
Creative Workshop “Leather Up! From Craft to Brand” mempertemukan warisan keterampilan kulit lintas generasi dengan desain, branding, dan kewirausahaan.
MADIUN — Sebuah produk kerajinan tidak selesai ketika benda berhasil dibuat. Ia baru memulai perjalanan ketika memiliki identitas, cerita, kemasan, dan pasar. Gagasan itu menjadi napas Creative Workshop for Gen Z “Leather Up! From Craft to Brand”, yang berlangsung Kamis, 24 September 2026, pukul 09.30–12.00 WIB, di Dekranasda Kota Madiun.
Kegiatan diselenggarakan Kawedar Leather Goods, dengan dukungan Dekranasda Kota Madiun, Madiun Leather Academy, Titikan Madiun School of Art, dan Negeri Kertas.
Workshop ini berangkat dari persoalan yang cukup mendasar dalam ekonomi kreatif: banyak orang memiliki kreativitas dan keterampilan membuat produk, tetapi belum tentu mengetahui cara mengembangkannya menjadi identitas usaha atau brand yang bernilai jual. Karena itu, Leather Up! mencoba menjembatani keterampilan produksi dengan kemampuan membangun usaha kreatif yang berkelanjutan.
Konsep “From Craft to Brand” dirumuskan melalui alur produk → identitas → brand → pasar. Peserta tidak hanya belajar membuat produk, tetapi juga memahami nama, karakter, visual, kemasan, cerita, positioning, dan pengenalan produk kepada konsumen.
Hafidz Azmi, Founder and Owner Kawedar Leather Goods, hadir sebagai penyelenggara sekaligus narasumber. Ia merupakan cucu pendiri Kampung Kulit di Magetan. Pengetahuan mengenai kerajinan kulit telah diwariskan dalam keluarganya secara turun-temurun. Kini Hafidz menetap dan mengembangkan aktivitasnya di Kota Madiun.
Dalam workshop, Hafidz menerangkan berbagai material kerajinan kulit dengan latar belakang keahlian pada kerajinan kulit industri dan penggunaan mesin.
Pengetahuan tersebut bertemu dengan keterampilan generasi sebelumnya melalui Syamsul Fatkhurazi, ayah Hafidz, yang berperan sebagai Senior Leather Crafter. Ia mengajarkan teknik menjahit kulit, memperlihatkan bagaimana keterampilan kriya diwariskan melalui praktik langsung.
Perspektif lain datang dari M. Riza Arfian, Educator Leather Craft, yang memiliki keahlian pada kerajinan kulit handmade dengan teknik tradisional.
Ketiga perspektif tersebut mempertemukan tiga sisi leather craft: produksi industri, keterampilan menjahit, dan pengerjaan handmade tradisional.
Peserta diperkenalkan pada proses dasar pengolahan kulit, mulai dari mengenal material dan memilih bahan, membuat desain atau pola, memotong, merakit, finishing, hingga menghasilkan produk jadi.
Di sinilah Dwi Kartika Rahayu, Direktur Eksekutif Madiun Leather Academy, mengambil peran. Dwi merupakan pegiat seni rupa dan budaya yang membidani pengembangan Madiun Leather Academy untuk pengembangan sumber daya manusia kreatif dan pemajuan budaya. Ia menangani program-program dan tata kelola lembaga tersebut.
Sementara Lintang Laily, bagian dari jajaran pengelola Madiun Leather Academy, berfokus pada desain dan packaging. Perspektif ini menegaskan bahwa kualitas produk tidak berhenti pada benda yang dibuat, tetapi juga bagaimana produk mempunyai identitas dan berkomunikasi dengan konsumen.
Karena itu, produk seperti aksesori, gantungan kunci, dompet, tas, maupun produk custom dapat memiliki nilai lebih ketika dikembangkan bersama desain, konsep, identitas visual, cerita, dan strategi pemasaran.
Kerajinan kulit dipilih karena mampu mempertemukan keterampilan tangan, desain, kreativitas, budaya, dan kewirausahaan. Penyelenggara melihat Kota Madiun memiliki potensi sumber daya manusia kreatif yang dapat dikembangkan melalui berbagai bidang, termasuk leather craft.
Sasaran workshop adalah masyarakat yang tertarik pada craft, desain, fashion, produk kreatif, kewirausahaan, dan pengembangan usaha, terutama generasi muda dan calon pelaku ekonomi kreatif.
Peserta dibuat terbatas karena materi bersifat praktik. Dengan jumlah yang terkontrol, peserta dapat mencoba teknik, berdiskusi, memperoleh arahan, dan mendapatkan koreksi langsung dari mentor.
Dukungan Dekranasda Kota Madiun berupa fasilitasi tempat dan publikasi. Penyelenggara memandang kolaborasi komunitas, pelaku usaha, pemerintah, mentor, dan masyarakat sebagai bagian penting dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif.
Workshop ini juga dipandang sebagai pintu masuk, bukan titik akhir. Ke depan terbuka peluang pendampingan bagi peserta yang serius mengembangkan produknya menjadi usaha, termasuk dalam pengembangan produk, branding, pemasaran, produksi, legalitas usaha, dan jejaring.
Keberhasilan kegiatan pun tidak semata diukur dari jumlah peserta, melainkan dari apa yang terjadi setelah workshop: peserta mampu menghasilkan produk, memahami dasar pengembangan brand, memiliki gagasan yang lebih matang, atau mulai mengembangkan produk menjadi usaha.
Tujuan yang ingin dicapai penyelenggara sederhana tetapi strategis: peserta diharapkan pulang bukan hanya dengan produk yang berhasil dibuat, melainkan dengan keberanian dan pengetahuan untuk mengubah keterampilan menjadi brand dan peluang usaha.
Dalam konteks itu, leather craft tidak lagi sekadar keterampilan membuat benda dari kulit. Ia menjadi titik temu antara warisan pengetahuan, seni kriya, desain, teknologi, budaya, dan ekonomi.
Cerita Hafidz dan Syamsul memperlihatkan bagaimana pengetahuan kulit diwariskan lintas generasi. M. Riza memperkuat sisi handmade dan teknik tradisional. Dwi Kartika membawa perspektif pengembangan manusia dan kebudayaan, sementara Lintang menghubungkan produk dengan desain dan kemasan.
Acara dipandu Admanezha Putri sebagai Master of Ceremony. Peserta mendapatkan pengalaman pembelajaran, konsumsi, dokumentasi kegiatan, serta e-sertifikat sebagai bukti partisipasi.
Jika respons dan perkembangannya baik, Leather Up! diharapkan menjadi awal terbentuknya jejaring antara craft maker, designer, brand owner, komunitas, pemerintah, dan pasar di Kota Madiun.
Sebab pada akhirnya, kulit hanyalah material. Nilai yang lebih besar lahir ketika manusia mampu memberinya bentuk, fungsi, cerita, identitas, dan keberanian untuk membawanya ke masa depan.
Fileski Walidha Tanjung
(Penulis, Pendidik, Sastrawan)



0 Komentar
Lingkar literasi, sastra, dan seni budaya Asia Tenggara serumpun Bahasa.