005

header ads

Apa Susahnya Bilang Cinta? Karya: Kusuma Yanuwar Dani

 Apa Susahnya Bilang Cinta?

Karya: Kusuma Yanuwar Dani


Raja singa keluar dari ufuk timur pada saat dewi malam pergi menghilang, dengan secangkir kopi di atas meja untuk menumbuhkan imajinasi yang dulu pergi karena resah berkepanjangan, maka pada saat inilah butuh ketenangan akibat efek cinta yang tak terbalaskan.

Kebiasaanku, secarik kertas puisi dengan di temani secangkir kopi di atas meja untuk menyambut pagi dengan tubuh duduk di atas kursi, membayangkan suatu saat diriku mempunyai istri.

“Selamat pagi ayah” itulah kata-kata pagi yang selalu terngiang di kepala.

“Pagi juga mah…. Seperti biasa secangkir kopi ya mah..”

Setiap pagi bahagiaku hanya dengan imajinasi, bayangan yang ku ingin seharmonis ini, bahagia, senang, tersenyum, tapi bukan hari-hari pagi seperti sekarang, kayak orang gila.

Seketika diriku bangkit dari kursi untuk pergi menjalani lika liku kehidupan ini. Hidup dengan penuh rasa sakit, resah, dan gelisah dibarengi bahagia, damai, dan nikmat, semua itu tercampur lengkap di dalam cinta.

“druddddruddddruddd…..”

Jam weker menunjukan angka 06:30 saatnya diriku bangkit dari rebahan, untuk pergi mencari sesuap nasi, untuk diriku dan masa depanku, tapi bukan itu yang ku takuti.

“Hallo Dani, berapa sekarang?”

Itu bosku yang marahnya menakutkan kayak kunti, ya.. aku telat.

O…iya namaku Dani, aku cowok puitis, hujan adalah bahagiaku, sakit hati adalah makanan sehari-hariku, kau tahu kenapa? Karena Arinda selalu menolakku. Bentar, bosku marahnya belum selesai.

“Dani.. kau tahukan sekarang jam berapa?”

“Jam 7.30 bu” dengan raut muka tegang.

“Kau tau sekarang kau telat?”

“iya ibu” masih tegang.

“Berapa kali ibu bilang jangan telat!!!, kamu dengar enggak dari kemarin ibu ngomong terus di depan muka membosankanmu itu!!!, kalau karyawanku semuanya seperti kamu bangkrut perusahaan ibu!!!"

“Maaf bu, maaf” muka yang memelas.

“Kali ini ibu maafkan, kalau seperti ini terulang satu kali lagi, ibu kasih SP3 kau!!!”

“Iya bu janji saya tidak akan telat lagi” dengan tegas.

Bosku Namanya Zahra, dia masih muda. Sebenarnya dia tidak galak seperti yang telihat, tapi itu gara-gara dia diputusin pacarnya, ketika dia lagi sayang-sayangnya. Kau tahu lah rasanya gimana, mungkin dia ingin melampiaskan kekesalan, makanya anak buah menjadi sasaran.



***





Saatnya melihat bidadari di ruang kerja yang ku tempati, dia imajinasiku yang selalu muncul setiap pagi. Pasti memecahkan konsentrasi saat kerjaku, tak ada yang bisa mengobati, mungkin kalau dia menyemangati bisa dipertimbangkan menjadi obat konsentrasi, semoga dia peka soal isi hati diriku.

Kalau ku rasakan, banyak relung hati yang sudah diisi penuh oleh dia, tapi dia belum mengambilnya, mungkin diriku juga belum berani menawarkannya. Keberanianku menolak untuk menyatakan cinta. Iya, diriku pengecut, bukan dia yang menolaknya tapi diriku sendiri yang menolaknya tanpa alasan.

Iya Arinda, teman kantorku, cantik, baik, lucu, menggemaskan, ya segalanya lahh. Yang ku tahu dia salah satu kesempurnaan yang diciptakan tuhan, untuk mewakili berjuta-juta wanita. Kalau disebut dia ratunya di dalam kerajaan wanita di dunia. Cinta ini telah membutakan mata dan pikiranku tapi bahagia tidak bisa diungkap dengan kata-kata karena indra terbungkam oleh cinta.

“Hallo Dan?”

Walah kata “hallo” sudah menggetarkan hati, serasa dunia ini milik sendiri. Haduhh.. sungguh bahagia luar biasa. Huhhh… Tarik nafas dulu.

“Iya hallo Arinda”

“Dan lo sekarang kelihatan lebih ganteng dari biasanya. Duhhh…. gua suka melihat lo sekarang” ketawa kecil.

“Ouhhh yahhh…. Hahah….emmm…”

Bencana sudah hatiku bahagia yang tak terbayangkan. Tsunami sudah laut cinta ini, menerjang semua kekesalan, kedengkian, dan kesakitan masuk kedalam kebodohan cinta, perbudakan cinta, dirimu mau apa? Di suruh matipun dilaksanakan.

Budak cinta mengambil alih semua tubuh ini, dengan kata-kata tidak biasa. Keluar dari mulut perempuan yang  ku cinta. Nikotin cinta menjalar ke seluruh tubuh dengan keinginan, melindungi, menyayangi, menikahi dan memiliki tuk selama-lamanya.

“Ehhh…. ngga, boong hahahahah…., ke geeran luu…”

Bahagia kandas seketika, menyebar kesakitan kemana-mana. Begitu juga laut cinta habis dilanda kekeringan. Seperti di atas langit ketujuh jatuh ke permukaan bumi. Hati menangis, badan pura-pura bertahan untuk tidak roboh.

Pikiran kacau, hati gundah, mati rasa, pohon cintapun tumbang menjadi bibit kembali, tapi tak benci masih mencintai, mulai mananah kembali untuk sadar diri, kalau dirinya gak salah, karena seorang pengecut yang salah.

Ingin kumaki-maki diriku sendiri, inginku tampar wajahku, untuk bilang “sadar woy lo cinta, lo sayang ungkapkan tolol, gak susah, cuma bilang 'AKU CINTA KAMU' huhh…..” kayak hidup dan mati saja untuk bilang itu.

Rasaku sudah ku pendam lama, dari pertama ku melangkah di tempat ini membangun pondasi cinta, sampai disaat ini terbangunnya rumah cinta. Tapi sayang rumahnya belum ada cahaya, ketakutan akan pembuatan cahaya yang gagal dan padam untuk selama-lamanya.

Dengan sakit hatiku duduk dikursi mengerjakan seketsa pondasi rumah clien, karena permintaannya harus selesai hari ini juga, cuma konsentrasiku pudar atas kesakitan candaan Arinda mempermainkan suka pada diriku. Mungkin aku juga menanggapinya terlalu serius.

Setengah seketsa telah dikerjakan. Ku bangkit dari kursi dan saat melihat jam ternyata sudah menunjukan angka 12.00 saatnya istirahat dengan berambisi ingin mengajak makan Arinda bareng. Saat itu diriku menuju kursinya dengan muka gerogi, tangan gemetar, hati bedegup tak karuan, saat sampai.

“Rin...”

“Arinda……”

Ternyata ada yang nyelip suaraku dari belakang, dia lebih keras.

"Arinda, makan bareng yu” kata Miko.

Ya dia adalah sainganku tuk dapatkan Arinda. Dia lebih berani daripada diriku adalah pengecut. Mungkin Arinda lebih suka pada Miko. Tak taulah, karena Miko juga udah lama dengan Arinda tapi belum ada kabar mereka pacaran.

“Ayoo…”

Seharian ku galau dan galau. Tadi pagi galau sekarang galau. Ya inilah makanan sehari-hariku, tuhan begitu tak adil akan diriku. Sakit dan sakit dalam hidupku. Tak ada hal lain yang buat diriku bahagia, selain kata-kata Arinda pagi tadi. Sekarang terpaksa diriku makan sendiri.

Begitu hening kehidupan, seakan-akan tidak mau bertemu denganku. Tak ada belaian yang membangunkanku dari keterpurukan. Cinta yang bertepuk sebelah tangan makin hari makin sakit. Disebuah caffee ku melamun di depan secangkir kopi, dengan berbagai imajinasi menghampiri meja dan tempat duduku, Arinda lagi Arinda lagi itulah.



***



Hari ini diriku sampai malam untuk mengerjakan seketsa clien, karena besok pagi waktunya presentasi. Ya, biasa malam ini hening, gelap sesuai dengan kondisiku sekarang dan berharap tidak ada siapapun, makanya ku teriak di dalam kantor.

“Aaaaaaaaaaahhhhhhhhhhh”

“Lo ngapain Dan?”

Bego, kirain gak ada siapa-siapa, ternyata Arinda masih dikantor, haduhh…. malu gua. Gak keliatan sihh mejanya ditutupi.

“Ehhh Arinda kirain udah pulang lo?” malu-malu.

“Belum, kerjaan gua masih numpuk. Ehh iya, tadi ngapain lo teriak-teriak kaya orang gila aja?”

“Ngga, biasa selesai kerjaan berat”

Ku ingin diriku bilang jujur, kerjaan cinta tuk mendapatkanmu Arinda, tapi tak berani. Kerjaanku selesai waktunya pulang.

“Rin, gua pulang duluan ya..”

“Bentar Dan!!”

“Apa Rin?”

“Anterin gua pulang yahhh… heheh”

Buset diriku semlam mimpi apa, imajinasiku satu persatu menjadi nyata, ini awalnya untuk membiasakan diri dengannya. Walaupun gemetar, tapi hati ingin sekali. Disinilah tuhan begitu adil dengan diriku.

“Ehhhh…. bolehh.

Jalu adalah motorku, dia selalu membawaku kemana saja dengan paras kedulu-duluan. Sekarang dia di duduki oleh seorang bidadari.

“Haduhhh… Jalu semalam lo mimpi apa? Sekarang lo di duduki bidadari” di dalam hatiku.

Jaluku melaju dengan tenang, melewati gelapnya malam, menyusuri heningnya jalan dan bahagia yang kurasakan. Tapi dalam pertengahan jalan, kudengar seseorang menangis.

“Rin, lo denger ga ada suara tangisan?” ketakutan

Arinda tak menjawab.

“Rin…? Rin….?” ketakutan

Saat itu gua menoleh kebelakang, ternyata Arinda suara tangisan itu.

“Heyy…. kenapa?”

“Engga apa-apa udah jalan aja”

“Engga, gua gak akan jalan, sebelum lo tersenyum kembali. Karena gua gak mau membiarkanmu menangis seorang diri. Dalam prinsipku seorang cewek itu harus bahagia tidak boleh menangis”

Diriku dengan Arinda berhenti di sebuah taman, untuk menenangkan hatinya. Ku biarkan dia menangis sekeras mungkin, ku biarkan dia bercerita sepuas yang dia mau dan ku dengarkan semua kesakitanya.

“Dan, boleh ga gua curhat?”

“Boleh?”

“Gua sakit Dan, sakit hati, karena tangisan ini adalah lambang dia gak ngerti-ngerti, gua ga sayang sama dia, tapi dia memaksa. Hal yang paling sulit tuk dipindahkan itu cinta. Malah dia marah kepadaku karena tidak membalas hatinya. Gua bingung tuk ngertiin dia, kadang gua berpikir, kenapa gua ga cinta sama dia?, dan jawabannya tidak tahu, mencintai itu susah ketika sudah menemukan orang yang dicintai.” Dengan tangisan mengiringi malam.

“Begitulah Rin, cinta itu bukan harapan dan keinginan. Tapi hati yang membuktikan dan untuk mengerti itu lama. Terkadang cinta itu muncul di teman dekat kita. Ketika mengejar orang dan ngga sadar cinta itu ngga muncul kepada orang yang ingin kita cintai, tapi mucul di dalam orang yang tidak ingin dicintai. Bagaikan teka-teki rumit. Emang siapa yang kamu cintai Rin?” menjelaskan dan dengan rasa penasaran bertanya.

“KAMU…”

Selesai


Jangan lupa follow Instagram @goday311002

Biodata singkat penulis:

Kusuma Yanuwar Dani biasa di panggil Dani dan memiliki nama pena Goday, lahir di Cirebon pada 31 Oktober 2002. Seorang pujangga desa yang mempunyai harapan menjadi penulis bertalenta dan ia pun pernah menjadi viral dan menjadi sebuah topik di media berita Radar Cirebon, Cirebon Raya, Cirebon Berita, Media Cirebon, Ciayumajakuning, Surat Kabar Umum Koran & Media Online Cirebon, Klik Jabar, Jabar Daily, Berita Jabar Net, Klik Ciayumajakuning, Metro Jabar, Pasundan Ekspres, Dialog Cirebon, Sinar Pagi News, Sigodang Pos, Pronusantara, Pratama Media News, Media Universitas Mataram, Tribun Cirebon, menjadi seorang penulis yang berhasil menerbitkan 5 buah buku dalam 1 tahun di tahun 2020. Ia pun pernah menjadi juara 1 lomba Musikalisasi Puisi Tingkat Nasional pada tahun 2019.

Instagram: @goday311002


Posting Komentar

0 Komentar