005

header ads

14 Puisi Puisi Pilihan (seri kedua) Karya Penyair Pulo Lasman Simanjuntak

 14 Puisi Puisi Pilihan (seri kedua)

 

Karya Penyair Pulo Lasman Simanjuntak

 

HARI-HARI BURUK

 

Hari-hari buruk ialah hari-hari takkala secara membabibuta ekor lusifer melibas mulutnya yang liar sehingga jantungku kian kusut meledakkan suatu amarah jadi berkesinambungan di belakang rumah Tuhan.

 

O, sungguh puisi ini mau bercerita ketiga kali umat Tuhan disakiti seperti bongkahan batu mau menimpa kepalaku tak sanggup lagi berbicara tentang nasehat Firman Tuhan.

 

Hari-hari buruk ialah hari-hari takkala seorang rahib berkhotbah dua atau tiga puisi berbalut darah hitam.

 

Menyerang kembali wajahku jadi rusak.

Jari-jari tanganku jadi tegang kembali.

 

O, mengapa rumah Tuhan berubah jadi rumah jagal hewan amat menakutkan.

 

Otakku dikuasai roh setan, malaikat-malaikat Tuhan melembutkan hatiku,

pecah lagi mengeluarkan nanah yang membusuk.

 

Pamulang, Tahun 2015

 

TAMAN GETSEMANI

 

Usai upacara komuni

menuju seberang tembok Kota Yerusalem

garang dan liar

ke sana kubawa rerumputan hijau

bunga-bunga surga.

 

Tanah malam jadi basah

airmata mencekam

bulan meleleh

ke pelupuk mata para rasul.

 

Angan-angan kudus Sungai Kidron

membentur pada doa-doa syafaat

keterasingan diri

jadi sebuah penderitaan yang dalam.

 

Ditariknya tangan Petrus, Yakobus, dan Yohanes

menuju tangga batu

langit yang baru ; membiru !

 

Angin jahat telah meniup dosa

meninabobokan dua belas tubuh letih

di atas batu nisan

direbahkan diri ke tanah.

 

“Ya, Abba, ya Bapa……

ambilah cawan dosa ini daripadaku,” seru Yesus

membuka jendela langit

terbuka bintang-bintang berkejaran

peluh-Nya menjadi titik-titik darah

mencair ke tanah.

 

Ini doa krisis terakhir untuk murid-murid

ini doa krisis terakhir untuk kita semua.

 

Cawan Kristus begitu berat

bukan kesakitan

dicambuk dan disalibkan

bukan penderitaan

mental dihina dan ditolak

ini adalah penderitaan rohani

memikul dosa dunia.

 

Nasib dunia ditentukan

nasib manusia diitimbang.

 

Pamulang, Agustus 2022

 

PERJAMUAN KUDUS

 

Hari raya roti tak beragi sudah tiba

domba paskah siap disembelih

di sebuah ruang atas

besar, tegang, dan berbatu-batu

 

Matahari tertidur pulas

cuaca amat pekat

namun, hati manusia

dibakar api yang berdarah-darah.

 

Mata rohaniku melihat

mata rohaniku tertuju

mata rohaniku terbawa

terbuka lebar-lebar

salib….salib…..

di bukit Kalvari.

 

Yesus Kristus bersiap untuk membasuh

kaki-kaki bergetar

kaki-kaki gelisah

kaki-kaki lumpuh : tak bergerak !

sangat kotor oleh lumpur khianat

dari rawa-rawa dosa.

 

“basuh…..basuh… kakiku, kepalaku, mukaku, tanganku, rambutku,

dan telingaku,” seru para rasul dengan suara gempita.

 

Mereka harus rendah hati

mereka harus saling kasih mengasihi

kita semua yang ada di sini

hari ini diajarkan: kasih Tuhan Yesus Kristus !

 

Setelah itu kudengar

ada ucap dan berkat

ini roti tubuh Kristus

ini anggur darah Kristus

darah perjanjian

darah yang menderita

darah yang tiba-tiba mengingatkan akal dan budiku

melayang-layang menuju bukit Golgota.

aku terjatuh. bangkit. lalu bersujud

satu permintaan;

pengampunan dosa.

 

(tiba-tiba aku teringat kembali ada suara menjerit

Eli…..Eli….. Lama…Sabatani…

Tuhanku…Tuhanku ….mengapa Engkau meninggalkan aku).

Yesus tahu

saat-Nya sudah tiba

dari dunia kembali ke surga.

 

Setan tak dapat mengalahkan maut

kita semua dibangkitkan

dalam kemenangan abadi.

 

Jakarta-Bekasi, tahun 2005

 

SAJAKKU BERDAMAI DANGAN TIKUS

 

Ketegangan ini dimulai dari sini ;

kematian dini

semalam suntuk bercakap-cakap

tanpa bunyi petasan

 

dua puluh lima abad

birahiku meledak

tawa dan ibadah

kusalin untuk terakhir kali

dalam sebuah pesta

berakhir dengan pernikahan yang kudus.

 

Pamulang, Februari 2016

 

MASA PERJALANAN

 

Telah jamnya tiba

pejalan kaki tak pernah merayu

kudanya mati di rawa

betapapun gunung-gunung buta

jadi sepond cinta

kehilangan makna.

 

Matahari berpacu dalam pot

memburu anak-anak kampung

hijrah dari tanah-tanah keramat

menggigit bukit

hingga sepi sejenak.

 

Selanjutnya dari sini

hanya terlihat selintas

di jantungnya yang sebelah kiri

sebuah perahu pucat berlayar di tengah lautan

tak tertulis lagi

dalam peta.

 

Bandung, 2015-2016

 

HATIKU BERLAYAR MENUJU RUMAH TUHAN 

 

Menembus subuh berkemeja hitam

tergesa-gesa doa ini alpa direnungkan

ingat pelabuhan laut tanpa kapal

kulahap perjalanan Nabi Musa

kutelusuri jemaat mula-mula

roh-roh yang berhembus

lewat kaca digital dan buku kehidupan.

 

Selesai sudah imanku dibangun

suara ombak dan angin samudera

jadilah kehendakMu Tuhan.

 

Pelabuhan Tanjung Priok

Februari 2016

 

TANAH PAPUA, KETAKUTANKU TERBUNGKUS LIMA ABAD 

 

Perjalanan ini dimulai dari sebuah bandara yang hiruk pikuk

lalu kami ‘terbang’ bak rajawali

menembus malamhari dengan perempuan-perempuan cantik tak pernah ngantuk.

 

Setelah bersatu dengan terbitnya matahari pagi di wilayah paling timur nusantara

mulailah cerita bertemu dengan keasingan di negeri sendiri.

 

Oi, selamat datang di hutanTanah Papua.

 

Tanahku yang menghijau dengan siraman air dingin Danau Sentani.

 

Pucatlah mukaku dihiasi rambut ikal sepanjang belum menyentuh Kota Jayapura.

 

Tiba di Lembah Baliem Wamena tanpa penghuni.; sunyi!

mari kita beribadah sehari saja

berdoa di gereja kota

tak terdengar nyanyian pujian

atau rebana ditabuh .

 

Maka kami pun masuk sebuah hotel

tanpa air jernih

lampu-lampu

dapat menyala di hati kami

hanya tergenang bau rawa.

 

Perjalanan dilanjutkan menerobos gunung dan bukit meliuk-liuk

mayat-mayat yang diawetkan.

 

Jayapura-Wamena

Minggu Desember 2015

 

ANAKKU HILANG DITELAN OMBAK KESEPIAN JADI BATU

 

Anakku yang gagah perkasa sedang menghitung pecahan matahari

terbenam di tubuh laut

Selat Sunda-tanah Banten- situs berdarah.

 

Seperti burung rajawali, ia sering terbang kian-kemari

sangat liar ,dan bikin kesal hati.

 

Lihatlah, gigi-giginya yang tumbuh membusuk

seperti karang-karang terjal di atas pasir putih Pantai Florida

yang pagi itu hatiku semakin berwarna warni.

 

Lalu terjadilah pendarahan dalam kesunyian sendirian di sawung kelam.

 

Mengapa aku tak bisa berenang? tanya kawan seiman.

 

Padahal anakku telah gunakan kacamata hitam

untuk memotret ikan-ikan yang bisa terbang

sampai menembus cakrawala kekelaman.

 

Duh, tubuh dan kulitnya berubah warna;

seperti tak kukenal lagi

dari rahim bumi mana ia menetas.

 

Ayo…lari….larilah…. kucing anggora anakku …..menuju karang-karang terjal

menuju ombak yang menggulung angin malam

cuaca kian membeku .

 

Resiko ke depan bukan milikku lagi.

 

Sebab hanya ada satu pilihan : ikut Tuhan, atau ikut Baal !

 

Pamulang, Juli 2015

 

SAJAKKU DIKEPUNG ASAP PEKAT  1.060 TITIK

 

Menghitung sembilan puluh hari

tanpa matahari pagi

lalu ditambah tiga kali dua puluh empat jam

jadilah bola mataku (memerah)

berwarna mata srigala hutan

paru-paruku kembali dibakar

di tubuh Sungai Musi

yang telah menghilang dari garis peta buta.

 

Lalu dari badan Jembatan Ampera

tanpa kapal kayu-tanpa nelayan -kembali kubangun mimpi-mimpi luruh ini.

 

Mengapa zaman pra sejarah nenek moyang Pulau Sumatera

belum ciptakan api

asap yang berangkat dari sebuah titik panas.

 

Lihatlah hutanku yang kembali dibakar sangat mencengangkan.

 

Benar kata Pujangga melayu: bangsa ini harus bertobat sungguh-sungguh!

Bukan andalkan teknologi bom air

yang sewaktu-waktu dapat meledakkan kota ini

jadi sebuah daratan gambut

tak berpenghuni.

 

Palembang,,Rabu 21 Oktober 2015

 

KUTERBANGKAN SAJAKKU LIMA PULUH METER

 

Dengan hati cemas

penghuni kota mulai berlari-lari

mengejar api dan bau asap menyengat

timbul dari masing-masing ketiak

– angin jahat berhembus- menembus kaca jendela rumah .

 

Semua mulut butuh masker

menghindari binatang liar

membawa racun tumbuhan ke atas ranjang.

 

Kota Palembang Rabu 21 Oktober 2015

 

MENDAKI BUKIT TUBAN

 

Diselimuti hujan

tubuhnya yang letih

berkejaran waktu

dengan derasnya

aliran sungai dari bukit sebrang.

 

Lalu kami bersekutu

ladang-ladang batu

bersolek sejak dinihari

tanpa menghadap matahari.

 

Desaku tak lagi muntahkan

doa pagi

bagi hari perhentian yang dilipat-lipat.

 

Di hamparan panen raya jagung ini

petani tak pandai bernyanyi lagi

karena harga kiloan dibanting

para importir berwajah bening.

 

Diceritakan kesulitan;

pupuk kandang tujuh bulan

dan anak-anak yang rindu berenang

supaya bapaknya tak hanya dikenang.

 

Lalu dilukiskan sebuah tanah embung

musim kemarau sampai musim hujan.

 

Segera disebar

semangat menanam

dalam puisiku

ada areal persawahan

ada pula ruang batin,

namun,aku tak mau mati miskin.

 

Tuban, Jawa Timur,Maret 2016

 

KOTA SURABAYA DI SINI PUISIKU BERNYANYI 

 

Kota Surabaya di sini puisiku bernyanyi

tentang masa kanak-kanak

tak sempat bernafas panjang

memotret akte kelahiran

seperti mengunyah permen kehidupan

sunyiku lalu lalang

lalu terbentur di padang ilalang.

 

Sebuah rumah sakit

tanpa ada penyakit.

 

Di kota pahlawan ini

perangku berkecamuk

karena mereka telah mengamuk

berulang-ulang birahi makin gemuk.

 

Mereka saling bertengkar di atas papan catur

disembunyikan di kuburan.

 

Surabaya 4 Maret 2016

 

PUISIKU BERENANG DALAM LUMPUR SAWAH

 

Inilah peta perjalanan

bersetubuh dengan hijauan sawah

mencangkul di atas sepi yang basah

petani ternyata masih merintih

berhari-hari harga gabah

terluka parah

celanaku berdarah

disuntik mata uang rupiah.

 

Kemiskinan ini jadi sebuah sungai

yang mengalir deras

diantara mesin panen raya

terselip senyum Mbok Minah

perlahan hilang

diterjang hujan .

 

Mojokerto Kamis 3 Maret 2016

 

MANDI DI KETIAK SAWAH

 

Mandi di ketiak sawah

seperti kita memburu waktu

seekor ikan gabus tak lincah

berenang dalam lumpur rahimmu.

 

Lama engkau tanam benih padi

dalam perutku yang kian tua

namun tetap berbuah.

 

Seperti karungan beras dan gabah itu

bukan lagi milik petani miskin

atau penyanyi dangdut yang bergoyang

tiap pagi di pintu masuk desa.

 

Lamongan,Jawa Timur,13 Maret 2016

------------------------------------------------------------------

Biodata :

 

Pulo Lasman Simanjuntak, dilahirkan di Surabaya, 20 Juni 1961.Menempuh pendidikan di

Sekolah Tinggi Publisistik (STP-Jakarta).Belajar sastra secara otodidak.Hasil karya sajaknya pertama kali dipublikasikan sewaktu masih duduk di bangku SMP, yakni dimuat di ruang sanjak anak-anak Harian Umum Kompas.

Setelah itu karya puisinya masih dimuat diberbagai suratkabar, majalah, media online, dan media sosial.

Karya puisinya juga telah diterbitkan dalam 7 buku antologi puisi bersama dan 16 buku antologi puisi bersama para penyair di seluruh Indonesia.

Namanya juga telah masuk dalam Buku Leksikon Sastra Indonesia (Pamusuk Eneste/Kompas/Gramedia).Pernah bekerja sebagai wartawan Sinar Pagi, Mandala (Bandung), Redaktur Pelaksana wartawan SK.Dialog (1998-2013), dan saat ini sebagai Pemimpin Redaksi BeritaRayaOnline (23 Maret 2013-sampai sekarang), dan Pemimpin Redaksi eMaritim.Com (Desember 2014- sampai sekarang).

Bekerja sebagai wartawan , dan saat ini bermukim di Pamulang, KotaTangerang Selatan.

Nomer HP (WA) 08561827332.




Posting Komentar

0 Komentar