1. Burung Kecil
tema: ekologi, eksistensi manusia, kebebasan bersuara, kemerdekaan hidup
aku adalah burung kecil ingin hinggap ke bukit yang tinggi
ingin melihat apa yang terjadi
aku adalah burung kecil
ingin hinggap di pepohonan rindang
yang sesekali engkau tebang
aku hanya ingin bangun sarang ku sendiri
terbang bebas kemanapun aku pun aku ingin pergi
lebih tinggi
aku hanya ingin bangun sarang ku sendiri
terbang bebas kemanapun aku pun aku ingin pergi
lebih tinggi
aku adalah burung kecil
ingin hinggap di gedung rumahmu
ingin melihat apa yang terjadi
aku adalah burung kecil
ingin tetap terbang ke bukit tinggi
dan kicauanku takkan berhenti
2. Terima Saja
tema: kemanusiaan, semangat hidup, eksistensi manusia, stoikisme, keikhlasan.
ya sampai kapan membanding bandingkan
kisah hidup kita dengan mereka
ya sampai kapan membanding bandingkan
keadaan kita dengan mereka
* kita semakin angkuh
kita semakin jatuh
berhentilah
terima saja hidup kita
lapaui naik turunnya
kamu bisa, ya kamu bisa
melewatinya
terima saja hidup kita
nikmati baik buruknya
kamu bisa ya kamu bisa
melewatinya
ya sampai kapan membanding bandingkan
kisah cinta kita dengan mereka
ambil bagianmu, relakan yang bukan
ambil bagianmu, relakan yang bukan
ambil bagianmu, relakan yang bukan
3. Rindu
tema: rindu yang sederhana, kedalaman cinta, hakikat rasa manusia.
dengar suaraku
memanggilmu
tubuhku bergetar
merindukanmu
sekarang hujan turun
dan aku semakin rindu
* tunggu aku 'kan pulang
tetap simpanlah aku
simpan rapi di hatimu
jangan sampai kau buang
aku t'lah lelah
merawat rindu
semakin tak sabar
ingin bertemu
sepi menyerangku
dan aku semakin rindu
4. Veznia
tema: pencarian jati diri, kehidupan urban, spiritualitas kontemplatif, semangat hidup,
jati diri sedang kau cari-cari
menerka-nerka langkah
pilihan berubah-ubah
redakanlah amarah
pergaulan yang buruk merusak kebiasaanmu yang baik
kau hanya harus tahu
dunia itu palsu
ia menipumu
* suatu saat kau rasakan
sendirian dan tertinggal
seperti yang dirasakan banyak orang-orang
coba kau lipatlah tangan
pejamkan mata sebentar
istirahatkanlah raga, teduhkan jiwa
(rawatlah harapan, mimpi harus kau kejar)
bangunlah dari tidurmu
bukalah pintu
di baliknya, kau akan
temukan sesuatu
nasehat tertanam
tumbuh dan berbuah
tertanam di jiwa
tumbuh menjadi indah
berbuah bahagia
Puisi Fileski W Tanjung yang terinspirasi dari lagu-lagu Daniel Rumbekwan yang berjudul Burung Kecil, Terima Saja, Rindu, dan Veznia
1. Belajar Menamai Langit
(Terinspirasi lagu: Burung Kecil)
Aku adalah burung kecil
yang menukar ranting-ranting dengan pertanyaan,
aku menggenggam angin
sebagai alamat untuk pulang.
Bukit-bukit tinggi menyimpan rahasia
tentang manusia yang rakus menebang
pohon-pohonku
tapi mereka lupa menanam makna dalam hidupnya.
Pepohonan bicara lirih padaku:
“Aku bersuara tak bermakna membuat kegaduhan,
aku hanya ingin bertahan.”
Gedung-gedung menatapku dengan mata pisau,
mereka tinggi, memamerkan kesombongan
tapi takut pada kicauku
Aku membangun sarang dari sisa-sisa harapan,
di antara debu dan doa-doa,
sebab kebebasan bukanlah hadiah
kebebasan adalah keberanian untuk tetap
bersuara
kebebasan adalah keberanian untuk terus
berkicau
meski langit ingin dibungkam.
2. Apa Kata Waktu
(Terinspirasi lagu: Terima Saja)
Waktu terduduk di hadapan kita
tanpa jam, tanpa jeda, tanpa perbandingan,
ia hanya berkata:
“Apakah hidup harus menyerupai orang lain?”
Oh kita terjatuh bukan karena nasib,
melainkan karena kita pecahkan cermin sendiri
yang terlalu sering kita pakai untuk mengukur
mengukur seberapa banyak bahagia.
Rasa angkuh itu adalah kelelahan
ia menyamar sebagai ambisi,
lalu terjatuh pada jeda
yang tak mau kita akui.
Ambillah bagian dari hidup,
relakan yang bukan untuk kita—
sebab tak semua yang berkilau
ditakdirkan untuk kita genggam.
ya terima saja:
naik dan turun adalah tarikan nafas kehidupan,
dan hidup bukan untuk menang di atas siapa pun
namun untuk berdamai dengan diri sendiri.
3. Cara Hujan Mengucap Namamu
(Terinspirasi lagu: Rindu)
Aku memanggilmu
seperti tanah memanggil hujan:
yang diam-diam,
seluruh tubuhku bergetar.
Rindu ini bukan api,
rasakan dalam dan tenang,
seperti sebuah sumur
yang menyimpan wajahmu di dasarnya.
Hujan sore ini turun tanpa alasan,
seperti rinduku
yang tak butuh penjelasan.
Aku merawat rindu
seperti merawat luka-luka:
dan aku tak ingin sembuh cepat,
namun aku juga tak ingin membusuk
sebelum bertemu.
Tunggulah aku,
menuju pulang lewat setapak kenangan,
karena hatimu
adalah satu-satunya rumah
yang tak pernah mengusirku.
4. Veznia: Kota yang Mengajarkanku Berdoa
(Terinspirasi lagu: Veznia)
Hai Veznia, kau sedang mencari dirimu
di persimpangan lampu merah,
di antara pilihan yang terus berubah
dan amarah mulai lelah.
Dunia ini pandai berdusta:
ia menawarkan cahaya
namun mematikan bintang-bintang di dada.
Pergaulan malam
adalah suara riuh yang menutup nuranimu,
sementara sunyi—
sering kali—adalah sahabat terbaikmu.
Kini kau tertinggal, dan kau sendirian,
seperti orang yang pura-pura kuat
menarik sudut senyumnya di depan layar.
Lipatlah tanganmu,
rebahkan egomu,
biarkan harapan bernafas sekali lagi.
Dan ketika kau buka pintu itu,
kau temukan nasihat
yang tumbuh pelan-pelan dalam jiwa:
Veznia hidup ini memang berat,
tapi hidup akan tetap indah Veznia
bagi mereka yang terus mengayuh doa-doa.
Madiun, di Januari 2025
0 Komentar
Lingkar literasi, sastra, dan seni budaya Asia Tenggara serumpun Bahasa.