005

header ads

Lirik lagu Daniel Rumbekwan | Burung Kecil, Terima Saja, Rindu, dan Veznia

1. Burung Kecil 

tema: ekologi, eksistensi manusia, kebebasan bersuara, kemerdekaan hidup



aku adalah burung kecil ingin hinggap ke bukit yang tinggi 

ingin melihat apa yang terjadi 

aku adalah burung kecil 

ingin hinggap di pepohonan rindang

yang sesekali engkau tebang


aku hanya ingin bangun sarang ku sendiri 

terbang bebas kemanapun aku pun aku ingin pergi 

lebih tinggi 


aku hanya ingin bangun sarang ku sendiri 

terbang bebas kemanapun aku pun aku ingin pergi 

lebih tinggi 


aku adalah burung kecil 

ingin hinggap di gedung rumahmu 

ingin melihat apa yang terjadi 


aku adalah burung kecil 

ingin tetap terbang ke bukit tinggi 

dan kicauanku takkan berhenti 



2. Terima Saja 

tema: kemanusiaan, semangat hidup, eksistensi manusia, stoikisme, keikhlasan. 


ya sampai kapan membanding bandingkan 

kisah hidup kita dengan mereka

ya sampai kapan membanding bandingkan 

keadaan kita dengan mereka 


* kita semakin angkuh 

kita semakin jatuh 

berhentilah 


terima saja hidup kita 

lapaui naik turunnya 

kamu bisa, ya kamu bisa 

melewatinya 


terima saja hidup kita 

nikmati baik buruknya 

kamu bisa ya kamu bisa 

melewatinya 


ya sampai kapan membanding bandingkan 

kisah cinta kita dengan mereka


ambil bagianmu, relakan yang bukan 

ambil bagianmu, relakan yang bukan 

ambil bagianmu, relakan yang bukan 






3. Rindu

tema: rindu yang sederhana, kedalaman cinta, hakikat rasa manusia. 

 

dengar suaraku

memanggilmu

tubuhku bergetar

merindukanmu

sekarang hujan turun

dan aku semakin rindu


* tunggu aku 'kan pulang

tetap simpanlah aku

simpan rapi di hatimu

jangan sampai kau buang


aku t'lah lelah

merawat rindu

semakin tak sabar

ingin bertemu

sepi menyerangku

dan aku semakin rindu





4. Veznia 

tema: pencarian jati diri, kehidupan urban, spiritualitas kontemplatif, semangat hidup, 


jati diri sedang kau cari-cari

menerka-nerka langkah

pilihan berubah-ubah

redakanlah amarah


pergaulan yang buruk merusak kebiasaanmu yang baik

kau hanya harus tahu

dunia itu palsu

ia menipumu


* suatu saat kau rasakan

sendirian dan tertinggal

seperti yang dirasakan banyak orang-orang


coba kau lipatlah tangan

pejamkan mata sebentar

istirahatkanlah raga, teduhkan jiwa

(rawatlah harapan, mimpi harus kau kejar) 


bangunlah dari tidurmu

bukalah pintu

di baliknya, kau akan

temukan sesuatu


nasehat tertanam

tumbuh dan berbuah

tertanam di jiwa

tumbuh menjadi indah

berbuah bahagia




Puisi Fileski W Tanjung yang terinspirasi dari lagu-lagu Daniel Rumbekwan yang berjudul Burung Kecil, Terima Saja, Rindu, dan Veznia 

1. Belajar Menamai Langit 

(Terinspirasi lagu: Burung Kecil)

Aku adalah burung kecil
yang menukar ranting-ranting dengan pertanyaan,
aku menggenggam angin
sebagai alamat untuk pulang.

Bukit-bukit tinggi menyimpan rahasia
tentang manusia yang rakus menebang pohon-pohonku

tapi mereka lupa menanam makna dalam hidupnya. 

Pepohonan bicara lirih padaku:
“Aku bersuara tak bermakna membuat kegaduhan,
aku hanya ingin bertahan.”

Gedung-gedung menatapku dengan mata pisau,
mereka tinggi, memamerkan kesombongan
tapi takut pada kicauku 

Aku membangun sarang dari sisa-sisa harapan,
di antara debu dan doa-doa,
sebab kebebasan bukanlah hadiah
kebebasan adalah keberanian untuk tetap bersuara
kebebasan adalah keberanian untuk terus berkicau
meski langit ingin dibungkam.


2. Apa Kata Waktu

(Terinspirasi lagu: Terima Saja)

Waktu terduduk di hadapan kita
tanpa jam, tanpa jeda, tanpa perbandingan,
ia hanya berkata:
“Apakah hidup harus menyerupai orang lain?”

Oh kita terjatuh bukan karena nasib,
melainkan karena kita pecahkan cermin sendiri
yang terlalu sering kita pakai untuk mengukur
mengukur seberapa banyak bahagia.

Rasa angkuh itu adalah kelelahan
ia menyamar sebagai ambisi,
lalu terjatuh pada jeda
yang tak mau kita akui.

Ambillah bagian dari hidup,
relakan yang bukan untuk kita—
sebab tak semua yang berkilau
ditakdirkan untuk kita genggam.

ya terima saja:
naik dan turun adalah tarikan nafas kehidupan,
dan hidup bukan untuk menang di atas siapa pun
namun untuk berdamai dengan diri sendiri.


3. Cara Hujan Mengucap Namamu

(Terinspirasi lagu: Rindu)

Aku memanggilmu
seperti tanah memanggil hujan:
yang diam-diam,
seluruh tubuhku bergetar.

Rindu ini bukan api,
rasakan dalam dan tenang,
seperti sebuah sumur
yang menyimpan wajahmu di dasarnya.

Hujan sore ini turun tanpa alasan,
seperti rinduku
yang tak butuh penjelasan.

Aku merawat rindu
seperti merawat luka-luka:
dan aku tak ingin sembuh cepat,
namun aku juga tak ingin membusuk
sebelum bertemu. 

Tunggulah aku,
menuju pulang lewat setapak kenangan,
karena hatimu
adalah satu-satunya rumah
yang tak pernah mengusirku.



4. Veznia: Kota yang Mengajarkanku Berdoa

(Terinspirasi lagu: Veznia)

Hai Veznia, kau sedang mencari dirimu
di persimpangan lampu merah,
di antara pilihan yang terus berubah
dan amarah mulai lelah. 

Dunia ini pandai berdusta:
ia menawarkan cahaya
namun mematikan bintang-bintang di dada.

Pergaulan malam
adalah suara riuh yang menutup nuranimu,
sementara sunyi—
sering kali—adalah sahabat terbaikmu.

Kini kau tertinggal, dan kau sendirian,
seperti orang yang pura-pura kuat
menarik sudut senyumnya di depan layar.

Lipatlah tanganmu,
rebahkan egomu,
biarkan harapan bernafas sekali lagi.

Dan ketika kau buka pintu itu,
kau temukan nasihat
yang tumbuh pelan-pelan dalam jiwa:
Veznia hidup ini memang berat,
tapi hidup akan tetap indah Veznia
bagi mereka yang terus mengayuh doa-doa. 

Madiun, di Januari 2025 




Posting Komentar

0 Komentar