HNN Puisi Christya Dewi Eka - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis cerpen atau puisi untuk memperebutkan Anugerah Kesaktian Pancasila. Deadline 1 Oktober 2022 | Kirim ke email nkertas@gmail.com

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

5 Apr 2022

HNN Puisi Christya Dewi Eka

 KELANA LAUT

Oleh: Christya Dewi Eka


Sambil menyeberangimu, 

aku kelana, 

membawa seonggok jala dan kompas, 

mencari bidadari penunjuk jalan, 

yang konon menjelma sebagai titik-titik kerlip bintang, 

memberi petunjuk ikan sembunyi,

udara malam ini bau apak, 

tak beda dengan hawa tadi siang, 

benar-benar menguras keringat, 

hingga mulutku panen serapah


Entah sampai mana perahu ini melaju, 

kau kian asing, 

padahal di masa kanak, 

selalu kepala ini basah oleh air garam, 

kau laut, 

membuat aku nanar, 

membuat ikan-ikan samar, 

turun semakin dalam hingga mata telanjang jadi buta oleh gelap


Di sebelah mana kawanan ikan itu sembunyi, 

apa sungguh di dekapmu, 

o, laut, 

atau di buritan kapal-kapal Jepang, 

agar perut mereka kenyang berpesta shasimi dengan ikan gemuk kualitas nomor wahid, 

atau di peti kapal-kapal Cina, 

yang menyediakan kaleng-kaleng sebagai tempat peraduan terakhir bagi ikan-ikan kecil


Sambil menyeberangimu, 

aku tak habis pikir, 

apakah dewa laut sedang tidur, 

hingga abai menjaga mutiara-mutiara,

membiarkan segenap ikan terbius dalam pekat pukat, 

membiarkan kelat minyak mengintimi permukaan, 

membiarkan tamu asing melewati sempadan,

mana bisa aku menang melawan mereka, 

sedangkan aku hanya nelayan gering, 

bermodal beberapa perahu kayu peninggalan bapak, 

       yang catnya sudah pudar dimakan laut, 

beserta kain terpal sebagai layar, 

       yang bilamana hujan gemerusuk kedinginan


Percayalah, 

ini bukan pemberontakan, 

bukan pula hasutan, 

atau tindak makar, 

ini hanya sekadar satu patah dua patah gerutu, 

       yang tak henti mengalir dari nyonya rumah, 

       agar asap dapur tetap ngebul, 

ini hanya titipan keluh, 

       yang sesekali terlontar dari anak bungsu, 

       agar nyawa ponsel selalu panjang


Saujana mata memandang, 

laut dan malam, 

selalu indah dalam puisi dan lukisan, 

tapi bagiku, 

cadas dan garang melebihi cambukan


Semarang, 5 April 2022









Christya Dewi Eka, lahir di Jakarta, besar di Bekasi, dan kini berdomisili di Semarang bersama 7 buah hatinya, lulusan Fakultas Sastra Indonesia Undip Semarang tahun 2003. Beberapa karyanya dimuat di antaranya dalam antologi puisi multilingual Amor en Navidad (Sasami Asih, 2022), Manuskrip Bintoro (Kepul, 2021), Khatulistiwa (Dari Negeri Poci XI, 2021), Kami yang Lupa (Tadarus Puisi V, Lumbung Puisi, 2021), Poiesis 1 (Poiesis Community and Circle, 2021), media digital Semesta Seni (2022), Elipsis (2022), media Harian Nusa Bali (2021), Radar Pekalongan (2021), Maarif NU Jateng (2021), dan lain-lain.

Email: christyadewieka@gmail.com

Facebook: Christya Dewi Eka

Instagram: @christyadewieka2020

WA: 088239408965





INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa puisi/cerpen/artikel + biodata narasi + foto penulis atau gambar ilustrasi, semuanya dalam satu lampiran MS Word. Kirim ke email nkertas@gmail.com