan

 

lalu saat sunyimu pesiar ke sebuah bangunan tua dalam kota

telah diamarkan lewat seorang nabi perempuan

 

"melahirkan seorang anak harus melalui tangan Tuhan, bukan menghambur-hamburkan spermamu ke dalam cawan kemiskinan ," pesannya lewat jendela pesakitan dari seberang pulau sumatera

 

maka pagihari bertelut dan berdoalah

saat usiamu telah bergerak

dalam kesakitan tak berkesudahan

tetaplah membaca suara Tuhan

karena ini ujian iman seperti abraham

 

tataplah lagi

matahari basah di depan rumah

terbanglah seperti burung rajawali semakin tinggi

menembus langit baru dan bumi baru

 

jangan gelisah

tiang awan  mendung juga telah kirim makanan

sehingga para pemulung tak akan bertegur sapa lagi

siapa mau menjual kesetiaan sumpah pernikahan

kudus, kudus,

aku tak mau kelaparan

dan mati usia belia

 

Pamulang, Selasa 6 September 2022

 

USIA 59 TAHUN, DICATAT DI BUKU KEHIDUPAN

 

hari ini usiamu kembali

dicatat di buku kehidupan

yang tekun dibaca tiap

pagi sebelum gerhana matahari

mau menyapa diri ini

 

sambil menebar ayat-ayat suci di meja makan tanpa makanan haram

anak-anak kita nantinya

mengetahui betapa beratnya

cawan lebur

ditanam di pekarangan rumah ibadah

aliran air-Nya berimbas sampai ke tulang-tulang doamu yang teramat panjang

 

sabar, sabarlah, katamu

menutup percakapan sejarah

di tubuh taman bebatuan

telah lama mati haid kekeringan dan keheningan

 

Pamulang, Selasa 6 September 2022

--------------------------------------------------------------

 

Pulo Lasman Simanjuntak, dilahirkan di Surabaya, 20 Juni 1961.Karya puisinya telah diterbitkan dalam 7 buku antologi puisi tunggal, dan saat ini tengah persiapan untuk penerbitan buku antologi puisi ke-8 berjudul BILA SUNYIKU IKUT TERLUKA. Selain itu, karya puisinya juga telah dimuat (dipublish) diberbagai media cetak, media online, dan majalah digital di Indonesia dan Malaysia.

Ketua Komunitas Sastra Pamulang (KSP), anggota Dapur Sastra Jakarta (DSJ), serta anggota Sastera Sahabat Kita (SSK-Sabah, Malaysia).

Bermukim di Pamulang, Kota Tangerang Selatan, dan bekerja sebagai wartawan




INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa puisi/cerpen/artikel + biodata narasi + foto penulis atau gambar ilustrasi, semuanya dalam satu lampiran MS Word. Kirim ke email nkertas@gmail.com