
oleh Fileski Walidha Tanjung
Jumat pagi, 6 November 2026, Gedung Sekretariat PGRI di Jalan Tanjung Manis, Kota Madiun, tidak sekadar menjadi tempat berlangsungnya sebuah perlombaan. Di ruang itu, suara-suara para guru taman kanak-kanak bertemu dalam sebuah peristiwa yang lebih besar daripada kompetisi: sebuah upaya untuk merawat kepekaan, belajar mendengarkan, dan menemukan kembali makna kebersamaan melalui musik.
Sebanyak lima peserta yang tampil pada hari itu bukanlah peserta biasa. Mereka adalah para juara dari tingkat kecamatan yang telah melewati proses seleksi sebelumnya. Kini, mereka bertemu dalam seleksi tingkat Kota Madiun untuk menentukan siapa yang akan melangkah lebih jauh dalam ajang PORSENI IGTKI-PGRI Jawa Timur Tahun 2026. Dari panggung ini akan dipilih para pemenang terbaik, dengan Juara I dipersiapkan untuk melangkah ke tingkat provinsi.
Saya mendapat kehormatan menjadi salah seorang juri dalam seleksi mata lomba Menyanyi Duet tersebut bersama dua praktisi vokal dari Voice Corner, Neny Widyas Tuti dan Risti Panjali. Kehadiran kami bertiga sebagai dewan juri, tentu bukan sekadar untuk memberikan angka, menentukan siapa yang lebih tinggi dan siapa yang lebih rendah. Menilai sebuah penampilan musik, terutama dalam format duet, pada dasarnya adalah membaca proses perjumpaan antara dua manusia melalui bunyi.
Undangan tersebut disampaikan oleh Pengurus Kota Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia-PGRI Kota Madiun melalui surat Nomor 025/A.Org/P.Kota.IGTKI-PGRI/XI/2026 tertanggal 4 November 2026. Saya, Walidha Tanjung Files, S.Sn., yang sehari-hari bertugas sebagai guru di SMAN 2 Kota Madiun, mendapat izin untuk menjalankan tugas sebagai juri dalam kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.00 hingga selesai. Surat tersebut ditandatangani Ketua IGTKI-PGRI Kota Madiun Lia Ratih, S.Pd., bersama Sekretaris Lestari, S.Pd.AUD.
Namun, di tengah berbagai kegiatan kompetisi pendidikan yang sering kali hanya dipahami sebagai perebutan piala dan peringkat, saya justru melihat sesuatu yang lebih mendasar dalam lomba menyanyi duet ini. Pertanyaannya bukan semata-mata siapa yang paling merdu. Pertanyaan yang lebih penting adalah: mengapa guru perlu bernyanyi bersama?
Jawabannya mungkin terletak pada hakikat musik itu sendiri.
Seorang penyanyi solo dapat berdiri sendiri. Ia dapat menentukan warna suara, tempo, ekspresi, bahkan cara mengolah setiap kalimat lagu berdasarkan kehendaknya sendiri. Tetapi dalam duet, seseorang tidak cukup hanya pandai bernyanyi. Ia harus belajar mendengarkan. Suaranya tidak boleh menjadi satu-satunya yang ingin didengar. Ada suara lain yang harus diberi ruang.
Di situlah harmoni menemukan makna filosofisnya.
Harmoni bukanlah keadaan ketika semua suara menjadi sama. Harmoni justru lahir ketika perbedaan mampu menemukan tempatnya masing-masing. Suara yang tinggi tidak harus mengalahkan suara rendah. Suara utama tidak harus menghapus suara kedua. Keduanya justru menjadi indah ketika mengetahui kapan harus tampil, kapan harus menguatkan, dan kapan harus memberi ruang.
Bukankah itulah pula yang dibutuhkan dalam kehidupan seorang guru?
Di sekolah, guru tidak bekerja sendirian. Pendidikan adalah sebuah orkestra besar yang mempertemukan banyak karakter, banyak cara berpikir, dan banyak suara. Ada guru yang kuat dalam pengetahuan, ada yang unggul dalam pendekatan emosional, ada yang teliti dalam administrasi, ada pula yang mampu mendekati murid melalui bahasa seni. Tidak semua harus menjadi sama. Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk saling mendengarkan dan bergerak menuju tujuan yang sama.
Lomba menyanyi duet menjadi menarik karena ia melatih hal-hal yang sering kali sulit diajarkan hanya melalui ceramah: kepekaan rasa, empati, komunikasi, dan kekompakan.
Seorang penyanyi duet harus mampu merasakan nafas pasangannya. Ia perlu memahami kapan pasangannya membutuhkan dukungan, kapan volume suaranya harus diturunkan, dan kapan harmoni perlu diperkuat. Ia tidak dapat bernyanyi hanya dengan memikirkan dirinya sendiri. Kesalahan kecil pada salah satu pihak dapat memengaruhi keseluruhan penampilan, tetapi kepekaan pasangannya juga dapat membantu menutup dan memperbaiki keadaan.
Itulah empati dalam bentuk yang dapat didengar.
Musik mengajarkan bahwa mendengarkan bukan pekerjaan pasif. Mendengarkan adalah sebuah tindakan aktif. Kita mendengarkan untuk memahami, menyesuaikan diri, dan merespons. Dalam sebuah duet yang baik, dua orang tidak sekadar menyanyikan lagu secara bersamaan. Mereka membangun percakapan melalui suara.
Peserta dalam lomba ini membawakan tiga lagu, terdiri atas satu lagu wajib dan dua lagu pilihan. Lagu wajib, Tanah Airku karya Ibu Sud, menghadirkan tantangan tersendiri karena lagu tersebut telah hidup begitu lama dalam ingatan kolektif masyarakat Indonesia. Sementara lagu pilihan yang tersedia, seperti Aku Anak Indonesia, Hati Gembira, Amelia, dan Ambilkan Bulan Bu, membuka ruang bagi peserta untuk menunjukkan kreativitas melalui aransemen.
Di sinilah kompetisi tidak hanya berbicara mengenai kemampuan vokal. Setiap peserta juga diminta memikirkan bagaimana sebuah lagu dapat dihidupkan kembali melalui tafsir musikal. Aransemen menjadi ruang untuk menunjukkan identitas. Lagu yang sama dapat terdengar berbeda ketika dibawakan oleh orang yang berbeda.
Namun, kebebasan dalam seni selalu berjalan bersama tanggung jawab.
Peserta harus menyerahkan partitur aransemen sebagai bagian dari ketentuan lomba. Mereka dapat menggunakan iringan MIDI maupun iringan langsung. Artinya, penampilan yang baik tidak lahir hanya dari spontanitas di atas panggung. Di belakang beberapa menit penampilan, ada proses latihan, diskusi, kesepakatan, dan kerja bersama.
Sebagai dewan juri, kami menilai berbagai unsur yang saling berkaitan, mulai dari teknik vokal, pernapasan, pemenggalan kalimat, artikulasi, ketepatan nada, hingga harmonisasi. Penghayatan melalui ekspresi dan kualitas penampilan juga menjadi bagian dari pertimbangan.
Tetapi angka-angka penilaian sesungguhnya hanya menjadi alat. Di balik angka tersebut, ada proses yang lebih sulit diterjemahkan: apakah dua penyanyi benar-benar menjadi sebuah kesatuan musikal?
Neny Widyas Tuti dari Voice Corner, dalam salah satu masukan yang kami rumuskan bersama, menekankan pentingnya ketelitian terhadap dasar-dasar vokal. Menurutnya, peserta perlu lebih memperhatikan pernapasan, artikulasi, dan ketepatan nada agar keindahan lagu tidak hanya bergantung pada kekuatan suara. Suara yang baik, bagaimanapun, membutuhkan fondasi teknik yang benar agar dapat disampaikan dengan stabil dan nyaman. Tantangan utama menyanyi berpasangan adalah kemampuan mengontrol ego musikal. Tidak ada gunanya salah satu penyanyi memiliki suara yang sangat kuat apabila ia justru menenggelamkan pasangannya. Duet harus memperlihatkan komunikasi, keseimbangan dinamika, serta kesadaran bahwa keindahan sebuah penampilan lahir dari perjumpaan dua karakter suara.
Sementara dari sudut pandang saya sebagai guru seni dan praktisi seni pertunjukan, saya melihat perlunya peserta semakin berani menghayati makna lagu. Lagu bukan sekadar rangkaian nada yang harus dinyanyikan dengan benar. Setiap lagu membawa cerita. Setiap kalimat memiliki arah emosinya sendiri. Ketika seorang penyanyi memahami apa yang sedang ia nyanyikan, ekspresi tidak lagi menjadi sesuatu yang ditempelkan dari luar. Ia akan tumbuh secara alami dari pemahaman.
Ketiga masukan tersebut pada akhirnya bertemu dalam satu gagasan: teknik, rasa, dan kerja sama tidak dapat dipisahkan.
Teknik tanpa rasa dapat terdengar benar, tetapi dingin. Rasa tanpa teknik dapat terasa jujur, tetapi sulit dikendalikan. Sementara kemampuan vokal dan penghayatan tanpa kekompakan akan kehilangan makna ketika dibawa ke dalam format duet. Ketiganya harus tumbuh bersama.
Karena itulah, kegiatan seperti PORSENI memiliki arti yang penting bagi dunia pendidikan. Guru selama ini lebih sering ditempatkan sebagai orang yang mengajar. Padahal, guru juga manusia yang perlu terus belajar. Guru perlu belajar mengekspresikan diri, bekerja sama, mengelola emosi, menerima perbedaan, dan berani tampil.
Ketika seorang guru bernyanyi, sesungguhnya ia sedang mengingat kembali bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung melalui kata-kata di dalam kelas.
Anak-anak, terutama pada usia taman kanak-kanak, belajar banyak hal melalui pengalaman. Mereka belajar keberanian ketika melihat gurunya berani tampil. Mereka belajar kerja sama ketika melihat dua gurunya mampu bernyanyi dalam harmoni. Mereka belajar menghargai perbedaan ketika menyadari bahwa suara yang berbeda dapat menjadi indah ketika dipadukan.
Mungkin inilah alasan paling mendasar mengapa lomba seni untuk guru tidak boleh dipandang sebagai kegiatan tambahan yang sekadar bersifat seremonial.
Guru yang memiliki ruang untuk berkesenian berpeluang menjadi lebih peka. Kepekaan itu kelak dibawa kembali ke ruang kelas. Seorang guru yang terbiasa mendengarkan harmoni akan lebih mudah memahami bahwa setiap anak memiliki nadanya sendiri. Ada anak yang cepat menemukan irama belajar. Ada yang membutuhkan waktu lebih panjang. Ada yang suaranya keras. Ada pula yang hanya berani berbicara pelan.
Tugas pendidikan bukan memaksa semua anak bernyanyi dengan suara yang sama.
Tugas pendidikan adalah membantu setiap anak menemukan suaranya, lalu mengajarkannya bagaimana hidup bersama suara-suara yang lain.
Dalam konteks itulah, panggung kecil lomba menyanyi duet di Kota Madiun menjadi lebih besar daripada yang terlihat. Lima peserta yang tampil hari itu membawa perjalanan dari kecamatan masing-masing. Mereka telah menjadi yang terbaik di wilayahnya dan kini kembali diuji untuk menentukan capaian berikutnya. Di akhir seleksi, para peserta terbaik akan memperoleh Juara I, Juara II, Juara III serta penghargaan harapan, sementara Juara I akan melanjutkan perjalanan ke tingkat Provinsi Jawa Timur.
Namun, kemenangan sejati seharusnya tidak berhenti pada siapa yang membawa pulang piala.
Ada kemenangan ketika seseorang berhasil mengatasi rasa gugupnya. Ada kemenangan ketika dua orang yang memiliki karakter suara berbeda akhirnya menemukan titik temu. Ada kemenangan ketika peserta menerima hasil penilaian sebagai bagian dari proses belajar. Ada pula kemenangan ketika sebuah kompetisi mampu membuat para guru pulang dengan semangat untuk berlatih lebih baik.
Sebab, pendidikan pada akhirnya memang tidak pernah hanya berbicara tentang siapa yang berada di urutan pertama.
Pendidikan adalah perjalanan panjang untuk membuat manusia semakin mampu hidup bersama.
Dan musik, melalui harmoni sederhana dua suara dalam sebuah duet, kembali mengingatkan kita bahwa kehidupan tidak membutuhkan semua orang untuk menjadi suara utama. Kadang-kadang, yang kita butuhkan justru kemampuan untuk mendengarkan, memberi ruang, dan menemukan nada yang tepat agar perbedaan tidak berubah menjadi kebisingan.
Dari sebuah lomba menyanyi duet, para guru mungkin sedang belajar sesuatu yang kelak jauh lebih penting daripada sebuah gelar juara.
Mereka sedang belajar menjadi harmoni.
Sebab, mungkin itulah salah satu tugas paling mulia seorang guru: bukan membuat semua murid menjadi sama, melainkan membantu berbagai perbedaan menemukan cara untuk bernyanyi bersama.

0 Komentar
Lingkar literasi, sastra, dan seni budaya Asia Tenggara serumpun Bahasa.