MERAYAKAN SEABAD CHAIRIL ANWAR DI ERA MASYARAKAT CERDAS 5.0 - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis puisi untuk memperebutkan ANUGERAH HAK ASASI MANUSIA. Deadline 10 Desember 2022 | Apabila dalam 30 Hari, karya yang anda kirimkan di Negeri Kertas tidak dimuat, secara otomatis karya tersebut statusnya dikembalikan.

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

25 Jul 2022

MERAYAKAN SEABAD CHAIRIL ANWAR DI ERA MASYARAKAT CERDAS 5.0

 

NEGERIKERTAS.COM | “Merayakan Seabad Chairil Anwar masih relevan di era masyarakat cerdas atau smart society 5.0 saat ini. semangat Chairil Anwar yang perlu kita adopsi untuk menghadapi perkembangan zaman di era masyarakat cerdas 5.0 ini. Chairil memiliki semangat growth mindset terutama learning ability atau kemampuan belajar yang tinggi, sebagai change agent yang berani melakukan terobosan dan perubahan untuk menjawan tantang zama, serta semangat visioner yang dinamis, memiliki sebuah gambaran tentang masa depan serta tidak mau terkungkung dengan pemikiran masa lalu. Tiga semangat inilah yang kita perlukan dan perlu kita teladani dari sosok Chairil Anwar untuk menghadapi tantangan dalam era masyarakat cerdas 5.0 ini.”, demikian Riri Satria, Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia menyampaikan dalam orasi budaya dalam acara Lomba Baca Puisi Cinta Chairil Anwar dalam rangka Seabad Chairil Anwar, diselenggarakan oleh komunitas Jagat Sastra Milenia, di Pusat Dokumentasi Sastra HB. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Sabtu 23 Juli 2022.

 

Menurut Riri, sejak beberapa bulan yang lalu, banyak pertanyaan yang selalu muncul dalam pikirannya terkait dengan dunia kepenyairan. Mengapa kita memperingati satu abad penyair legendaris Indonesia, Chairil Anwar? Apakah ini sekedar peringatan? Apakah semangat yang perlu kita teladani dari sosok Chairil Anwar untuk menghadapi era digital atau masyarakat cerdas 5.0 ini? Apakah memperingati satu abad Chairil Anwar hanya identik dengan membacakan sajak beliau seperti Karawang Bekasi, Aku, dan sebagainya? Atau sekedar memajang foto di media sosial mirip dengan gaya Chairil Anwar yang sedang menghisap sebatang rokok?

 

Riri berkeyakinan bahwa ada sesuatu yang lebih mendasar untuk kita pahami dan resapi tentang sosok Chairil Anwar yang lebih fundamental atau lebih mendasar yang tidak lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh hujan, alias semangat yang abadi sepanjang zaman. Untuk itu, ia melakukan kajian pustaka tentang Chairil Anwar serta membahasnya dengan menggunakan pisau analisis growth mindset yang digagas oleh Carol S. Dweck serta konsep masyarakat cerdas atau smart society 5.0 yang sedang berkembang saat ini.

 

 

Acara Lomba Baca Puisi Cinta Chairil Anwar yang diselenggarakan oleh Jagat sastra Milenia ini dan didukung oleh Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin ini mendapatkan sambutan yang meriah. Pendaftaran dibuka mulai pukul 9.30 pagi sampai pukul 10.30, namun calon peserta sudah mengantri sejak pukul delapan pagi. Bahkan peserta pun banyak yang berasal dari luar Jakarta seperti Cirebon, Serang, Bandar Lampung, bahkan Padang Panjang. Kuota memang hanya tersedia untuk 30 peserta, namun karena mempertimbangkan berbagai hal, akhirnya peserta yang ikut serta akhirnya berjumlah 37 orang.

 

Ketua Panitia Dhe Sundayana Perbangsa mengatakan bahwa lomba ini dilaksanakan untuk menghidupkan kembali spirit puisi-puisi Chairil Anwar di zaman sekarang, dari teks ke suara, lalu menggema dalam jiwa pembacanya, terutama perihal cinta sebagai inti kemanusiaan.

 

 

Dewan Juri terdiri dari Sutardji Calzoum Bachri (Presiden Penyair Indonesia), Yahya Andi Saputra (Penyair dan Tokoh Kebudayaan Betawi), Imam Ma'arif (Penyair dan Penggerak Sastra), serta Emi Suy  (Penyair, Pengurus Jagat Sastra Milenia, Redaktur SastraMedia).

 

 

Juru bicara Dewan Juri, Emi Suy mengatakan bahwa lomba ini memang sifatnya spontan dan tentu saja menguji kesiapan peserta sejauh mana memahami karya-karya Chairil Anwar. Pembaca puisi sejati selalu siap membacakan puisi siapapun dan apapun secara spontan tanpa perlu latihan karena seharusnya sudah mengenal puisi-puisi karya Chairil Anwar. Peserta tidak tahu puisi apa yang akan dibacakan sampai dia tampil di panggung dan memilih secara acak puisinya. Para dewan juru akan menilai menggunakan sistem skor dengan berbagai indicator pembacaan puisi. Semua nilai akan dimasukkan ke dalam sebuah aplikasi lalu dikalkulasi secara otomatis. Jika terjadi perbedaan tajam dalam penilaian oleh juri, maka perlu dirapatkan oleh dewan juri. Jika tidak, maka aplikasi komputer segera memberitahukan hasilnya segera setelah lomba selesai.

 

Para pemenang lomba adalah: Juara 1: Exan Zen (Jakarta), juara 2: Ayu Puspa Nanda (Tangerang), juara 3: Neneng Alfiah (Cirebon), lalu juara harapan sebanyak tiga orang:  Ilhamdi Sulaiman (Padang), Monswang Saradani (Jakarta), serta Ubai Dillah Al Anshori (Padang Panjang).

 

 

Hadir juga pada acara tersebut, Evawani Alissa, putri tunggal Chairil Anwar yang begitu bersemangat mengikuti acara ini. Evawani memberikan sambutan dengan menceritakan sosok Chairil Anwar yang dia kenal lewat berbagai tulisan, membacakan beberapa puisi karya Chairil Anwar, serta menyerahkan hadiah untuk para pemenang Lomba Baca Puisi Cinta Chairil Anwar.

 


INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa puisi/cerpen/artikel + biodata narasi + foto penulis atau gambar ilustrasi, semuanya dalam satu lampiran MS Word. Kirim ke email nkertas@gmail.com