005

header ads

Madiun Melukis: Kota yang Subur untuk Tumbuhnya Seni Rupa

 

Penulis: Fileski W Tanjung 

Ada kota yang dibangun terutama dengan beton, jalan raya, gedung-gedung, dan angka pertumbuhan ekonomi. Ada pula kota yang diam-diam dibangun oleh sesuatu yang tidak mudah dihitung: imajinasi. Saya percaya Madiun sedang bergerak ke arah yang kedua. Di kota ini, seni rupa tidak semestinya dipandang sebagai dekorasi tambahan setelah pembangunan dianggap selesai. Seni adalah salah satu cara sebuah kota mengenali dirinya sendiri. Ketika anak-anak diberi ruang untuk melukis, ketika karya mereka dipamerkan dan ketika masyarakat bersedia berhenti sejenak untuk melihatnya, sesungguhnya sebuah kota sedang membangun infrastruktur yang jauh lebih subtil: infrastruktur batin.


Lebih jauh, ART Insight tidak berhenti sebagai sebuah perhelatan pameran, tetapi menjadi titik temu yang melahirkan jejaring baru bagi perkembangan seni rupa di Madiun. Kegiatan ini terselenggara melalui kerja sama para seniman, di antaranya Dwi Kartika Rahayu, Ariani, Marsid Saronto, Wahid, dan Agus Yusuf, dengan manajemen berada di bawah Titikan Art Management. Dari rangkaian kegiatan tersebut juga terbentuk Madiun Young Artist & Little Artist Community, sebuah komunitas yang menghimpun anak-anak dan seniman muda dari berbagai sanggar di Kota Madiun. Kehadiran komunitas ini menjadi tanda penting bahwa ekosistem seni rupa di Madiun mulai bergerak dari sekadar kegiatan pameran menuju pembentukan ruang bersama yang memungkinkan generasi muda untuk belajar, berjejaring, berkarya, dan tumbuh secara berkelanjutan.


John Berger, dalam Ways of Seeing (1972), menulis, “Melihat datang sebelum kata-kata. Anak melihat dan mengenali sebelum ia dapat berbicara.” Bagi saya, kalimat itu memperoleh makna yang sangat penting ketika kita membicarakan seni rupa anak. Lukisan seorang anak tidak seharusnya buru-buru diukur dengan standar estetika orang dewasa. Di dalamnya terdapat cara seorang manusia pertama-tama memahami dunia: warna yang dipilih, bentuk yang dibesarkan, ruang yang sengaja dikosongkan, atau figur yang mungkin tampak ganjil bagi mata kita. Anak tidak sedang sekadar membuat gambar; ia sedang menyusun kosmos kecilnya sendiri. Karena itu, memberikan ruang kepada anak untuk berkarya sesungguhnya adalah memberikan hak kepada mereka untuk mengatakan, “Beginilah cara saya melihat dunia.”


Saya merasakan gagasan itu secara sangat personal sebagai ayah Huiga Tanjung Ramadan. Salah satu lukisan Huiga telah dibeli oleh maestro piano Ananda Sukarlan. Pada momentum Madiun Melukis, karya tersebut dipinjamkan kembali agar dapat dipamerkan kepada publik. Bagi saya, peristiwa itu jauh melampaui kebanggaan seorang ayah terhadap anaknya. Ada pesan kebudayaan yang lebih besar di sana: karya seorang anak dari sebuah kota kecil dapat melakukan perjalanan melampaui batas ruang, bertemu dengan seorang maestro, kemudian kembali kepada masyarakatnya sebagai bagian dari sebuah peristiwa seni. Yang menjadi penting bukan semata-mata siapa yang membeli lukisan itu, melainkan bagaimana sebuah karya anak memperoleh kesempatan untuk dilihat, dihargai, dan ditempatkan dalam percakapan kebudayaan.


Di sinilah saya ingin mengajukan kritik terhadap cara kita selama ini memahami pembangunan kota. Kita terlalu sering menganggap kebudayaan sebagai acara seremonial, sementara seni diletakkan sebagai pelengkap kalender peringatan. Padahal kota yang sehat secara kebudayaan bukanlah kota yang sesekali menggelar pameran, melainkan kota yang menciptakan ekosistem agar orang terus-menerus memiliki alasan untuk berkarya. Jane Jacobs pernah mengatakan, “Kota mampu menyediakan sesuatu bagi semua orang, hanya karena dan ketika kota itu dibentuk oleh semua orang.” Jika gagasan Jacobs kita bawa ke wilayah seni, maka kota yang ramah terhadap seni adalah kota yang tidak hanya menyediakan gedung kesenian, tetapi juga memberikan ruang kepada anak, guru, orang tua, perupa, komunitas, kolektor, pemerintah, dan masyarakat untuk bersama-sama membentuk kehidupan kebudayaannya.


ART Insight menjadi menarik justru karena mempertemukan banyak lapisan itu. Kurasi dilakukan oleh D. Kartika Rahayu, S.Sn., sementara saya, Fileski W. Tanjung, dipercaya sebagai penulis. Titus Tri Wibowo hadir melalui orasi budaya. Pada bagian penutupan, Plt. Wali Kota Madiun F. Bagus Panuntun dan Agus Yusuf, pelukis difabel internasional, turut menjadi bagian penting dari peristiwa tersebut. Acara ini juga didukung oleh Titikan School of Art, Trendy Art Madiun, dan Sanggar Gemintang. Kehadiran para seniman muda dan komunitas Madiun Young Artist & Little Artist Community memperlihatkan bahwa seni rupa Madiun tidak hanya berbicara tentang nama-nama yang telah mapan, tetapi juga tentang generasi yang sedang tumbuh. Di sanalah masa depan kebudayaan sesungguhnya sedang dipertaruhkan.


Saya membayangkan Madiun sebagai sebuah kota yang tidak hanya ingin dikenang karena bangunan, slogan, atau statistik pembangunan, tetapi karena pernah memberi anak-anaknya keberanian untuk bermimpi melalui kanvas. Sebab mungkin ukuran kemajuan sebuah kota bukan hanya seberapa tinggi gedung yang mampu didirikannya, melainkan seberapa luas ruang yang mampu diberikannya kepada imajinasi. Kota yang ramah seni adalah kota yang tidak takut pada gagasan baru, tidak meremehkan karya anak-anak, dan tidak menganggap kreativitas sebagai kemewahan. Ia memahami bahwa sebelum manusia membangun kota, manusia terlebih dahulu membayangkan kota itu di dalam pikirannya.


Pada akhirnya, sebuah lukisan selalu mengajukan pertanyaan yang lebih besar daripada dirinya sendiri: apa yang sebenarnya kita lihat ketika kita melihat? Apakah kita hanya melihat warna di atas kanvas, atau melihat seorang anak yang sedang belajar memahami kehidupan? Apakah kita melihat sebuah pameran sebagai acara sesaat, atau melihatnya sebagai benih bagi ekosistem kebudayaan yang panjang? Dan ketika sebuah kota memberi ruang bagi tangan-tangan kecil untuk menciptakan dunia mereka sendiri, bukankah kota itu pada saat yang sama sedang belajar menciptakan masa depannya? Mungkin Madiun tidak perlu tergesa-gesa menyebut dirinya sebagai kota seni. Cukup terus menyediakan ruang bagi seni untuk tumbuh. Sebab pada waktunya, karya-karya itulah yang akan membuat orang lain datang, melihat, dan berkata: di kota ini, imajinasi pernah dipelihara dengan sungguh-sungguh.







Posting Komentar

0 Komentar