
Writer: Fileski Walidha Tanjung
Photo: Sandi Dekra
MADIUN — Reboan Musik (RBM) #16 kembali digelar di Pelataran Dekranasda, kawasan Tugu Pendekar, Kota Madiun, Rabu malam, 23 September 2026, mulai pukul 19.30 WIB. Namun, edisi kali ini hadir dengan wajah yang sedikit berbeda. RBM tidak hanya menjadi ruang perjumpaan para musisi, melainkan berkembang menjadi panggung lintas-disiplin yang mempertemukan musik, sastra, pencak silat, seni tradisi, dan dunia perfilman.
Pilihan tempat bukan sekadar latar. Tugu Pendekar menjadi semacam simpul simbolik: ruang publik yang mempertemukan identitas kependekaran Madiun dengan denyut kesenian kontemporer. Dari tempat itu, musik dimainkan, puisi dibacakan, gerak pencak dipertunjukkan, dan para pelaku film bertemu.
Pada RBM #16, salah satu sajian yang mendapatkan perhatian adalah Pencak Madiun × Kontemporer Musik, dengan gagasan “Merawat Tradisi, Menyuarakan Zaman.” Pencak tidak ditempatkan semata sebagai tontonan bela diri, tetapi dipertemukan dengan musik dan puisi sebagai kemungkinan bentuk pertunjukan baru.
Sajian pencak silat melibatkan Sasa dari SDN 05 Madiun Lor dan Clarisa dari SMPN 1 Madiun. Setelah penampilan keduanya, pertunjukan berlanjut melalui atraksi pencak silat dari Zaenuri Jeje. Gerak pencak kemudian memperoleh respons musikal dari Peter O pada keyboard, Fileski pada puisi, dan Cecep KF pada kecapi.
Pertemuan tersebut menarik karena memperlihatkan bahwa tradisi tidak harus dipertahankan hanya dengan cara mengulang bentuk masa lalu. Tradisi juga dapat dibaca ulang, diberi konteks baru, lalu dipertemukan dengan bahasa artistik lain.
Lapisan lain yang membuat RBM #16 istimewa adalah kehadiran dua jawara cipta puisi tingkat nasional, Nazura Bilqis dan Anindiya Bella.
Keduanya bukan penyair yang datang dari lingkungan akademik sastra perguruan tinggi. Mereka masih duduk di bangku SMA. Keduanya merupakan murid saya di SMAN 2 Madiun yang telah belajar menulis puisi bersama saya sejak kelas XI. Kini mereka telah berada di kelas XII.
Perjalanan mereka menunjukkan satu hal penting: ruang sastra tidak selalu harus dimulai dari kampus, komunitas besar, atau institusi kebudayaan. Ia dapat tumbuh dari ruang kelas, dari kebiasaan membaca, berdiskusi, menulis, mengoreksi tulisan, kemudian mencoba kembali.
Di RBM #16, kehadiran Nazura dan Anindiya bukan sekadar mengisi slot pertunjukan sastra. Mereka membawa pengalaman generasi muda yang sedang tumbuh melalui puisi—sekaligus memperlihatkan bahwa siswa SMA dapat memiliki keberanian artistik untuk berhadapan dengan arena kompetisi yang juga diikuti mahasiswa dan peserta umum.
Karena itu, kehadiran keduanya menjadi penting dalam konteks pendidikan seni. Prestasi tidak berhenti pada sertifikat lomba, tetapi perlu diberi ruang untuk kembali hadir sebagai pengalaman kebudayaan di hadapan publik.
RBM #16 juga memperluas jejaringnya ke dunia perfilman. Sejumlah sineas, sutradara film, dan art director hadir dalam perhelatan ini.
Kehadiran mereka menjadi relevan dengan perkembangan ekosistem film di Kota Madiun. Dalam beberapa tahun terakhir, Madiun memang memiliki sejarah penyelenggaraan Madiun Film Festival, sementara pada 2026 geliat perfilman kembali memperoleh perhatian. Pemerintah Kota Madiun pada Agustus lalu memberitakan rencana produksi film Hanung Bramantyo di Kota Madiun serta menyebut perfilman sebagai salah satu subsektor ekonomi kreatif yang sedang didorong.
Maka, perjumpaan para pelaku film di RBM #16 tidak harus dipahami sekadar sebagai kehadiran tamu. Ia merupakan bagian dari kemungkinan terbentuknya jaringan antara seni: musik bertemu film, sastra bertemu visual, dan panggung pertunjukan menjadi tempat bertemunya para pekerja kreatif.
Di titik inilah RBM menemukan fungsi lain. Ia bukan hanya panggung untuk mempertontonkan karya yang sudah selesai, tetapi juga ruang untuk mempertemukan orang-orang yang mungkin akan menciptakan karya bersama pada masa mendatang.
Edisi #16 juga memperoleh dukungan dari Padepokan Musik, sebuah ruang yang bergerak dalam produksi dan pendidikan musik, untuk melakukan live recording.
Dukungan ini memberikan dimensi berbeda terhadap pertunjukan. Musik yang dimainkan di ruang terbuka tidak berhenti sebagai pengalaman sesaat antara pemain dan penonton, tetapi memiliki kemungkinan untuk didokumentasikan dan diolah menjadi arsip audio.
Bagi sebuah gerakan kebudayaan yang berlangsung secara berkala, dokumentasi semacam ini penting. Sebab, sebuah pertunjukan pada akhirnya bukan hanya tentang malam ketika panggung menyala. Ia juga tentang bagaimana peristiwa tersebut meninggalkan jejak yang dapat didengar, ditonton, dipelajari, dan diingat.
Sejak awal, Reboan Musik dibayangkan sebagai ruang pertemuan: ruang musik, ruang temu, ruang kita. Pada edisi ke-16, gagasan itu tampak semakin menemukan bentuknya.
Musik hadir sebagai pusat pertemuan. Puisi membawa bahasa. Pencak membawa tubuh dan tradisi. Kecapi membawa warna bunyi tradisional. Keyboard dan perangkat musik kontemporer membuka ruang eksperimentasi. Live recording membawa pertunjukan menuju arsip. Sementara kehadiran para sineas membuka kemungkinan dialog dengan dunia visual dan sinema.
Semua itu berlangsung di ruang publik, Pelataran Dekranasda di kawasan Tugu Pendekar Kota Madiun, Rabu, 23 September 2026, pukul 19.30 WIB.
Yang menarik dari RBM #16 bukan semata banyaknya bentuk seni yang tampil dalam satu malam. Yang lebih penting adalah perjumpaan di antara berbagai ekosistem tersebut.
Di sebuah kota, kebudayaan tidak tumbuh hanya dari gedung pertunjukan. Ia juga tumbuh dari halaman, pelataran, sekolah, padepokan, pasar, komunitas, dan ruang-ruang pertemuan yang memungkinkan orang berbeda latar untuk saling melihat karya satu sama lain.
Mungkin di situlah makna terdalam Reboan Musik: bukan sekadar menghadirkan musik pada hari Rabu, tetapi menyediakan satu malam bagi kota untuk mendengarkan dirinya sendiri.

0 Komentar
Lingkar literasi, sastra, dan seni budaya Asia Tenggara serumpun Bahasa.